
Pulang Sekolah Nabila dijemput sepertia biasa oleh mang Udin.
“Stop mang.” Ucap Nabila saat melihat nenek yang kebingungan untuk menyeberangi jalan.
“Ada apa neng?” tanya mang Udin, menghentikan mobilnya.
Nabila turun dari mobil, tanpa menghiraukan pertanyaan mang Udin, Nabila langsung menuju kearah nenek tersebut. Nabila tidak menyadari dibelakang ada Nathan dengan motor bututnya.
“Nenek mau kemana?” tanya Nabila, sambil memegang tangan nenek tersebut. Nenek itu memperhatikan Nabila.
“Nenek ingin menyeberang kesana, cuma nenek tidak berani.” Jawab sang nenek menunjuk tujuannya.
“Nabil antar ya nek.” Tawar Nabila. Nenek tersebut menganggukan kepalanya tanda setuju.
“Emang nenek mau kemana?” tanya Nabila lagi.
Dia menuntun sang nenek berjalan kearah yang ditunjuk nenek tersebut.
“Pulang, rumah nenek dekat situ.” Menunjuk pemukiman yang ada disana.
“Kenapa tidak minta diantar anak atau cucunya nek?” tanya Nabila khawatir.
“Nenek cuma pergi dekat, dan mereka sedang bekerja.” Ucap nenek lagi.
Sampai diseberang pemukiman rumah sang nenek.
“Sampai sini aja neng, ini gang rumah nenek, rumah juga udah kelihatan.” Sambil menunjuk rumah dengan cat warna hijau.
“Terima kasih ya neng.” Ucap nenek tersebut, meninggalkan Nabila.
Nabila memperhatikan nenek sampai rumahnya untuk memastikan nenek tersebut pulang dengan selamat. Nabila menuju kembali ke mobil.
“Maaf mang, Nabil hanya mau bantu nenek itu nyebrang.” Ucap Nabila begitu masuk mobil.
“Kirain mamang apaan tadi neng.” Balas mang Udin.
“Ada lagi neng?” tanya mang Udin.
“Gak mang, lanjut pulang aja.” Jawab Nabila.
Nathan memperhatikan kejadian tersebut. Ternyata dia baik juga, batin Nathan, hal itu membuat Nathan kagum dengan Nabila. Natha melajukan motornya kembali.
*****
Maura, Siska dan Jenifer, masih penasaran dengan sosok pria misterius yang dimaksud Nabila, walaupun mereka menghormati keputusan Nabila, namun jiwa kepo mereka tetap haus akan hal itu.
Cheryl dan Nabila sedang meeting OSIS, kebetulan mereka anggota OSIS, sedangkan Maura, Jenifer dan Siska tidak.
Disekre Madding.
“Gue masih penasaran dengan sosok cowok yang disukai Nabila.” Ucap Maura, disela- sela membuat kliping untuk madding.
“Sama gue juga.” Ujar Jenifer.
“Gimana kalau kita cari tau cowok yang dimaksud?” pancing Siska.
__ADS_1
“Boleh, gimana caranya?” tanya Jenifer.
“Gimana kalau kita ikutin Nabila?” lanjut Siska.
“Maksud loe, kita jadi stalker?” Maura memastikan pikirannya sama dengan Siska.
“Yap, kita buntuti Nabila, saat dia pergi dan gak ngajak kita.” Lanjut Siska.
“Owh, gue tau, maksud loe, Nabila kan sering menghilang tanpa ngajak kita, nah salah satu dari kita harus membuntutinya, kemana dia pergi gitu.” Tambah Jenifer.
“Yoi, karena feeling gue, dia pasti nemuin cowok itu.” Ucap Siska lagi.
“Hah, benar juga, karena sikap Nabila kalau pergi sendirikan mencurigakan.” Balas Maura.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menyelidiki dan membuntuti Nabila, mencari tau siapa sosok pria misterius tersebut.
Nabila dan Cheryl kembali ke sekre mading.
“Lagi bahas apa?” tanya Cheryl. Spontan Maura, Jenifer dan Siska kaget dengan kedatangan Cheryl dan Nabila.
“Eh, kalian udah selesai rapatnya?” tanya Siska balik, mengalihkan pembicaraan.
“Udah.” Balas Nabila singkat.
“Bahas apa tadi?” tanya Maura, agar Nabila dan Cheryl tidak curiga.
“Biasalah rapat bulanan.” Jawab Cheryl.
“Owh.” Jawab Maura, Jenifer dan Siska serempak.
?
“Aneh gimana maksud loe?” tanya Jenifer balik.
“Tingkah kalian mencurigakan.” Lanjut Cheryl.
“Perasaan loe aja kali.” Ucap Maura, menoyor kepala Cheryl.
“Udah deh, mending kita bahas tema madding minggu depan.” Siska menengahi.
Mereka sibuk membahas tema madding minggu depan.
