
"Kakak mau apa?" tanya Nabila, dia tidak mau orang tuanya melihat posisi mereka seperti ini.
"Aku kangen, entah bagaimana nanti kuliah di Inggris, cepatlah lulus dan susul aku." serak Nathan, memandang bibir Nabila yang kecil namun penuh.
"Lepasin kak." tolak Nabila berusaha lepas dari kukungan Nathan. Namun Nathan semakin erat mengukungnya. Nathan semakin mendekatkan wajahnya kepada wajah Nabila.
"Sampai jumpa dua hari lagi." bisik Nathan, kemudian mengecup pipi Nabila dan berjalan meninggalkan Nabila.
"Dasar kakak mesum." gerutu Nabila, kesal dengan pikirannya yang telah traveling kemana - mana.
🍏🍏🍏
Sesuai waktu yang dijanjikan, orang tua Nathan ke rumah Nabila untuk melamar. Teguh sedikit gugup karena akan bertemu pemilik NFL yang merupakan pemilik perusahaan tempat dia bekerja.
Mereka menyambut rombongan keluarga Nathan, yang datang Nino, Nathan dan Nayla, minus Nadine yang sedang jalan - jalan ke Paris bersama teman - temannya.
Bodyguard keluarga NFL membawa seserahan untuk lamaran yang sangat banyak, dari pakaian, perhiasan, sepatu dan peralatan make up yang tentu saja dari merk - merk terkenal. Semua peralatan tersebut dibeli oleh Nayla, walaupun sebenarnya dia malas.
Teguh mempersilahkan keluarga Nathan duduk, mereka mengobrol biasa, Nino tidak terlalu memgenal Teguh karena untuk rapat dengan owner seringnya adalah dewan direksi. Namun Teguh pernah ke ruangan Nino saat atasannya meminta dia menjelaskan detail laporan kepada Nino.
Melinda dan Nabila menyiapkan makanan untuk makan siang mereka. Nabila membantu istri mang Udin menyiapkan jamuan. Sementara Melinda menyusun piring - piring di meja makan, bersama Nayla.
"Apa Sist, gak merasa aneh dengan permintaan mereka yang ingin menikah diusia muda." mulai Nayla, mencoba memprovokator, agar pernikahan tidak terjadi.
"Maksud mba?" tanya Melinda bingung kemana arah pembicaraan Nayla. Apa Nayla bergikir Nabila hamil?
"Maksud saya kok kalian setuju menikahkan Nabila diusia masih muda dan belum lulus Sekolah." akhirnya Nayla to the point, daripada bermain kata.
"Bagi saya dan suami tidak masalah menikah muda, toh mereka tetap menjalankan kehidupan rumah tanga seperti keadaan saat ini." jelas Melinda. Nayla sedikit kesal dengan jawaban Melinda yang diplomatis, huh bilang aja kalian dapat durian runtuh dengan menikahkan putri kalian dengan putra kami, batin Nayla.
"Nabila, tidak hamilkan? Jika pihak Sekolah tau, kami harus memberikan uang tutup mulut yang lumayan besar untuk masalah ini." lanjut Nayla. Melinda akhirnya terpancing.
"Saya pastikan, putri saya tidak hamil." kesal Melinda, dia yakin Nabila tidak akan menyalahgunakan kepercayaan mereka.
"Jadi kenapa harus menikahkan mereka secepat ini?" gerutu Nayla.
"Apa karena kalian telah mendapatkan menantu yang bonefit, sehingga tidak masalah jika putri kalian masih bersekolah?" ucap Nayla tanpa memikirkan perasaan Melinda, belum lagi nadanya yang meremehkan keluarga Nabila.
__ADS_1
"Kami bukan keluarga matre yang memaksa menikahkan putri kami dengan keluarga kaya seperti kalian, kami akan menghormati siapapun pilihan Nabila yang penting baik dan bertanggung jawab." jelas Melinda menatap tajam kepada Nayla, dia tidak peduli jika wanita didepannya ini adalah istri pemilik perusahaan tempat suaminya bekerja.
"Satu lagi, putra anda yang menginginkan pernikahan ini secepatnya sebelum dia ke Inggris. Seharusnya jika keluarga anda tidak menyetujui pernikahan ini, kalian tidak usah kesini." Melinda meninggalkan Nayla dengan kesal, menuju ruang tamu, disana Teguh, Nino dan Nathan sedang asik mengobrol, mereka serempak melihat ke Melinda yang datang dengan kesal.
