
Siska tidak tega mendengar permintaan Cakra. Namun, dia harus memberi Cakra pelajaran, setidaknya Cakra harus merasakan perasaan diabaikan. Apa Cakra tidak tahu bagaimana Siska telah menahan perasaan cintanya dari kelas sepuluh?
"Sebaiknya, kita sama-sama instropeksi diri dan menenangkan diri masing-masing. Mungkin setelah itu kita dapat menyembuhkan luka yang pernah ada," putus Siska.
Cakra merasakan kakinya seperti lumpuh, tubuhnya seakan tidak berada di bumi lagi. Dia tahu dan mengerti Siska tetap ingin pergi darinya.
"Apa kamu tidak ingin memberi, Abang kesempatan?" sesal Cakra. Dia mengurai pelukan dan menatap mata Siska. Berharap Siska merubah keputusannya.
"Siska tidak bisa menjawabnya sekarang, Siska hanya ingin tenang dulu, setelah semua kejadian, rasanya Siska tidak percaya diri lagi. Siska--," Siska tidak bisa meneruskan kata-katanya. "Jika kita memang berjodoh, maka kita akan kembali bersama," lanjut Siska.
"Abang, yakin dan percaya, hanya kamu jodoh Abang. Tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikanmu. Bahkan Nabila sekalipun," ucap Cakra tegas. Dia telah pasrah dengan keputusan Siska. Namun, jangan dipikir Cakra tidak akan berjuang mendapatkan Siska kembali.
Siska menatap tajam mata Cakra, mencari kebohongan di sana. Sayang, Siska tidak menemukannya.
"Biarkan, Siska pergi untuk menenangkan diri," pinta Siska.
"Jika kamu bersikeras untuk pergi, maka, tinggalkan Atha bersama Abang," ancam Cakra. Hanya itu satu-satunya cara agar Siska tidak meninggalkannya.
__ADS_1
"Tidak akan, jika Abang melakukan itu, maka Siska akan benar-benar menggugat cerai Abang di pengadilan. Dan kita akan berpisah selamanya." Siska justru mengancam Cakra kembali. Dia hanya ingin menenangkan diri.
"Jangan, Jangan lakukan, Abang, akan memperjuangkanmu," Cakra menyingkir dari depan Siska. Mungkin dengan mengizinkan Siska pergi, akan tetap membawa Siska kepadanya lagi. Cakra rela mundur satu sangkah untuk bisa meraih dua langkah bahkan sepuluh langkah untuk mendapatkan Siska kembali.
" Mbak Sari!" panggil Siska, dia akan membawa Sari juga. Siska membiarkan barang-barang. Dia harus memberitahu Sari, agar Sari bisa mengemaskan barang-barangnya.
Siska membuka pintu apartment dan melihat Sari menunggu diluar.
"Mbak, kita akan pergi, kemasi barang-barang Mbak secepatnya," perintah Siska.
"Baik, Bu," jawab Sari dengan cepat. Dia memasuki apartment, diikuti Siska. Sari sempat melihat Cakra yang frustasi. Namun, Sari tidak ingin ikut campur. Dia segera menuju kamarnya dan memebreakan semua barang-barangnya. Barang-barang Sari juga tidak banyak.
"Mbak Sari, bisa bawakan koper, Siska juga?" pinta Siska.
"Bisa, Bu." Sari mengambil koper Siska dan berjalan keluar duluan.
"Tunggu di lobby," ucap Siska. Dia kembali ke kamarnya dan mengambil tas make up.
__ADS_1
"Abang akan mengantar kalian, kamu mau kemana?" tawar Cakra.
"Nggak usah," sewot Siska, dia menuju luar membawa tas kain dan make up. Tas tersebut tidak terlalu berat.
Cakra mendekati Siska. "Papa, akan memenangkan hati Mamamu, kita akan bersama lagi. Papa, akan berjuang, demi kalian," ucap Cakra. Dia kemudian mencium Atha. Cakra bersiap untuk mencium bibir Siska. Namun, Siska memalingkan wajahnya, Cakra hanya bisa mencium pipi Siska.
Siska melangkah meninggalkan Cakra. Cakra menyusulnya dan mengambil tas dari tangan Siska. "Abang, hanya akan mengantar sampai lobby," mohon Cakra. Dia tidak tega melihat Siska membawa tas dan menggendong Atha.
Siska membiarkannya. Dia terus berjalan menuju lift diikuti Cakra. Siska hanya diam, ada perasaan tidak tega padanya.
🍒🍒🍒
Tadinya nggak mau update, tapi update juga🤭
Jangan lupa nyawer ya besties!
Pekanbaru
__ADS_1
311222
20.43