Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel
Episode 49


__ADS_3

Jeduarrr!!!


“Mama!!!” teriak Isa takut saat mendengar suara petir yang sangat memekakan telinganya


“Sial!” maki Isa dengan wajah cemberutnya sambil menaikkan selimut yang berada di genggamannya untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Saat ini, Isa merasa sangat ketakutan. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul 11.45, namun, Luke belum juga menunjukkan batang hidungnya. Isa yakin, Luke pasti masih bekerja di kantornya. Mungkin saja Luke sedang lembur karena perusahaannya baru saja mendapatkan sebuah guncangan yang sangat kuat.


“Aaaaaaahhhhh!!!”


Isa terkejut batin saat mendengar suara teriakan. Kedua matanya membola dan wajahnya langsung memucat


“Who is that?” tanya Isa dengan bibir yang gemetar.


Kini, seluruh tubuh Isa, mulai dari ujung kakinya sampai ujung kepalanya, sudah ditutupi dengan selimutnya yang tebal. Isa merasa ketakutan saat ini. Dia sangat takut jika rumah Luke ini benar – benar memiliki penghuni, apalagi, beberapa hari belakangan ini, Isa sering merasa dirinya tidak nyaman berada di penthouse ini. Dia sering merinding tanpa sebab.


Merasa tidak ada yang menjawabnya, jantung Isa langsung berdebar kencang. Kemudian, Isa mendengar suara yang sangat ribut namun dengan kekuatan suara yang lebih kecil daripada teriakan yang di dengarnya tadi.


“Tuhan, jika aku benar – benar meninggal hari ini, tolong jauhkan hal – hal buruk dari keluargaku!” ucap Isa sambil menutup matanya dengan rapat – rapat.


Dengan rasa keberanian yang entah datang darimana, Isa membuka selimutnya sebatas pipinya. Kedua mata hazelnya bergerak dengan hati – hati saat dia mengedarkan pandangannya.


Tidak ada siapa – siapa.


“Ahhhhh”


Teriakan itu muncul lagi.


“Tuhannn!!!” ucap Isa terkejut


Tanpa sengaja, Isa menatap layar televisi di kamarnya yang menyala dan sedang menampilkan sebuah adegan pembantaian.


“For God’s sake!” ucap Isa tidak percaya


Dengan perasaan dongkol, Isa menatap layar televisi itu. Dengan kesal, Isa mematikan televisinya. Sebenarnya, Isa merasa binggung, kenapa televisinya itu bisa hidup, karena Isa merasa bahwa dirinya tidak ada menghidupkan televisi.


Apa jangan – jangan….?


“Isa! Jangan berpikir negatif terus!” ucap Isa pada dirinya sendiri sambil menggeleng – gelengkan kepalanya


Klek!


Tiba – tiba, Isa merasakan semuanya hitam. Apakah dia mati? Apakah dia pingsan?


Isa merasa dirinya sulit bernapas, sampai dia melihat seberkas cahaya dari pintu balkonnya.


“Kenapa harus mati lampu!” ucap Isa dongkol sambil menggigit bibirnya agar isak tangis tidak keluar dari bibirnya.


Tanpa memperdulikan rasa takut yang menyerangnya, Isa melangkahkan kakinya menuju saklar yang berada di dekat pintu kamarnya. Kalau menurut perkataan Luke, jika saklar itu dihidupkan, maka lampu di kamar Isa akan menyala meskipun sedang mati lampu. Kira – kira, saklar itu adalah penghidup lampu emergency di kamar Isa.


“Huft… untunglah” ucap Isa bernapas lega saat lampu kamarnya sudah hidup kembali


Meskipun lampu kamarnya saat ini lebih redup daripada lampu kamarnya sebelum mati lampu, namun Isa tetap bersyukur. Setidaknya, Isa tidak merasakan ketakutan yang lebih mendalam lagi.


