I Wanna You, My Cold Boy

I Wanna You, My Cold Boy
Melahirkan


__ADS_3

"Jaga, ya, mulut kalian!" hardik Mila yang tidak tahan dengan sindiran dan ejekan Rahmi dan Rossa.


"Mulut-mulut, gue, mau apa, loe?" tantang Rahmi.


Mila langsung menjambak rambut Rahmi, Rossa membantu Rahmi. Siska tidak bisa tinggal diam melihat Mila di keroyok. Dia pun ikut membantu Mila. Terjadilah perkelahian diantara mereka. Siska merasakan kontraksi di perutnya.


"Aw!" teriak Siska memegang perutnya.


Cakra dan rombongan keluar dari ruangan logostik. Dia melihat perkelahian dan Siska yang kesakitan. Cakra dan Danil berlari menuju Siska.


Cakra langsung menggendong Siska, begitupun Danil yang telah memegang bahu Siska.


"Biar aku saja, dia karyawanku," ucap Danil.


"Dan, aku suaminya," bentak Cakra kesal. Danil tersenyum penuh arti.


Semua yang di sana terkejut mendengar pengakuan Cakra. Apalagi Rahmi dan Rossa mereka merasakan dunia seperti runtuh dan menimpa mereka. Mereka yakin ini adalah akhir dari pekerjaan mereka.


"Telepon sopir untuk segera membawa mobil ke Lobby," perintah Cakra kepada manager marketing.


"Baik, Pak." Manager marketing langsung kembali ke ruangan logistik dan memerintahkan mereka untuk menyiapkan mobil di Lobby.


Cakra menggendong Siska dan menuju lift. Danil juga mengikuti Cakra bersama manager design. Manager design tidak menyangka bahwa Siska adalah istri dari rekan bos mereka.


Dia memang mendengar desas-desus tentang di terimanya Siska bekerja. Karena menurut semua karyawan merasa aneh saja CEO mereka memperkerjakan wanita hamil besar. Ternyata backingannya tinggi dan Siska bukanlah orang sembarangan.


Apalagi saat mereka mengetahui dari staf HRD bahwa Siska adalah alumni di Sekolah yang sama dengan CEO mereka. Jadi wajar saja Siska diterima bekerja. Mereka melupakan bahwa Siska lulus dengan cumlaude dalam waktu tiga setengah tahun.


Setelah menyuruh tim logistik untuk menyiapakan mobil dan sopir. Manager marketing menatap Mila, Rahmi dan Rossa.


"Memalukan. Saya, akan memberitahukan kepada atasan kalian. Berdo'alah istri pak Cakra dan bayinya selamat," ancam Manager marketing.


"Maafkan kami, Pak," cicit Rahmi dan Rossa. Manager Marketing memang tidak mengetahui jika Siska pernah bekerja sebagai house keeper di I-Shine hotel.


"Kenapa, kalian bisa bertengkar dengan sekretaris Pak Danil? Mana ternyata istri Pak Cakra lagi," sewot Manager Marketing. Rahmi, Rossa dan Mila hanya diam.


"Kenapa kalian, diam?" hardik Manager Marketing.


Dia tidak menyangka akan mengalami kejadian ini saat pertemuan mereka dengan perusahaan Danil.


"Rahmi dan Rossa yang memulai, Pak," bela Mila.


"Sudahlah. Kembali bekerja, Saya akan membicarakan masalah ini dengan manger kalian," putus Manager Merketing.


Cakra terus menuju Lobby, mobil telah menunggu di sana. Cakra memasukan Siska ke dalam mobil dibantu Danil. Siska duduk sambil memegang perutnya. Cakra duduk di samping. Dan mengusap-usap perut Siska. Setidaknya sentuhan Cakra cukup membuat Siska nyaman dan sedikit tenang.

__ADS_1


"Jalan! carilah rumah sakit terdekat!" perintah Cakra.


"Baik, Pak," jawab Sopir.


Sopir menjalankan mobil dengan cepat. Namun, hati-hati. Mobil Danil mengikuti mobil Cakra dari belakang.


"Bertahanlah, katakan pada Abang, bagian mana yang sakit?" bujuk Cakra, dia kasihan melihat Siska yang sedang mengalami kontraksi. Cakra masih mengelus-elus perut Siska. Siska memegang tangan Cakra dan meremasnya.


"Sakit, Bang. Siska tidak tahan lagi," gerutu Siska.


"Aw," teriak Cakra, saat cengkraman tangan Siska ditangannya semakin keras.


"Maaf," cicit Siska. Dia terus menahan kontraksi yang semakin cepat jaraknya.


"Sudah, sampai, Pak," ucap Sopir memberitahu Cakra.


