
“Maaf, gue gak bermaksud begitu.”
Laudya kemudian memeluk Nathan, Nabila melihat kejadian itu, tatapannya beradu dengan Nathan yang kaget dengan kedatangan Nabila.
Nathan segera melepaskan pelukan Laudya. Cakra yang baru datang juga melihat kejadian tersebut. Nabila membalikan badannya dan pergi dari sana.
Nathan mencoba mengejar Nabila, namun ditahan oleh Cakra.
“Laudya pergilah.” Perintah Cakra.
Laudya dengan kesal pergi dari sana.
“Gue harap loe jangan mengganggu Nabila lagi, bukannya loe udah jadian dengan Laudya?” tanya Cakra. Dia mendapat informasi dari Cheryl jika Laudya telah menerima perasaan Nathan dan mereka telah jadian.
“Gue gak jadian dengan Laudya, memang Laudya menerima perasaan gue setahun yang lalu, namun gue tolak karena gue baru sadar kalau gue juga suka dengan Nabila.” Jelas Nathan.
Cakra tau dari cerita Cheryl bahwa Nabila sedang berusaha move on dari Nathan, kasta mereka berbeda sekarang.
“Sebaiknya loe lupain Nabila.” Ucap Cakra, meninggalkan Nathan.
“Maksud loe apa Cak?” teriak Nathan, namun Cakra tetap melangkah pergi tanpa menghiraukan teriakan Nathan.
*****
Laudya yang diusir oleh Cakra dengan dongkol meninggalkan tempat, dia melihat Nabila dan mengejarnya. Dia menarik tangan Nabila.
“Ada apa?” tanya Nabila bingung karena tiba – tiba Laudya menarik tangannya.
“Loe masih bertanya? Gue minta loe jauhin Nathan, jangan coba – coba dekat dengan dia, loe tau gue udah jadian dengan Nathan kan?”
“Nabil, tau kak.”
“Jadi loe mesti jauhin Nathan, kalau perlu loe buat pengumuman bahwa loe udah pacaran sama Evan, agar gak ada yang salah paham jika loe dekatin Nathan.” Lanjut Laudya.
Dia sengaja memprovokasi Nabila, agar Nathan salah paham dan menjauhi Nabila.
Nabila bingung dengan perintah Laudya, mungkin gue harus minta bantuan bang Cakra aja, pikir Nabila.
“Kakak tenang saja, saya akan pastikan tidak akan mendekati kak Nathan lagi, tapi kakak pastikan bahwa kakak akan buat kak Nathan bahagia, dan buat kak Nathan selalu bersama kakak agar saya dan kak Nathan tidak bersinggungan.”
Nabila meninggalkan Laudya. Nabila bertekad akan meminta bantuan Cakra.
*****
“Cheryl, gue bisa minta tolong abang loe?” tanya Nabila saat di parkiran, yang lain telah di jemput.
“Bantuan apa Nab?” Tanya Cheryl balik, heran dengan permintaan Nabila yang sepertinya serius.
“Gue mau jadi pacar abang loe.”
“Hah? Gue gak salah dengar kan Nab?”
“Hanya pura – pura, agar gue bebas melupakan kak Nathan.” Jelas Nabila.
“Gue gak mau membuat orang – orang salah paham lagi.” Lanjut Nabila.
“Maksud loe Nab?”
__ADS_1
Nabila menceritakan kejadian saat Laudya memintanya agar menjauhi Nathan.
“Loe juga tau, kasta gue dan kak Nathan gak sama, kami hidup di dunia yang berbeda. Papi gue cuma karyawan diperusahaan keluarga kak Nathan” jelas Nabila.
“Huh, dasar gadis ular, emang loe rela orang yang loe sukai sama gadis ular itu? Jelas – jelas kemarin dia bilang tidak suka dengan kak Nathan, giliran identitas kak Nathan ketauan, baru dia dekatin” Cheryl ikut kesal terhadap Laudya.
“Rela gak rela, gue bisa apa? mereka udah jadian, gue gak mau ngerusak hubungan orang, belum gossip tentang gue, gue lelah juga Cher.”
“Tumben kalian belum pulang?” Cakra datang menghampiri.
Pucuk dicinta ulampun tiba, Cakra datang pada saat yang tepat.
“Mang Udin, masih dijalan, jadi aku temani Nabila bang.” Jawab Cheryl.
“Noh Nab, ngomong langsung sama orangnya?” lanjut Cheryl.
“Apaan?” tanya Cakra heran.
“Abang mau jadi pacar Nabila?” tanya Nabila, to the point, membuat Cakra kaget sekaligus senang.
