
Nabila pulang dengan perasaan sedih, galau dan tidak semangat, bahkan dia tidak menyadari keberadaan maminya, yang ada di ruang keluarga.
“Pulang – pulang, Kok cemberut, sayang.” Tegur mami Nabila yang memperhatikan wajah putrinya yang tidak semangat.
“Gak ada mi.” jawab Nabila lemas, dia terus berjalan menuju kamarnya lantai 2.
“Diantar siapa, sayang?” tanya mami lagi.
“Ojek online mi.” Nabila terus menaiki tangga, diikuti maminya.
“Loh, bukannya kata mang Udin kamu pulang bareng teman?” tanya mami, mengerutkan kening, bingung kenapa Nabila naik ojek online, kan mending dijemput mang Udin.
“Gak jadi mi, mungkin dia ada keperluan, makanya ninggalin Nabil.” Nabila membuka sepatunya dan meletakannya di rak sepatu. Mami duduk di ranjang Nabila.
“Maksud kamu, teman kamu membatalkan janji gitu?” Mami mencoba mengorek informasi dari putrinya.
Mami memang curiga, ada apa – apa dengan Nabila, putrinya itu lebih semangat ke Sekolah, biasanya tidak pernah pagi – pagi sekali udah berangkat sekolah. Tandanya ada yang menarik perhatiannya.
“Sayang kalau mau cerita, cerita aja sama mami.” Mami menarik tangan Nabila dan mengajaknya duduk di ranjang. Nabila kemudian tidur di paha maminya.
“Mami jangan marah ya, janji?” mulai Nabila.
“Mami janji.” Mami membelai rambut Nabila.
“Nabila menyukai seseorang, mi.” Nabila masih ragu menceritakannya, dia menunggu reaksi dari maminya.
“Anak mami udah besar, siapa orangnya?” tanya mami.
“Ada pokoknya mi, kakak kelas Nabil.” Nabila tidak mau memberitahu nama Nathan.
“Terus masalahnya dimana?” masih mengusap – usap kepala Nabila.
“Masalahnya, kakak itu dingin banget mi, dia gak pernah menganggap Nabil ada, dia selalu cuekin Nabil.” Jelas Nabila.
“Masa anak cantik mami diabaikan?” mami pura – pura sewot.
“Ya kan mi, kurang cantik apa Nabil coba, terus kurang baik apa coba?” narsis Nabila kumat.
“Jangan – jangan cowok itu udah punya pacar atau ada gadis yang disukainya?” tanya mami. Dia tidak menyadari bahwa kata – katanya itu mempengaruhi Nabila.
“Mungkin juga mi.” balas Nabila memelas, semakin tidak semangat.
“Mami yakin, cowok itu belum punya pacar.” Mami berusaha mengembalikan mood putrinya.
__ADS_1
“Mudah – mudahan mi.”
“Ya udah, mandi dulu sayang bentar lagi kita makan malam.” Mami meninggalkan kamar Nabila.
Nabila kembali menyemangati dirinya.
*****
Sepulang sekolah Nathan menuju parkiran, tadi dia dipanggil wakil kepala Sekolah, menanyakan tentang Olimpiade matematika se-Indonesia. Nathan berharap Nabila bosan menunggunya. Saat mengeluarkan motornya, Laudya teman sekelasnya, sekaligus gadis yang disukai Nathan, menghampirinya.
“Nat, gue boleh minta tolong loe gak?” tanya Laudya tergesa – gesa.
“Boleh.” Ujar Nathan dengan senang hati, biasanya dia menawarkan Laudya untuk mengantarnya pulang, namun Laudya selalu menolak dengan berbagai alasan.
“Gue buru – buru harus ke stasiun kereta api, buat pesan tiket, gue besok mau ke Bandung, nenek sakit, jadi mama, suruh gue untuk beli tiketnya, karena searah dari rumah.” Jelas Laudya.
“Emang loe gak dijemput?” bingung Nathan. Biasanya Laudya juga dijemput sopirnya.
“Sopir udah berangkat duluan sama papa, gue sama mama nyusul besok pagi.” Jelas Laudya kepada Nathan.
“Ya udah, ayo.” Ajak Nathan sambil menyerahkan helm kepada Laudya. Kalau gak terpaksa, mana mau gue naik motor butut ini, malu – maluin aja. Mudah – mudahan gak ada yang lihat gue dibonceng Nathan, batin Laudya.
Sesampai di tempat pembelian karcis tiket, Laudya membeli tiket untuk 2 orang, Nathan menemaninya, saat akan membayar, Laudya baru menyadari bahwa dompetnya tertinggal dilaci meja kelas.
