
Siska keluar dari ruangan Cakra, dia merasa lega, Cakra telah mengetahui kondisinya, dimana papa Siska telah bangkrut dan meninggal. Setidaknya Siska tidak perlu lagi bersembunyi saat bekerja.
"Gimana? Kenapa kamu dipanggil?" cecar Mila, saat Siska telah kembali ke kamar di mana seharusnya Siska yang membersihkan kamar tersebut.
"Tidak ada apa-apa sih." Siska tidak ingin memceritakan kepada siapapun bahwa dia mengenal Cakra, CEO baru mereka. Siska tidak mau teman-teman kerjanya menjadi iri atau berpikiran lain terhadapnya.
"Masa nggak ada apa-apa, Sis? Sampai-sampai CEO baru nyariin loe?" todong Mila lagi dengan curiga. Dia yakin pasti ada sesuatu. Jika hanya untuk memecat Siska, pasti manager atau supervisor yang duluan memberitahu mereka. Tidak CEO langsung, karena mereka cuma karyawan rendahan.
"Hanya masalah dengan kamar yang gue bersihin kemarin aja. Dia sangat suka dengan kinerja gue. Jadi mau memberikan apresiasi saja secara langsung," bohong Siska. Tidak mungkin dia menceritakan bahwa Cakra mengintrogasi dia karena kenapa Siska bekerja? Bukannya kuliah atau bersenang-senang seperti biasanya.
"Wah, mantap juga pak Cakra, langsung turun tangan memberikan apresiasi," salut Mila.
"Udah, jangan gosip, kerja lagi, yuks." Siska mulai melanjutkan pekerjaannya. Namun tiba-tiba dia mual dan pusing. Bersyukur Mila langsung memegang Siska.
Veronica yang melewati kamar tempat Siska dan Mila, melihat Mila mencoba menyadarkan Siska.
"Sis, bangun ... Sis ...." Mila menepuk-nepuk pipi Siska.
"Kenapa Siska, Mil?" tanya Veronica, dia mengeluarkan minyak kayu putih yang memang selalu dibawanya. Mengoleskan ke leher dan hidung Siska.
"Apa yang terjadi?" tanya Siska saat sadar, dia merasa kenapa ada dipelukan Mila? Dia yakin tadi masih berdiri, bersiap-siap melanjutkan membersihkan kamar.
"Loe, pingsan, gue panik, untung ada mbak Ver," jelas Mila.
"Pingsan?"
Siska berdiri dan lagsung menuju kamar mandi kamar tersebut. Dia muntah di dalam sana. Veronica menggosok-gosok punggung Siska. Setelah berhenti muntah Siska keluar dari kamar mandi, dipapah Veronica. Mila memberikan air putih hangat buat Siska.
"Sis, maaf sekali lagi ... gejala loe ini seperti orang hamil." Veronica kembali memberitahu Siska tentang kecurigaannya.
"Mbak Vero ngaco nih, masa Siska hamil, wong dia belum nikah," heran Mila dengan yang diinformasikan Veronica.
"Menurut mbak, nggak ada salahnya loe periksa, siapa tahu ada penyakit lain ... bukankah lebih cepat diketahui lebih baik? Sebelum penyakit itu menggerogoti tubuh loe," saran Veronica lagi.
"Gue, rasa karena masuk angin dan mungkin juga karena gue agak setress, mbak." Siska masih tidak terima jika dia hamil. Bagaimana nasibnya dan bayi itu nantinya?
Sampai saat ini Cakra bahkan tidak mengingat kejadian itu. Apalagi merasa bersalah.
"Bisa jadi, Sis. Pergantian pemilik memang membuat kita cemas dan was-was, serta tidak tenang," ucap Veronica lagi.
"Iya, gue juga setress, sekalipun kita diberi waktu tiga bulan buat membuktikan diri, tetap aja, kalau atasan nggak suka, pasti nama kita diajuin buat di PHK," ucap Mila memelas.
"Ayo, kita lanjut kerja lagi, daripada semakin di cap jelek." Siska bersiap membersihkan kamar lagi.
"Loe ... yakin nggak pa-pa Sis?" Veronica memastikan kalau Siska baik-baik saja.
"Iya, Mbak, gue nggak pa-pa," balas Siska meyakinkan Veronica.
"Ntar loe pingsan lagi," canda Mila.
