
Nathan sadar dari pingsannya dan melihat sekeliling, dia merasa asing dengan sekitarnya. Sekarang dia berada di sebuah gudang tua dan gelap, duduk di kursi dengan tangan terikat kebelakang, juga kaki terikat dan pinggang diikat mengelilingi kursi.
Datang pria yang membekap mulutnya tadi, melepaskan ikatan tangan Nathan memberikan makanan untuk Nathan.
“Kenapa saya ada disini om?” tanya Nathan heran.
“Anggap saja kamu berlibur.” Jawab penculik asal.
“Mommy saya mana om?” tanya Nathan lagi, dia mulai menangis, mencari ibunya.
“Berhentilah menangis dan makan nasi itu.” Perintah penculik.
“Nanti setelah orang tua mu memberi kami uang, kamu akan kembali kepada mereka.” Jelas pria tersebut.
“Jika kamu jadi anak baik, maka secepatnya kamu akan kembali bersama keluarga mu.” Bujuk penculik.
Nathan hanya diam saja, dia ketakutan, tidak biasanya dia jauh dari keluarganya. Dia berhenti menangis dan berkelakuan baik agar segera bertemu keluarganya lagi.
Nathan ditempatkan dalam ruang sempit seperti kamar di dalam gudang tersebut. Para penculik berjaga di luar sambil main kartu. Seharian Nathan telah bersikap baik, namun para penculik belum memulangkannya kepada keluarganya juga.
Keesokan paginya, penculik memberikan sarapan untuk Nathan.
“Om, saya telah menjadi anak baik, kapan saya akan bertemu mommy?” tanya Nathan polos.
“Nanti, setelah kami mendapatkan uang dari orang tua mu.” Jawab penculik cuek, meninggalkan Nathan dan menutup pintu kamar tempat Nathan disekap.
Siang hari, Nathan mengintip sekeliling, dan melihat hanya satu yang berjaga, kemudian pria itu pun pergi menuju WC. Nathan mengambil kesempatan untuk kabur, dia berjalan mengendap – endap agar tidak terdengar oleh penculik. Begitu membuka pintu, Nathan tidak tau kalau rekan penculik tersebut baru datang dari membeli makanan, alhasil mereka bertemu di pintu, penculik memegang Nathan, Nathan berusaha melepaskan diri, dia bahkan mengigit penculik, namun berakhir dipukul secara kasar oleh penculik tersebut.
Sekuat tenaga Nathan terus memberontak, penculik bahkan berkali – kali memukul dan menamparnya. Namun Nathan tetap berusaha melepaskan diri, dia merasa dibohongi oleh penculik yang mengatakan bahwa mereka akan membawanya kepada keluarganya jika dia berkelakuan baik.
Mendengar keributan di pintu luar, rekan satu lagi yang baru keluar dari WC, langsung menghampiri temannya dan memegang Nathan, agar tidak dipukul lagi oleh temannya.
“Jangan sakiti anak ini, apa kau gila?” tegur si pria yang membekap mulut Nathan kemarin.
“Jika anak ini terluka atau mati, kita tidak bisa mendapatkan uang.” Lanjutnya lagi.
“Dia menggigit tangan ku.” Ucap temannya membela diri.
“Tapi kau harus ingat, dia hanya anak – anak, kenapa kau memukulkan dengan kasar?” tegur pria itu lagi.
“Dia hampir melarikan diri, kau kemana? Untung aku segera kembali.” Beritahu temannya.
__ADS_1
“Aku dari WC, mana makananya?” tanya temannya.
“Aku melemparnya saat menangkap bocah ini.” Tunjuknya kepada Nathan yang masih didekap oleh penculik. Nathangemetar dan ketakutan melihat penculik satu lagi yang telah memukulnya.
“Sebaiknya kau kembali membeli makanan tersebut, anak ini biar aku yang urus.” Perintah penculik.
Kawanannya pergi dengan kesal. Si pria menggendong Nathan kembali ke kamar, Nathan berusaha berontak, namun tenaganya kalah dengan pria dewasa tersebut.
Kembali di kurung di kamar Nathan hanya bisa pasrah, menunggu orang tuanya menjemputnya. Bahkan penculik satu lagi memperlakukan Nathan sangat kasar karena dendam dengan Nathan yang tidak berkelakuan baik dan selalu menyusahkannya. Dari tidak mau makan dan berkali – kali mencoba kabur.
*****
Hari ke 3 tibalah saatnya Nino bertemu penculik untuk menjemput anaknya, dia telah membawa tas berisi uang yang dipecah menjadi 3, satu diminta diletakan dekat stasiun kereta api, satu lagi di kursi tunggu dan satu lagi dekat toilet umum, sesuai intruksi penculik yang menghubungi Nino.
