
“Nabila, ingin pulang kak.” Putus Nabila.
Deg.
Nathan kaget dengan perkataan Nabila yang tiba – tiba, Nathan tidak rela dengan permintaan Nabila yang ingin pulang.
“Kenapa?” tanya Nathan, sikap dinginnya kembali.
Dia telah bersusah payah mempersiapkannya, namun Nabila meminta pulang.
“Karena telah malam.” Hanya itu yang diucapkan Nabila.
Nabila melangkah untuk kembali ke mobil, namun Nathan menarik tangannya dengan kuat, membuat Nabila jatuh kepelukan Nathan.
Wajah mereka sangat dekat, jantung keduanya berdetak sangat kencang, Nathan semakin mengikis jarak diantara mereka, Nabila terdiam tidak berkutik dan menutup matanya. Nathan mencium bibir Nabila dengan lembut.
Tidak munafik, Nabila menikmati ciuman tersebut. Cukup lama mereka berciuman, gerimis turun, menyadarkan Nabila dari kesalahannya, sontak Nabila mendorong dada Nathan dan menjauhkan diri dari Nathan.
“Kakak egois, kakak telah mencuri ciuman pertama ku.” Teriak Nabila, mulai menangis.
“Itu juga ciuman pertama ku.” Balas Nathan.
“Tapi kenapa kakak seperti sudah pro?” tanya Nabila curiga.
“Insting Bil, hal seperti itu tidak harus dipelajari.” Jelas Nathan kesal dengan tuduhan Nabila.
“Lalu kenapa kakak melakukannya?”
“Karena aku suka sama kamu.” Teriak Nathan kencang karena hujan semakin lebat.
Bukannya berteduh mereka justru berdebat, ditengah hujan yang semakin deras.
“Aku gak peduli kamu sudah pacaran dengan Cakra, aku akan merebut kamu darinya.”
“Kakak benar – benar egois, jahat.” Teriak Nabila.
“Ya, aku egois, jika aku menyukai seseorang aku akan berjuang mendapatkannya, karena bagiku cinta harus diperjuangkan dan bullshit dengan orang – orang yang bilang, demi kebahagian orang yang dicintainya dia rela mengalah, itu tidak berlaku pada ku.” Jelas Nathan panjang.
Deg deg.
Nabila merasa tersindir dengan ucapan Nathan karena dia termasuk orang – orang yang seperti Nathan bilang, yang mengalah agar orang yang dicintai bahagia.
“Bagaimana kakak bisa bicara seperti itu, sementara kakak sendiri telah punya pacar.” Bentak Nabila yang tidak habis pikir.
“Siapa yang punya pacar? Bukannya kamu yang baru jadian dengan Cakra? Dan bisa – bisanya kamu jadian dengan Cakra, dari saat kamu bilang suka pada ku, jaraknya belum lama, dengan mudahnya kamu melupakan ku.” Emosi Nathan.
“Kakak kan pacaran dengan kak Laudya.” Geram Nabila.
“Aku kan lihat saat Laudya menerima pernyataan cinta kakak.” Nabila mulai memelankan suaranya, air mata masih menetes ke pipinya. Dia menundukan wajah, mengusap air mata yang terus mengalir dengan air hujan yang juga mengalir.
“Hei, aku tidak jadian dengan Laudya.” Nathan mendekati Nabila dan mengangkat dagunya, dia mengusap air mata Nabila, membawanya kedalam pelukannya.
__ADS_1
“Apa?” Nabila melepaskan pelukan Nathan dan menatap mata Nathan dengan tajam, mencoba mencari kebohongan disana.
“Iya, saat kamu melihat kejadian itu, kamu salah paham, Laudya memang membalas perasaan ku, namun aku tidak bisa menerimanya lagi karena aku baru menyadari perasaan ku, saat melihat mu menatap kejadian tersebut, mata ku terbuka bahwa kamu adalah gadis yang aku sukai.” Nathan kembali membawa Nabila kedalam pelukannya lagi.
“Tidak mungkin, karena kak Laudya juga bilang dia telah jadian dengan kakak?” ada perasaan senang sekaligus ragu dihati Nabila, apakah Nathan hanya ingin menyenangkannya? karena telah mencium Nabila.
Nabila memeluk Nathan dengan erat, melampiaskan kesedihan dan kebahagiannya sekaligus, namun ada bimbang dihati Nabila, bagaimana hubungannya nanti karena kasta mereka jauh berbeda sekarang?
Nathan melepaskan pelukannya, dia kemudian jongkok dan mengambil rumput, membentuknya seperti cincin. Kemudian Nathan berlutut.
