Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 95


__ADS_3

Brak!!!


Suara pintu yang di dorong kasar menyentak Aurora dari tidur ayamnya. Matanya langsung menatap ke arah pintu kamar rawat inapnya. Sayangnya, pencerahan remang – remang di dalam kamarnya itu membuat Aurora tidak dapat melihat wajah si penobrak pintu itu


Apakah orang itu adalah Sean?


Tapi, bukankah tadi Sean sudah berpamitan padanya? Bukankah tadi Sean sudah mengatakan bahwa malam ini, dirinya tidak bisa menemani Aurora karena Sean sedang sibuk memikirkan urusan kepulangannya kembali ke Roma


“Sean? Apakah semua urusanmu sudah selesai?” tanya Aurora sembari mengangkat tubuhnya dan menyandarkan pundaknya ke ranjangnya


Drap.. drap… drap…


Bukannya menjawab pertanyaan Aurora tersebut, penobrak misterius itu malah berjalan ke arah Aurora. Derap langkah sepatunya yang terdengar tegas tiba – tiba mengingatkan Aurora akan seseorang. Memikirkan hal itu membuat bulu kuduk Aurora meremang


Tangan Aurora langsung bergerak dengan pelan menuju ke tombol darurat yang untungnya berada tidak jauh  dari jangkauan tangannya


Grep!


Tangan Aurora langsung dicekal oleh tangan kekar milik pendobrak itu. Sepertinya, pendobrak itu sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh Aurora. Tangan kekar itu serasa taka sing. Jangan katakana jika pendobrak itu adalah…


“Aaaa--- Humph!”


Baru saja Aurora sudah membuka mulutnya dan menjerit, namun jeritannya itu tertahan ketika mulutnya langsung ditutup dengan kasar oleh tangan pendobrak itu


“Nampaknya, semakin lama, kau semakin melawan, ya?!? Apa kau lupa siapa dirimu?”


Deg.


Jantung Aurora langsung berdegub kencang dan keras ketika indra pendengarannya mendengar suara itu


Aurora langsung melebarkan kedua matanya, seolah – olah ingin mengumpulkan semua berkas cahaya yang ada disekitarnya agar dirinya dapat memastikan bahwa orang yang saat ini berada di hadapannya benar – benar pria itu


Tatapan terkejut dan takut langsung tercermin di kedua bola mata hitam Aurora saat dia yakin bahwa pria yang saat ini berada di hadapannya benar – benar pria itu, Ryan! Kakaknya yang gila!


“Are you scared, Ara?” tanya Ryan sambil menampilkan senyum smirknya yang terlihat sangat menyeramkan. Jika biasanya smirk akan menimbulkan kesan sexy pada seorang pria tampan, maka hal itu tidak terjadi pada Ryan. Smirk milik pria itu sama menyeramkannya seperti karakter hantu di film horror yang pernah di tonton oleh Aurora


Suara itu terdengar sangat menyeramkan di telinga Aurora. Mau tak mau, wanita itu langsung memalingkan wajah pucatnya


“Nampaknya kau sudah menyimpan banyak rahasia dariku” ucap Ryan yang diakhiri dengan bunyi gemeletuk dari gigi – giginya yang saling bergesekan


Tanpa sadar, Aurora menahan nafasnya.


“Untung saja Sean mengatakan semuanya kepadaku” lanjut Ryan dengan senyum puas di wajahnya


Mendengar nama Sean tersebut dari mulut Ryan membuat Aurora tersentak. Matanya langsung menatap lekat mata Ryan, mencoba mencari kebohongan di dalam mata kakak lelaki selama ini mengklaim bahwa Aurora bukanlah adik kandungnya

__ADS_1


“Se… Sean?” tanya Aurora terkejut dengan nada bergetar


“Ya. Hanya digoda dengan uang sedikit saja, mulutnya langsung lemas” ucap Ryan gamblang yang diakhiri dengan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat menyeramkan


Glek.


Aurora menegak ludahnya sendiri dengan kasar


Sean? Sean yang sudah menguak keberadaannya kepada Ryan?


Sungguh… Aurora tak bisa mempercayai hal ini, dia sangat percaya kepada Sean


Tes


Sebulir air mata meluruh dari netra Aurora.


Dosa apa yang sudah diperbuat oleh Aurora hingga ia tidak memiliki satu orang pun yang dapat dipercayainya di dunia ini?


