I Wanna You, My Cold Boy

I Wanna You, My Cold Boy
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Evan melemparkan jaketnya kesembarang arah, melampiaskan kekesalannya. Susah payah dia mengajak Nabila untuk dia antar pulang, namun tidak sesuai ekspektasinya.


“Dasar Cakra, brengsek.” Umpat Evan sendiri di kamarnya.


“Gue harus segera menjadikan Nabila pacar gue, sebelum Cakra kunyuk tersebut mendahului gue.” Lanjut Evan.


“Percuma gue nyingkirin fans Nabila yang lain, kalau Nabila akhirnya sama Cakra.” Gerutu Evan.


Pantasan hadiah, bunga dan coklat untuk Nabila berkurang ternyata kerjaan Evan.


Evan terus memikirkan cara bagai mana agar Nabila mau menjadi pacarnya. Akhirnya Evan mengajak sahabat – sahabatnya untuk membantunya.


*****


Evan dan sahabat – sahabatnya membahas tentang bagaimana cara Evan menembak Nabila di lapangan Basket.


“Gerah gue lihat si Cakra seperti dekatin Nabila terus.” Curhat Evan kepada sahabat – sahabatnya.


“Emang Nabila suka sama Cakra?” tanya Rangga.


“Soalnya gue lihat Nabila senang banget jumpa dengan Cakra, apa lagi kemarin gue kasih minum ke Nabila, dia malahan terima minuman dari Cakra.” Jelas Evan lagi.


Ferry ingin memberitahu Evan tentang yang dia lihat kemarin, saat Nabila seperti akan memegang tangan Nathan, namun ditepisnya mungkin Nabila hanya mau mengambil plastic dari tangan Nathan. Karena tidak mungkin Nabila menyukai Nathan.


“Loe yakin Nabila suka sama Cakra?” tanya Ferry.


“Yakinlah, saat babak penyisihan juga, gue lihat Nabila seperti suka sama Cakra, kok loe nanya?” Lanjut Evan.


“Gak, kemarin gue seperti melihat Nabila kayak megang tangan Nathan gitu.” Ferry ragu – ragu mengucapkannya. Rangga yang sedang meminum air di botol langsung menyemburkan minumanya.


“Hahaha, yang benar aja loe, seorang Nabila menyukai Nathan, cewek kutu buku aja belum tentu mau sama tu anak.” Ucap Rangga.


“Iya juga sih, emang habis itu Nabila ngambil plastic yang dibawa Nathan.” Lanjut Ferry lagi.


“Nah, bisa aja saat ngambil plastic Nabila gak sengaja megang tangan Nathan.” Lanjut Rangga pula.


“Udah deh, focus bantuin gue dunk, gimana caranya supaya Nabila mau jadi pacar gue.” Potong Evan.


“Gimana kalau pas kita latihan bersama, loe nembak Nabila, ntar kita bantu deh.” Ujar Rangga memberikan ide.


“Iya, nanti kita minta bantuan sahabat – sahabat Nabila juga.” Ucap Ferry.


“Boleh juga tuh.” Ujar Evan.

__ADS_1


*****


Nabila heran karena sahabat – sahabatnya tiba – tiba menghilang, namun Nabila tidak ambil pusing, dia malahan menggunakan kesempatan ini untuk menemui Nathan, tanpa banyak pertanyaan dari mereka.


“Kak.” Panggil Nabila saat dia telah berada di rooftop Sekolah dan melihat Nathan tiduran sambal membaca buku. Nathan diam saja. Nabila menggoyang kaki Nathan, memberitahu keberadaannya. Nathan bangkit dari tidurnya dan duduk.


“Apaan sih, kamu gak ada kerjaan lain ya? Mendingan kamu urusin itu Cakra dan Evan.” Bentak Nathan kesal. Nabila merasa Nathan cemburu.


“Kakak cemburu ya?” tanya Nabila sambil tersenyum.


“Gak.” Balas Nathan singkat.


“Nabila gak suka kok kak sama mereka, Nabila kan udah bilang, kalau Nabila sukanya sama kak Nathan aja.” Jelas Nabila.


Nathan meninggalkan Nabila. Nabila melipat tikar kain Nathan dan meletakannya ke tempat biasa Nathan meletakannya.


*****


Selesai latihan, Siska mengajak Nabila untuk menemaninya ke kamar mandi sekolah, padahal itu hanya modus Siska dan yang lainnya, agar Nabila ke luar dari aula. Yang lainnya sedang membuat kejutan untuk Nabila berupa pernyataan cinta dari Evan. Siska bertugas mengalihkan perhatian Nabila.


