
Bugh.
Tanpa sadar Jenifer menabrak seseorang dan hampir membuat dia terjatuh, namun si penabrak langsung merangkul pinggang Jenifer, agar tidak jatuh.
“Kamu hobby jatuh ya?” tanya si penabrak Jenifer, masih merangkul Jenifer. “Kamu hobby jatuh ya?” tanya Evan, si penabrak Jenifer, masih merangkul Jenifer. Detak jantung keduanya semakin kencang.
“Kak Evan.. gak kok kak. Lagian mana ada orang yang hobbynya jatuh.” Balas Jenifer sambil mengerutu.
“Atau badan kamu terlalu ringan sehingga gampang jatuh?” tanya Evan lagi, masih belum melepaskan Jenifer dari rangkulannya.
“Berat badan aku empat puluh tujuh kilo loch.” Balas Jenifer, bangga dan tidak terima dikatakan ringan.
“Ternyata berat kita gak jauh beda.” Jawab Evan.
“Masa sih, emang berapa berat badan kakak?” tanya Jenifer lagi. Sementara Maura sudah ngacir meninggalkan mereka, sambil memberi semangat Jenifer.
“Ada deh.” Bohong Evan, padahal berat badannya cukup jauh dari Jenifer, apalagi dengan tinggi Evan yang 180 centi meter.
“Berarti kakak ringan banget donk, mesti banyak makan, nanti badan kakak lemah loh.” Ujar Jenifer menasehati.
“Aku banyak kok makannya, dan aku tidak lemah, tuh kan.” Tiba – tiba Evan menggendong Jenifer. Jenifer yang kaget langsung berguman dalam hati, semoga ringan, semoga ringan, biar lebih lama digendong.
“Hei, kamu pikir bisa mencium ku ya?” ujar Evan menyadarkan Jenifer dari lamunannya.
Malunya, batin Jenifer.
“I.. ini gara – gara kakak kan.” Sahut Jenifer dengan wajah merona merah, dia menutup wajahnya dengan kertas laporan yang dibawanya tadi. Hal itu membuat Evan gemas.
“Habis kak Evan, keren sih.” Puji Jenifer, masih menutup wajahnya dengan kertas. Dia tidak melihat wajah Evan yang juga merona merah karena pujian dari Jenifer.
“Jangan bicara sembarangan, bodoh.” Ujar Evan, dia langsung menurunkan Jenifer kemudian meninggalkan Jenifer.
“Kak Evan.” Teriak Jenifer, dia sempat melihat wajah Evan yang merona memerah, membuat senyum Jenifer terbit.
Gue kira menyatakan perasaan itu memalukan seperti kasus Nabila, tapi ternyata tidak begitu, begitu berhasil mengutarakan perasaan, rasanya menyenangkan sekali, batin Jenifer. Dia mengejar Evan.
“Kakak malu ya.” Canda Jenifer menggoda Evan.
“Siapa yang malu.” Evan kemudian melangkah cepat meninggalkan Jenifer, kebetulan Rangga memanggilnya.
“Van, sini.” Ujar Rangga, melambaikan tangan agar Evan kearah dia dan Ferry. Selamat, batin Evan, setidaknya dia tidak malu berhadpan dengan Jenifer.
***
Hari kedua.
“Hah, gimana cara mencium kak Evan.” Jenifer tiba di stand café Detektif dengan lesu, dia lelah berpikir bagaimana cara mencium Evan. Mana ini hari kedua lagi dan dia belum mendapatkan cara untuk mencium Evan, belum lagi kemungkinan Evan tidak masuk Sekolah karena telah selesai ujian.
“Setiap ketemu kak Evan, gue udah berdebar duluan.” Lanjut Jenifer.
__ADS_1
“ Mungkin loe, bisa coba mencium, saat kak Evan tidur.” Ujar Siska, memberikan saran bijaknya.
“Benar juga tuh, jadi loe gak mesti malu saat nyium dia.” Ujar Maura.
“Itu dia, gue pernah dengar kalau kak Evan, gak tahan dengan makanan yang mengandung rasa vanilla, dia akan langsung tertidur.” Ujar Cheryl, tumben otaknya jalan.
“ Ya udah, loe buatin aja dia cake dengan rasa Vanila.” Tambah Nabila.
“Atau beli aja.” Maura ikut menambahkan.
“Kalau beli, gak special, Ra, apa alasan Jenifer nanti tiba – tiba kasih kak Evan kue hasil beli. Kayak dia gak bisa beli aja.” Jelas Nabila.
“Iya juga ya.” Cicit Maura.