Dengan langkah yang terkesan terburu – buru, Isa langsung berjalan menuju tempat tidurnya. Ia menaiki tempat tidurnya dan langsung memakaikan selimut ke seluruh tubuhnya dengan tergesa – gesa, seolah – olah ada orang yang sedang mengintainya dan membunuhnya jika Isa tidak begerak dengan cepat.


Setelah memakai seluruh peralatan tempurnya, Isa langsug meraih ponselnya yang diletakkannya di balik bantalnya. Ia membukanya dan langsung mencari nama Luke di daftar kontak yang ia punya.


“Aku harus menelponnya. Aku bisa mati ketakutan jika dia tidak ada disini. Aku tidak bisa sendirian disaat – saat situasi seperti ini” gumam Isa sambil menggulirkan ponselnya


Kreeitt!


Sebuah suara pintu yang terbuka mengusik pendengaran Isa. Awalnya, Isa menghiraukan suara pintu itu.


Kreeitt!


Suara itu lagi!

__ADS_1


Isa mengedarkan pandangannya ke pintu kamarnya. Sebuah kernyitan langsung timbul di dahinya. Pintu kamarnya terlihat baik – baik saja. Lalu, suara tadi… darimana asalnya?


Kreeitt!


******! Isa bisa mati ketakutan jika dia mendengar suara itu lagi.


Dengan tangannya yang bergetar, Isa langsung menekan tombol panggil.


Isa menunggu Luke menggangkat panggilannya dengan tidak sabar.


“Ayolah Luke… ayo angkat!” ucap Isa tidak sabar sambil menggigit bibirnya


“Maaf, nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi” suara operator membuat Isa merasa kecewa


Rasa – rasanya, saat ini Isa ingin menangis.


“Coba sekali lagi” ucap Isa sambil menahan tangisannya dan kembali menekan nomor Luke


Di percobaannya kali ini, Isa berdoa kepada Tuhan agar Luke mengangkat panggilannya.


“Halo?” sebuah suara dari Luke membuat Isa tidak kuat untuk membendung tangisannya


“Luke… hiks… hiks… pulanglah… hiks” ucap Isa dengan suara paraunya yang diiringin dengan isakan


“Shit! Hei, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menangis?” tanya Luke khawatir saat mendnegar tangisan Isa yang terdengar sangat memilukan di telinganya


“Pulanglah! Hiks… hiks… cepat pulang” rengek Isa sambil menangis


“Baik – baik… Jangan menangis lagi. Aku akan sampai di rumah 5 menit lagi” ucap Luke tergesa – gesa


“Cepatlah…. Hiks….”


“Baik” ucap Luke


Tut.


Setelah panggilan mereka terputus, Isa merasa dirinya saat ini benar – benar tidak aman. Suara pintu itu selalu mengusik pikirannya. Jantungnya berdebar tidak karuan.


Selama menunggu kedatangan Luke. Isa menatap sekeliling kamarnya dengan perasaan wanti – wanti. Ini sudah lewat 10 menit, namun Luke belum datang juga. Apakah pria itu menipunya?


Jeduarrr!!


“Lukasssss!!!” teriak Isa refleks saat dirinya mendengar suara petir itu kembali menyambar. Kedua tangannya langsung menutup kedua telinganya, berharap dirinya tidak akan mendengarkan suara memekakan itu lagi


“Isa!”


Sebuah panggilan membuat Isa menggangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk.


