
Sesampai di I-Shine hotel, Cakra memasuki ruanganya. Ini adalah hari pertama dia bekerja setelah serah terima semalam. Cakra meminta sekretarisnya menghubungi manager HRD. Cakra butuh data karyawan I-shine hotel.
Tidak butuh waktu lama, sekretaris telah mendapatkan berkas berisi data karyawan I-shine hotel. Manager HRD memberikan data dalam bentuk hard copy dan soft copy. Sekretaris Cakra adalah sekretaris Sandi dulunya. Wanita itu berusia sekitar dua puluh delapan tahun, sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Lena, sekretaris Cakra, mengetuk pintu ruangan Cakra. Cakra menyuruhnya masuk.
"Ini, Pak, data yang bapak minta. Ini yang telah diprint dan ini soft filenya," ucap Lena menunjukan hasil print dan flaskdisk yang berisi data karyawan I-Shine.
"Terima kasih." Hanya itu yang diucapkan Cakra. Membuat Lena merasa jika Cakra sangat dingin.
Lena meninggalkan ruangan Cakra. Cakra langsung mengambil flaskdisk dan membuka file tersebut. Cakra melihat data karyawan terutama bagian house keeper. Memang ada nama Siska 'Siska Jesika Wiguna'. Di data tersebut juga lengkap foto dan alamat Siska yang sekarang. Dan Cakra tahu alamat tersebut bukan alamat Siska yang dia tahu dulu saat zaman Sekolah.
"Lena, suruh, Siska, bagian house keeper ke ruangan saya," perintah Cakra kepada Lena, melalui pesawat telepon.
"Baik, Pak." Lena langsung menghubungi manager Siska agara Siska ke ruangan CEO.
***
Siska baru selesai membersihkan salah satu kamar saat Mila menghampirinya.
"Sis!" teriak Mila dia berlari ke arah Siska.
"Ada apa, Mil? Sampai ngos-ngosan gitu?" Siska masih sibuk membereskan peralatannya.
"Loe ...." Mila kembali menarik nafas.
"Loe ... di suruh ke ruangan pak Cakra!" Akhirnya Mila menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Apa!" teriak Siska panik. Dia berusaha mati-matian menghindari Cakra. Sekarang Cakra justru langsung mencarinya. Apa dia harus jujur saja kepada Cakra?
"Bilangin aja, gue lagi off," pinta Siska.
"Nggak bisa, manager udah terlanjur bilang, kalau loe hari ini ada alias masuk," ucap Mila lagi.
"Jadi gimana donk?" panik Siska, meminta pendapat Mila.
"Udah loe tenang aja, loe kan nggak salah ... jadi ke sana aja loe," saran Mila.
"Tapi gue masih harus membersihkan beberapa kamar lagi." Siska masih berusaha untuk menolak.
"Makanya manager nyuruh gue buat gantiin loe ... tapi loe jangan lama-lama ya, biar loe bisa ambil alih lagi kerjaan loe," cengir Mila.
"Iya, deh." Siska mencoba menetralkan jantungnya yang berdegub kencang.
Siska melapor kepada sekretaris Cakra. Sekretaris memberitahu Cakra bahwa Siska telah datang.
"Silahkan masuk, mbak Siska," perintah sekretaris.
Siska memasuki ruangan Cakra, Cakra sedang sibuk di laptopnya. Cakra mendongakan kepala, benar saja gadis di depannya adalah Siska yang dia kenal. Siska memakai pakaian house keeper.
"Siska?" heran Cakra.
"Pagi, Pak!" sapa Siska dengan formal. Sekalipun Cakra adalah saudara laki-laki sahabatnya. Dan saat sekolahpun mereka cukup dekat.
__ADS_1
"Duduklah, Sis," perintah Cakra. Siska duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Ruangan yang dulu dihuni oleh om Sandi, teman papa Siska.
"Apa yang terjadi padamu dan keluargamu?" Cakra menghampiri Siska yang duduk di sofa dan duduk di samping Siska.
"Kami baik-baik saja, Pak." Ini yang dicemaskan Siska. Rasa kasihan dari Cakra maupun sahabat-sahabatnya.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau papamu telah meninggal?" sesal Cakra. Dia tahu kejadian saat papa Siska meninggal Cakra masih di luar negeri. Selama kuliah dia jarang kembali ke Indonesia. Dia ingin melupakan Nabila.
"Sudah berlalu, Pak." Siska masih menjawab dengan kaku.
"Panggil seperti biasa, jika hanya kita berdua," perintah Cakra.
"Baiklah, Bang,"
"Sekarang kamu tinggal di mana?"
"Kami menyewa sebuah rumah yang cukup nyaman,"
"Apa kamu mau tinggal di Apartmen Abang? Biat lebih nyaman," tawar Cakra lagi.
"Tidak perlu, Bang. Kami bisa melewatinya. Siska harus kembali bekerja, Bang," pamit Siska. Siska kemudian keluar dari ruangan Cakra. Cakra tidak dapat berbuat banyak.
🍒🍒🍒
Pekanbaru
__ADS_1
041222
07.39