“Jadi bagusnya loe buat sendiri kuenya, loe kan lumayan jago bikin cake, terus loe bilang ke kak Evan, loe habis praktek bikin cake resep baru dan kasih buat dia.” Saran Nabila.
“Bagus juga tuh.” Ujar Siska.
“Ya udah gue pulang dulu, mau buatin cake untuk kak Evan.” Ujar Jenifer, langsung pergi meninggalkan sahabat – sahabatnya.
🍒🍒🍒
Hi segutu dulu ya, nanti aku up lagi.. masih tentang Jenifer dan Evan ya, sejenak kita tinggalkan Nathan dan Nabila.
Aku mau promosikan karya teman ku ya Imamah Nur dengañ judul "BIARKAN KAMI YANG MENYATUKAN"
Kejadian tak terduga terjadi. Waktu ijab kabul hampir berlangsung pengantin perempuan ternyata kabur meninggalkan tempat.
"Panggil pengantin wanitanya Bi!" perintah nyonya Alberto kepada pembantunya.
Bi Ina segera bergegas ke kamar hotel tempat pengantin wanita dirias.
"Non, Non Belva acara ijab kabul segera di mulai!" ucap sang bibi sambil mengetuk pintu kamar hotel.
Tak ada jawaban dari dalam. "Non, Non cepatlah semua orang sudah menunggu di bawah!"
Tetap tak ada jawaban. Akhirnya bi Ina memberanikan diri membuka ruangan tersebut. Bi Ina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut namun tak nampak sosok perempuan yang dicarinya itu.
"Mungkin non Belva masih di kamar mandi," pikirnya.
Dia menghampiri kamar mandi dan mengetuk pintunya. "Non, apakah Nona ada di dalam?"
Tak ada jawaban. "Non, Non!" panggilnya sekali lagi.
Karena tidak mendengar jawaban bi Ina memberanikan diri membuka pintu kamar mandi secara pelan sambil mengintip mungkin saja Belva pipis di kamar mandi dan tidak mendengar panggilan darinya.
Ketika pintu kamar mandi terbuka sempurna dia tetap tak mendapati nonanya. Dia kembali ke lantai bawah dengan tergesa-gesa untuk memberitahukan bahwa Belva tidak ada di kamarnya.
__ADS_1
"Nyonya non Belva tidak ada di kamarnya." Dengan nafas tersengal-sengal bi Ina melaporkan keadaan yang sebenarnya.
"Bibi sudah memeriksa kamar mandinya?" Tanya sang majikan masih dengan raut wajah yang nampak tenang.
"Sudah Nyonya bahkan di seluruh ruangan di kamar itu tidak ada."
"Bagaimana ini Dan, Jangan-jangan kekasih kamu itu kabur lagi. Mama sudah bilang kamu jangan nikah sama dia tapi kamu malah keras kepala." Protes nyonya Alberto kepada putranya.
"Biar saya cek di kamarnya Ma."
Zidane melangkah menuju kamar rias pengantin wanitanya. Dia mencari Belva di seluruh ruangan namun tetap tidak menemukan kekasihnya.
"Belva kamu di mana sih?" Dia menyugar rambutnya dengan kasar wajahnya nampak emosi.
"Kenapa kamu menghilang pas pernikahan kita?" Tangannya terus menjambak rambutnya sendiri, sepertinya dia frustasi.
Zidane lalu mengambil ponselnya dan menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Belva.
"Tolong cari Belva dan bawa ke hadapanku!"
"Baik Bos." Terdengar suara anak buahnya dari balik telepon.
Kemudian beralih ke panggilan lain. "Tolong hubungi bagian cctv dan bawa rekaman kamar rias pengantin wanita."
"Siap Bos!"
Tak menunggu lama orang bagian cctv membawa rekaman yang diminta.
"Tolong putarkan rekaman itu!" perintahnya pada orang tersebut.
Orang tersebut mengangguk sambil tangannya bekerja untuk memutarkan rekaman tersebut.
Awalnya Belva terlihat biasa saja saat selesai dirias. Namun bersamaan dengan MUA yang ke luar setelah meminta izin masuklah seorang lelaki ke dalam ruangan tersebut. Awalnya terlibat cekcok diantara keduanya namun kemudian mereka terlihat mesra.
Cus langsung baca aja ceritanya ya, ketimbang penasarankan.
Jangan lupa jejaknya ya sayang - sayang akuh.
LIKE
VOTE
KOMENT
and
FAVORITEkan ya.
Enak banget ini santai di kursi pijat, sambil minum kopi dan memandang kebun bunga yang indah😘😘
__ADS_1
Gomawo
\= Lady_MerMaD \=