*****
Istirahat selanjutnya Nabila memisahkan diri dengan sahabat – sahabatnya.
“Kemana Nab?” tanya Siska yang melihat Nabila berdiri dari tempat duduknya.
“Mau ke perpustakaan.” Jawab Nabila. Dia ingin menemui Nathan dan menyatakan perasaannya kembali, namun kali ini Nabila ingin mendapatkan jawaban pasti dari Nathan apakah dia diterima atau ditolak? Sesuai yang dia bicarakan dengan Cheryl tadi selesai rapat OSIS.
Flashback On
Diruang OSIS setelah rapat.
“Nab, gue mau tanya, tapi loe jangan marah ya?” tanya Cheryl ragu – ragu. Saat melihat Nabila akan bangkit dari duduk untuk keluar ruang OSIS.
__ADS_1
“Ngapa gue harus marah?” tanya Nabila kembali.
“Ya, mungkin yang akan gue omongin ini membuat loe tersinggung?” balas Cheryl.
“Apa sih Cher, gue gak marah kok dan gue tau pasti ini demi kebaikan gue.” Lanjut Nabila.
“Gimana perkembangan hubungan loe sama kak Nathan?” tanya Cheryl to the point.
“Belum ada perubahan sih Cher, hanya gue yang mendekati dia.” Ucap Nabila memelas.
“Saran gue Nab, loe bilang sama dia dengan tegas kalau loe suka dia dan minta dia menjawab, apakah loe diterima atau tidak, jangan digantung, jadi loe bisa ambil keputusan, jika ditolak loe harus move on dari dia.” Jelas Cheryl.
“Iya juga ya Cher.” Balas Nabila.
“Iya lah Nab, gue gak mau loe terus – terusan ngejar orang yang sama sekali gak peduliin loe. Sebagai sahabat loe, gue juga terhina, masa sahabat gue yang poluler dikacangin.” Lanjut Cheryl.
“Cuma gue juga takut Cher jika ditolak, belum siap gue, makanya gue senang – senang aja dia cuekin gue, daripada mengetahui kenyataannya.” Ucap Nabila memelas, dengan mata berkaca – kaca.
“Tapi loe harus Nab, jangan mau jadi pecundang. Jangan sampai perasaan loe hanya sia – sia dan loe terlihat menyedihkan.” Lanjut Cheryl meyakinkan Nabila. Dia tidak mau sahabatnya menderita sendiri dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
“Iya deh, gue coba.” Putus Nabila.
“Gue dan yang lain pasti ada untuk loe Nab, kalau loe patah hati, kami pasti akan support loe. Kita bakal senang – senang agar loe lupain kesedihan loe.”
“Kok loe do’a – in gue ditolak.” Cemberut Nabila.
“Gak lah Nab, kebahagian loe yang paling utama, hanya saja gue memberi gambaran terburuk aja.” Ucap Cheryl diplomatis.
Flashback Off
“Mau gue temani Nab.” Ucap Maura basa – basi. Dia telah mengetahui bahwa Nabila tidak akan mau buat ditemani.
“Gak usah Ra, gue sendiri aja, palingan gak lama kok, ajak loe takut loe bosan, tau sendirikan kalau nyari buku gue pasti lama.” Ucap Nabila, dan dia tau kalau Maura cepat bosan kalau di Perpustakaan.
“Gue cabut ya.” Nabila meninggalkan sahabat –sahabatnya, sebelum banyak pertanyaan dari mereka lagi.
Maura melirik Jenifer dan Siska, sesuai rencana mereka Maura akan mengikuti Nabila, sedangkan Siska dan jenifer mengalihkan perhatian Cheryl.
“Gue, ke toilet dulu ya.” Ucap Maura langsung keluar, takut kehilangan jejak Nabila.
“Kita ke Sekre madding aja yuks.” Ajak Cheryl.
“Bentar Cher, gue beresen buku dulu.” Ucap Jenifer agar mereka tidak langsung keluar karena takut kelihatan Maura mengikuti Nabila.
Jenifer sengaja berlama – lama membereskan bukunya. Setelah dirasa cukup mereka keluar kelas menuju Sekre Madding.
Di Perpustakaan, Nabila tidak menyadari kalau diikuti Maura. Nabila menarik nafas dan mengedarkan pandangan ke tempat biasa Nathan duduk, namun Nathan tidak ada disana. Nabila mencari Nathan di lorong – lorong lemari buku. Dia melihat Nathan di lemari buku Science. Nabila menghampiri Nathan.
“Kak, Nabila mau bicara.” Ucap Nabila begitu telah dekat dengan Nathan.
♥️♥️♥️♥️♥️
Jangan Lupa tinggalkan jejak ya LIKE, KOMENT, HADIAH dan jadikan FAVORITE kalian ya
Gomawo
__ADS_1
\= Lady_MerMaD \=