
Cakra bangun jam 10 pagi, mendapati Siska tidak berada di ranjang lagi. Cakra mengarahkan pandangan kesekeliling ruangan, namun tidak melihat keberadaan Siska bahkan pakaian yang dibeli Cakra semalam juga tidak ada. Apa Siska di kamar mandi? pikir Cakra.
Cakra bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi, kosong. Kemana Siska? Cakra kembali ke ranjang dan duduk ditepinya, Cakra hendak mengambil handphone mencoba menghubungi Siska. Sekilas dia melihat kertas yang terselip dibawah dompetnya. Cakra membaca catatan yang ditulis dengan pencil melalui secarik kertas.
'Maaf bang, Siska pinjam duit abang tiga ratus ribu, buat ongkos pulang' Siska. Hanya itu catatan yang ditinggalkan oleh Siska.
Cakra mencoba menghubungi Siska, namun tidak diangkat. Cakra menuju kamar mandi, mencuci muka dan bersiap - siap pulang.
*****
Dirumah Cakra
Cakra memasuki rumah dengan perasaan lelah, ditambah Siska tidak merespon pesan dan teleponnya. Cakra hanya ingin tau, apakah gadis tersebut baik - baik saja?
"Bang." panggil Cheryl yang baru keluar dari kamar menuju lantai satu.
"Ya." balas Cakra singkat, dia tetap berjalan menuju kamarnya.
"Abang, kenapa gak pulang?" tanya Cheryl penuh selidik.
"Apa abang semalam bersama Siska?" tanya Cheryl lagi dengan penasaran.
"Hmm.. apa maksud loe?" balas Cakra dengan terbata - bata.
Apa Cheryl tau, jika Siska juga tidak pulang, tapi itu tidak mungkin karena semalam saat mama Siska menghubungi Siska, Cakra mengirimkan pesan bahwa Siska akan menginap dirumah Cheryl. Apa mama Siska menghubungi Cheryl? tapi itu tidak mungkin? batin Cakra.
"Orang cuma nanya doank." jawab Cheryl cuek.
huff, Cakra bernafas lega.
"Siska, kok gak, mengangkat teleponnya ya?" ucap Cheryl lebih kepada diri sendiri.
"Iya, telepon abang juga gak direspon dia." Cakra menambahkan.
"Lagian, abang kenapa telepon Siska, jangan PHP-in anak gadis orang loch." nasehat Cheryl. Cheryl memang mengetahui jika Siska ada perasaan kepada Cakra, sekalipun Siska tidak pernah mengungkapkannya, baik kepada Cheryl maupun sahabat - sahabatnya yang lain. Namun mereka cukup mengetahui dari cara dan tatapan Siska kepada Cakra.
Bagi Cheryl, dia tidak keberatan jika Siska dan Cakra berpacaran karena Cheryl tau Siska adalah gadis baik dan cerdas, jiwa keibuannya juga menjadi nilai plus Siska. Namun Cakra telah menyukai Nabila, sehingga Cheryl tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Siska. Sekarang Nabika telah menjadi pacar Nathan, seharusnya Cheryl bisa menjadi mak comblang Cakra dan Siska, namun hal itu tidak dia lalukan karena Cheryl menghormati perasaan dan keputusan Cakra.
"Maksdu loe, PHP-in gimana?" heran Cakra, Cakra memang tidak mengetahui perasaan Siska terhadapnya karena mata dan hatinya tertutup untuk gadis manapun, selain Nabila.
"Ga jadi deh." Cheryl sengaja mengalihkan karena dia pun tidak mau membuat sahabatnya malu, bagi Cheryl, biarkan takdir membawa hubungan mereka kemana? Cheryk meninggalkan Cakra yang masih bingung dengan perkataan Cheryl yang ambigu.
"Loe, belum selesai Cher." teriak Cakra.
"Udah, abang mandi sana gih, gue mau anterin tas Siska." ucap Cheryl, melambaikan tangan sambil jalan.
"Abang antar ya." tawar Cakra, dia menyusul Cheryl.
"Tumben, lagian abang belum mandi." Cheryl menutup hidungnya seolah - olah Cakra pria bau.
__ADS_1
"Abang gak mandi pun tetap ganteng dan wangi." pede Cakra, malahan dengan sengaja memeluk Cheryl. Otomatis Cheryl menghindar.
