
- Gue bisa bantu loe, biar gak malu di Sekolah –
Whatsapp dari Evan, tersebut membuat Nabila penasaran, apa maksud Evan.
- Maksud kakak? – tanya Nabila.
- Ayo kita jadian, agar gossip mereda dan loe gak malu – tulis Evan
- Tidak usah kak, Nabila bisa hadapi – balas Nabila.
- Nabila mau tidur dulu ya kak – pamit Nabila ramah
.
Kemudian dia mencheck whatsapp group yang berisikan dia dan 4 sahabatnya.
- Loe gak pa – pa kan, Nab? – tulis Maura, dia memang mengkhawatirkan Nabila setelah kejadian tersebut karena Maura menyaksikan sendiri kejadian itu.
- Yang sabar ya Nab – tulis Cheryl
- Gue yakin Nabila bisa lalui ini semua – tulis Siska.
- Nabil, loe gak lagi nangiskan?- tulis Jenifer
- Nabil, mana sih, gue jadi khawatir – tulis Maura.
- Jadi nyesal gue nyaranin Nabila buat nembak kak Nathan.- tulis Cheryl.
- Elo yang nyuruh Nabila nembak Nathan Cher?- tulis Jenifer.
- Kenapa?- tulis Siska.
- arena gue kasihan lihat Nabila pendekatan, tapi kak Nathannya cuek aja, ya gue saranin agar minta jawaban pasti, biar Nabila bias move on kalau ditolak – tulis Cheryl panjang
- Iya juga sih, daripada di PHPin- tulis Jenifer.
- Sabar ya Nab, kami pasti bantu loe buat move on kok – tulis Siska
-Terima kasih gaes, gue gak pa – pa – tulis Nabila.
*****
“Brengsek” ucap Evan melempar handphone ke Kasur. Dia kesal karena Nabila masih menolak bantuannya.
“Apa bagusnya sih cowok culun itu, sampai – sampai Nabila gak bisa melihat gue.” Evan masih menggerutu sendiri.
“Gue, akan kasih pelajaran si culun.”
Evan menghubungi sahabat – sahabatnya untuk membuat Nathan menjauhi Nabila.
*****
Cakra mengetuk pintu kamar Cheryl, tanpa menunggu dia langsung membuka dan masuk. Dia melihat Cheryl tengah memainkan handphonenya.
“Cher.” Panggil Cakra, kemudian menarik kursi dan duduk disamping ranjang Cheryl.
“Hmm.” Jawab Cheryl, dia masih membalas ig dan wa.
“Dasar netizen, gak tau apa – apa, sok paling benar, mulutnya pedas banget.” Gerutu Cheryl.
“Kenapa sih, Cher?” tanya Cakra lagi.
“Ini, akun ig Nabila dipermalukan, kasihan Nabila deh.” Ucap Cheryl
“Jadi loe udah tau lama, kalua Nabila suka sama Nathan?” tanya Cakra lagi, sedikit kesal dengan adiknya yang tidak memberitahunya.
__ADS_1
“Iya.” Jawab Cheryl singkat.
“Sejak kapan?” tanya Cakra.
“Dua bulan apa tiga bulan ini.” Balas Cheryl
“Kok gue gak tau ya? Kapan Nabila kenal Nathan?” Cakra masih bingung karena dia tau Nathan orang yang tidak mudah bergaul dan cenderung menyendiri.
“Kak Nathan pernah nyelamatin Nabila dari preman Sekolah yang mau berbuat tidak pantas sama Nabila.” Akhirnya Cheryl menceritakan, toh semua sudah tau kalua Nabila suka sama Nathan.
“Owh jadi karena itu, andai gue yang nyelamatin Nabila, pasti gue yang disukai Nabila.” Ucap Cakra mangut – mangut.
“Belum tentu juga.” Balas Cheryl.
“Kok belum tentu?” Cakra tak terima diremehkan adiknya.
“Ya bisa aja, Nabila gak berdebar – debar lihat abang.”
“Emang sih, Nathan kalau gak pake kacamata tampan loh, matanya aja abu – abu, kayak mata keturunan bule.” Lanjut Cakra.
“Gue, kasihan dengan Nabila, gue akan perjuangkan Nabila.” Mengangakat kedua tangannya membentuk semangat.
“Udah lah bang, biar Nabila tenang dulu.” Saran Cheryl.
“Justru sekarang waktu yang tepat, Nabila kan lagi labil, jadi butuh sosok yang mengobati lukanya.”
“Serah deh.”
*****
Besok paginya Nathan heran dengan semua siswa cowok Sekolah yang tiba – tiba berpenampilan culun seperti dirinya, lengkap dengan kacamata besar.
Bahkan beberapa yang biasanya pakai motor gede telah mengganti motor dengan motor butut.
“Nabila, ini” seorang pria memberikan Nabila bunga. Yang lainnya ada memberikan coklat, buku dan lain – lain.
