
Di ruangan Kepala Sekolah.
“Coba kalian jelaskan, kenapa kalian berkelahi?” tanya Nino kepada Nathan dan Evan.
“Ini benar - benar hanya salah paham, dad.” Jawab Nathan, agar ayahnya tidak memperpanjang. Malu juga kalau ayahnya tau gara – gara gadis yang bahkan Nathan tidak sukai.
“Benar Evan?” tanya Alexander kepada putranya Evan.
“Benar pa.” jawab Evan, dia masih shock mengetahui Nathan putra pemilik NFL Company, bukan anak sopir yang diketahui semua orang.
Mereka duduk di sofa kantor, Nathan dan Evan di satu kursi dan dihadapan mereka Nino dan Alexander.
“Apa masalahnya?” tanya Nino lagi, dia tidak bisa percaya begitu saja.
“Hanya masalah sepele, dad, aku tidak sengaja menduduki kursi yang biasa dipakai Evan dan tidak sengaja menjatuhkan makanannya.” Jelas Nathan.
“Dan aku karena emosi langsung memukul Nathan. Tau sajalah jiwa remaja kami.” Lanjut Evan, tidak mau hanya Nathan yang menjadi tumbal kejadian tadi. Karena ini murni kesalahannya juga.
“Yakin hanya karena itu?” tanya Alexander masih tidak percaya.
“Benar.” Jawab Nathan dan Evan serentak.
“Bagaimana Pak Nino?” tanya Alexander meminta pendapat Nino.
“Sebaiknya mereka tetap dihukum sebagai pelajaran, agar yang lain tidak meniru mereka, ini Sekolah bukan ring tinju.” Jelas Nino.
“Sekalipun mereka anak pemilik Sekolah ataupun anak donator, kita tidak boleh membeda – bedakannya, agar Sekolah tidak di cap pilih kasih.” Lanjut Nino lagi.
“Benar juga Pak, saya akan meminta Guru Bimbingan Konseling mendisiplinkan mereka dan memberikan hukuman yang pantas mereka terima.” Balas Alexander.
Alexander memanggil Guru Bimbingan Konseling ke ruangan Kepala Sekolah dan menginstruksikannya untuk memberikan hukuman kepada Nathan dan Evan.
Nathan dan Evan keluar ruangan mengikuti Guru Bimbingan Konseling, meninggalkan Alexander dan Nino.
“By the way, saya baru tau kalau Nathan putra Pak Nino?” tanya Alexander penasaran.
“Kami memang merahasiakan identitasnya saat masuk Sekolah dari SMP dan SMA karena permintaan Nathan sendiri, dia trauma dengan kejadian penculikan saat dia SD, sekalipun sekarang Nathan bisa ilmu bela diri, dia tetap merasa lebih aman jika identitasnya di rahasiakan.” Info Nino.
Flash Back on
“Mommy, perasaan Nathan gak enak untuk Sekolah hari ini.” Beritahu Nathan yang masih kelas 4 SD, saat mereka sarapan pagi.
Padahal Nathan sudah bersiap – siap, lengkap dengan seragamnya, namun tiba – tiba dia merasa tidak enak untuk ke Sekolah, seperti sudah feeling.
“Alah bilang aja kamu gak ngerjakan PR.” Ucap Nadine saudara perempuan Nathan, mengompori orang tuanya. Nadine saat itu kelas 1 SMP.
“Apaan sih, suka iri deh.” Sewot Nathan.
__ADS_1
“Tapi hari ini ada pertunjukan kamu loch Nat.” Nayla mengingatkan putranya.
“Kamu harus berani Nathan.” Tegur Nino.
“Mungkin itu hanya perasaan gugup kamu karena akan tampil, sayang.” Bujuk Nayla lagi.
Dengan terpaksa Nathan ke Sekolah diantar sopirnya.
“Mommy akan datang saat pertunjukan mu sayang.” Ucap Nayla, mengecup kening putranya.
*****
Sebelum penampilan Nathan, saat di ruang ganti.
“Nathan?” tanya seorang pria, salah satu petugas yang mengurus pertunjukan.
“Ya om.” Jawab Nathan.
“Kamu bisa bantu om, ambilkan sisir di kamar ganti?” tanya pria tersebut lagi.
“Bisa om.” Nathan langsung menuju kamar ganti.
Si pria menyuruh anak – anak lain untuk segera menuju panggung. Begitu keluar dari ruang ganti, Nathan melihat teman – temannya tidak ada lagi.
“Yang lain mana om?” tanya Nathan, entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.