"Udah deh, abang mandi aja, Cheryl bisa diantar mang maman kok." ucap Cheryl lagi.
"Mang maman, sibuk, biar abang yang antar deh." Cakra memaksa.
"Ya udah deh, abang mandi aja dulu." Cheryl sengaja menyuruh Cakra mandi dulu, nanti dia pergi sendiri ke rumah Siska. Namun sepertinya rencana Cheryl terbaca oleh Cakra. Cakra merebut tas Siska yang dipegangga Cheryl.
"Ini abang sita dulu." tunjuk Cakra saat tas Siska telah berada ditangannya.
"Abang, apa - apaan sih, aneh banget deh, biasanya juga gak mau ikut kecuali ada hubungannya dengan Nabila." sewot Cheryl.
"Abang lagi bosan aja." ngeles Cakra.
"Abang mandi dulu, loe duduk manis aja sambil nunggu." lanjut Cakra, melangkah menuju kamarnya dengan membawa tas Siska.
*****
Nathan terbangun dengan perasan lain, lelah berpikir semalaman dengan keputusan Nabila. Nathan merasa ini adalah mimpi. Dia masih berpikir bagaimana membujuk Nabila, melupakan kesalah - kesalahan yang Nathan perbuat.
Nathan menuju kamar mandi, berharap mandi akan membuat kesegaran dan pikirannya yang kacau kembali normal.
Mommy dan Daddynya telah menunggu di ruang makan.
"Pagi." ucap Nathan dengan nada memelas.
"Bukannya kamu harus semangat, ini satu hari setelah kamu berusia delapan belas tahun loch." Nino menimpali, sebenarnya dia ingin bertanya kenapa Nathan meninggalkan pesta ulang tahunnya, padahal pesta tersebut karena permintaan Nathan sendiri.
"Iya, tapi Nathan menyesal mengadakan pesta tersebut." ucap Nathan dengan menyesal.
"Kenapa?" tanya Nayla, merasa aneh dengan sikap putranya.
"Ya, pokoknya gitu deh, Nathan gak mau bahas lagi." Nathan mengambil piring dan mulai memakan sarapannya dengan malas.
Nayla merasa ini pasti ada hubungannya dengan Nabila?
"Nabila gimana?" pancing Nayla, memperhatikan reaksi Nathan.
"Gak pa - pa." jawab Nathan malas, dia juga malas memberitahu Nayla jika Nabila memutuskannya.
"Eh, Mom, apa sih yang disukai cewek kalau lagi ngambek?" akhirnya Nathan meminta bantuan mommynya , siapa tau mommynya memiliki saran, membuat hubungannya dengan Nabila kembali seperti biasa dan Nabila mau menerima Nathan kembali.
"Nabila ngambek?" tanya Nayla.
"Iya."
"Biasanya gadis akan suka diberi hadiah, kamu coba bujuk aja dengan memberi dia perhiasan mahal, gadis mana sih yang bakalan nolak." saran Nayla, sekalian dia ingin tau, apakah Nabila gadis matre.
"Oke, Nathan akan beli beberapa perhiasan agar Nabila bisa memilih yang dia sukai." Nathan meninggalkan meja makan dan segera menuju toko perhiasan.
__ADS_1
"Nath, ini masih terlalu pagi, toko perhiasan belum buka." teriak Nayla menahan agar Nathan tidak beranjak pergi. Nathan kembali duduk.
"Nath, apa kamu lupa dua hari lagi acara kelulusan. Apa kamu sudah fitting baju?" tanya Nino.
"Hari ini Nathan ke butik teman mommy, dad." ucap Nathan.
πππ
Kira - kira Nabila luluh gak ya dengan perhiasan pemberian Nathan?
Kalau author jadi Nabila, pasti luluh ini wkkkk, terbongkar jika author cewek matreπ
Sambil nunggu I wanna you, my cold boy update silahkan mampir ke karya teman author yang berjudul PURA - PURA MISKIN karya author MOMOY DANDELION
Blurb:
Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.
Cus langsung mampir aja, biar gak penasaran.
Seperti biasa
LIKE
VOTE
KOMENT
and
FAVORITEkan ya
Apalagi jika dikasih hadiah dan tips, semangat authornya ini.
follow akun ini dan ig author ya : Lady_mermad
Saranghaeyo ππ
Gomawo
\= Lady_Mermad \=
__ADS_1