I Wanna You, My Cold Boy

I Wanna You, My Cold Boy
Danil


__ADS_3

Sore ini Danil bertemu dengan sahabat-sahabat SMAnya. Mereka nongkrong di sebuah cafe, milik salah satu dari mereka. Danil sedikit terlambat karena masih ada laporan yang harus diperiksanya.


Sejak Siska cuti, Danil sedikit kelabakan karena biasanya Siska dapat diandalkan. Sekarang dia harus menunggu dua bulan lagi, sampai Siska kembali bekerja. Itupun jika Cakra mengizinkannya bekerja.


Sepertinya Danil harus segera bersiap-siap untuk mencari pengganti Siska dengan segera. Karena tidak mungkin dia memberdayakan karyawan lain yang menyebabkan pekerjaan karyawan tersebut terbengkalai juga.


Mungkin Danil bisa mencari tenaga lepas harian dulu untuk sementara selama dua bulan ini. Sambil melihat kinerjanya, jika bagus maka Danil akan mengangkatnya sebagai karyawan kontrak dulu sebelum menjadi karyawan tetap.


Apalagi bidang usaha Danil telah banyak. Mungkin dia akan mencari sekretaris laki-laki saja. Sehingga dia tidak dibuat pusing dengan cuti melahirkan.


"Bro, sini," panggil salah satu teman Danil yang bernama Robby. Saat melihat Danil memasuki cafe.


Danil melangkah menuju tempat teman-temannya berkumpul. Di sana telah datang Robby dan Axel. Mereka memang akrab bertiga saat SMA.


"Akhirnya pengusaha batu bara datang juga," ejek Axel. Dia pemilik cafe tempat mereka nongkrong.


"Apaan, sih, loe." Danil meninju bahu Axel. Kemudian dia mulai duduk di kursi kosong.


"Mau pesan apa, loe?" tawar Axel.


"Menu baru, loe, apa?" tanya Danil. Dia mengambil daftar menu dan membacanya.


"Jangan minta menu baru. Menu lama aja, loe belum nyobain," sindir Axel.


"Ya, udah gue, pesan Turkish Lamb Kebab saja sama, hazelnut cofee," jawab Danil.


"Oke," Axel memanggil salah satu karyawannya. Dan memberitahu pesanan Danil.


Kemudian mereka mulai membicarakan masa-masa SMA dulu. Tentu saja topik terhangat adalah kejadian saat identitas Nathan terbongkar dan sebelumnya kejadian Nathan ditembak oleh gadis populer incaran mereka Nabila.


"Eh, tapi, sahabat adiknya Cakra yang bernama Siska juga nggak kalah cantikkan, ya?" ucap Axel.


"Oh, iya, itu, 'kan yang loe taksir Dan," tambah Robby.


"Sayang, loe, disalip Cakra. Tapi, emang mereka benar pacaran dulu?" tanya Axel.


"Udah jadi bini Cakra sekarang malahan dan mereka baru saja memiliki putra pertama," beritahu Danil.


"Serius, loe? Tahu dari mana?" selidik Robby.


"Siska sekretaris gue, dan sekarang cuti melahirkan," jawab Danil.


Pelayan mengantarkan pesanan Danil. Sengaja menyentuh tangan Danil saat menghidangkan pesanan Danil.

__ADS_1


"Ada lagi yang mau dipesan, Pak?" tanya karyawan Axel ramah. Dia seperti merayu Danil.


"Tidak ada, ini saja, dulu," jawab Danil. Pelayan tersebut tersenyum dan membelai tangan Danil.


"Wah, jangan-jangan loe, bisa manfaatin Siska, berhubung dia sekretaris, loe," sindir Robby.


"Apaan, sih, gue nggak level main paksa,, maunya suka rela," ejek Danil.


"Kalau ada cewek yang loe paksa gimana?" tantang Robby.


"Gue nikahin dia," jawab Danil mantap, karena dia yakin, dia tidak suka memaksa.


"Asal loe jujur aja, nggak lari dari tanggung jawab," ejek Robby lagi.


"Udah, deh. Tapi, ada satu karyawan freelance gue, nggak kalah cantik dan imut, dia aja di antara yang muda yang belum bisa gue taklukin, njir," puji Axel terhadap salah satu karyawan cafenya.


"Jadi yang barusan juga udah loe coba?" kepo Robby.


"Iya, donk, lumayan pelayanannya," ujar Axel. "Kalau kalian mau pake, bisa, ntar gue tanyain," lanjut Axel.


