I Wanna You, My Cold Boy

I Wanna You, My Cold Boy
I Wanna K**s You


__ADS_3

“Aku memang pernah bilang, kamu boleh jadi pacarku, kalu bisa mencium ku. Tapi anggap saja omonganku itu tidak pernah ada, oke.” Ucap Evan datar.


“Eh, kenapa?” tanya Jenifer bingung. Kenapa berakhir semudah ini?


Deg, deg, deg detak jantung Jenifer semakin tidak karuan dia tidak terima Evan, membatalkan kata – katanya untuk memberi Jenifer kesempatan.


*Dia pasti mempermainkan, loe * Cheryl


*Apa kak Evan seorang playboy? * Siska


*Siapa tau dia sering mainin cewek dan punya banyak pacar, bukan disini tapi disekolah lain * Maura


Kata – kata Cheryl, Siska dan Maura saat itu terngiang- ngiang dalam pikiran Jenifer.


“Tadi aku pura – pura tidur.” Lanjut Evan lagi, menghadap ke Jenifer.


“Eh.” Jenifer masih bengong dengan yang dia dengar.


“Tapi kamu tidak mencium ku, ku rasa sudah cukup.”  Evan menyandarkan tubuh di tiang ring basket.


Kenapa semudah itu kak Evan bicara, batin Jenifer.


“Jahat, kakak bilang 3 hari kan? Dan ini baru hari kedua, tepati janji kakak.” Jenifer mendekati Evan dan memukul – mukul dada Evan, tidak terima Evan semena - mena dengan perasaannya.


Meski dia mempermainkan gue, gue masih menyimpan harapan, batin Jenifer.


“Jeni.” Panggil Evan, sambil memegang tangan Jenifer yang memukul – mukulnya. Evan membalikan tubuh Jenifer  dan menyandarkannya ke tiang ring basket, kemudian mencium bibir Jenifer dengan lembut.


Eh, kenapa kak Evan mencium gue selembut ini, batin Jenifer. Detak jantung mereka berpacu sangat kencang. Cukup lama mereka berciuman, walaupun Jenifer tidak membalas dan hanya menerima dengan kaku, Evan tau jika itu adalah ciuman pertama bagi Jenifer, namun tidak dengan Evan karena saat kelas sembilan dia pernah pacaran dengan teman sekelas. Putusa karena mereka berpisah, si cewek pindah ke kota lain. Bahkan saat kelas sepuluh Evan sempat berpacaran dengan beberapa gadis dari Sekolah lain, bisa dibilang Evan cukup playboy. setelah kelas sebelas aja dia malas pacaran.


Evan kemudian menghentikan ciumannya dan memegang bahu Jenifer, memandang mata Jenifer lekat.


“Aku tidak sabar, menunggu ciuman mu.” Ujar Evan wajahnya merona merah.


“Sebetulnya, saat kamu bilang suka sama aku, aku sangat senang dan ingin langsung mencium mu.” Namun tidak mungkin karena disana begitu banyak orang, lanjut Evan dalam hati.


“Lantas, kenapa kak Evan bilang, harus cium dalam waktu tiga hari?” sewot Jenifer, meletakan tangannya diperut, kondisi ngambek.


“Itu sih.. karena aku ingin selama tiga hari ini, kamu hanya memikirkan ku.” Lanjut Evan malu.


“Hah.” Kaget Jenifer.


“Aku ingin, kamu mencari tahu tentang aku, karena aku, selalu mengawasi mu, sejak aku memastikan bahwa aku menyukai mu, bahkan jauh sebelum itu, saat kamu makan pizza yang berlepotan dan memohon kepada ku untuk memberikan mu potongan terakhir pizza.” Jelas Evan mengenang saat pertama kali jantungnya berdebar karena senyuman dari Jenifer.

__ADS_1


"Mana ada, aku makan berlepotan." ujar Jenifer tidak terima dikatakan makan berlepotan.


“Ya deh, tapi karena sejak saat itu, aku suka kamu.” lanjut Evan.


“Bukannya saat itu, kakak lagi deketin Nabila.” Rajuk Jenifer. Dia ingat Evan saat itu keukeh mengejar Nabila, ada perasaan cemburu dalam diri Jenifer. Namun segera ditepisnya, yang penting adalah saat ini.


“Aku memang deketin Nabila karena berpikir Nabila cocok pacaran dengan ku, tapi, Nabila tidak pernah membuat jantung ku berdebar, tidak saat aku dekat dengan mu.” Jelas Evan. Dia melihat Jenifer seperti akan menangis.


“Jangan nangis.” Larang Evan, megusap pucuk kepala Jenifer.


“Habis aku senang sekali, saat ini aku orang paling bahagia di dunia.” Senyum Jenifer bahagia, dia terharu dengan perlakuan dan kata - kata Evan.


