Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 82


__ADS_3

Luke menghempaskan punggungnya dengan kasar di bangku mobilnya, tangannya memegang kepalanya yang terasa berdenyut – denyut karena masih saja memikirkan tentang inti pembicaraan dari rapat yang baru saja dihadirinya beberapa menit yang lalu.


Rasanya, baru kali ini Luke mengalami hal seperti ini dan semua ini dikarenakan seorang wanita.


“Hah!”, Luke menghela napasnya dengan kasar.


Mata Luke memandang sisi jalanan dari balik kaca mobilnya dengan tatapan sayu. Kedua mata sayu itu langsung membelalak saat mobil yang ditumpangi Luke melewati sebuah toko yang sangat menarik perhatian Luke.


“Berhenti di toko itu!” perintah Luke pada supirnya


“Baik, sir”


Dengan gerakan lambat dan hati – hati, supir Luke memberhentikan mobil Luke di pelantaran parkiran sebuah toko bunga. Ya, toko bunga.


“Tunggu disini, saya akan kembali” ucap Luke pada supirnya


“Baik, sir” jawab supir itu yang disertai dengan sebuah anggukan pelan


Tak ingin membuang – buang banyak waktu, Luke langsung membuka pintu mobilnya. Kakinya yang telah dibalut dengan sebuah sepatu pantofel hitam mengkilap, melangkah dengan tegas menuju ke area toko itu.


Toko itu berwarna soft blue, warna yang sangat menenangkan mata. Jika dilihat – lihat, dibandingkan disebut dengan toko bunga, toko itu dapat disebut sebagai sebuah café kekinian.


Kring…


Suara lonceng berbunyi pelan saat Luke mendorong pintu kaca café itu.


“Hachim!”


Baru saja Luke menginjakkan kakinya di lantai marmer toko tersebut, namun Luke tak bisa menahan dirinya untuk tidak bersin. Astaga! Seharusnya Luke sadar bahwa indra penciumannya sangat sensitif dengan aroma bunga.


“Tuan, jika anda memiliki alergi, kami menyediakan masker disana” ucap salah seorang pegawai toko bunga tersebut sambil menunjuk ke arah sebuah box yang berisi masker dengan sopan


Luke mengganggukkan kepalanya samar dan tatapan matanya langsung tertuju ke sebuah box yang terletak tidak jauh dengannya.


“Hachim!”


Dengan langkah cepat, Luke langsung berjalan ke box tersebut dan mengambil salah satu masker dari tumpukan masker tersebut dengan tergesa – gesa. Dengan cekatan, Luke langsung memakai masker tersebut.


Ah, leganya.


Kini, Luke tidak perlu takut lagi hidungnya akan memerah karena terlalu sering bersin.


“Silahkan dilihat – lihat dulu, tuan” ucap pegawai yang ada disana dengan ramah yang dijawab dengan sebuah anggukan dari Luke.


Kaki Luke berjalan dengan bebas di dalam toko bunga tersebut. Matanya bergerak kesana – kemari untuk mencari bunga yang cocok untuk diberikannya kepada istrinya yang sedang menunggunya di rumah, yah… siapa lagi kalau bukan Isa.


Jika diingat – ingat, terakhir kali Luke memberikan bunga kepada istrinya itu pada saat Luke hendak melamar istrinya itu. Dan saat itu, Luke melakukannya karena Austin yang memaksanya.

__ADS_1


Untuk kali ini, Luke ingin memberikan sebuah buket bunga lagi untuk Isa dengan sepenuh hati dan segenap cintanya.


Pandangan Luke terjatuh pada sebuah kumpulan bunga lavender yang tertata rapi di sebuah pot. Apakah bunga lavender itu cocok untuk diberikan kepada Isa? Perlu kalian ketahui, bunga lavender merupakan satu – satunya jenis bunga yang tidak dapat menyebabkan Luke bersin. Oleh karena itu, Luke sangat menyukai bunga lavender… tapi, apakah Isa juga akan menyukainya?


Luke menghela napasnya dengan kasar. Menurut pengalaman berkencannya dengan beberapa wanita sebelum Isa, Luke tau benar bahwa bunga lavender bukanlah bunga yang cocok untuk diberikan kepada para wanita. Para wanita itu tidak pernah menyukai bunga lavender pemberiannya, mereka mengatakan kalau bunga itu terlalu sederhana dan terlihat…. errr… murahan…


Luke mengahlihkan pandangannya dari kumpulan bunga lavender itu. Saat dirinya sedang mengahlihkan pandangannya, tiba – tiba kedua netranya terkunci kepada kumpulan bunga berwarna pink yang terlihat sangat lembut.


“Itu bunga peony” ucap salah satu pegawai yang nampaknya menyadari rasa ketertarikan Luke pada kumpulan bunga peony berwarna pink itu.


Luke mengganggukkan kepalanya pelan. Kedua kakinya berjalan ke arah kumpulan bunga itu. Tangannya terulur untuk memegang salah satu dari sekian kelopak bunga peony itu. Halus, seperti Isanya.


“Bunga peony ini sering digunakan dalam upacara pernikahan di China karena dipercaya memiliki makna cinta, kebahagiaan, kemakmuran, dan membawa nasib yang baik” terang pegawai itu sambil tersenyum


Sebuah senyum kecil terukir di wajah Luke.


