
Nabila memasuki rumah dengan perasaan bahagia, walaupun capek karena lumayan jauh jalan, namun hati Nabila senang.
“Baru pulang Bil?” tanya maminya yang duduk nonton televisi bersama papinya. Nabila tidak menyadari ada mami dan papinya disana. Dia hanya focus membayangkan kejadian hari ini, saat diantar Nathan pulang.
“Eh, ada mami dan papi.” Senyum Nabila cengengesan, dia menghampiri mami dan papinya, mencium tangan kedua orang tuanya.
“Ayo, ngelamuni apa kamu? Sampai gak lihat papi sama mami?” tanya papinya.
“Pengen langsung ke kamar dan mandi, pi, gerah Nabil ini.” Balas Nabila sambil mengibas – ngibaskan tangannya, seperti mengipas.
“Memangnya kamu dari mana, Bil, kok baru sampai rumah, mami whatsapp dan telepon, kamu gak respon. Mami dan papi khawatir loch.” Jelas mami Nabila.
“Iya, sampai mami kamu suruh mang Udin, nyariin kamu.” Lanjut papinya.
“Eh, ngomong – ngomong tentang mang Udin, mang Udihnya belum pulang, pi.” Beritahu mami kepada papi.
“Biar papi telepon mang Udin mi, bilang Nabila udah pulang.” Papi mencari handphonenya dan menghubungi mang Udin.
Nabila mengambil handphone dari tasnya dan melihat ada beberapa panggilan dari maminya. Namun Nabila tidak mendengar panggilan tersebut.
“Nabil, udah whatsapp mami juga loch.” Beritahu Nabila. Dia melihat pesan whatsapp. Namun pesannya tidak terkirim. Nabila mengecheck quota paket internetnya, ternyata habis.
“Paket data Nabil, habis mi. Maafin Nabil ya mi.” Nabila menyesal, orang di rumah jadi khawatir dengannya.
“Iya, gak apa – apa yang penting kamu selamat.” Balas mami, sambil mengusap kepala Nabila.
“Mandilah, kemudian makan, mami akan suruh bibi, siapkan makanan untuk kamu.” Lanjut mami lagi.
“Nabil, udah makan mi.” ucap Nabila.
“Owh, ya udah, mandi sana gih, keringatan banget kamu itu, udah kayak kuli bangunan aja.” Canda mami. Nabila hanya tertawa, mami gak tau, kalau Nabila mengalami pengalaman yang berkesan?
“Bye mi, Nabil ke kamar ya.” Nabila menuju kamarnya.
Selesai mandi, Nabila merebahkan tubuhnya di ranjang. Mencheck handphone, berharap Nathan menghubunginya. Nabila memgaktifkan wifi handphonenya. Banyak pesan masuk dari mami, papi, mang Udin serta panggilan whatsapp dari mami dan papinya. Juga ada pesan whatsapp dari Evan.
“Huh yang diharapkan kirim pesan, gak ngirim pesan, justru yang tidak diharapkan, ngirim pesan.” gerutu Nabila sendiri.
- Sore Nab, lagi ngapain?” – tanya basa – basi Evan.
- Udah makan Nab?-
- Kok gak dibalas Nab.? Sibuk ya? –
- Cuma mau ngingatin, besok pulang bareng gue ya – pesan beruntun dari Evan.
“Hadeh, gimana ya cara nolaknya, tapi nanti kalau ditolak gak enak juga, udah keseringan ditolak soalnya.” Gerutu Nabila lagi.
- Malam kak, Nabila udah makan –
__ADS_1
- Iya kak, habis latihan kita pulang bareng – balas Nabila.
- Oke, gue tunggu ya, jangan bohong ya – balas Evan.
- Iya kak – balas Nabila singkat.
Dia kembali mengingat kejadian hari ini, sekalipun kakinya pegal, namun Nabila sangat bahagia, bahkan dia akan dengan suka rela mengalami kejadian tadi, asal bersama Nathan.
*****
Selesai latihan Evan mengantar Nabila pulang.
“Yuks Nab.” Ajak Evan, membawakan tas Nabila.
“Owh iya kak.” Nabila kembali mengambil tasnya dari Evan.
“Cie, yang mau pulang bareng.” Sindir Maura, menyikut lengan Nabila.
“Apaan sih, Ra, biasa aja kali.” Ucap Nabila sewot.
“Ya deh.” Pasrah Maura.
“Udah, sana gih.” Usir Jenifer.
“Bye semua.” Ucap Nabila.
Saat Nabila dan Evan menuju pintu keluar aula. Nathan dan Cakra masuk aula. Deg, Nabila kaget dengan kehadiran Nathan. Dia seperti gadis yang ketahuan selingkuh.