Kemudian langsung membekap mulut Nathan dengan sapu tangan tersebut membuat Nathan langsung pingsan. Si pria memasukan Nathan disebuah box peralatan dan membawanya dengan troli.
Saat pertunjukan Nathan dan teman – temannya, guru kehilangan Nathan.
“Vian, apa kamu melihat Nathan?” tanya Guru yang bernama Pita
“Tadi masih di ruang ganti bu.” Jawab Vian.
Pita menginstruksikan siswa agar mengambil posisi, semantara dia kembali ke ruang ganti untuk mencari Nathan.
Dia memanggil – manggil Nathan, namun Nathan tidak ada, kemudian guru mencari Nathan ke dalam toilet, juga tudak ada. Panik karena tidak menemukan Nathan, Pita, kembali ke panggung dengan harapan Nathan telah di panggung.
Anak – anak yang lain telah tampil tanpa Nathan yang dipandu oleh guru lainnya. Melihat Nathan tidak ada dalam paduan suara, Pita membisikan kepada ketua acara bahwa Nathan tidak ada.
Nayla memperhatikan team paduan suara, namun Nathan putranya tidak ada disana. Perasaan Nayla tidak enak, dia kemudian menghampiri guru untuk bertanya tentang Nathan yang tidak muncul.
“Maaf bu Pita, Nathan kenapa tidak ikut tampil?” dia khawatir Nathan sakit.
“Maaf Bu Nayla, Nathan tiba – tiba menghilang, kami telah mencarinya sekitar tempat acara namun belum menemukannya.” Jawab Pita yang merasa tidak enak dengan ibunya Nathan.
“Apa, Nathan menghilang?” ucap Nayla tidak percaya jika putranya menghilang, Nathan bukan anak yang lepas tanggung jawab dan bersembunyi jika hanya gugup tampil.
__ADS_1
Nayla lemas dan dipegang oleh Pita, dan membawanya duduk. Pita memberikan minuman kepada Nayla agar dia tenang. Nayla langsung menghubungi suaminya dan memberitahukan jika Nathan hilang.
Nino langsung ke Sekolah bersama beberapa bodyguard yang akan dia kerahkan untuk mencari Nathan karena untuk melapor ke Polisi harus menunggu satu kali dua puluh empat jam, baru Polisi bisa bertindak.
“Sayang, Nathan gak ada.” Lapor Nayla sambil menangis kepada suaminya.
Nino memeluk Nayla untuk menenangkannya. Nino meminta kronologis kejadian kepada Pita. Kemudian mengerahkan bodyguard untuk mencari ke seluruh wilayah Sekolah.
Dia juga meminta rekaman CCTV. Sayang ruang ganti tidak ada CCTV, namun Nino melihat keanehan saat Nathan masuk bersama anak untuk di rias, setelah itu teman – temannya keluar, hanya Nathan yang tidak ikut keluar.
Tidak lama seorang petugas sound system keluar dengan troli diatasnya box besar, wajahnya tidak kelihatan karena dia memakai masker. Nino meminta mencari orang tersebut, namun tidak di temukan.
Nino juga mencheck area parkir, karena si pria keluar dan meninggalkan Sekolah dengan mobil Box. Nino meminta kenalannya untuk melacak pemilik mobil tersebut, namun no polisinya palsu.
Mereka telah kembali ke rumah, Handphone asisten Nino bordering dan itu dari penculik Nathan. Mereka miminta tebusan 50 milyar, meminta Nino tidak melapor polisi, mereka juga mengirimkan foto Nathan yang masih pingsan. Mereka akan memberi info 3 hari lagi dimana lokasinya.
Nayla semakin menangis memikirkan keadaan putranya, Nadine telah dijemput dari Sekolah karena khawatir, jika Nadine diculik juga.
“Berikan saja yank, berapapun mereka minta 50 milyar tidak seberapa, yang penting putra kita selamat.” Ucap nayla berlinang air mata, dia sangat stress memikirkan kedaaan putranya.
“Aku telah menyanggupinya, tapi kita hanya bisa menunggu Nay, mereka yang mengatur jadwalnya.” Jelas Nino.
“Naikan saja harga tebusannya yang penting hari ini mereka kembalikan putra kita.” Isak Nayla lagi
Nino berusaha membujuk Nayla agar tenang, Nayla tidak mau makan, Nino dan Nadine membujuknya.
♥️♥️♥️♥️♥️
Hi sayang2 akuh seperti biasa, aku minta
LIKE
KOMENT
VOTE
and
FAVORITEnya
Apalagi dikasih hadiah, senang bgt aku.
Gomawo
\= Lady_MerMaD \=
Gomawo
__ADS_1