Lima belas menit Nabila menunggu Siska keluar dari WC.


“Sis, loe gak apa – apa didalam sana? Lama banget loch loe didalam?” ujar Nabila tidak sabaran, mana dia digigit nyamuk lagi.


“Bentar lagi Nab, perut gue mules.” Jawab Siska dari dalam.


“Ga tau gue.” Siska masih menunggu telepon dari yang lain, apakah dia sudah bisa membawa Nabila ke dalam. Tiba – tiba notifikasi dari whatsapp masuk dari Maura.


-  Udah selesai, bawa Nabila ke aula – pesan dari Maura


-   Oke – balas Siska


Siska keluar dari WC.


“Yuks Nab.” Ajaknya. Nabila mengikuti Siska.


Begitu sampai aula, Nabila heran kenapa aula gelap.


“Sis, kok gelap ya.” Tanya Nabila, berusaha menajamkan matanya agar bisa melihat.


“Gak tau gue.” Jawab Siska.


Tiba – tiba lampu kembali menyala dan Evan telah berdiri didepan Nabila dengan seikat bunga. Evan kemudian berjongkok dan menyerahkan bunga kepada Nabila.

__ADS_1


“Nabila, gue tau loe begitu sempurna, dimata gue loe begitu indah, semua pria memuja loe, tapi hanya gue yang berani dan pantas mendekati loe,  maukah loe jadi pacar gue? Karena hanya gue yang pantas jadi pacar loe.” Ujar Evan dengan pernyataan cinta yang narsis dan PeDe.


“Maaf kak, Nabila tidak bisa jadi pacar kakak, karena ada seseorang yang Nabila sukai.” Ucap Nabila jujur, dia tidak mau memberi harapan Evan.


Nabila melihat sekelilingnya, dia melihat sahabat – sahabat dan team cheerleadernya kecewa dengan penolakan Nabila.


Nabila melihat Nathan yang juga ada disana bersama Cakra. Hanya Cakra yang tersenyum dengan penolakan Nabila. Nabila memandang Nathan, untuk memberi isyarat bahwa dia hanya menyukai Nathan.


Evan kaget dengan jawaban Nabila. Evan melihat arah pandang Nabila, dia juga melihat Cakra yang tersenyum, semakin menguatkan pikirannya bahwa orang yang disukai oleh Nabila adalah Cakra.


“Boleh gue tau siapa orangnya?” tanya Evan dengan perasaan malu, dia tidak menyangka Nabila begitu konsisten dengan perasaannya, mungkin gadis lain akan terpengaruh dengan perhatian yang diberikan Evan, namun tidak dengan Nabila. Dia telah menetapkan hatinya buat seseorang dan itu adalah Nathan.


“Maaf kak, aku tidak bisa memberitahukannya, sampai aku yakin perasaan ku juga dibalas.” Ucap Nabila diplomatis.


Evan kemudian meninggalkan aula dengan perasaan malu, Ferry dan Rangga mengikutinya dari belakang. Saat berpapasan dengan Cakra dan Nathan, Evan menabrakan bahunya kepada Cakra. Bersyukur Cakra tidak membalas yang mungkin akan menyebabkan perkelahian.


“Van, berhenti.” Teriak Rangga. Saat mereka telah jauh dari Aula dan berada diparkiran. Namun diabaikan oleh Evan.


“Van, loe tenang dulu napa?” ucap Ferry, menarik tangan Evan.


“Karena mau nenangin diri makanya gue pergi.” Teriak Evan menghempaskan tangan Ferry.


“Gue semakin yakin, cowok yang disukai Nabila Cakra, kalau gue gak keluar, gue takut berantem sama Cakra.” Lanjut Evan lagi.


“Tapi kan loe gak punya bukti Van.” Ucap Rangga, mencoba menenangkan Evan dengan mengosok – gosok lengannya.


“Benar Van, karena itu hanya feeling loe ajakan.” Tambah Ferry.


“Serahlah, gue cabut dulu, bisa gila gue lama- lama disini., eneg gue” Evan memakai helm dan menaiki motornya, kemudian meninggalkan teman – temannya dengan perasaan khawatir karena Evan melajukan motor dengan kencang.


♥️♥️♥️♥️♥️


Please


LIKE


KOMENT


VOTE


and


FAVORITE

__ADS_1


Gomawo


\= Lady_MerMaD \=


__ADS_2