
Tiba - tiba Nabila merasakan orang tersebut mencium pipinya, sentuhan bibir orang tersebut sangat lembut, Nabila berusaha membalikan badan dan membuka matanya.
Dia melihat Nathan berdiri disamping ranjangnya, Nabila merasa hanya mimpi, mungkin karena rindu, Nabila jadi menghayalkan kedatangan Nathan.
Secara logika, tidak mungkin Nathan berada di kamarnya.
Namun karena efek yang sudah sangat bereaksi, membuat Nabila tertidur nyenyak. Nathan bingung harus berbuat apa?
Dia memandang Nabila, memegang keningnya lagi, ternyata masih panas, Nathan merasa kasihan melihat keadaan Nabila. Nathan menggenggam tangan Nabila, duduk di tepi ranjang.
Melinda masuk kedalam kamar Nabila, dengan membawa bascom berisi air untuk mengompres Nabila. Nathan langsung membantunya. Melinda tidak kaget dengan kehadiran Nathan karena suaminya telah memberitahu bahwa ada teman Nabila yang berkunjung dan kebetulan anak pemilik perusahaan tempat suaminya bekerja.
“Tarok di meja samping itu saja.” Suruh Melinda sambil menunjuk meja yang dimaksud.
Nathan meletakan baskom disana.
“Terima kasih, Nath.” Ucap Melinda.
“Tidak apa – apa, tante.” Balas Nathan ramah.
“Eh, Nabila, tertidur ya?” Melinda baru menyadari bahwa Nabila tertidur dengan nyenyak.
“Iya, tante.”
Melinda mengambil kain untuk memgompres Nabila.
“Biar, saya saja, tante.” Pinta Nathan.
“Silahkan.” Melinda memberikan lap kepada Nathan.
Nathan mengompres kening Nabila, memeras airnya meletakan di kening Nabila, melakukannya berulang kali, sambil mengobrol dengan Melinda.
“Tante, mau tanya, ada hubungan apa kamu dengan Nabila?” Melinda bisa melihat perhatian dan sayang Nathan kepada putrinya.
“Saya, mencintai Nabila, tante.” Ucap Nathan to the point. Walaupun hatinya merasa cemas.
Melinda salut dengan kejujuran Nathan, mungkin pria lain, hanya akan bilang, teman.
“Berarti kalian berpacaran?”
“Benar, tante, seminggu yang lalu, sebelum Nabila, sakit.” Jawab Nathan, dia risih juga ditanya oleh mami Nabila.
“Pesan, tante cuma satu, pandai – pandailah jaga diri, karena kalian masih muda, masa depan kalian masih panjang. Kamu pahamkan dengan maksud, tante?”
“Iya, tante.” Jawab Nathan lagi
“Sepertinya sudah cukup.” Melinda membereskan kembali peralatan untuk mengompres Nabila tadi.
“Biar, saya bantu bawa, tante.” Tawar Nathan. Melinda membiarkan Nathan membawa baskom tersebut.
Nathan kembali lagi ke kamar Nabila, dia melihat Nabila telah bangun dan mencoba untuk duduk.
“Jangan, istirahat saja.” Pinta Nathan, dia menahan bahu Nabila agar Nabila kembali tidur.
“Kakak, kapan datang?” tanya Nabila, apakah mimpinya tadi, nyata?
“Sejak,jam 8.30 tadi.” Jawab Nathan, dia mengambil posisi duduk pinggir ranjang.
Nabila melirik jam dinding, menunjukan pukul 9.20 menit.
“Hampir satu jam, kaka disini?”
“Iya.” Nathan memeriksa suhu badan Nabila, mulai berkurang panasnya.
__ADS_1
“Maafkan, aku.” Ucap Nathan, menempelkan keningnya ke kening Nabila.
“Untuk apa, kak?” bingung Nabila.
“Karen aku, kamu jadi sakit.”
“Bukan, kak, Nabil, sakit karena kehujanan.”
“Sama saja, kan aku yang ngajak kamu, hujan – hujanan.”
“Gak pa – pa kok, kak, Nabil, malahan senang.”
“Aku telepon dan whatsapp kamu, namun gak pernah dbalas, pesan pertama, cuma kamu baca.” Rajuk Nathan.
“Yang nomernya cantik itu, nomor kakak?”
“Iya.”
“Maaf kak, nomornya Nabila gak kenal, makanya Nabil, abaikan.”
Nathan menyesal dia tidak memberitahu Nabila nomor handphonenya dari awal.
“Diwhatsappkan, aku bilang itu nomor ku, Bil.”
“Nabila, belum ada cek handphone lagi, kak. Mami simpan handphone Nabila, biar Nabila, fokus istirahat.” Nabila memegang pipi Nathan.