"Loe, udah sarapan, Sis?" tanya Veronica lagi.
"Udah, tenang aja Mil, Mbak, Siska nggak pa-pa, kok, jangan cemas." Siska meyakinkan Veronica dan Mila.
***
Siska sampai di rumah sewanya. Dia merasa lelah sekali. Entah kenapa akhir-akhir ini Siska merasa sering kecapekan. Sepulang kerja Siska langsung ke kampus. Siska mengambil kuliah non reguler sehingga jadwal kuliah lebih banyak sore dan malam. Berbeda di semester pertama, sampai di tahun kedua yang kebanyakan jadwal kuliah pagi.
Kelas yang diambil Siska memang mayoritas adalah para pekerja, sehingga sering tidak hadirpun yang penting mengerjakan tugas-tugas. Nilai ditentukan dari tugas yang dikerjakan. Apa lagi Siska masih mendapatkan beasiswa jadi dia harus tetap mempertahankan nilainya. Jangan sampai beasiswanya dicabut.
"Sis, mandi sana, habis itu kita makan, Mama masak ayam rica-rica dan sayur lodeh," beritahu Widia, begitu Siska memasuki rumah.
"Siap, Ma." Siska langsung ke kamar dan mandi dengan cepat karena dia telah merasa lapar.
Widia telah menyusun makanan di meja. Dia mengambil teko air dan dua gelas dan dua piring untuk mereka makan. Siska duduk dan mulai mengambil nasi dan lauk. Saat akan memasukan makanan di mulutnya, tiba-tiba Siska merasa mual, dia berlari ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Memuntahkan isi perutnya yang belum terisi, sehingga muntah yang keluar hanya air saja.
Siska kembali makan, namun, hal yang sama masih terjadi. Widia juga bingung tidak biasanya Siska muntah-muntah. Apa lagi ini adalah makanan kesukaannya.
"Sis, kamu kenapa, Nak?" tanya Widia cemas. Dia takut Siska sakit parah dan meninggalkannya.
"Nggak tahu juga, Ma, akhir-akhir ini, Siska sering muntah," jujur Siska.
"Kamu nggak keracunan makanankan?" tanya Widia.
__ADS_1
"Entahlah, Ma. Siska juga tidak tahu karena--Siska rasa Siska makan yang normal saja," terang Siska.
"Sebaiknya kita bawa ke dokter saja gimana?" tawar Widia.
"Iya, biar nanti Siska ke dokter saja," putus Siska.
"Biar ada tenaga, Mama bikinkan teh hangat, ya?" Widia langsung merebus air untuk teh hangat Siska.
"Boleh, Ma, terima kasih."
Setelah minum teh hangat dan memaksa untuk memakan masakan Widia. Siska merasa sedikit bertenaga, dia mengeluarkan motor. Siska berencana ke rumah sakit.
"Sis, jangan naik motor, kamu masih pucat mama lihat, sebaiknya naik ojek online atau mobil online, aja," perintah mama.
"Siska udah nggak pa-pa kok, Ma," elak Siska.
"Mama nggak mau ambil resiko jika tiba-tiba kamu pingsan di jalan." Siska ingat tadi dia pingsan saat bekerja.
Siska telah mengirim pesan kepada dosen yang mengajarnya hari ini, bahwa dia tidak bisa hadir.
Siska memesan ojek online saja karena lebih hemat.
Siska menuju rumah sakit rujukan dari tempatnya bekerja. Siska menuju IGD.
"Keluhannya apa, Mbak?" tanya dokter setelah perawat memeriksa tensi dan berat badan Siska.
"Saya akhir-akhir ini sering merasa lemah Dok, sepertinya saya masuk angin karena sering mual dan muntah ... dan tadi saya sempat pingsan di tempat kerja," jelas Siska.
"Mual dan muntahnya ada waktu tertentu?" tanya dokter IGD.
"Setiap pagi, terus jika saya mencium aroma yang menyengat, Dok," jelas Siska lagi.
"Makan masih normal?"
"Sekarang nafsu makan saya berkurang dan hampir hilang dok."
"Menstruasinya masih lancar?" Siska bingung dengan pertanyaan dokter. Tapi dia segera sadar ke mana arah diagnosa dokter.
"Terakhir sebulan yang lalu," jawab Siska, dia panik, bagaimana jika benar hamil?
