I Wanna You, My Cold Boy

I Wanna You, My Cold Boy
Babak Penyisihan


__ADS_3

Nabila dan team masih sibuk latihan, hari ini mereka latihan bersama lagi. Istirahat pertama seperti biasa mereka akan mengobrol. Evan seperti biasa selalu duduk disamping Nabila, dia mencoba mendekati Nabila, berusaha memgajaknya untuk berkencan, namun Nabila selalu menolak secara halus.


Tiba – tiba sesuatu masuk kedalam mata Nabila, Nabila merasa perih dimatanya. Evan membantu dengan meniup mata Nabila, bertepatan dengan Nathan dan Cakra yang datang.


“Hi, semua, gue bawain kalian cemilan ini.” Sambil menunjukan plastik yang ditentengnya. Cakra melihat adegan Evan yang meniup mata Nabila, dan itu membuat dia cemburu.


Nabila tidak menyadari jika Cakra datang bersama Nathan, Evan masih memegang mata Nabila dan meniupnya. Saat Nabila membuka mata dan melihat ke arah Cakra, dia kaget karena ada Nathan bersama Cakra.


Nabila kemudian pindah dari tempat duduknya, melihat reaksi Nabila Evan menjadi curiga, apakah Nabila menyukai Cakra? Karena menurut Evan tidak mungkin Nathan, si cowok culun.


“Wah, terima kasih bang.” Nabila mengambil kantong yang berada ditangan Cakra, melirik Nathan sekilas, berharap Nathan tidak salah paham.


“Ayo bang gabung sama yang lain, kak Nathan juga.” Ajak Nabila. Cakra dan Nathan mengekor dibelakang Nabila, kemudian Cakra duduk disamping Nabila, sedangkan Nathan duduk didepan Nabila.


“Udah selesai latihannya?” tanya Cakra basa – basi.


“Belum bang, baru istirahat pertama, habis ini kami baru lanjut.” Balas Siska.


“Tumben abang kesini?” tanya Cheryl, dia memperhatikan Nabila dengan wajah bersinar.


Mungkin hanya Cheryl yang tau, kalau itu karena Nathan, sedangkan Evan merasa wajah Nabila yang bersinar senang karena Cakra.


“Iya donk, kan ini mau kasih semangat ke Nabila.” Senyum nakal Cakra kepada Nabila, sambil mengedipkan matanya kepada Nabila. Kacau ini jangan sampai Nathan semakin salah paham, pikir Nabila.


“Hah, abang bisa aja becandanya.” Senyum Nabila dengan garing.


“Serius loch Nab, by the way, Sabtu malam ini loe ada rencana?” tanya Cakra.


“Dia udah ada rencana.” Ujar Evan, terbakar cemburu melihat tingkah Cakra yang keganjenan dengan Nabila.


“Kok loe yang jawab, kan gue tanya Nabila.” Cakra kesal dengan Evan.


“Karena gue ngajak Nabila juga cuma dia gak bisa karena ada sepupunya yang ultah." Enak aja, gue yang duluan ngajak Nabila, monolog Evan.


“Gue antarin ya Nab.” Tawar Cakra lagi.


“Gak bang, Nabila pergi sama mami papi.” Balas Nabila cepat. Agar dua cowok tersebut tidak berdebat lagi.


“Cak, gue keluar bentar ya, terima telepon.” Ujar Nathan memotong pembicaraan, kemudian dia keluar aula.


Nabila merasa ada kesempatan, untuk menjelaskan kepada Nathan.


“Gue ke kamar mandi dulu ya.” Ujar Nabila. Berdiri untuk mengikuti Nathan.


“Mau gue antar.” Cakra dan Evan menawarkan diri serempak.


“Gak usah.” Nabila langsung ke luar.


Dia mencari keberadaan Nathan, beruntung Nathan selesai menerima telepon, dan berjalan untuk masuk ke aula lagi. Namun tangan Nathan dipegang oleh Nabila.


“Kak, tunggu.” Cegat Nabila.


“Kenapa?” tanya Nathan dingin.

__ADS_1


“Nabila, mau jelasin yang tadi. Yang kakak lihat tidak seperti yang kakak bayangkan.” Jelas Nabila.


“Saya gak peduli.” Sahut Nathan datar.


“Nabila, gak ada hubungan apa – apa kok kak sama bang Cakra atau kak Evan.” Jelas Nabila lagi.


“Gak ada urusan sama saya.” Nathan meninggalkan Nabila yang masih bengong.


Akhirnya Nabila mengekor dibelakang Nathan kembali ke aula.


“Cepat Nab.” Heran Maura.


“Gak jadi gue. Yuks kita latihan lagi.” Ajak Nabila, memaksa agar kekesalannya hilang.


Mereka latihan kembali dengan disaksikan Cakra dan Nathan sebagai penonton. Beberapa kali Nabila melakukan kesalahan, dia seperti tidak kosentrasi.


Jenifer yang melihat Nabila tidak fokus akhirnya, mengajak untuk mengakhiri latihan, dia pikir mungkin Nabila kecapekan.