“Nathan, dompet gue ketinggalan di kelas.” Beritahu Laudya kepada Nathan dengan nada cemas.
“Dua ratus lima puluh ribu.” Jawab Laudya. Nathan mengeluarkan uang dua ratus lima puluh ribu rupiah dan menyerahkannya kepada Laudya. Laudya membayar tiket tersebut.
“Bisakah, kita kembali ke sekolah untuk mengambil dompet gue?” ujar Laudya.
“Tentu saja.” Dengan senang hati, batin Nathan.
Mereka kembali ke sekolah, Laudya berharap tidak ada yang melihat dia bersama Nathan.
Setelah mengambil dompet Laydya. Laudya mengganti uang Nathan yang dia pakai untuk membayar tiket tadi. Nathan menolaknya. Mereka keluar dari gerbang sekolah, saat melewati Indomerit, Nathan melihat Nabila yang duduk disana, memandang kearahnya. Ada sedikit perasaan bersalah dihati Nathan, namun ditepisnya.
Mudah – mudahan dengan ini dia jera mengganggu gue, batin Nathan.
*****
Nabila dan team cheerleader kembali disibukan dengan jadwal latihan mereka. Di hari off latihan Nabila berusaha kembali menemui Nathan, dia ingin menanyakan tentang Nathan yang tidak bisa mengantarnya waktu itu.
“Kak, Minggu lalu kan kakak tidak jadi antar Nabila pulang, jadi hari ini kakak harus antar Nabila.” Paksa Nabila.
__ADS_1
“Memang saya sopir kamu?” tanya Nathan. Kok dia tidak bertanya tentang gue yang pulang bareng Laudya?
“Bukan gitu kak, tapi kakak membatalkan janji secara sepihak. Malahan kakak pulang sama teman kakak, Nabila gak tanya siapa gadis itu” Jelas Nabila karena dia belum siap menerima kenyataan jika Nathan telah memiliki pacar.
“Ya, karena itu memang bukan urusan kamu.” Sewot Nathan.
“Maka itu kak, hari ini kita pulang bareng ya?” bujuk Nabila lagi, dia pindah ke samping tempat duduk Nathan, memegang bahu Nathan dan menggoyang – goyangkannya, sambil mendekatkan wajahnya untuk menatap Nathan. Nathan yang risih karena berada diperpustakaan akhirnya menyetujuinya.
“Pelankan suara mu, ini perpus.”
“Ya, makanya kakak harus mau kita pulang bareng hari ini.”
“Baiklah, sepulang sekolah saat yang lain sudah pulang tunggu aku di gerbang.” Akhirnya Nathan menyerah.
“Terima kasih kak.” Nabila keluar dari perpustakaan, memperhatikan sekelilingnya, syukur tidak ada yang memperhatikan mereka. Nabila khawatir ada yang mengenalinya.
*****
Pulang sekolah, Nabila tidak langsung keluar kelas. Biasanya begitu bel pulang berbunyi mereka langsung berebutan keluar duluan.
“Yuks Nab.” Ajak Siska.
“Duluan aja, mang Udin telat jemput.” Alasan Nabila lagi.
“Mau bareng gue, Nab?” tawar Maura, yang rute rumahnya sama dengan Nabila.
“Gak usah Ra, gue tunggu aja, palingan gak lama kok.” Balas Nabila lagi.
“Owh ya udah, kami duluan ya, bye Nabila.” Ujar Cherryl dan Jenifer.
Mereka meninggalkan Nabila. Sambil menunggu, Nabila membaca novel di aplikasi Noveltoon. Tidak terasa lima belas menit telah berlalu. Nabila melirik jam tangannya.
Sudah lewat lima belas menit, batin Nabila. Dia keluar kelas, menuju gerbang. Nabila memperhatikan sekitarnya yang telah mulai sepi. Semoga hari ini tidak gagal lagi, batin Nabila.
Digerbang sekolah Nabila menunggu, melewati parkiran, Nabila memastikan bahwa motor Nathan masih ada. Dan ternyata motor Nathan masih terparkir dipakiran. Nabila menunggu digerbang sepuluh menit.
Tiba – tiba seseorang menghampiri Nabila. Nabila merasa waspada dengan kedatangan orang tersebut. Dalam hati jangan sampai rencananya untuk pulang bareng Nathan gagal lagi.
♥️♥️♥️♥️♥️
Karya ini lagi ikut kontes YMYB ya sayang2 akuh.
So please, dukung ya dengan cara LIKE, KOMENT, FAVORITEkan dan kasi HADIAH ya.
__ADS_1
Gomawo
\= Lady_MerMaD \=