“Nabila, nanti pulang bareng gue ya?” tanya cowok yang lain.
“Maaf.” Nabila mempercepat langkah, walaupun tangannya telah penuh dengan hadiah dari para siswa pria.
Nabila sempat melihat Nathan, dia tersenyum kepada Nathan. Nathan hanya memalingkan wajah.
Cheryl datang dari belakang Nabila.
“Loh, kok semakin banyak dapat hadiah Nab?” tanya Cheryl heran, dia mengambil separuh untuk membantu Nabila membawanya.
“Gak tau gue.” Balas Nabila.
Sampai dikelas Maura, Jenifer dan Siska telah disana.
“Dari siapa ini Nab?” tanya Siska.
“Kirain Nabila bakalan kehilangn fans, eh malah balik lagi ni fansnya Nabila.” Timpal Jenifer.
“Iya tadi aja gue lihat para cowok pada bergaya kayak kak Nathan.” Tambah Maura.
“Heran deh, sama cowok – cowok itu, kayak gak punya pendirian aja.” Sewot Cheryl.
“Tapi loe senang kan Cher, bisa banyak makan.” Ucap Siska mengedipkan matanya.
“Benar juga loe.” Balas Cheryl.
*****
Nathan menuju lokernya, hari ini ada pelajaran olah raga, Nathan mengganti seragam dengan baju olah raga. Begitu sampai di lapangan olah raga. Semua cowok memandang kepadanya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Kelas Evan memiliki jam olah raga yang sama dengan Nathan, biasanya Evan akan bersikap biasa, namun saat ini dia merasa sangat membenci Nathan.
Mereka bermain basket, dengan sengaja Evan melempar bola basket dengan keras kearah Nathan, Nathan pun awalnya memberi respon biasa, namun sepertinya Evan semakin menjadi – jadi.
Nathan membalas melempar bola dengan kuat juga. Terjadilah perkelahian dengan saling melempar bola.
Jika di tandingkan score mereka imbang alias seri.
Cakra hanya menonton hal tersebut, dia juga kesal dengan Nathan, namun masih bisa menahan emosi dan secara logika Nathan juga tidak salah, jika Nabila menyukainya, Nathan tidak bisa mengontrol hari seseorang.
Bahkan jika bisa mnegontrol mungkin Nathan akan membuat hati gadis yang disukainya membalas perasaan Nathan.
Guru olah raga memarahi mereka, Nathan dan Evan dihukum membersihkan toilet pria. Dengan kesal mereka membersihkannya. Guru meminta Cakra mengawasi.
“Eh Culun, loe bersihin sebelah sana?” perintah Evan, menunjuk tempat yang sangat jorok untuk dikerjakan Nathan.
“Loe aja, gue gak mau.” Balas Nathan datar.
“Gue bilang loe ya eloe yang ngerjain.” Emosi Evan seakan – akan ingin memukul Nathan, namun dihalangi oleh Cakra.
“Cukup, mau hukuman kalian ditambah.” Ucap Cakra menengahi mereka.
Evan hanya melampiaskan dengan menendang tong sampah. Untung isinya belum ada.
Akhirnya mereka menjalankan hukuman dengan mengerutu. Evan merasa Nathan berani kepadanya, apa Nathan tidak tau kalau dia anak pemilik yayasan Sekolah?
“Jauhi dia.” Tegur Evan lagi.
“Loe ngomong sama gue?” tanya Nathan, pura – pura tidak tau.
“Ya, iya lah, sama siapa lagi.” Kesal Evan.
“Mungkin dengan Cakra.” Melihat Cakra yang masih menunggu dengan memainkan handphonenya.
“Ya, sama loe lah culun, dan gue yakin loe paham maksud gue.”
“Gak salah loe?” Nathan balik bertanya.
“Maksud loe?” Evan bingung dengan pertanyaan ambigu Nathan.
“Loe kan lihat sendiri Videonya dan Gue gak peduli.” Nathan berdiri karena dia telah menyelesaikan bagiannya, Nathan keluar dari toilet.
“Gue belum selesai ngomong.” Teriak Evan.namun Nathan tidak peduli.
“Udah deh Van, loe selesaikan aja tugas loe, gue udah gak nyaman di toilet ini.” Cakra pun kesal mendengar jawaban Nathan yang seolah – olah sombong, namun mungkin itu bentuk pertahanan Nathan.
Cakra juga merasa Nathan berani, jika siswa pria lain tidak akan berani karena mereka tau Evan anak pemilik Yayasan Sekolah.
Cakra dan Evan selevel, namun Nathan sangat jauh dari lingkungan mereka, tapi berani dan tidak takut. Bisa saja Evan atau Cakra mengeluarkannya dari sekolah dengan bantuan orang tua mereka.
♥️♥️♥️♥️♥️
Please
LIKE
KOMENT
VOTE
and
FAVORITE
Gomawo
\= Lady_MerMaD \=
__ADS_1