"Dasar kalian, gue nggak minat," jawab Danil.


"Sok pokos, loe," ejek Robby. "Ngomong-ngomong mana karyawan yang loe, bilang cantik dan imut itu, penasaran gue," lanjut Robby.


"Ntar malam, ke pub, yuks? Siapa tahu ada yang nyangkut, udah lama puasa, gue," ajak Robby.


"Makanya, loe, nikah," sindir Axel.


"Nggak bebas, donk, dia nanti," ejek Danil.


"Ayoklah, habis ini, kita ke pubs," bujuk Robby lagi.


"Sorry, Bro. Gue nggak bisa," tolak Danil.


"Payah, loe," ejek Robby lagi.


"Gue, mau ke toilete, dulu, di mana toilet, loe?" tanya Danil kepada Axel.


"Lurus sana, belok kiri," tunjuk Axel.


"Jangan salah masuk loe, perhatikan tanda," tawa Robby.


Danil mengabaikan peringatan Robby, dia menuju toilet. Setelah menunaikan hajatnya, Danil kembali ke teman-temannya. Mereka kembali mengobrol. Sepulub menit kemudian Danil pamit.

__ADS_1


"Gue, cabut dulu, ya." Dia ingat Mila akan mengambil motornya. Danil meneguk Coffeenya sampai habis. "Ini, gue bayar atau gimana, Xel?" tanya Danil sebelum pergi.


"Udah, kalau masih di cafe atau Restoran gue, biar gue aja. Tapi, kalau ke pubs atau tempat lain yang bukan punya gue, ya, loe berdua yang bayar," terang Axel sambil tertawa.


Danil memberi tanda oke dan meninggalkan. Teman-temannya.


***


Mila selesai bekerja waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Mila bersiap-siap untuk pulang. Dia memesan ojek online, rencananya dia akan menjemput motornya di apartment Danil.


Sesampai di apartemen Daniel Mila langsung menemui petugas penjaga apartment.


"Selamat malam, Mas. Saya Mila, mau bertemu Danil," ucap Mila. Dia lupa bertanya kemarin kepada Danil apartmentnya di lantai dan nomor berapa?


"Oh, iya, saya ingat, Mbak yang kemarin sama Pak Danil," jawab Petugas. "Sebentar ya, Mbak motornya masih di parkiran, tapi, kuncinya udah saya kasih ke Pak Danil. Saya hubungi pak Danilnya dulu, kebetulan beliau sudah pulang," lanjut Petugas.


Dia menghubungi Danil dan Danil menyuruh Mila langsung ke unitnya saja.


"Malam, Pak Danil, ini ada Mbak Mila yang punya motor kemarin, dia mau ambil motornya, Pak," jelas Petugas. Dia sangat menghormati Danil karena Danil pemilik gedung apartment ini.


"Suruh langsung ke unit saya saja," perintah Danil.


"Baik, Pak," jawab petugas. Dia kemudian memutuskan sambungan telepon.


"Mbak, kata pak Danil, langsung aja ke unitnya lantai tujuh belas kamar 1712," ucap Petugas.


"Baik, Mas. Terima kasih," ucap Mila. Dia langsung menuju lift dan menekan tombol lantai tujuh belas. Mila melihat waktu trlah menunjukan pukul sembilan malam. Dia harus segera mengambil motornya dan pulang jadi besok pergi kerja dia tidak perlu pesan ojek online lagi. Lumayan pengeluaran Mila dua kali ojek. Lebih hemat dia membawa sendiri motornya.


Mila keluar dari lift dan mencari unit Danil, dia melewati lorong setiap unit.


Banyak juga unit-unitnya? Panjang juga, Mila lupa melihat petunjuk tanda panah nomor unit. Akhirnya dia meneliti satu persatu nomor setiap unit. Ah sepertinya salah, mungkin di lorong yang satu lagi?


Mila keluar dari lorong pertama yang dia masuki. Dia mulai kembali mencari. Mila merasa lega karena menemukan pintu dengan nomor 1712.


Akhirnya, Mila langsung menekan bel. Tidak lama pintu terbuka. Seseorang langsung menarik Mila dan membekap mulutnya. Pintu tertutup, Mila mencoba meronta dan berteriak.


πŸ’πŸ’πŸ’


Jangan lupa nyawer, ya, besties, udah 3 bab loh. Nggak punya Vote, bisa kasih kembang atau iklan atau kopi atau kursi pijat🀭


Pekanbaru


281222

__ADS_1


20.51


__ADS_2