“Jangan menangis! Jangan bertingkah seolah – olah kau adalah wanita yang paling memprihatinkan di dunia ini!” ucap Ryan sembari menggoyangkan keras punggung Aurora


Hiks… Hiks.. Hiks…


Kini, kedua netra Aurora sudah mengeluarkan air mata. Tangisannya yang diiringi dengan suara isakan memilukan milik wanita itu membuat emosi Ryan semakin memuncak


Dan kemarin, Ryan kembali mengunjungi apartemen milik wanita itu dan lagi… dia tidak menemukan keberadaan Aurora. Untuk kali ini, Ryan benar – benar tidak bisa mempercayai alasan klasik Aurora. Ryan tak bisa percaya bahwa wanita itu benar – benar lembur demi pekerjaannya


Pucuk dicinta, ulam pun tiba


Saat hendak meninggalkan apartemen Aurora, tanpa sengaja Ryan bertemu dengan seorang pria yang nampaknya sedang mengambil beberapa pakaian dari apartemen Aurora. Pria itu adalah Sean


Tak ingin membuang – buang waktunya, Ryan langsung mencegar Sean dan menanyakan tentang keberadaan Aurora. Awalnya, Sean sama dengan seorang sahabat yang sedang melindungi rahasia sahabatnya, pria itu tak mau membuka mulutnya sedikitpun.


Namun dari penampilannya, Ryan sadar bahwa pria yang berada di hadapannya ini tidak berasal dari golongan elite. Dan yup! Hanya digoda dengan sekoper uang saja, pria itu langsung tergoda dan mulutnya langsung mengucapkan segala rahasia yang sedari tadi ditahannya mati – matian


Sungguh, uang memanglah Tuhan di dunia fana ini.


“Sekarang katakan padaku, anak siapa yang saat ini sedang kau kandung?” desak Ryan dengan aura mengintimidasinya yang sangat kental


Aurora diam dan tetap menangis. Dirinya terlalu terkejut dengan fakta bahwa Sean, satu – satunya orang yang dipercayainya, telah mengkhianatinya.


Bugh!


Tiba – tiba Ryan menjatuhkan tubuh Aurora dengan kasar ke atas tempat tidurnya. Matanya menyala – nyala


“A… ap—a yang ingin kau lakukan?” tanya Aurora dengan perasaan takut yang luar biasa

__ADS_1


“Memberikanmu hukuman!”


Dengan gerakan tergesa – gesa, Ryan melepaskan sepatunya serta jaket berbahan jeans yang sedari tadi melindungi tubuh kekarnya dari dinginnya udara malam kota Paris ini


“Ryan!”


Aurora langsung berteriak panik saat tubuh kekar milik kakaknya itu sudah mulai menindih badannya. Bahkan disaat dirinya masih terbaring lemah di atas tempat tidur seperti ini, kakaknya itu tidak memiliki sedikitpun belas kasihan


“Jangan berteriak, jalng! Apa kau ingin orang lain datang dan memergoki kita? Apa kau ingin karir mu dibidang desaign hancur karena dirimu menjadi trending news dengan topik ‘Seorang desainer ternama, bermain serong dengan kakaknya sendiri’*. Apa kau mau hah!” ucap Ryan sambil mencengkram kuat pipi Aurora. Ryan seolah – olah tidak peduli jika nanti di kedua pipi mulus itu tercipta sebuah goresan dan memar berwarna merah


Aurora menggelengkan pelan kepalanya seraya menahan suara isakannya yang semakin menjadi


“Jawab aku!!! Kau mau atau tidak?!?” ucap Ryan dengan suaranya yang terdengar dalam dan menusuk


“Ti…. Tidak” gumam Aurora


Bagaimanapun juga, Aurora tak akan pernah merusak karir yang sudah dirintisnya bertahun – tahun dengan susah payah. Karir yang telah menjadi alasan Aurora meninggalkan Luke disaat pria itu tak henti – hentinya menangis karena dirinya sudah kehilangan bayi yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri


“Sekarang jawab pertanyaanku, siapa anak yang sedang kau kandung ini?!” tanya Ryan sembari mengetatkan kedua rahangnya kuat – kuat


Aurora diam. Jantungnya berdetak kerasa dengan tidak beraturan. Ia takut. Sangat takut


“Jawab aku!! Apa kau ingin aku merobek mulutmu?!?”


“Lukas!” jawab Aurora naluriah dengan kedua matanya yang diusahakannya untuk menatap mata tajam milik Ryan


Ryan mengernyit tak percaya saat mendengar jawaban Aurora


“Lukas! Anak ini adalah anakku dan Lukas! Kami melakukannya saat dia datang  ke Los Angeles!!!” jawab Aurora dengan suaranya yang sudah naik 1 oktaf


Sungguh, sepertinya anak yang sedang dikandungnya sedang memberikan kekuatan lebih kepada Aurora.


Plak!


Sebuah tamparan langsung melayang dengan sekenanya di pipi mulus Aurora. Tamparan itu terasa sangat kuat, bahkan sangking kuatnya, kepala Aurora sampai berputar kesamping.


“Jal*ng!”


Tangan Aurora langsung bergerak untuk memegang pipinya yang terasa panas dan perih. Ini bukan pertama kalinya Ryan menamparnya, tapi, tetap saja rasanya sangat sakit


Srett!


“Apa yang kau lakukan?!?” ucap Aurora dengan terkejut saat baju rumah sakitnya ditarik paksa oleh Ryan hingga baju berwarna biru muda itu terkoyak


“Seorang jal*ng harus diperlakukan seperti seorang jal*ng”

__ADS_1


__ADS_2