*****


“Nat, loe kan off kerja part time, temani gue lihat adek gue dan teman – temannya latihan ya?” cegat Cakra sebelum Nathan keluar kelas.


“Ogah gue, pergi aja sendiri.” Tolak Nathan.


“Please deh Nat, ntar gue bengong lagi disana.” Bujuk Cakra lagi. Dia menyeret Nathan untuk ikut dengannya.


“Kemana sih?” tanya Nathan heran. Bukannya ke aula, Cakra justru mengajaknya ke indomerit yang ada didalam sekolah.


“Mau beliin mereka cemilan, masa gue datang dengan tangan kosong.” Jelas Cakra nyengir.


Huh dasar gadis populer, pasti mencari cowok seperti Evan, batin Nathan.


Nabila mencoba menjelaskan kepada Nathan kejadian tersebut, gue gak peduli kali, pikir Nathan. Nathan memperhatikan latihan Nabila, ternyata anak itu cantik juga saat menari, pikir Nathan.


*****


Babak penyisihan lomba pun di mulai, Nabila dan team telah bersiap – siap untuk tampil. Mereka gugup.


“Kok gue, jadi gugup gini ya?” beritahu Cheryl.


“Sama gue juga.” Ujar Siska.


“Ya wajarlah.” Ujar Jenifer.


“Yang penting kita udah latihan maksimal.” Ujar Nabila mencoba menenangkan sahabat – sahabatnya. Walaupun dia sendiri juga deg-degan.


“Betul, yang penting kita, harus melakukan yang terbaik.” Ujar Maura. Anggota lain juga menyetujui kata   - kata Maura.


Mereka mendapat giliran nomor dua.


“Untung kita giliran kedua.” Beritahu Siska.


“Emang kenapa Sis?” Tanya Cheryl polos.

__ADS_1


“Kalau pertama, kita pasti gugupnya melebihi ini? Ujar Jenifer.


“Kalau terkhir, kan terlalu lama nunggu juga. Gak enak nunggu lama, gugupnya bakalan lebih terasa.”


“Benar Jen.” Ucap Nabila.


Akhirnya nama mereka diumumkan, Nabila dan team mempersembahkan gerakan yang memukau. Juri kagum dengan koreografi yang mereka tampilkan.


Nathan dan Cakra ikut melihat penampilan mereka, memberi semangat kepada Nabila dan team, tepatnya hanya Cakra yang memberi dukungan, sedangkan Nathan hanya terpaksa ikut.


“Mantap, gue yakin kalian lolos babak penyisihan.” Ujar Cakra. Begitu Nabila dan team selesai memberikan pertunjukan mereka.


“Mudah – mudahan ya bang.” Ujar Cheryl.


Cakra mengeluarkan minuman dan memberikannya kepada Nabila dan team.


“Thank’s bang.” Ujar Nabila. Mereka masih ngos – ngosan setelah penampilan mereka.


Nabila melirik Nathan yang asik dengan ponselnya. Kak Nathan kalau serius kelihatan imut dan tampan, batin Nabila.


Hanya Nabila yang berfikir seperti itu, gaids lain akan merasa Nabila tidak waras, masa seorang Nabila yang idola sekolah, seleranya Nathan si culun.


Nabila sengaja duduk disamping Nathan. Sedangkan sahabat – sahabtnya duduk berjejer disebelah Cakra. Team yang lain ke tempat teman-teman mereka duduk pula.


“Beruntung ya penampilan kita, gak bentrok dengan penampilan kak Evan ya.” Ujar Siska.


“Kenapa emangnya?” tanya Cheryl.


“Ya ampun Cher, supaya kita bisa melihat penampilan team basket sekolah kitalah.” Sewot Jenifer dengan kepolosan Cheryl.


“Owh iya ya.” Cheryl hanya cengengesan.


“Makasih ya kak, udah datang buat mensupport kami.” Ujar Nabila kepada Nathan.


“Saya terpaksa kali.” Jawab Nathan ketus, masih memperhatikan handphonenya.


“Lagi lihat apa sih kak, asik benar?” tanya Nabila penasaran.


“Kepo banget sih.” Ujar Nathan jengah dengan Nabila.


“Ya mana tau sesuatu yang bagus.” Nabila dan Nathan berbicara berbisik – bisik, sedangkan yang lain sibuk ngobrol juga.


“hmm.” Hanya itu suara yang dikeluarkan Nathan.


“Habis ini kalian kemana?” tanya Cakra.


“Belum ada rencana sih kak.” Balas Maura.


“Gimana kalua nanti gue traktir makan, kalian mau makan dimana?” tawar Cakra dengan sumringah.


“Wah asik.” Ujar Siska.


“Tumben abang mau traktir kami?” tanya Cheryl curiga.

__ADS_1


“Ya elah Cher, udah syukur abang loe mau traktir kita.” Sahut Maura kesal, dia takut Cakra berubah pikiran.


Tiba-tiba 3 orang pria datang dan salah satunya duduk disamping Nabila.


__ADS_2