
“Kantin yuks.” Ajak Cheryl kepada sahabat – sahabatnya.
“Jam segini masih rame Cher.” Tolak Maura. Karena Cheryl langsung mengajak saat bel berbunyi.
“Bukannya bagus, pilihan lauknya masih banyak.” Bujuk Cheryl lagi.
“Ya udah, ayok.” Ajak Nabila.
Akhirnya sahabat – sahabatnya mau juga. Nabila datang bersama sahabat – sahabatnya ke kantin untuk makan siang, dia melihat sekeliling dan ternyata ada Nathan, dalam hati Nabila senang karena jarang sekali dia bisa bertemu Nathan saat di kantin. Selesai mengambil makanan, Nabila menghampiri Nathan.
“Nab.” Tegur Siska saat melihat Nabila akan menghampiri Nathan. Dia merasa tidak enak, takut Nabila diperlakukan seperti sampah lagi.
“Gak pa – pa kok, lagian kursi kosong hanya disana.” Bujuk Nabila.
Nabila memilih duduk disamping Nathan sedangkan sahabat –sahabatnya duduk di depan mereka.
Awalnya Nathan tidak memperhatikan siapa yang duduk di sampingnya.
“Kak.” Sapa Nabila.
Nathan menyadari ternyata yang duduk disampingnya adalah Nabila cewek menyebalkan versi Nathan.
“Emang gak ada tempat lain ya?” ucap Nathan sewot.
“Cuma meja ini yang sisa.” Balas Maura lebih sewot lagi, dia kesal dengan keangkuhan Nathan.
Siska memegang bahu Maura, menenangkannya agar tidak terjadi keributan, dia tau Maura kadang bisa lepas control. Jangan sampai mereka menjadi bahan tontonan siswa lain.
Nathan melihat sekeliling dan ternyata memang hanya meja tempatnya makan yang tersisa.
Evan dan ganknya masuk ke kantin, dia melihat Nabila bersama Nathan, membuat dia cemburu. Evan menghampiri Nathan dan Nabila dengan membawa makanannya.
“Eh culun, pindah.” Perintah Evan, menendang kursi Nathan. Meletakan makanannya diatas meja.
“Kak.” Sapa Nabila kepada Evan, dia mulai cemas jika Evan melakukan sesuatu.
“Kenapa gue harus pindah?” cuek Nathan, membuat Evan semakin emosi.
“Karena gue ingin duduk disamping Nabila.” Perintah Evan lagi.
“Biar Nabila aja yang pindah kak.” Bujuk Nabila, bersiap –siap pindah. Dia telah mengangkat bokongnya dari kursi.
“Tidak gue mau dia yang pindah.” Tolak Evan, menatap Nabila tajam dan membuat Nabila takut.
“Kenapa gue harus menuruti loe?” tanya Nathan datar, masih makan dengan tenang.
“Loe sengaja ya? Menikmati menjadi sorotan?” ucap Evan lagi, dia masih menahan emosi dengan tingkah Nathan yang tidak ada takut dengannya.
“Urusi aja urusan loe sendiri, apa loe suka sekali mengikuti gue.” Tantang Nathan, dia sudah jengah dengan perlakuan Evan yang membully dan mengancamnya, dia bukan tidak tau bahwa itu adalah kerjaan Evan dan ganknya. Walaupun ada beberapa yang dari fans Nabila lainnya.
__ADS_1
Sahabat – sahabat Nabila bingung harus berbuat apa, mereka ingin menengahi perdebatan, namun dilarang oleh Ferry dan Rangga dengan lirikan mata.
Evan yang merasa Nathan semakin berani dengannya bertambah emosi dan tidak dapat dia tahan lagi.
Evan membuang piring makan Nathan.
Prank..
Bunyi piring jatuh membuat siswa lain kaget dan spontan melihat kearah mereka. Emosi Nathan pun terpancing, namun masih menahannya, dia tidak mau mencari sensasi dan menyebabkan orang tuanya harus ke Sekolah.
Nathan bangkit dari duduk, dia hendak meninggalkan kantin, seleranya telah hilang.
“Silahkan duduk.” Suruh Nathan cuek.
Melihat Nathan bergerak ingin pergi, Evan menahannya.
“Loe mengabaikan gue?” tatap Evan tajam.
Nathan menghempaskan tangan Evan yang memegang pergelangan tangannya. Rangga berusaha menenangkan Evan.
“Gue belum selesai.” Ucap Evan, kembali memegang pergelangan tangan Nathan.
“Tapi gue sudah selesai.” Tantang Nathan menatap Evan kembali.
Evan kemudian melayangkan tinjunya ke wajah Nathan, Nathan yang tidak terima membalas memukul wajah Evan. Evan hampir terjatuh kelantai, tidak terima dia kembali melayangkan pukulan, namun ditangkis Nathan.