“Aku beli ini semua” ucap Luke sambil menarik sebuah black card dari sakunya dan menyodorkannya ke hadapan pegawai itu


Pegawai itu tersentak pelan saat mendengar ucapan dan tindakan Luke. Namun kemudian, pegawai itu tersenyum dan mengganggukkan kepalanya pelan.


Setelah pegawai itu selesai menyusun bunga – bunga itu ke dalam beberapa buket, Luke meminta pegawai itu untuk meletakkan buket – buket bunga itu di bagasi mobil milik Luke. Pegawai itu menyusun buket – buket bunga itu dengan hati – hati agar bunga peony yang indah itu tidak rusak.


“Tuan, nampaknya saya tidak bisa menyusun satu buket ini. Seluruh isi bagasi mobil tuan sudah terisi penuh dengan buket – buket yang lain” ucap pegawai itu sambil menyodorkan sebuket bunga peony yang tak bisa lagi diletakkan di dalam bagasi itu


“Ah… biar aku saja yang memegangnya” ucap Luke sambil meraih buket bunga itu


Luke mengganggukkan kepalanya pelan.


Setelah urusannya dengan buket – buket bunga itu selesai, Luke langsung melangkahkan kakinya memasuki mobilnya.


“Apakah kita langsung ke penthouse, sir?” tanya supir itu


“Tidak. Tujuan kita masih sama, rumah sakit” ucap  Luke sambil membuka masker yang sedari tadi menutupi mulut dan indra penciumannya itu.


Supir itu mengganggukkan kepalanya pelan dan langsung menjalankan mobil itu ke sebuah rumah sakit terkemuka yang berada di kota Paris.


“Sir, kita telah sampai” ucap supir itu saat mobil yang ditumpangi oleh Luke telah sampai di rumah sakit itu.


Luke menghela napasnya dengan kasar, matanya menatap gedung bertingkat dengan corak warna biru – putih itu.


Tak ingin berlama – lama lagi, Luke langsung membuka pintu mobil itu. Luke melangkahkan kakinya menuju ke rumah sakit itu.


“Lantai 4, nomor 16” ucap Luke dalam hatinya. Itu adalah letak kamar inap Aurora.


Perlu kalian tau, sehari setelah Luke mendengar cerita Margareth tentang pasiennya yang nekat melakukan tes DNA pada janinnya yang masih muda, Luke langsung merasa gelisah. Meskipun Luke merasa gelisah, dia tak ingin langsung menghubungi Aurora dan menanyakan keadaan wanita itu, namun, ia diam - diam meminta informasi terkini mengenai Aurora dari tangan kanannya sendiri, Alexander.


Dan benar saja. Ternyata Aurora tengah dirawat di rumah sakit karena tindakan berbahaya yang dilakukan oleh wanita gila itu. Wanita gila memanglah julukan yang cocok untuk wanita itu. Bisa – bisanya dia mengorbankan janinnya hanya untuk membuktikan bahwa janin yang dikandungnya itu adalah darah daging Luke.

__ADS_1


Mungkin, kehilangan janin di masa lalu tak membuat wanita itu merasa ketakutan ketika dirinya harus kehilangan janinnya lagi.


16.


Luke menatap angka yang tertempel dengan rapi di atas sebuah pintu kamar rumah sakit. Dengan berat hati, Luke mendorong pintu itu.


Bubh!


Suara jatuhnya remote tv langsung menyambut kedatangan Luke.


Luke mengernyitkan dahinya saat melihat Aurora menatapnya dengan tatapan terkejut dan sedikit… takut. Apa yang terjadi dengan wanita itu?


“Ada apa?” tanya Luke binggung sambil berjalan mendekati tempat tidur wanita itu. Saat Luke berjalan mendekati Aurora, Luke dapat menangkap gelagat aneh yang sedang dilakukan oleh wanita itu.


“Ti---tidak… Kukira yang datang orang lain…” ucap Aurora sambil tersenyum kikuk


Luke mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak berniat berbicara lebih banyak lagi dengan wanita gila itu.


Ingin rasanya Luke langsung keluar dari kamar itu jika saja hati Luke tidak terketuk ketika melihat wajah pucat wanita itu.


“Apakah itu untukku? Cantik sekali…” ucap Aurora sambil tersenyum bahagia.


Dengan lancang, Aurora mencoba menggapai sebuah buket bunga peony yang sedari tadi telah dibawa oleh Luke tanpa sadar.


“Lihat sayang… Daddymu membawakanmu bunga” ucap Aurora yang diakhiri dengan kekehan kecil.


Luke tersentak saat mendengar ucapan Aurora itu. Dengan gerakan refleks, Luke menjauhkan buket bunga peony itu dari jangkauan Aurora. Bahkan, tangan wanita itu yang sedari tadi telah meremas lembut salah satu putik bunga lembut itu telah terlepas.


“Ada apa?” tanya Aurora dengan raut wajah terkejut


“Ini bukan untukmu. Ini untuk istriku”


.


.


.


.


.


Happy L-1485


 


 

__ADS_1


__ADS_2