Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 102


__ADS_3

Ryan mengenggam erat sebuah pigura foto kecil yang bertengger dengan manis di atas meja kerjanya. Matanya menatap dua anak manusia yang terlihat sangat bahagia di dalam figura foto itu. Kedua anak manusia itu adalah Ryan dan Aurora, adik perempuannya yang tak pernah diinginkannya untuk menjadi adik perempuannya


Ryan mengusap pigura foto kecil itu dengan jari jempolnya. Senyum mirisnya timbul saat melihat kebahagiaan kedua anak itu. Ryan masih ingat, foto itu diambil di hari ulang tahun ke – 17 Ryan dan Ryan juga masih sangat ingat betul, jika hari itu adalah hari dimana Ryan tau tentang kebenaran identitas Aurora


Ia sangat marah dan kecewa kepada ayahnya, namun ia sadar bahwa hanya dengan melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya kepada ayahnya seorang, dirinya tak akan pernah puas, hingga akhirnya Ryan pun memutuskan untuk melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya pada Aurora, adik tirinya


Bub!


Ryan menutup figura foto kecil itu dengan keras. Ryan menghela nafasnya sembari mengusap kasar wajahnya.


Drrtt… drrtt… drrtt…


Suara getaran ponsel Ryan menyentak pria itu. Dengan gerakan tak bersemangat, Ryan mengambil ponsel yang berada di saku celananya itu


Dahi Ryan mengernyi ketika mendapati nomor yang tidak dikenal


“Halo? Siapa?” tanya Ryan to the point saat panggilan itu diangkatnya


“Halo, tuan… Ini saya, salah satu bodyguard yang diperintahkan tuan untuk menjaga nona Aurora”


Mendengar kalimat itu, rahang Ryan langsung mengetat. Otaknya langsung berproses dengan cepat dan menyimpulkan bahwa telah terjadi sesuatu yang janggal disini


“Ada masalah apa? Apa Aurora kabur?” tebak Ryan dengan nada kalimat yang terdengar sangat dingin


Bodyguard itu bungkam untuk beberapa detik. Mungkin pria itu terkejut karena Ryan mengatakan kalimat itu


“Maafkan kami atas keteledoran kami, tuan” ucap bodyguard itu dengan penuh penyesalan


Gigi – gigi Ryan bergelemetuk saat mendengar ucapan bodyguard itu. Jari telunjuknya bergerak dengan secara natural untuk mengetuk - ngetuk


“Brengsek! Cari wanita itu sampai dapat! Dia adalah wanita lemah, dia pasti tidak dapat pergi jauh” ucap Ryan dengan suaranya yang sudah meningkat


“Baik, tuan” ucap bodyguard tersebu dengan patuh


Tak ingin membuang – buang banyak waktu, Ryan langsung memutus panggilan itu.

__ADS_1


Ryan bukanlah orang bodoh yang tidak tau bahwa Aurora pasti memiliki keinginan untuk kabur, oleh karena itu, Ryan sudah memasangkan chip pelacak di dalam ponsel wanita itu.


Dengan gerakan cepat, Ryan menggulirkan ponselnya dan membuka salah satu aplikasi pelacak yang terhubung langsung dengan ponsel Aurora.


Rumah Sakit Veeta


Ryan tersenyum miring saat melihat lokasi tempat wanita itu kini tengah bersembunyi. Pasti karena wanita itu merasa kelelahan akibat  berlari sekuat tenaganya, wanita itu memutuskan untuk berhenti. Sayangnya, tempat berhentinya wanita itu merupakan tempat yang masih bisa dijangkau oleh Ryan Smith


“I got you, bad girl” ucap Ryan


Ryan bangkit dari tempat duduknya. Kedua kaki panjangnya berjalan dengan cepat menuju ke tempat parkiran perusahaan barunya ini yang terletak tepat di basement perusahaan ini.


“Allysa, hari ini aku pulang cepat, tolong usir semua kolega bisnis yang hari ini akan datang ke perusahaan” ucap Ryan melalui headsetnya yang sudah menghubungkan panggilan dengan sekretaris barunya, Allysa


“Baik, tuan” jawab Allysa tanpa ragu karena ia tau, jika ia melawan ucapan CEOnya itu, dirinya pasti akan langsung dipecat


Setelah mengatakan hal itu pada sekretarisnya, Ryan langsung memasuki mobil mewahnya dengan senyum misterius yang tercetak di wajahnya


Ryan melajukan mobilnya itu dengan kecepatan tinggi. Mobil mewah mengkilap itu membelah jalanan kota Paris dengan begitu lincahnya.