“Jadi, nanti gimana, aku ngubungin kamu?” Nathan khawatir.
“Sembuh nanti, kan Nabila udah masuk sekolah lagi.”
“Aku tinggalin handphone ku ya, nanti aku pake handpnoe satunya lagi, jadi aku bisa tetap hubungi kamu?”
“Gak usah kak, Nanti mami marah.”
Akhirnya Nathan mengalah, namun dia berjanji akan ke rumah Nabila setiap hari.
“Ya ampun, aku baru sadar, belum mandi. Aku pulang dulu ya, Bil. Kamu istirahatlah, sore nanti, aku kesini lagi” Nathan mencium kening Nabila, kemudian keluar dari kamar Nabila.
Dia berpamitan dengan papi dan mami Nabila dan pulang ke rumahnya.
🍏🍏🍏
Nadine heran, yang melihat Nathan baru pulang lari pagi pukul 10.30. Biasanya dia Cuma lari pagi 15 menit atau 20 menit paling lama.
“Tumben lama olah raganya, Nath?” ucap Nadine begitu melihat Nathan masuk rumah.
Nathan hanya melewati Nadine tanpa menghiraukan pertanyaan dari sang kakak.
“Nath, gue, nanya loh.” Sewot Nadine.
“Apaan sih, gue, belum mandi ni.” Balas Nathan tak kalah sewot.
“Oh, pantasan, gue kira bau apa? Ternyata elo.” Kikik Nadine, menutup hidungnya.
Nathan mencium badannya, gak bau, walaupun habis olah raga, batinnya.
“Masa sih, gue cium, gak ada.”
“Kan bau badan loe sendiri, ya jelaslah, loe gak ngerasa.”
“Ya, udah gue, mandi dulu.” Nathan meninggalkan Nadine dan menaiki lift, menuju kamarnya.
****
__ADS_1
Siang ini mereka makan sing bersama.
“Gimana, kalau habis makan, kita jalan – jalan?” ajak Nayla kepada keluarganya.
“Boleh, mom, ke Mall ya.” Antusias Nadine. “Aku mau puas – puasin belanja.”
“Daddy, Nathan, mau kan?” tanya Nayla lagi.
“Aku, ikut aja.” Ucap Nino.
“Ya.” Jawab Nathan. Mumpung mereka belanja, aku bisa cari buah tangan untuk dibawa buat jenguk Nabila, pikir Nathan.
****
Selesai makan siang, mereka berangkat ke Mall, tadinya dengan satu mobil saja, diluar mobil pengawal, namun Nathan minta dia bawa mobil sendiri. Alhasil mereka berangkat dengan dua mobil, Nino sengaja tidak membawa sopir. Nadine ikut dengan mobil yang dibawa Nathan.
Mereka berbelanja dengan antusias, sebenarnya hanya Nayla dan Nadine yang semangat, sedangkan Nino dan Nathan hanya mengekori mereka dari belakang. Sekarang mereka berada di counter pakaian. Nadine dan Nayla memilih – milih baju yang akan mereka beli. Nathan melihat beberapa baju yang pasti cocok dipakai Nabila, apa gue beli aja, ya? Bathin Nathan.
Dia melihat – lihat ukurannya, Nadine yang melihat Nathan juga sibuk memilih baju, menjadi semakin curiga.
“Mom, lihat, tumben Nathan juga memilih – milih baju.” Tunjuk Nadine.
“Eh, iya, inikan baju perempuan semua, buat siapa emangnya sama dia?” heran Nayla.
“Sepertinya, Nathan punya pacar, mom?” beritahu Nadine kepada Nayla.
“Masa? Kamu tau darimana?” tanya Nayla lagi karena penasaran.
“Kemarin, Nadine, buntuti dia, mom?” lanjut Nadine.
“Kenapa kamu buntuti dia?” heran Nayla, tumben Nadine kepo dengan tingkah adiknya.
“Habisnya, tingkah dia, mencurigakan moms.”
Nadine menceritakan hasil temuannya kepada Nayla, juga kondisi Nabila.
“Apa, hamil?” Nayla membekap mulutnya, kaget mendengar informasi yang disampaikan oleh Nadine.
“Mom, jangan keras – keras, nanti Nathan dengar.” Meletakan jari telunjuknya dimulut, tanda meminta Nayla diam.
“Apa yang tidak boleh aku dengar?” Nathan telah berdiri dibelakang Nadine.
🍒🍒🍒
Hi sayang - sayang akuh.
Maaf kemarin aku gak bisa update karena ada sodara yg datang dan mesti diajak jalan2.
folow ig ku ya @Lady_mermad
Plese :
LIKE
VOTE
KOMENT
and
FAVORITEKAN ya.
Gomawo
__ADS_1
\= Lady_MerMad \=