"Suruh mereka membawakan kursi roda atau brangkar," perintah Cakra.


Dengan cekatan sopir langsung keluar dan mencari kursi roda.


Cakra kembali menggendong Siska dan meletakannya di kursi roda. Perawat mengarahkan mereka ke ruangan bersalin. Perawat memeriksa kondisi Siska.


"Masih bukaan tiga, apakah Ibu ingin melahirkan normal atau operasi?" tanya perawat.


"Normal saja, Sus," jawab Siska. Dia tidak ingin di operasi karena akan lama sembuhnya.


"Dia?"


"Ibu, biarkan kami yang menangani," jawab Perawat.


Cakra mengisi data sesuai instruksi bagian administrasi. Setelah itu Cakra kembali ke ruangan bersalin.


Danil juga berdiri di depan ruangan bersalin.


"Loe, ngapain di sini?" bentak Cakra, begitu melihat Danil juga berdiri di depan kamar bersalin Siska. "Seperti dia aja suami Siska," gerutu Cakra dengan kesal.


Dokter dan asisten perawatnya memasuki ruangan bersalin dan melihat dua orang pria.


Aneh kenapa ada dua pria yang menemani pasien ini?


"Siapa di antara kalian suami pasien?" tanya Dokter.


"Saya, Dok," balas Cakra cepat.


"Apa Bapak ingin melihat proses, persalinannya?" tanya Dokter karena tidak semua pria akan berani melihat proses persalinan.

__ADS_1


"Ya, saya akan menemaninya," sahut Cakra.


"Ikut kami ke dalam," ajak Dokter.


Perawat meminta Cakra untuk mencuci tangan dengan alkohol. Pakaian Siska telah berganti dengan pakaian rumah sakit.


Cakra melihat Siska kesakitan, Cakra mengambil posisi di samping Siska dan menggengagam tangannya, memberinya kekuatan agar dapat melalui persalinan dengan lancar.


"Siap, ya, Ibu, ini akan sangat sakit," ujar dokter memberitahu Siska. Cakra melihat dokter memegang suntikan.


"Apa itu?" tanya Cakra. Dia memastikan bahwa dokter tidak sedang melakukan kesalahan.


"Ini cairan induksi, untuk mempercepat jalan lahir atau bukaannya, Pak," terang Dokter.


"Apakah iti biasa, digunakan?" tanya Cakra lagi.


"Ya," jawab dokter singkat.


Cakra hanya pasrah saat dokter menyuntikan cairan tersebut ke tubuh Siska. Tidak berapa lama, obat tersebut bereaksi, Siska merasakan kesakitan mdan perutnya mual.


Siska mencengkram tangan Cakra dengan kuat, dapat Cakra rasakan bahwa Siska sangat kesakitan. Dokter memeriksa bukaan Siska.


"Sudah lengkap, Ibu, coba mulai mengejan, ya. Setelah hitungan ketiga kita mulai. Satu ... Dua ... Tiga," instruksi dokter.


Siska mulai mengejan. Percobaan pertama, kedua, ketiga, keempat tidak berhasil. Pada kali kelima, akhirnya berhasil, dokter menekan perut Siska membantu bayi keluar.


Selama persalinan, Siska merasakan dejavu, dimulai saat pertemuan pertamanya dengan Cakra, dimana Cakra memperkosanya. Kejadian tersebut berputar-putar di kepala Siska. Siska meneteskan air mata karena teringat kejadian tersebut.


Suara tangis bayi laki-laki terdengar. Dokter langsung menarik bayi dan menggunting tali pusarnya. Perawat trlah bersiap untuk mengambil bayi laki-laki itu dan membungkusnya dengan selimut, agar tetap hangat.


"Bayi itu--punya Abang," ucap Siska terbata-bata. Setelah itu dia pingsan. Namun, Cakra tidak terlalu memahami apa yang diucapkan Siska.


"Apa, Sis?" tanya Cakra. Dia mendekatkan telinga ke bibir Siska, agar dapat mendengar dengan jelas. Akan tetapi, Siska tidak mengatakan apa-apa lagi.


"Dokter, sepertinya dia mengalami pendarahan hebat," ucap perawat satu lagi saat melihat darah yang banyak di ************ Siska.


"Cepat ambil kain kasa!" teriak Dokter. Perawat mengambil kain kasa untuk menahan agar darah Siska tidak keluar banyak.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya besties cantik ke sayangan akuh 😘


Oh iya kunjungi karyaku juga ya di apk tetangga berinisial F dengan judul Chasing My Amnesia CEO.


Pekanbaru

__ADS_1


161222


21.30


__ADS_2