“Nabila, maukah kamu menjadi pacar ku?” ucapnya dengan yakin dan menyelipkan cincin rumput tersebut, tanpa menunggu jawaban dari Nabila.
“Apa kakak yakin? Bukan karena kasihan kan?”
“Yakin 1000 persen.” Nathan berdiri sejajar dengan Nabila.
“Tapi aku masih jadi pacar bang Cakra.” Pacar pura – pura, namun Nabila tidak meneruskannya.
“Besok kamu harus putus dengannya.” Paksa Nathan.
“Ya gak bisa gitu lah kak, kami kan baru jadian juga.” Canda Nabila.
“Aku akan memaksa Cakra memutuskan mu, mulai sekarang aku yang akan menjaga mu dari semua cowok – cowok yang berniat dekat dengan mu.” Putus Nathan dengan yakin.
“Nabil, kan gak tega kak, tunggu sementara waktu ya?” Nabila mencoba membujuk Nathan
“Jadi maksud mu, aku jadi selingkuhan mu gitu? Yang benar aja Nabil?” ucap Nathan tidak terima.
“Apa? Kapan?” tanya Nabila bingung.
“Gak penting, yang penting sekarang kita bersama, Bil.” Bujuk Nathan, meraih tangan Nabila dan menggenggamnya.
“Tapi.” Ucap Nabila ragu.
“Gak ada tapi – tapian, aku gak mau jadi selingkuhan mu, aku mau semua cowok yang suka sama kamu tau, bahwa kamu hanya milik ku.”
“Gak ada bantahan Bil.” Putus Nathan, dia memeluk Nabila.
“Nanti aku belikan cincin benaran.” Bisik Nathan ditelinga Nabila. Membuat Nabila merinding kegelian.
“Gak perlu kak, Nabila gak butuh kok.” Balas Nabila, mencoba melepaskan pelukan Nathan, namun Nathnan tidak memberinya celah.
“Biar kamu terikat sama aku, kalau perlu, aku nikahin kamu besok.” Tantang Nathan.
“Yang benar saja kak, kita masih SMA loch.” Ingat Nabila kepada Nathan.
“Kenapa emangnya? Aku punya uang sendiri kok, bukan dari bokap, jadi kamu jangan cemas jika, aku gak sanggup nafkahin kamu.” Beritahu Nathan.
“Bukan gitu kak, Nabila baru 16 tahun loch, hamil gimana?” sewot Nabila.
“Kan kamu ada suaminya, kenapa mesti takut?” tantang Nathan lagi.
__ADS_1
“Ah, udah, gak usah bahas itu.” elak Nabila.
“Benar juga, jangan bahas itu, cium lagi boleh?” tanya Nathan, dia kecanduan dengan ciuman Nabila.
“Gak.” Nabila melepaskan pelukan Nathan.
“ Ya udah, jangan lama-lama dibawah hujan gini.”
“Kenapa.” Tanya Nabila polos.
“Kamu tega ya, dengan pakaian mu yang seperti ini dan cuaca hujan begini, aku pria muda dengan gairah yang penasaran, bisa – bisa aku khilaf.” Ucap Nathan sambil menunjuk pakaian Nabila.
Nabila baru ingat dia belum mengganti pakaian dan masih menggunakan seragam cheerleadernya. Nabila menarik roknya. Nathan meninggalkan Nabila menuju mobil, dia mengambil selimut, tas Nabila dan dua payung.
Nathan memayungi Nabila.
“Gantilah baju mu agar tidak sakit.”
Nathan mengantar Nabila pulang, sepanjang jalan, tangan Nabila selalu digenggam Nathan, dia sangat bahagia, rasanya dia ingin selalu bersama Nabila.
Sesampai di depan pagar rumah Nabila, Nabila melihat mobil Cakra, didalam terlihat Cakra dan Cheryl yang seperti berdebat.
Nathan membukakan pintu agar Nabila bisa keluar. Cakra yang melihat mobil Nathan datang juga keluar dengan wajah marah.
“Udahlah bang, ayo kita pulang.” Ucap Cheryl yang juga keluar dan berusaha menarik tangan Cakra, namun ditepis oleh Cakra.
“Cheryl, ada apa?” tanya Nabila bingung, dengan kedatangan Cheryl dan Cakra, bukankah mereka akan ke rumah sakit?
♥️♥️♥️♥️♥️
Hi, Mampir ke karya pertama ku juga ya
UNEXPECTED MARRIAGE (END )
Please
LIKE
VOTE
KOMENT
and
FAVORITEkan ya.
Gomawo
\=Lady_MerMaD \=
__ADS_1