
"Ah, sial!" umpat seorang pria saat melihat ban mobilnya yang pecah. Dia menghubungi seseorang agar bisa menjemputnya. Namun, ponsel orang yang dihubunginya tidak menjawab maupun tidak merespon.
Danil mencoba menghubungi jasa derek mobil. Selesai berbicara dengan petugas derek mobil. Ponselnya mati total. Membuat Danil semakin kesal.
Danil menendang ban mobil dengan sepatunya. Dia harus segera bertemu klien, Danil mencoba menyetop kendaraan yang lewat agar memberinya tumpangan. Namun, tidak ada yang mau berhenti.
Seseorang yang mengendarai motor bebek berhenti di depannya.
"Danil, 'kan? Kakak kelas Siska?" sapa seorang gadis pemilik motor bebek tersebut
"Ya." Danil, mencoba mengingat-ingat dimana dia bertemu dengan gadis kecil ini?
"Yang ketemu di Mall Kokas, Mila," ujar gadis tersebut mengingatkan kembali.
"Oh, Iya, temannya Siska?" Danil memastikan kembali bahwa Mila memang benar temannya Siska, cinta pertamanya.
"Kanapa, dari jauh aku lihat menyetop kendaraan? Apa terjadi seuatu?" tanya Mila dia memarkirkan dan turun dari motornya.
"Ban mobilku pecah," balas Danil, dia menunjuk ban mobil yang pecah.
"Memangnya, kamu tidak bisa menggantinya?" heran Siska.
"Bisa, hanya saja aku sangat terburu-buru, dan sekarang ponselku juga mati," jelas Danil.
"Memang mau kemana? Mau aku antar?" tawar Mila memberi bantuan kepada Danil.
"Ke Restoran Beefhouse, boleh, aku akan sangat senang jika ķamu mau membantu," ujar Danil. Ia seperti mendapat mata air saat berada diladang tandus.
__ADS_1
"Baiklah," Mila menyerahkan satu helm kepada Danil dan memberinya kunci motor.
"Ini apa?" heran Danil saat Mila memberinya kunci motor.
"Itu kunci motor," jawab Mila lugu.
"Kenapa kamu memberikannya padaku?" bingung Danil.
"Karena kamu yang akan membawanya," ucap Mila.
"Maaf, aku tidak bisa membawa motor ini," malu Danil.
"Apa? Serius?" cengang Mila.
"Ya, aku bahkan belum pernah naik motor, seperti ini," jujur Danil.
"Hah?" Mila akhirnya kembali duduk di bagian depan motornya. "Naiklah," perintahnya kepada Danil.
"Apa yang kamu lakukan?" teriak Mila, saat Danil memeluknya, bahkan posisi Danil terlalu dekat dengannya.
"Aku memelukmu, agar tidak jatuh," sahut Danil, tanpa bersalah.
"Longgarkan," bentak Mila. Yang benar saja Danil menyentuhnya, pacar Mila saja tidak pernah menyentuhnya. Oups, memang Mila punya pacar?
Danil melonggarkan tangannya dari pinggang Mila. Mila mulai melajukan motor dengan kecepatan sedang.
Sesekali Danil memberi instruksi kepadanya untuk berbelok dan mengarahkan Mila menuju beefhouse.
__ADS_1
Mereka sampai di Beefhouse, Danil turun dari motor, begitupun Mila. Dia bersiap mengambil helm dari Danil. Danil meleirik jam di tangannya, dia telat sepuluh menit, semoga kliennya masih menunggunya.
"Aku pergi!" pamit Mila, dia bersiap-siap untum menyalakan moyor kembali.
"Tunggu, jangan tinggalkan aku, tunggu di sini atau sebaiknya kau ikut pesan di meja yang lain, aku yang traktir." Danil menarik tangan Mila agar ikut dengannya.
"Masuklah dulu, aku harus memarkir motor ini," tunjuk Mila kepada motornya.
"Baiklah, janji kamu akan menyusul?" Mila menganggukan kepala tanda setuju.
Danil langsung ke dalam dan bertanya kepada pelayan ruangan yang telah dia pesan. Dan apakah kliennya masih ada di sana? Pelayan memberitahu bahwa tamunya masih ada. Danil segera mengikuti pelayan yang mengantarkannya ke ruangan itu
Danil meminta maaf karena telah terlambat datang dan menjelaskan bahwa ban mobilnya pecah. Danil mulai makan dan lanjut membahas pekerjaan dengan kliennya tersebut.
Sementara Mila telah memarkirkan motornya dengan aman. Mila memasuki ruangan dan mencari keberadaan Danil. Dia tidak melihatnya, Mila kemudian duduk di satu kursi dan pelayan datang membawakannya buku menu.
Mila tercengang dengan harga menu makanan terssebut. Dia menjadi ragu untuk memesannya, meskipun perutnya telah berbunyi karena memang telah masuk waktu makan siang.
Mila menimbang-nimbang, iya, kalua Danil membayarkan. Bagaimana kalau tidak? Bisa-bisa seperempat gaji sebulan Mila akan habis hanya untuk satu menu yang paling murah. Belum minumnya lagi. Benar-benar pemborosan, rutuk Mila.
Mila memutuskan, sebaiknya dia menunggu diparkiran saja. Sayang sekali, jika harus menghabiskan uang segitu hanya untuk makan.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya. Oh iya nanti aku mau vote buat karya tahun 2023. Kalian bantu pilih yang mana mau di publish awal Januari 2023.
Pekanbaru
__ADS_1
201222
20.36