Nathan akan diserahkan begitu mereka memastikan tidak ada polisi yang mengikuti mereka, namun penculik tidak mengetahui bahwa Nino telah memerintahkan bodyguardnya untuk berjaga – jaga dan mengamati sekitarnya.
Dua jam setelah uang diambil komplotan penculik, tanpa mereka sadari bahwa para bodyguard Nino telah mengikuti mereka. Sedangkan Nathan mereka tinggalkan di taman dekat stadium itu, penculik mengirimi Nino pesan untuk menjemput Nathan di taman.
Nino langsung kesana dan melihat Nathan duduk dikursi taman dengan mulut memakai masker, menggunakan topi dan tangan diikat.
Nino merasa sakit melihat anaknya diperlakukan seperti itu, dia menghampiri Nathan dan memeluknya.
Nathan menangis dalam pelukan Nino, Nino menggendong putranya, membawanya menuju mobil, memerintahkan asistennya untuk melakukan penyelidikan dan menangkap penculik, mereka harus dihukum, batin Nino.
Di rumah Nayla dan Nadine telah menunggu, begitu Nathan sampai Nayla langsung memeluk dan mencium putranya, dia tidak berhenti menangis melihat kondisi Nathan, begitu juga Nadine.
“Maafkan mommy, sayang, harusnya mommy mendengarkan mu saat itu, pasti ini tidak akan terjadi.” Sesal Nayla.
Dia tidak memaafkan dirinya yang tidak percaya dengan perasaan Nathan yang memintanya untuk tidak sekolah hari itu.
Nathan hanya diam dan membalas pelukan ibunya sambil menangis, dia telah merasa sedikit tenang karena tealh kembali ke rumah. Nadine juga memeluk Nathan.
“Sudah lah Nay, yang penting Nathan sudah kembali.” Ujar Nino, dia pun sangat terluka melihat kondisi putranya.
“Apa kamu ingin kita liburan sayang.” Bujuk Nayla, agar putranya kembali tersenyum. Nathan hanya menggeleng.
“Tuan, dokter telah datang.” Beritahu asisten Nino, Brian kepada Nino.
“Suruh dia masuk.” Perintah Nino.
Ya dalam perjalanan Nino juga memerintahkan asistennya untuk menyuruh dokter ke rumah memeriksa kondisi Nathan.
__ADS_1
Nathan dibawa kekamarnya dan diperiksa oleh dokter, dokter memberikan obat dan salep untuk mengobati luka Nathan.
“Saya sarankan tuan muda, dirawat juga oleh dokter Psikolog agar traumanya hilang.” Beritahu dokter setelah melakukan pemeriksaan kepada Nathan.
“Baik, saya akan cari psikolog terbaik untuk menanganinya.” Balas Nino.
“Bagaimana kondisinya dok?” tanya Nayla.
“Untuk luka fisiknya, beberapa hari lagi akan sembuh, sedangkan untuk traumanya, maka saya sarankan ke psikolog.” Jelas dokter.
Sejak penculikan penjagaan untuk Nathan dan Nadine semakin ketat. Selama seminggu setelah kejadian penculikan, Nathan belum mau bicara.
Nayla sedih melihat kondisi putranya. Nathan melakukan sesi terapi dengan dengan psikolog, perlahan dia mulai bicara kembali. Nathan juga meminta didaftarkan semua ilmu bela diri. Nino dan Nayla hanya menuruti keinginan putra mereka.
Flash Back Off
“Makanya saat mendaftarkan Nathan saya hanya bilang dia anak sopir kami.” Jelas Nino lagi kepada Alexander.
“Bagaimana dengan penculiknya, apakah berhasil ditangkap?” tanya Alexander penasaran.
“Ya mereka tertangkap setelah seminggu Nathan kembali ke Rumah, bodyguard saya tidak berhasil langsung menagkap mereka saat itu, mereka memang sindikat penculikan anak – anak dengan keluarga kaya, Mereka memang merencanakan target anak siapa yang akan mereka culik dan meminta uang tebusan, banyak dari orang – orang kaya tersebut tidak melaporkan ke polisi, namun saya tidak ingin menyerah dan tetap menyuruh mereka menyelidiki, akhirnya mereka tertangkap juga.” Lanjut Nino.
♥️♥️♥️♥️♥️
Nah, karena ini Nathan menyembunyikan identitasnya..
Please
LIKE
KOMENT
VOTE
and
FAVORITEnya
Gomawo
\= Lady_MerMaD \=
__ADS_1