“Aaaaahhhh!!!” teriak Isa lagi saat melihat seorang pria dengan pakaian acak – acakan sedang berdiri tepat dihadapannya


“Jangan berteriak, ini aku. Luke!” ucap Luke sambil berjalan mendekati Isa


Isa langsung mengedipkan matanya berkali – kali untuk memastikan sosok pria yang sedang berada dihadapannya itu


“Luke” ucap Isa


Tanpa memperdulikan apapun, Isa langsung turun dari tempat tidurnya dan langsung memeluk tubuh Luke dengan erat


“Kenapa kau lama sekali?” tanya Isa yang diakhiri dengan sebuah isakan


Luke membalas pelukan Isa. Tangannya yang kekar mengelus punggung Isa, agar wanita itu merasa nyaman dan terlindungi


“Maaf. Tadi ada sedikit masalah di perusahaan” ucap Luke sambil mengecup puncak kepala Isa dengan lembut


“Aku sangat takut! Penthouse mu ini berhantu!” ucap Isa sambil mendongak untuk menatap mata biru jernih milik Luke


Mati – matian, Luke menahan dirinya agar tidak tertawa saat melihat ekspresi dan ucapan Isa yang sangat menggemaskan.

__ADS_1


“Ah, benarkah? Memang, beberapa hari belakangan ini aku merasa ada seseorang yang mengikutiku” ucap Luke


“Tuh kan… lebih baik kita pindah dari penthouse ini. Aku tidak ingin mati muda. Hikss” ucap Isa sambil kembali menangis


“Hei, jangan menangis” ucap Luke sambil menghapus jejak – jejak air mata yang masih berada di kedua pipi milik Isa.


“Sudah ya… jangan takut lagi” ucap Luke sambil menyelipkan rambut Isa ke balik telinga wanita itu


“Ayo, lebih baik kau tidur dulu” ajak Luke


Tanpa menunggu persetujuan Isa, Luke langsung menggendong Isa seperti ibu koala yang sedang menggendong anaknya.


Isa langsung melingkarkan kedua kakinya di pinggang Luke, kedua tangannya memeluk tubuh kekar Luke dan wajahnya ia tenggelamkan di dada Luke. Sungguh nyaman.


“Nah” ucap Luke sambil melepaskan pelukan Isa dan meletakkan Isa diatas tempat tidurnya


“Sekarang… tidurlah” ucap Luke sambil menarik sebuah selimut untuk membungkus badan Isa


Kreeit!


Suara itu membuat  Isa kaget.


“Apa suara itu yang membuatmu takut?” tanya Luke saat melihat ekspresi kaget Isa saat mendengar suara aneh itu


Pertanyaan Luke itu hanya dijawab dengan sebuah anggukan oleh Luke


“Tidak usah takut. Itu hanya suara pintu balkon kamarmu. Mungkin saja engselnya sedang rusak”


“Benarkah? Apakah itu bukan suara yang disebabkan oleh pencuri? Atau hantu?” tanya Isa yang membuat Luke gemas


“Tentu saja tidak” jawab Luke tersenyum sambil tangannya terulur untuk membelai lembut puncak kepala Isa


“Tap---


“Sudahlah, jangan banyak tanya lagi. Lebih baik kau tidur” ucap Luke sambil tersenyum kecil


“Kau… kau tidak akan pergi kan?”


“Kau memintaku untuk berada disini?” tanya Luke balik sambil mengangkat salah satu alisnya


Pertanyaan Luke itu dibalas dengan sebuah anggukan oleh Isa.


“Aku sangat takut saat ini. Aku perlu seseorang untuk menjagaku. Kau bisa tidur di sofa itu, sofa itu tidak kalah empuk dengan kasur ini” ucap Isa sambil menunjuk sebuah sofa yang terletak di dekat pintu balkon kamar Isa


Luke tersenyum kecil. Nampaknya, Isa masih belum bisa memaafkan perbuatannya. Tapi tak apa, setidaknya hal ini sudah bagus untuk hubungan mereka.


“Eumh… baiklah… sekarang kau tidur sebelum pencuri atau hantu akan menangkapmu” ucap Luke sambil menutup mata Isa dengan tangannya yang kekar


.


.


.


.


.


Hai semua... kita jumpa lagiiii :D


Oh iya, aku mau minta pendapat kalian nih... kalau Heartbreak Hotel dibuat trailer, kalian bakal nonton nggak?


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2