Siska berjalan dengan gontai, apa yang harus dilakukannya jika benar dia hamil? Bagaimana cara memberitahu Cakra? Lalu apakah Cakra akan percaya? Sementara Cakra sepertinya tidak mengingat kejadian itu dan bahkan mungkin telah melupakannya.
***
Cakra keluar dari ruangan pemeriksaan mamanya. Cakra menebus resep, sementara papa masih menemani mama.
Siska? Dia sakit? Cakra melihat Siska menuju praktek dokter kandungan. Namun kenapa ke dokter kandungan? Cakra mengabaikan saja karena dia buru-buru menebus obat mamanya.
Akan tetapi, pikiran Cakra masih mengingat Siska. Cakra teringat pembicaraan Siska dan teman-temannya di toilet. Benarkah Siska hamil? Siapa yang menghamilinya?
"Pa, ini obat mama, Cakra ada urusan mendadak." Cakra menyerahkan obat mama kepada Candra.
"Ke mana, Cak?" tanya Candra.
"Ada urusan bentar, Pa." Cakra bersiap untuk meninggalkan papa dan mamanya.
"Tapi kamu pulangkan, Cak?" tanya Chintia.
"Ma, Cakra ingin mandiri, bukan saatnya kita harus membahas ini ... Cakra harus pergi." Cakra benar-benar meninggalkan orang tuanya.
Tadi memang Candra menghubungi Cakra. Saat maag Chintia kambuh dan Candra membawa Chintia ke rumah sakit. Meminta Cakra juga menyusul ke sana. Karena Chintia kalau sakit sangat manja, makanya saat diperiksa dia harus ditemani Candra. Dan Cakra yang menebus resep. Chintia tidak akan membiarkan suaminya meninggalkannya sendiri untuk diperiksa.
Cakra mengedarkan pandangan mencari Siska. Dia ingin tahu apa yang terjadi dengan Siska. Kenapa hidup Siska menjadi seperti ini? Cakra yakin Siska memasuki ruangan obgyn. Cakra menunggu, Siska keluar dari ruangan dokter tersebut. Cakra melihat Siska seperti setress, berjalan seperti orang linglung, memegang kertas menuju apotik untuk menebus obat.
Di samping apotik ada lorong menuju nursery room. Cakra menarik Siska dan memeluknya di lorong tersebut. Siska berusaha berontak.
"Tenang, Sis," ujar Cakra, dia mengambil kertas yang ada di tangan Siska. Di lorong itu juga ada kursi. Cakra menyuruh Siska duduk. Siska menangis dengan terisak.
"Apa yang harus aku lakuin, Bang?" isaknya. Siska sadar ternyata yang memeluknya adalah Cakra.
Cakra membaca hasil pemeriksaan Siska, sekalipun tidak mengerti, namun Cakra paham jika Siska hamil. Kondisi Siska yang menangis menjelaskan segalanya.
"Kamu hamil?" Cakra bertanya untuk meyakinkan diri. Siska hanya mengangguk dan kembali terisak.
__ADS_1
"Siapa? Siapa ayah bayi ini?" Siska memelototi Cakra, bisa-bisanya Cakra bertanya siapa ayah dari bayi yang sedang di kandungnya. Apa Cakra sebegitu tidak ingat dengan apa yang dia lakukan terhadap Siska sebulan yang lalu?
"Kamu punya pacar?" Cakra kembali bertanya karena melihat Siska hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Cakra. Siska hanya menggelengkan kepala.
"Lalu siapa pelakunya, Sis?" geram Cakra karena Siska tidak juga kunjung berbicara.
"Aku diperkosa!" cicit Siska, dia ingin memberitahu Cakra tapi melihat Cakra seperti tidak bersalah membuat Siska bimbang. Jika dia memberitahu Cakra bahwa bayi yang dikandungnya adalah anak Cakra, apakah Cakra akan bertanggung jawab dan percaya?
"Apa?" Cakra merasa sangat kasihan dengan Siska.
"Apa kamu ingat siapa yang memperkosamu?" Siska kembali diam, dalam hatinya berteriak '!abang pelakunya'. Karena siska hanya diam. Cakra membayangkan jika Siska diperkosa oleh orang yang tidak dikenalnya.
Mereka sama-sama terdiam dalam waktu yang lama, Siska masih terisak. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Abang akan bertanggung jawab," ucap Cakra, dia pikir dia harus membantu Siska, Siska adalah sahabat adiknya. Toh, gadis yang dicintai Cakra telah menikah. Jadi tidak ada salahnya dia menolong Siska.