“Eh, yang benar Nab?” tanya Cakra antara percaya dan tidak, namun matanya yang berbinar – binar tidak bisa dipungkiri bahwa dia sangat bahagia.
“Abang jangan GR, ini hanya pura – pura, agar gossip tentang Nabila hilang.” Beritahu Cheryl.
“Jadi cuma pura – pura.” Cheryl kembali menegaskan.
“Iya bang, sampai gossip mulai tenang. Eh tapi abang punya cewek yang disukai?” tanya Nabila.
“Boleh Nab, pura – pura juga gak pa – pa.” potong Cakra cepat, siapa tau jadi benaran, batin Cakra.
“Kan cewek yang disukainya eloe Nab.” Beritahu Cheryl.
“Tenang aja Nab, loe gak usah pikirin, gue pasti bantu loe kok.” Putus Cakra, agar Nabila tidak merasa gak enak sama dia.
Ya, semua mengetahui jika Cakra menyukai Nabila kecuali Nabila sendiri, dia tidak peka dengan perhatian Cakra.
“Terima kasih bang.”
“Jadi kapan kita mulai pacarannya.”
“Besok, jadi pas grand final kompetisi besok, abang selalu disamping Nabila ya.” Ucap Nabila.
“Oke.”
“Bawain bunga bang, besok aku akan buat gossip, abang udah jadian sama Nabila.” Tambah Cheryl lagi.
*****
Grand final kompetisi cheerleader dan basket berlangsung dengan tertib. Tim basket Evan berusaha keras untuk menang karena pertandingan dia dan Nathan membuat siswa dan guru cemas jika mereka akan kalah, namun Evan ingin membuktikan kemarin dia bertanding tidak sepenuh hati.
Evan bisa bernafas lega karena bisa dipastikan tim basketnya Juara pertama. Giliran tim cheerleader Nabila yang menunjukan kebolehannya. Detik – detik terakhir penampilan saat Jenifer sebagai flyer naik membentuk pyramid, namun saat dia turun kesimbangannya agak goyang, membuat Jenifer terjatuh.
Melihat Jenifer yang terjatuh Evan langsung berlari kearahnya dan menggendong Jenifer menuju UKS.
Sontak kejadian tersebut membuat tanda tanya supporter Sekolah Bina Harapan yang mengetahui hubungan Evan dan Nabila.
“Eh, kok gue jadi curiga?”
__ADS_1
“Iya, gue juga.”
“Emang kalian belum tau?”
“Apa?”
“Nabila kan udah jadian sama kak Cakra.”
“Yang benar, tau darimana?”
“Teman gue, yang anak cheerleader.”
Ternyata gossip yang dibuat Cheryl, yang sengaja dia infokan ke salah satu anak cheerleader yang biang gossip, termakan.
Nathan yang berada disana tidak nyaman dengan info yang didengarnya, apa benar Nabila jadian dengan Cakra?
*****
Diruangan UKS.
Dokter selesai memeriksa cedera Jenifer.
“Bagaimana dok?” tanya Evan, khawatir dengan kaki Jenifer yang sedikit bengkak.
“Gak pa – pa, jangan banyak bergerak dulu aja.” Jawab dokter, dia memberikan salep dan obat untuk diminum Jenifer, kemudian meninggalkan mereka.
Nabila dan yang lain juga berda disana, mereka heran dengan perhatian Evan kepada Jenifer. Jenifer juga bingung, saat Evan menggendongnya, dada Jenifer berdebar – debar, apalagi keadaan mereka yang cukup dekat membuat Jenifer tidak tenang, ada perasaan lain dalam diri Jenifer. Jenifer mencoba duduk, dengan sigap Evan membantunya dan mengangkat kaki Jenifer dengan perlahan. Jenifer merasa tidak enak.
“Gak pa – pa kak, gue bisa sendiri.” Sungkan Jenifer.
“Syukurlah ada kak Evan.” Ucap Cheryl lega.
“Iya.” Jawab Nabila.
“Bentar lagi pengumuman pemenang.” Ucap Siska.
“Ya udah, kalian kesana aja, gue gak pa – pa kok.” Ucap Jenifer, merasa tidak enak.
“Gue gendong loe lagi aja.” Tawar Evan.
Setelah dibujuk akhirnya Jenifer mau juga dibantu Evan.
♥️♥️♥️♥️
Sambil nunggu, mampir di karya pertama author ya.
please
LIKE
VOTE
KOMENT
and
__ADS_1
FAVORITEkab ya
\=Lady_MerMaD \=