
Saat Nabila dan sahabat – sahabatnya datang dengan Evan yang memapah Jenifer, Cakra langsung mendekati Nabila dan memberikan seikat bunga kepada Nabila. Mereka mulai berakting seperti memang telah jadian.
Nathan memperhatikan semua itu, dia kesal sendiri, dia menyesal tidak membawa bunga untuk Nabila. Nathan masih kepikiran dengan informasi yang didengarnya, ditambah lagi melihat gelagat Cakra yang dekat dengan Nabila. Nathan heran karena Cakra belum memberitahunya.
Pengumuman pemenang telah di umumkan, tim cheerleader Sekolah Bina harapan menduduki posisi dua, sedangkan basketnya menduduki peringkat pertama. Mereka bahagia dengan hasil tersebut.
“Gara – gara gue, kita gak jadi no satu.” Ucap Jenifer dengan sedih dan menyesal.
“Gak lah, Jen.” Ucap Maura.
“Ayo kita rayakan.” Ajak Evan, agar Jenifer tidak membahas kekalahan yang mereka rasakan.
Mereka memutuskan untuk makan di Beefhouse. Tempat makan yang menyajikan aneka steak dan minuman kekinian. Tempat tersebut menjadi viral dan banyak digandrungi oleh anak – anak muda, selain menyajikan makanan dan minuman yang lezat, tempatnya juga sangat indah dan nyaman untuk dijadikan tempat nongkrong oleh anak muda.
Juga tempat itu sering kali juga dijadikan tempat untuk melaksanakan acara baik ulang tahun, pernyataan cinta bahkan tempat untuk melamar. Karyawan disana juga sangat ramah dan bersahabat, sehingga menambah nilai plus untuk tempat tersebut.
“Ayo Nabil.” Ajak Nathan membuka pintu mobilnya, agar Nabila masuk, saat mereka telah berada diparkiran.
“Eh.” Nabila bingung dengan tawaran Nathan yang tiba – tiba.
“Nabila sama gue.” Beritahu Cakra, menarik tangan Nabila agar mengikutinya
“Tidak, Nabila sama gue.” Balas Nathan yang menarik tangan satunya lagi.
Terjadilah perdebatan antara Nathan dan Cakra, yang menarik tangan Nabila. Semua yang ada disana heran melihat kelakuan mereka, terutama kelakuan Nathan yang aneh menurut mereka karena sahabat – sahabta Nabila tau jika Nathan telah jadian dengan Laudya, lalu sekarang apa maksudnya mendekati Nabila?
Evan hanya memperhatikan perdebatan tersebut karena dia telah mengetahui bahwa Nathan menyukai Nabila dan terang – terangan meminta dia menjauhi Nabila. Evan mengajak Jenifer untuk naik mobilnya.
“Stop.” Teriak Nabila, yang tangannya mulai sakit.
“Saya akan bersama Jenifer di mobil kak Evan.” Putus Nabila, dia tidak menghiraukan yang lain.
Jenifer mempersilahkan Nabila untuk duduk didepan, namun Evan justru menggendong Jenifer dan mendudukannya didepan, disampingnya. Nabila naik dikursi belakang.
Semua akhirnya menuju mobil masing – masing, Cheryl yang kasihan karena Nathan sendiri, menawarkan diri agar ikut Nathan.
“Boleh saya bareng kakak?” tanya Cheryl, sedikit ragu.
“Silahkan.” Nathan membukakan pintu untuk Cheryl.
Mereka meninggalakan parkiran dan menuju Beefhouse.
Setelah memesan makanan. Nathan pergi ke toilet, keluar dari toilet Cakra telah menunggunya.
“Gue gak tau, kenapa loe datang ke acara ini, biasanya loe gak pernah mau ikut?” Tanya Cakra.
“Gue datang kesini karena menyukai Nabila.” Jawab Nathan
“Apa gue tidak boleh menyukainya?” sindir Nathan
“Loe telat.” Balas Cakra lagi.
__ADS_1
“Nabila dan gue telah jadian, seperti yang pernah gue info ke loe, jangan sampai loe menyesal dan baru menyadari bahwa Nabila adalah gadis yang tulus, saat itu loe udah terlambat, dan hati Nabila telah berubah.” Jelas Cakra panjang.
“Gue yakin Nabila masih menyukai gue.” PeDe Nathan.
“Itu hanya perasaan loe, Nabila telah menerima gue sebagai pacarnya.”
“Loe bohongkan Cak?” tanya Nathan tidak terima.
Entah kenapa dia merasa Nabila masih menyukainya.
“Loe, dengar sendirikan perkataan gadis – gadis tadi?” Balik Cakra kepada Nathan.
“Jangan ganggu hubungan gue dan Nabila, jika loe benar – benar tulus menyukai Nabila, loe harus relakan dia sama gue.” Lanjut Cakra.
“Gue gak bisa seperti itu, gue harus berjuang dapatin Nabila dan gue yakin bisa bahagiakan Nabila.” Nathan memperingatkan Cakra.
