
Nabila dan team cheerleader sibuk latihan untuk kompetisi, mereka telah mengurus izin untuk menggunakan aula sebagai sarana tempat latihan mereka. Mereka telah berlatih selama dua minggu. Selama dua minggu juga Nabila belum menemui Nathan, dia sibuk dengan latihan, sedangkan waktu istirahat mereka gunakan untuk membahas gerakan – gerakan yang perlu dirubah.
Pihak sekolah juga menyediakan pelatih profesional untuk melatih dan menciptakan koreografi buat mereka. Pelatih tidak setiap hari mengajar mereka, hanya mengajar pada saat mereka tidak latihan bersama team basket.
Hari ini mereka latihan bersama team basket, selesai latihan seperti biasa mereka istirahat sebentar dan mengobrol sebelum pulang. Mereka duduk di aula selonjor di aula.
“Nih, Nab.” Evan membukakan minuman dan menyerahkannya kepada Nabila.
“Terima kasih, kak.” Nabila menerima botol minuman tersebut.
“Nabila aja ni kak, yang dapat perlakuan khusus?” ujar Maura cekikikan.
Telah menjadi rahasia umum, kalau Evan menyukai Nabila terlihat dari tindakan Evan kepada Nabila.
“Loe mau juga Ra? Gue bukain juga nih.” Ujar Ferry, sahabat Evan.
“Boleh kak.” Balas Maura. Ferry kemudian mengambil botol minuman dan menyerahkannya kepada Maura.
“Ntar gue antar pulang ya Nab?” tawar Evan kepada Nabila.
“Eh, gak usah kak, Nabila di jemput kok.” Jawab Nabila, dia masih berusaha menghindari Evan. Nabila tidak ingin memberi Evan harapan, karena Nabila telah melabuhkan hatinya untuk Nathan.
“Tapi, next latihan, loe bilang ya sama supir loe, buat gak usah jemput, biar gue anterin.” Bujuk Evan lagi. Nabila merasa tidak enak terus – terus menghindar.
“Iya Nab, pulang bareng kak Evan aja.” Dukung Siska, menyikut pinggang Nabila.
“Apaan sih.” Bisik Nabila. Siska duduk disamping Nabila.
“Lihat nanti aja kak, gak enak ngerepotin kak Evan.” Ujar Nabila basa – basi.
“Gak kok Nab, gue malahan senang.” Jawab Evan cepat.
“Betul Nab, Evan malahan senang itu.” Potong Rangga, sahabat Evan. Evan menyikut pinggang Rangga.
“Emang kak Evan, gak sibuk?” tanya Cheryl dengan polos.
“Demi Nabila, Evan pasti sempat.” Jawab Rangga.
“Lagian, loe gak pengertian banget Cher.” Kumat Rangga ingin menjahili Cheryl.
Selama latihan bersama, tidak ada waktu tanpa Rangga menjahili Cheryl. Dia suka mengerjai Cheryl yang lemot.
“Emang gue harus pengertian sama kak Evan? Kenapa harus gue?” balas Cheryl lagi.
“Ya ampun udah deh Cher, bagusnya loe diam aja.” Jenifer yang jengah mendengar kelemotan Cheryl, akhirnya angkat suara.
“Sini deh Cher, gue kasih tau.” Ujar Rangga, sambil melambaikan tangan, agar Cheryl mengikutinya. Cheryl yang polos mengikuti Rangga, dia tidak mengetahui kalau Rangga hanya mengerjainya.
“Gimana Nab?” desak Evan lagi.
“Eh, ya udah lah, boleh.” Jawab Nabila dengan terpaksa.
__ADS_1
“Kalian belum makan kan?” tanya Evan.
“Belum.” Jawab semuanya.
“Ya udah, gue traktir makan ya, kalian tunggu disini. Gue sama Nabila pergi beli.” Modus Evan, agar bisa jalan sama Nabila.
"Yuks Nab, kita beli makanan untuk mereka.” Ajak Evan.
“Eh, ya udah ayo kak.” Balas Nabila dengan terpaksa.
Nabila dan Evan keluar Aula, pergi membeli makanan.
“Dimana kita belinya kak?”
“Café Milenial.” Jawab Evan. Nabila senang, berharap bisa bertemu dengan Nathan.
*****
Mereka telah sampai di café Milenial, Evan memesan makanan untuk take away, Nabila duduk menunggu, sambil memandang sekeliling berharap melihat Nathan.
“Sabtu malam ini ada rencana gak Nab?” tanya Evan, setelah memesan makanan dan duduk disamping Nabila.
Nabila mengerti kemana arah pembicaraan Evan.
“Ada kak, ada sepupu yang ulang tahun.” Bohong Nabila, dia harus sedapat mungkin untuk menghindar dari Evan dan tidak memberi celah kepada Evan untuk mendekatinya.
“Owh ada ya, ya udah next time aja.”
Mereka menunggu pesanan selesai, mereka mengobrol ringan, lebih tepatnya Evan yang banyak bertanya tentang Nabila, dari hobby, makanan kesukaan Nabila dan lain – lain. Evan melihat tingkah Nabila yang tidak fokus dengan pertanyaannya.