Siska yang mendengar bahwa Cakra akan bertanggung jawab menjadi senang. Apakah Cakra ingat bahwa dia yang telah memperkosanya?
"Abang akan bertanggung jawab?" beo Siska mencoba meyakinkan diri dengan yang didengarnya. Percikan kebahagiaan menghantui Siska. Dia merasa lega Cakra mau bertanggung jawab.
"Ya, anggap saja Abang menolongmu karena kamu teman Cheryl, Abang tidak bisa membayangkan ... jika itu menimpa Cheryl," lanjut Cakra. Membuat perasaan Siska yang tadi melambung menjadi jatuh kembali.
Jadi Cakra mau bertanggung jawab karena kasihan, bukan karena ingat bahwa dia pelakunya?
"Nggak usah!" kesal Siska. Dia merasa terluka.
"Kenapa?" Cakra heran Siska menolak kebaikannya. Seharusnya Siska berterima kasih.
"Abang tidak perlu berkorban, jika bukan PELAKUnya." Siska sengaja menenkankan kata 'pelaku' agar Cakra ingat.
"Abang akan tetap bertanggung jawab, apa kamu tidak kasihan dengan anak itu, terlahir tanpa ayah?" Siska semakin kesal, seharusnya Cakra sadar.
"Lagian hidup Abang tidak ada tujuan lagi. Nabila telah menikah, jadi tidak ada salahnya Abang membantumu. Abang akan menikahimu. Setidaknya kamu tidak menjadi gunjingan orang. Dan kamu tidak menjadi karyawan yang akan dipecat jika hamil diluar nikah," jelas Cakra
"Namun, jika suatu hari Abang menemukan wanita yang membuat Abang jatuh cinta, Abang mohon, kamu ikhlas melepaskan Abang," lanjut Cakra lagi. Membuat Siska semakin sakit hati. Perasaan yang dia simpan selama enam tahun berubah menjadi semakin benci. Saat Cakra memperkosanya Siska telah membunuh perasaan cintanya kepada Cakra.
Sebegitu tak berhargakah dia dimata Cakra? Apakah hanya Nabila yang menjadi prioritas dan patokan bagi Cakra dalam mengambil keputusan yang sangat penting dalam hidupnya?
"Baik, jika itu mau Abang, mari kita menikah besok." Setidaknya Cakra harus bertanggung jawab, tahu atau tidak, anak ini tetap punya dia.
"Tapi kita harus merahasiakannya. Abang tidak ingin orang di hotel tahu. Jika kamu ingin berhenti kerja, tidak masalah. Abang akan membiayai hidupmu. Jadi tidak perlu merahasiakan pernikahan kita," tambah Cakra.
"Tidak, Siska masih ingin bekerja, biar seperti saling tidak mengenal di kantor. Siska hanya ingin surat bahwa kita menikah, agar anak ini tidak dicap sebagai anak haram," sarkas Siska lagi. Setidaknya bebannya akan hilang, tidak perlu menerima cemoohan dari masyarakat.
"Oke, besok kita menikah. Beritahulah mamamu," usul Cakra.
"Terima kasih," ucapan yang sebenarnya ditujukan Siska untuk menyindir Cakra.
"Ayo, kita tebus obatnya!" ajak Cakra, Siska hanya mengikuti Cakra dari belakang.
Selesai menebus obat, mereka keluar dari rumah sakit.
"Kamu bawa motor?" tanya Cakra, karena Cakra yakin yang dia lihat waktu itu benar Siska.
"Tidak," jawab Siska singkat.
"Biar, abang antar."
"Bisakah nanti, tidak memberitahu mama jika Siska hamil?" pinta Siska.
"Baik ... lalu apa alasan kita menikah cepat?" Siska juga bingung dengan pertanyaan Cakra. Apa alasan yang harus diberitahukannya kepada mamanya?
Mereka memasuki mobil Cakra, mereka sama-sama terdiam. Bingung memikirkan alasan yang tepat yang harus dikatakan kepada mama Siska.
πππ
Lega akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Kalian siap-siap ya, Siska akan mengalami kejadian yang cukup tragis. Tapi tetap lanjut baca ya, karena akan tetap happy endingπ€
Pekanbaru
051222
__ADS_1
09.05