“Kak sudah, hentikan.” Ucap Nabila sambil menangis, dia merasa bersalah gara – gara dia, mereka bertengkar.
“Nathan, Evan, berhenti.” Teriak Cakra.
Nathan dan Evan juga mengabaikan teriakan Cakra, kemudian Cakra meminta seseorang memanggil Guru.
Tidak lama guru datang berbarengan dengan rombongan donatur Sekolah dan ayah Evan yang kebetulan lewat, mengajak donator mengelilingi Sekolah.
“Kalian berdua berhenti.” Teriak Guru yang dipanggil Nathan dengan membawa rotan.
“Nathan.” Teriak salah satu donatur yang paling berpengaruh memberikan bantuan ke Sekolah.
“Evan.” Teriak ayah Evan, Alexander Malik, yang melihat anaknya bertarung dengan salah satu siswa.
Namun dia bingung kenapa tuan Nino mengenal Nathan, dia baru ingat jika informasi yang dia dapat Nathan anak sopir keluarga tersebut, tentu saja tuan Nino mengenal Nathan.
Tuan Nino memegang paksa Nathan, sedangkan Alexander memegang Evan. Perkelahian berhenti, Nathan melihat tuan Nino, ya ampun kenapa tuan Nino datang diwaktu yang tidak tepat?
Evan pun sama kagetnya dengan Nathan karena kehadiran ayahnya dan donatur Sekolah. Sudah dipastikan dia akan mendapatkan hukuman dari ayahnya.
Nathan melirik tuan Nino agar tidak mengatakan sesuatu namun terlambat.
“Jadi ini yang kamu lakukan di Sekolah? Daddy tidak mengajarkan kamu untuk menjadi preman.” Bentak tuan Nino, kecewa dengan kelakuan putranya, Nathan.
__ADS_1
Dia memang membiarkan Nathan bertingkah seperti kemauannya. Namun kenapa Nathan menjadi berandalan dan berkelahi di Sekolah?
Semua yang ada disana terkejut dengan yang diucapkan tuan Nino yang menyebut dirinya daddy, apa dia ayahnya Nathan? Mereka berbisik – bisik dengan argumen masing – masing.
Mereka mengetahui bahwa tuan Nino adalah pemilik NFL Company dan sering memberikan sambutan di Sekolah. Mereka juga mengetahui jika tuan Nino adalah donatur tetap Sekolah.
Mereka juga mengetahui bahwa tuan Nino memiliki putra, namun identitasnya tidak pernah diketahui public. Apakah itu Nathan, si culun yang disangka orang, anak sopir?
“Kamu harus jelaskan kepada papa, Evan?” tanya Alexander kepada Evan. Kecewa dengan apa yang dilakukan anaknya, harusnya Evan memberikan contoh yang baik karena dia anak pemilik Sekolah.
“Jawab daddy Nat.” Geram tuan Nino karena Nathan hanya diam.
Aish kenapa daddy harus datang sekarang sih, tau gitu gue gak ladeni si Evan, walaupun gue kesal banget sama dia, batin Nathan, mengusap rambutnya kasar.
“Ini hanya salah paham dad.” Akhirnya Nathan bersuara. Sudah terlanjur semua siswa yang ada disana mengetahui siapa dirinya.
“Sebaiknya kita bawa mereka ke ruangan Kepala Sekolah.” Ucap guru yang tadi datang untuk menghentikan perkelahian mereka.
Mereka menuju ruang Kepala Sekolah, sedangkan kepala Sekolah mengajak donatur lain untuk kembali memgelilingi Sekolah dan membawa mereka makan di Restoran, sesuai rencana semula setelah mengajak mereka berkeliling Sekolah, mereka akan makan di Restoran.
Nabila dan sahabat – sahabatnya juga tidak percaya jika Nathan adalah pewaris NFL.
Guru meminta mereka bubar dan kembali ke kelas masing – masing karena memamg jadwal istirahat memang sudah selesai.
"Nab, loe gak pa - pa..?? Tanya Siska.
Melihat Nabila yang shock dengan kejadian ini, jangankan Nabila, semua yang ada disana benar - benar kaget.
♥️♥️♥️♥️♥️
Hi, Sayang2 akuh Im Back..
Untuk pemenang tebak - tebakan bab 23, aku infoin setelah terbobgkar siapa pria misterius tersebut ya..
So msh ada waktu, buat nebak ya, 2 pemenang yang beruntung dpt pulsa 20K ya..
Wajib follow aku ya..
Don't forget to
LIKE
KOMENT
VOTE
and
FAVORITEkan ya..
__ADS_1
Gomawo
- Lady_MerMaD -