"Apa yang terjadi, sayang?" tanya Teguh heran dengan wajah Melinda yang cemberut dan menahan kesal. Wajar saja Melinda kesal, dia merasa direndahkan oleh Nayla. Dia tau keluarga mereka bukan apa - apa dimata Nayla, namun tidak pernah terpikirkan oleh Melinda akan menikahkan putrinya dengan pria kaya, baginya adalah kebahagian Nabila.
"Sebaiknya mereka tidak usah menikah dan Nathan jangan pernah menemui Nabila lagi." putus Nabila.
Nathan terdiam dengan perkataan Melinda, sekian detik Nathan mencoba mencerna yang barusan dikatakan Melinda, akhirnya Nathan mendapatkan kembali kesadarannya.
"Maaf, tante, apa yang terjadi?" Nathan mencoba tenang, tidak, rencananya untuk menikahi Nabila sebelum ke Inggris tidak boleh gagal.
Teguh dan Nino hanya saling berpandangan, mereka tidak mau gegabah, sehingga mereka menunggu Melinda yang menjelaskan.
"Tanya saja dengan mommy, kamu." ujar Melinda masih berdiri dengan tangan bersidekap didada.
Nathan menuju ruang makan dan menghampiri Nayla.
"Mom, apa yang terjadi?" Nathan meminta penjelasan dari Nayla.
"Mommy, percayalah, masa depan Nathan akan baik - baik saja, Nabila adalah penyemangat Nathan. Mommy bisa lihat usaha yang Nathan lakukan untuk menjadi juara umum, semua karena Nabila mom." jelas Nathan, Nathan jongkok, sedangkan Nayla duduk disalah satu kursi, Nathan memegang tangan Nayla meyakinkannya.
"Mommy, merasa Nabila tidak pantas untuk mu, masih banyak gadis diluar sana yang lebih baik dan berasal dari keluarga yang sepadan dengan kita." lanjut Nayla, mencoba meyakinkan Nathan.
Prank
Nabila menjatuhkan sup buntut yang dibawanya saat mendengar perkataan Nayla. Nabila memang merasakan bahwa Nayla tidak menyukainya, namun Nabila tidak berpikir bahwa itu karena Nayla memganggap mereka miskin.
Nathan kaget melihat Nabila telah berdiri di belakangnya dengan mangkok pecah dan sup yang tumpah. Nathan langsung mendekati Nabila untuk menjelaskannya.
"Beb, dengar.."
"Tidak." Nabila menganggkat tangan, berjalan dengan linglung, dalam pikirannya, bagaimana masa depannya? Siapa yang mau menerima gadis yang telah kotor dan menjadikannya istri? Nabila hampir menginjak pecahan kaca, namun Nathan langsung mengangkatnya.
"Lepas, jangan sentuh Nabil" ucap Nabila histeris, dia mulai terisak, semua pikiran yang mengganggunya seakan - akan berkumpul dan meledak.
Mendengar kegaduhan di ruang makan, Teguh, Nino dan Melinda langsung kesana, mereka kaget dengan kekacauan yang terjadi.
__ADS_1
"Nathan, kamu tidak apa - apa?" tanya Melinda yang melihat kaki Nathan berdarah, sepertinya Nathan menginjak salah satu pecahan kaca, namun tidak dirasakannya.
Nayla yang melihat pengorbanan putranya menjadi menyesal, ternyata Nathan benar - benar mencintai Nabila dan melihat reaksi Nabila yang terluka namun tak berdarahpun, Nayla tau mereka saling mencintai dengan tulus.
Nayla mendekati putranya, menyuruh Nathan duduk, Teguh menyerahkan peralatan K3 kepada Nayla. Sedangkan Nabila dipeluk oleh Melinda. Setelah tenang akhirnya Nabila bersuara.
"Maaf kak, sepertinya pernikahan ini tidak usah dilanjutkan." putus Nabila. Dia menyerah, sebaiknya tidak usah menikah, dia akan menjadi wanita mandiri yang sukses tanpa harus menikah, baik dengan Nathan atau siapapun. Sekalipun nanti Nabila hamil, dia akan merawat bayinya tanpa Nathan.
🍒🍒🍒
Nah loch ?
Hadeh kenapa lah Nayla bikin kacau. Author bingung ini buat nyatuin mereka lagi.
Mampir ke karya pertamaku dunk. Ramein situ juga..
Jangan lupa
LIKE
VOTE
KOMENT
GIFT
TIPS
and
FAVORITEkan ya
Saranghaeyo 💕💕
Gomawo
\= Lady_MerMaD \=
__ADS_1