“Kenapa loe, baru sadar, selama ini loe kemana?” tanya Cakra dengan sarkas.
“Karena gue baru menyadarinya sekarang.” Balas Nathan enteng, membuat Cakra kesal dan emosi.
“Emang brengsek loe ya.” Kesal Cakra, menarik kerah baju Nathan, dia mencoba memukul Nathan, namun dengan cepat Nathan menghindarinya. Dia bersiap untuk membalas Cakra.
“Kak Nathan, abang.” Teriak Nabila, yang kebetulan juga ke toilet. Nathan menghentikan kepalan tinjunya tepat sebelum mengenai wajah Cakra.
Nabila menarik Cakra dan memastikan Cakra baik – baik saja. Perhatian Nabila kepada Cakra, membuat Nathan cemburu. Biasanya Nabila akan lebih memperhatikannya, Nathan baru menyadari sekarang, sekelebat bayangan saat Nabila memberikan perhatian kepadanya terbayang dalam ingatan Nathan. Menyesal, itu yang Nathan rasakan, namun dia berjanji akan tetap memperjuangkan Nabila.
“Nabil, tidak tau kenapa kalian bertengkar, tapi Nabila mohon, jangan pakai kekerasan, apa tidak bisa dibicarakan dengan baik – baik?” tanya Nabila, memandang Cakra, kemudian berganti ke Nathan.
Nabila sengaja memperhatikan Cakra, agar Nathan tidak merasa bahwa Nabila masih berharap padanya, karena Nabila, tidak mau membuat orang – orang salah paham.
Nabila memandang kepergian Nathan dengan sedih, sekuat apapun dia mencoba, ternyata tidak segampang itu perasaannya berpaling dari Nathan.
Nabila tidak mau membuat Laudya merecokinya lagi. Baginya yang terpenting adalah kebahagiaan Nathan. Namun Nabila heran dengan tingkah Nathan yang seperti terus mendekatinya, bolehkah Nabila keGRan?
Cakra melihat raut kesedihan Nabila, dia merasa kasihan dengan Nabila, sekalipun Cakra menyukai Nabila, dia tidak akan pernah memaksa Nabila untuk bersamanya.
“Nab.” Panggil Cakra.
“Eh.” Balas Nabila, sadar dari lamunan.
“Loe, mau tau kenapa gue bertengkar dengan Nathan?” tanya Cakra, dia bermaksud menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi antara Nabila dan Nathan. Mungkin jika Nabila mengetahui bahwa Nathan juga menyukainya dan Nathan tidak jadian dengan Laudya, mereka bisa bahagia.
“Gak usah kak, Nabila tidak peduli.” Bohong Nabila, dia tidak ingin mencampuri urusan Nathan lagi.
“Ayo, kita kembali, yang lain masih menunggu.” Putus Nabila, berjalan menuju tempat duduk mereka kembali.
“Kok lama, kalian kembali, ayo, gak ngapa – ngapainkan?” ucap Maura penuh selidik.
“Loe, emang jadian Nab, sama bang Cakra?” tanya Jenifer.
Siska langsung tersedak, mengetahui berita yang diinfokan Jenifer. Ada perasaan tidak rela dihatinya. Cheryl memberikan tisu kepada Siska.
__ADS_1
“Loe gak pa – pa, Sis?” tanya Cheryl.
“Iya, gue gak pa – pa.” balas Siska.
“Iya, mereka udah jadian.” Cheryl yang menjawab.
“Kapan?” tanya Jenifer lagi.
“Kok kita gak tau ya?” bingung Maura.
“Kemarin.” Jawab Cheryl. Hadeh mereka kenapa harus menginterogasi sekarang sih.
“Kok bisa?” Jenifer masih mengorek informasi, karena menurutnya ini sangat mendadak dan terkesan aneh.
“Selamat ya buat kalian.” Evan menengahi.
Yang lain heran karena Evan dengan gampang menerima dan melepaskan Nabila?
“Kenapa kalian menatap gue seperti itu?” heran Evan, dengan tatapan aneh semuanya, kecuali Nathan.
“Loe gak cemburu gitu?” pancing Rangga.
“Ada yang lain, yang mewakili gue untuk cemburu.” Senyum Nathan misterius, sekilas melirik Nathan.
♥️♥️♥️♥️♥️
Hari ini mungkin aku hanya bisa update satu bab, namun jika memungkinkan aku akan update lagi, hanya saja tidak janji ya sayang2 akuh.
Sembari nunggu update Nathan dan Nabila boleh mampir di karya pertama ku, kisah Viona dan Vino di "Unexpected Marriage" ya crtnya udah tamat kok, jadi gak harus nunggu update.
Pecinta baca marathon oke banget ni..
Please
LIKE
VOTE
KOMENT
and
FAVIRITEkan ya.
Hadiah juga boleh😁
Gomawo
\= Lady_MerMaD \=
__ADS_1