“Tapi gue, udah mau ngantar Nabila pulang bro.” potong Evan, tidak suka dengan kedatangan Cakra. Evan mengira Nabila menyukai Cakra.
“Santai bro, mending kita tanya Nabila aja.” Balas Cakra yang juga tidak suka dengan Evan yang selalu mendekati Nabila.
“Ya, udah kak, kita makan aja dulu, gak enak udah dibawain sama bang Cakra.” Nabila khawatir mereka akan bertengkar.
Akhirnya Cakra mendahului Evan masuk aula, Evan pun tidak mau kalah, menyikut Cakra. Mereka berjalan berdua didepan, meninggalkan Nathan dan Nabila. Nathan berjalan memgikuti Cakra, Nabila pun mengikuti Nathan. Dia menyentuh tangan Nathan yang memegang plastik berisi makanan. Nathan menghindarinya. Seseorang memperhatikan reaksi Nabila dan Nathan.
“Eh, ada bang Cakra.” Ujar Siska, senang dengan kedatangan Cakra.
“Abang bawa apaan?” tanya Cheryl, sambil mengambil plastik yang dibawa Cakra.
“Buat semua orang yang ada disini, kecuali elo.” Canda Cakra kepada Cheryl, adiknya.
“Jahat banget sih, bang, sama adik sendiri hitung – hitungan.” Ucap Cheryl dengan cemberut.
“Ya deh, buat loe juga.” Mencubit hidung Cheryl.
“Wah, makasih bang.” Ucap semuanya.
“Loe gak jadi pulang Nab?” tanya Jenifer.
__ADS_1
“Iya, gak enak juga, kalau pulang, dia udah bawain makanan buat kita.”
“Iyaa juga ya.”
Cakra membawa pizza homemade, mereka makan pizza tersebut dengan tenang, sambil sesekali bercengkrama.
Nabila tersedak, Cakra dan Evan reflek memberikan minuman kepada Nabila. Nabila mengambil minuman dari Cakra, ini membuat Evan menjadi yakin bahwa Nabila menyukai Cakra. Jadi Nabila berubah karena Cakra, pikir Evan. Gue pikir selama ini, tidak ada pria yang menarik bagi Nabila, ternyata ada, batinnya.
Evan kemudian mengambil satu pizza lagi untuk melampiaskan kekesalannya, namun tangannya berbarengan dengan Jenifer yang juga ingin mengambil pizza yang sama. Jenifer tersenyum kepada Evan.
“Buat kakak aja.” Mencoba menarik tangannya yang berada dibawah tangan Evan. Evan terpesona dengan senyum Jenifer, ternyata dia sangat cantik dan imut, eh apa yang aku pikirkan, dia teman Nabila, batin Evan yang berusaha mengembalikan kesadarannya.
“Buat kamu aja.” Mengambil pizza dan memberikannya kepada Jenifer.
“Wah, terima kasih, kak.” Balas Jenifer. Memakan pizza tersebut. Evan memperhatikan Jenifer, deg, kenapa dada ku berdebar melihatnya makan. Evan berusaha mengalihkan dirinya kepada Nabila.
Begitu selesai makan, Evan langsung mengajak Nabila pulang, dia tidak mau memberi celah Cakra untuk lebih dekat dengan Nabila.
“Yuks Nab.” Ajak Evan.
“Cepat amat pulangnya Nab?” ujar Cakra.
“Iya, takut kemalaman.” Balas Evan.
“Gue tanya Nabila loch.” Balas Cakra pula, membuat Evan semakin kesal.
Nathan hanya memperhatikan dua orang tersebut. Dia merasa aneh dengan tingkan kedua laki – laki itu.
Nabila semakin merasa tidak nyaman, dia mencemaskan apa yang dipikirkan Nathan, baru kemarin dia pulang dengan Nathan dan hari ini dengan Evan.
“Udah kak, Nabila pulang sekarang aja.” Nabila meninggalkan dua laki – laki tersebut dan menuju luar aula. Evan mengikuti Nabila. Semua juga akhirnya mengikuti Nabila karena akan pulang juga.
Setelah memakai helm, Nabila menaiki motor gede Evan, berusaha agar tidak terlalu dekat dengan Evan. Nabila melambaikan tangan kepada yang lain.
Evan melajukan motor dengan lambat, agar waktu bersama Nabila lebih lama, tadinya Evan ingin mengajak Nabila makan juga, namun batal karena Cakra datang membawa pizza.
♥️♥️♥️♥️♥️
Please
LIKE
KOMENT
VOTE
and
FAVORITE
__ADS_1
Gomawo
\= Lady_MerMaD \=