“Ga ada kak, tadi Nabila kira lihat orang yang dikenal.” Elak Nabila.
“Jadi kak Evan, hobbynya emang main basket ya?” tanya Nabila untuk mengalihkan pertanyaan Evan.
“Dari SD lagi Nab. Loe sendiri emang suka dengan cheerleader?” tanya Evan balik.
“Nabila emang suka menari gitu kak, jadi ngambil ekskul cheerleader deh.”
Mereka asik mengobrol sampai, Nabila tidak memperhatikan lagi sekelilingnya, Nathan melihat Nabila di café, asik merbicara dengan Evan.
Nathan memang kenal dengan Evan, mereka pernah sekelas saat kelas X, namun tidak pernah akrab, Evan menganggap Nathan, bukan siswa levelnya karena teman – teman Evan adalah anak – anak gaul dan trendy. Nathan secepatnya menyingkir dari sana sebelum Nabila melihatnya.
*****
Nathan bingung selama dua minggu ini, Nabila tidak pernah lagi mengikuti ataupun mengganggunya. Ada perasaan lega tapi juga ada sedikit merasa kehilangan kecerian Nabila. Nathan sedang asik membaca di perpustakaan.
“Loe gak bosan bro, di perpus terus?” tanya Cakra, mengngagetkan Nathan yang tengah asik membaca.
“Apaan sih loe, baru juga gue ngerasa tenang tanpa gangguan dua minggu ini.” Ceplos Nathan.
“Emang siapa yang gangguan loe, selain gue?”
__ADS_1
“Teman adek loe lah.” Ucap Nathan tanpa sadar.
“Teman adek gue, siapa?” ujar Cakra penasaran. Nathan baru sadar dengan keteledorannya, dia yang tidak ingin terekspos.
“Gue becanda aja, lagian gue juga kenal ama adek loe doank, itupun ngobrol cuma sesekali.” Nathan menghindari pertanyaan Cakra.
“Iya juga, loe kan irit bicara men.” Lanjut Cakra.
“Loe ngapain kesini?” tanya Nathan
“Bosan gue dikeramaian.” Jawab Cakra asal
“Bukannya itu emang hobby loe sama kayak adek loe, orang – orang kayak kalian.”
“Orang – orang kayak kalian maksud loe?” Cakra tidak suka dengan cara Nathan bicara.
“Ya anak – anak populer dan gaul.” Jelas Nathan tanpa merasa bersalah.
“Loe cemburu karena gak gaul, gue ajak loe gak mau.” Tantang Cakra.
“Gak suka gue, gue lebih suka ketenangan.”
“Tinggal aja di hutan noh, tenang.” Ucap Cakra sambil cekikikan.
“Mending loe gangguan adek loe atau siapa gitu, jangan gue.” Ucap Nathan mengusir Cakra.
“Adek gue gak bisa diganggu, dia ama teamnya lagi sibuk latihan cheerleader, ada kompetisi.”
“Owh.” Pantasan anak itu dua minggu tidak mengganggu Nathan, ternyata sibuk latihan.
“Ntar loe temanin gue lihat mereka tanding ya, tapi sebelumnya loe temani gue lihat mereka latihan, lumayan buat tebar pesona.”
“Ogah gue, ajak yang lain aja, lagian gue kerja.” Elak Nathan.
“Malas gue ajak yang lain, ntar gue kalah saing lagi, kalau ngajak loe kan gue gak kalah saing, secara cewek zaman sekarang, mana ada yang suka cowok kayak loe.” Cakra tertawa lebar.
“Mereka gak tau gue siapa aja.” Ujar Nathan misterius.
“Lagian loe, zaman sekarang masih pake motor butut dan apa ini?” mengambil kacamata Nathan.
“Apaan sih loe, siniin kaca mata gue.” Nathan mengambil kacamatanya.
“Serius, loe ganteng loch, kalau gak pake kacamata, emang gak bisa pake soflens aja loe Nat?” tanya Cakra.
“ Gue baru tahu ternyata warna mata loe abu – abu ya.” Kagum Cakra.
“Sumpah loe gak usah pake kacamata deh, emang loe minus berapa sih, kalau gak, pake soflens sesuai warna mata loe aja deh.” Paksa Cakra.
Nathan telah merebut kacamatanya, dia takut kalau Cakra tau bahwa kacamatanya tidak ada resep. Lazimnya orang – orang yang mengalami gangguan penglihatan, sedangkan Nathan, matanya normal, dia hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian.
“Rabu, loe off kerja part time kan? Deal loe temani gue lihat adek gue latihan.” Cakra menjabat paksa tangan Nathan. Nathan hanya mengedikan bahunya.
__ADS_1
*****
Sepulang sekolah seperti biasa Nathan bekerja part time di café Milenial. Dia melihat Nabila di café bersama Evan asik mengobrol. Katanya sibuk latihan, eh malah sibuk pacaran, kesal Nathan dalam hati, ups tunggu kenapa aku harus kesal, harusnya senang jika tu cewek tidak lagi gangguin aku. Nathan cepat – cepat pergi ke dalam sebelum Nabila melihatnya.