“Request accepted, sir”


Tanpa perlu repot – repot, kini nomor plat mobil mewah itu sudah berganti dengan sendirinya.  Kini, Ryan tak perlu menghabiskan banyak waktunya di kantor polisi karena tindakan yang akan dilakukannya nanti. Ryan yakin, meskipun dirinya sudah mengganti nomor plat, polisi mungkin masih dapat mengendus kejahatannya nanti, namun, setidaknya Ryan sudah meminimilasir hal itu


Senyum Ryan mengembang dengan misterius, saat dirinya menatap sosok wanita yang sedari tadi dicarinya. Nampaknya, wanita itu hendak menyebrang ke sebuah café.


Ryan mengikuti arah pandang wanita itu, Aurora. Senyum remehnya muncul saat dia mendapati sosok Luke yang ternyata sudah menunggu wanita itu di café itu. Astaga… nampaknya adiknya itu tak bisa melupakan Luke


Jika tau Aurora akan sebergantung ini kepada Luke, mungkin Ryan tak akan pernah mengenalkan Aurora kepada Luke dan Ryan tak akan pernah menyuruh Aurora untuk menerima tawaran berkencan dari Luke yang berujung pada pertunangan mereka. Meskipun akhirnya, Ryan berhasil menggagalkan pertunangan itu. Namun, dirinya tetap merasa kesal karena wanita itu selalu saja bersikap seolah – olah ia tak bisa melupakan Luke.


Dengan salah satu tangannya yang terbebas, Ryan menekan panggilan untuk Aurora. Dari mobilnya yang sudah ia tepikan di bibir jalan raya itu, Ryan dapat melihat Aurora nampaknya menolak panggilan Ryan dari ponsel yang berada di dalam genggamannya


Tak ingin menyerah, Ryan semakin gencar menelpon Aurora. Hingga akhirnya wanita itu mengalah dan mengangkat panggilan itu. Well… Ryan sedikit merasa bersykur karena jalanan yang hendak disebrangi oleh Aurora cukup padat, sehingga wanita itu merasa kesulitan untuk menyebrangi jalan itu


“Halo, ada apa kak?” tanya Aurora dengan suaranya yang dibuat sesopan mungkin

__ADS_1


“Dimana kau?” tanya Ryan dengan nada dinginnya


“Aku … aku sedang berada di rumah… di kamar lebih tepatnya” dusta Aurora


“Kenapa berisik sekali? Apa kau yakin kau sedang berada di kamarmu?”


“Eum---


“Kau mulai berani berbohong kepadaku rupanya” ucap Ryan yang diakhiri dengan sebuah kekehan yang terdengar tidak bahagia sama sekali


Aurora bergeming ketika mendengar ucapan kakaknya itu. Ia tak mau lagi berbicara dengan kakaknya itu, ia merasa sangat takut.


“Berani kau menyebrang, kakimu akan kupatahkan” ucap Ryan dengan nada dinginnya


Debaran jantung Aurora semakin menggila. Jika ia tidak menyebrang, Luke pasti merasa dirinya sudah dipermainkan oleh wanita itu. Nampaknya, Aurora memang harus menyebrang. Karena disebrang sana, sudah ada pria yang akan menjamin kebebasannya


“Bedeb*h kau!” ucap Aurora dengan keberanian yang entah datang darimana


Wanita itu langsung memutus panggilan itu secara sepihak dan langsung melangkahkan kakinya untuk menyebrangi jalan yang sudah lumayan lenggang.


“Apa kau pikir aku bermain – main?” geram Ryan dengan rahangnya yang sudah mengetat erat. Nampaknya, emosi yang berapi – api sudah menguasai pria itu


Tanpa pikir panjang, kaki pria itu menekan bagian gas mobil itu dengan sekencang – kencangnya. Tatapan pria itu hanya terkunci pada satu orang, yaitu Aurora.


Mobil itu semakin mengencang dan…


Brukkk!!!


Suara nyaring itu dan teriakan – teriakan orang yang berada di daerah itu seakan – akan menjadi lagu kemenangan tersendiri untuk Ryan. Senyum puas milik pria itu langsung menghiasi wajah misterius milik pria itu


Tepat sasaran!


 


 

__ADS_1


__ADS_2