“Kalau tahu bakal begini reaksi mu, mestinya ku tembak sejak dulu, aku suka, suka sekali pada mu.” Evan meraih tangan Jenifer dan memeluknya, kemudian kembali mencium bibir Jenifer lagi.


“Kamu tahu sesuatu?” pancing Evan setelah melepaskan pagutannya di bibir Jenifer.


“Apa?” tanya Jenifer penasaran. Evan mengajaknya duduk.


Flash back on


Evan sedang bersama Rangga dan Ferry, setelah ujian terakhir mereka dan mereka dilapangan Basket.


“Gue ingin nembak Jeni.” Ucap Evan sambil mendrible bola basket.


“Yakin loe?” Rangga memastikan perkataan Evan. Dia langsung merebut bola basket dari tangan Evan.


"Emang perasaan loe sama dia gimana, jangan kayak Nabila sebelumnya, loe gak ada perasaan sama Nabila, tapi masih ngotot buat jadiin Nabila pacar loe? kali ini Ferry yang mengeluarkan pendapatnya.


"Kali ini, gue yakin dengan perasaan gue, jantung gue berdebar hanya memandangnya, sebelumnya gue mengabaikan perasaan itu, karena saat itu fokus gue ke Nabila dan keegoisan gue, menolak perasaan yang muncul untuk Jenifer sehingga mengalahkan perasaan sayang gue, buat Jenifer." jelas Evan.


"Jadi loe, udah benar - benar pastiin dengan siapa hati loe berlabuh." Rangga memastikan ucapan Evan.


"Iya." jawab Evan. Dia kemudian duduk di lantai, sambil mengambil minuman yang mereka bawa tadi.


"Jadi loe, mau kami bantu apa?" tanya Ferry, ikut duduk dan mengambil minuman juga.


"Gue, mau nembak Jenifer saat Festival budaya, gimana menurut loe?" Evan memberitahu idenya.


"Boleh juga. Jadi rencana, loe, kayak apa? mau buat kayk loe, nembak Nabila juga?" tanya Rangga.


"Ya gak lah, Nanti gue beritahu." ucap Evan misterius.


Flash Back Off

__ADS_1


"Kakak so sweet." ujar Jenifer setelah mendengar cerita Evan, dia langsung berhambur memeluk Evan yang tengah duduk, sehingga membuat posisi Evan setengah tertidur dengan Jenifer diatasnya.


"Jadi apa rencana kakak?" tanya Jenifer kepo. masih posisi diatas Evan.


"Ada deh." Evan sengaja membuat Jenifer penasaran. Apa anak ini gak tahu kalau posisi mereka sekarang gak aman? batin Evan.


"Huh, gak keren." sungut Jenifer. Evan kemudian membalikan posisi, sekarang Jenifer yang berada dibawah dengan kepalanya di pegang oleh tangan Evan. Jenifer gugup, dia baru sadar posisi mereka sangat dekat.


"Kamu sengaja memancing ku ya?" tanya Evan, satu tangannya membelai wajah Jenifer.


"Memancing apa?" gugup Jenifer, dia memalingkan wajah dari tatapan Evan yang entah kenapa menurut Jenifer berbahaya.


"Sudah lah." Evan hanya memeluk Jenifer dan meletakan kepalanya di leher Jenifer. Entah kenapa tadi sempat pikiran nakal Evan melayang. Namun dia tidak tega melakukan hal lebih kepada Jenifer. Gaya berpacaran Evan dulu memang cukup liar, untuk kalangan remaja, walaupun belum sampai tahap seperti hubunga suami istri, tapi itu cukup ekstrim apa lagi jika dia melakukan hal yang sama kepada Jenifer, dia benar - benar tidak tega.


Evan berdiri kemudian mengulurkan tangannya kepada Jenifer. Jenifer menerimanya dan ikut berdiri. Evan kemudian berjalan keluar aula, tiba - tiba Jenifer memeluknya dari belakang.


"Aku suka, suka sekali dengan kakak." ujar Jenifer bahagia, dia bahkan seperti anak kucing yang mengendus - enduskan kepalanya dipunggung Evan.


Evan membalikan badan dan memeluk Jenifer dengan sayang.


🍒🍒🍒


Jenifer dan Evan, clear udah mak satuin mereka ya.


Kalian jangan baper ya, aku yang buat aja baper kebayang - bayang zaman sekolah, ga ada kayak gini, dan taukah kalian karena gak ngalami kayak gini makanya balas dendam buat cerita kayak gini. Seperti mimpi yang gak kesampaian😂


Oh iya aku mau promosiin karya temanku author kejceh yang jago banget bikin kisah fantasi jadi aku nyebutnya lord of fantasi napennya Lord Eclipse Venerable dengan judul karya AYAHKU MANUSIA TERKUAT DIALAM SEMESTA



Seperti biasa


LIKE


VOTE


KOMENT


and


FAVORITEkan ya


Gomawo

__ADS_1


\= Lady_MerMaD \=


 


__ADS_2