
"Eh, tunggu, Sis, sebaiknya biarkan saja, mungkin itu hanya orang iseng," bujuk Cakra. Dia takut entah siapa yang akan datang.
"Bukan orang iseng, Bang," jawab Siska.
"Biar, Abang, aja nanti yang buka, kamu tunggu saja di sini," bujuk Cakra lagi, dia khawatir dengan siapa yang datang.
"Paling, itu driver makanan, Bang " terang siska.
"Emang kamu pesan makanan?" tanya Cakra.
"He, iya. Siska nggak masak, Bang," cengir Siska. Dia memang tidak sempat masak karena kelelahan bertemu Mila dan membersihkan apartment Cakra
"Ya udah, kamu bukain sana," balas Cakra.
Siska membuka kamar Cakra dan keluar menuju pintu depan. Siska membuka pintu tanpa melihat siapa tamu yang datang.
"Tante!"
"Siska!"
Serentak mereka begitu pintu dibuka dan masing-masing dari mereka melihat satu sama lain.
"Kamu, kenapa berada di apartment Cakra?" curiga Cyntia, ibu Cakra yang datang dan membawa rantang berisi makanan untuk Cakra.
Kedatangan Cyntia, sekalian membujuk Cakra untuk kembali ke rumah. Dia merasa kesepian, Cheryl masih di luar negeri.
"O--itu--"
"Apa kamu, berpacaran dengan Cakra?" selidik Cyntia. Dia mengenal Siska dengan baik karena Siska merupakan salah satu sahabat putrinya.
__ADS_1
Bahkan Siska adalah tamunya setiap hari, Cyntia ingat bahwa Cheryl, pernah memberitahu bahwa sepertinya Siska suka dengan Cakra.
Menurut Cyntia, bagus juga jika Siska dan Cakra berpacaran. Jadi, dia tidak perlu repot-repot mencarikan jodoh buat Cakra.
Seingat Cyntia bahwa Cakra menyukai Nabila dari cerita Cheryl dan sekarang Nabila telah menikah, jadi tidak ada harapan bagi Cakra.
"I--tu," gugup Siska.
Apakah pernikahan mereka memang dirahasiakan? Sampai mama bang Cakra tidak tahu, jika mereka telah menikah?
"Mama!" seru Cakra saat muncul di ruang tamu. Cakra tidak ingin Siska dan mamanya bingung.
"Cakra, Siska di apartmentmu, apa yang kalian laku--"
"Mama, tunggu, ya. Cakra bisa jelaskan? Siska sebaiknya kamu ke kamar dulu, ya. Abang akan berbicara dengan mama," usir Cakra kepada Siska.
"Apa kalian berpacaran?" todong Cyntia begitu Siska pergi. "Jika kalian memang berpacaran, sebaiknya segera saja menikah, jangan kumpul kebo seperti ini," ejek Cyntia.
"Mama, Cakra ada alasannya menampung Siska di sini," mulai Cakra. "Sebaiknya, kita duduk dulu," ajak Cakra, dia meraih tangan Cyntia agar mengikutinya untuk duduk di ruang tamu.
"Apa alasannya?" tanya Cyntia penasaran dan tidak sabaran.
"Cakra dan Siska memang telah menikah satu bulan yang lalu," aku Cakra. Cyntia memelototkan mata kepada Cakra.
"Kalian telah menikah dan tidak memberitahu mama dan papa?" hardik Cyntia, dia kembali berdiri, bersiap untuk pergi karena kecewa, putranya tidak memberitahunya tentang pernikahannya.
"Mama, ini bukan seperti yang Mama bayangkan. Dengar dulu penjelasan Cakra." Cakra menarik lagi tangan Cyntia, agar duduk di dekatnya.
"Semoga alasanmu masuk akal," sewot Cyntia. Dia membekap tangannya ke dada bersiap mendengar penjelasan Cakra.
__ADS_1
"Apa Mama tahu, jika keluarga Siska bangkrut?" tanya Cakra.
"Apa?" Cyntia tidak percaya dengan yang didengarnya.
"Papa Siska, bunuh diri karena hal itu, dan Siska hamil," ungkap Cakra.
"Hamil?"
"Dia diperkosa, dan aku menikahi Siska karena kasihan dengannya," aku Cakra.
"Malang sekali nasibnya," sedih Cyntia.
"Baru-baru ini, Mama Siska juga baru meninggal dan Siska mengalami amnesia sebagian, dia tidak ingat kejadian kematian orang orang tuanya, maupun, kebangkrutan yang dialami orang tuanya. Jadi Cakra mohon, biarkan seperti ini dulu," pinta Cakra.
Tanpa Cakra sadari, Siska mendengarkan pembicaraan mereka, dengan menahan tangis.
🍒🍒🍒
Sambil menunggu author Up, silahkan mampir ke karya temanku ya! Wajib loh kalian ramein.
...NIKAHI AKU, PAK DOSEN...
Pekanbaru
121222
21.40
__ADS_1