
"Maaf kak, sepertinya pernikahan ini tidak usah dilanjutkan." putus Nabila. Dia menyerah, sebaiknya tidak usah menikah, dia akan menjadi wanita mandiri yang sukses tanpa harus menikah, baik dengan Nathan atau siapapun. Sekalipun nanti Nabila hamil, dia akan merawat bayinya tanpa Nathan.
"Nabila, sebaiknya kita tenang dulu, baru berbicara kembali" ucap Nino, agar semua tenang dan bicara lagi saat emosi semuanya telah reda.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Om." Sahut Nabila.
Nathan yang sedang dibersihkan lukanya oleh Nayla, langsung berdiri dan menghampiri Nabila.
"Tidak, jangan pernah berpikir, untuk membatalkannya." Tatap Nathan tajam kepada Nabila. Setelah semua yang dia lakukan untuk dapat menikahi Nabila, dia tidak mau gagal.
"Dengar, jika saya tidak menikahi Nabila, maka saya tidak akan menikahi wanita manapun nantinya. Saya akan menjauh dari kalian semua, saya tidak akan tinggal di Indonesia lagi, anggap saya telah mati." Ucap Nathan kemudian dia berjalan keluar, luka dikakinya meninggalkan jejak darah dilantai. Apakah rencananya gagal?
"Nath, tunggu." Teriak Nino, mencengkeram tangan Nathan agar berhenti, namun ditepis oleh Nathan. Nino tau jika putranya orang yang keras, jika dia memutuskan tidak kembali ke Indonesia, maka itulah yang akan terjadi.
Nayla panik, dia tau Nathan tidak main - main, dia menyerah, dia tidak mau kehilangan putranya.
"Nabila, bujuk Nathan, tante, merestui pernikahan kalian, tante mohon." Ucap Nayla kepada Nabila.
Teguh dan Melinda hanya terdiam, bingung harus berkata apa? Sekalipun Melinda terluka dengan perkataan Nayla, tapi tidak bisa dipungkiri jika dia juga seorang ibu, dan jika dia diposisi Nayla, dia juga tidak akan sanggup kehilangan anaknya.
"Mu.. mungkin ini memang yang terbaik tante." Ucap Nabila terbata - bata, dia juga sedih memikirkan jika tidak bertemu Nathan lagi, tapi mungkin ini yang terbaik.
"Nabila, please, jika kamu nanti menjadi ibu, kamu akan paham dengan yang tante rasakan." Nayla membujuk Nabila lagi.
Nabila juga berfikir, mungkin jika dia seorang ibu, sanggupkah dia berpisah dengan anaknya?
Nabila keluar dan mengejar Nathan, saat itu Nathan telah memegang handle pintu mobil, Nabila langsung memeluk Nathan dari belakang.
"Jangan pergi, kak." Ucap Nabila sesegukan.
"Mari kita menikah." lanjut Nabila lagi.
Nathan hanya bergeming, dia masih menetralisirkan perasaannya yang campur aduk. Nathan membalikan badannya, memegang pundak Nabila dan menatapnya tajam.
"Kamu yakin? tidak akan berubah?" tanya Nathan. Nabila menganggukan kepala. Dia juga tidak mau berpisah dengan Nathan, sekalipun Nathan telah melakukan hal yang membuat Nabila sedih dan merasa terampas masa depannya, namun, tidak bisa dipungkiri bahwa Nabila mencintai Nathan, masih mimpi baginya telah memiliki Nathan dan Nathan begitu mencintainya. Mungkin Nathan melakukan semua itu karena Nathan sangat mencintainya, pemikiran tersebut membuat Nabila memahami Nathan.
__ADS_1
Nathan memeluk Nabila dengan posesif.
"Kalau begitu, mari kita menikah dan menjalankannya dengan bahagia." sahut Nathan. Dia membawa Nabila kembali masuk ke rumah.
Nayla yang melihat putranya memasuki rumah merasa lega, sepertinya hanya Nabila yang bisa melunakkan gunung es Nathan.
Mereka melanjutkan acara lamaran, sekalipun dengan kecanggungan, namun, semuanya berjalan lancar diputuskan pernikahan akan dilakukan seminggu sebelum Nathan berangkat ke Inggris, yang berarti mereka memiliki waktu tidak lebih dua minggu untuk mengurus surat menyurat yang diperlukan untuk menikah. Apalagi izin bagi Nabila yang masih berumur dibawah tujuh belas tahun.
πππ
Hari H yang ditunggupun tiba, pernikahan Nathan dan Nabila hanya dilakukan secara sederhana di rumah Nabila, hanya dihadiri oleh kedua orang tua Nabila, orang tua Nathan, Nadine yang pulang untuk menghadiri pernikahan adiknya serta Siska, satu - satunya sahabat yang diberitahu Nabila, karena menurut Nabila, Siska tidak akan pernah bercerita kepada siapapun.
Flash back on
Tiga hari setelah lamaran, Nabila menuju rumah Siska, dia ingin girl talk alias curhat dengan Siska. Diantara mereka berlima, Siska adalah tempat curhat yang asik selain berwibawa, Siska adalah pendengar sekaligus pemberi nasehat yang sangat bijak menurut mereka.
"Apakah hanya karena kak Nathan akan ke Inggris? kalian memutuskan menikah muda?" tanya Siska setelah Nabila menceritakan tentang pernikahannya dengan Nathan. Siska sedikit curiga jika telah terjadi sesuatu. Nabila memang tidak menceritakan aibnya kepada Siska, biarlah itu menjadi rahasianya dan Nathan. Ups author dan reader juga tau lochπ
"Loe taukan Nab, gak mudah menikah diusia loe yang masih Sekolah, kak Nathan okelah, dia telah lulus, tapi loe, Nab, loe bahkan belum tujuh belas." lanjut Siska, dia ingin mencoba membuka pikiran Nabila.
"Gue tau, Sis, ini gak akan mudah, tapi gue gak mau pisah dengan kak Nathan, kami telah membicarankannya, tidak akan berubah dalam kehidupan sehari - hari kami, yang berubah hanya status saja dan kami hanya akan seperti pacaran jarak jauh, dengan status menikah, yah seperti pacaran setelah nikah." kekeh Nabila diakhir kalimatnya.
"Tapi kenapa loe gak kasih tau yang lain juga?" kepo Siska.
"Yah, loekan tau sendiri sifat mereka, apalagi Maura dan Jenifer, paling gak bisa jaga rahasia, dan lagian gue takut semakin banyak yang tau, pihak Sekolah juga tau, terus bisa - bisa gue dikeluarkan dari Sekolah." Nabila bergidik ngeri membayangkannnya.
Flash Back off
Setelah penanda - tanganan buku pernikahan, akhirnya Nathan resmi menjadi suami Nabila, Nathan sangat senang melihat buku nikahnya. Ternyata rencananya tidak sia - sia.
Pernikahan benar - benar dilakukan sangat tertutup dan rahasia. Mereka bahkan tidak mengadakan syukuran pernikahan hanya jamuan kecil, dirumah Nabila. Sedangkan fotopun hanya diambil oleh Nadine yang memang suka fotography.
Selesai makan mereka ngobrol di ruang santai. Nabila masih mengenakan kebaya pernikahannya berwarna maroon dengan payet gliter, kebaya tersebut mewah dan elegan, begitu pas dikenakan oleh Nabila. Sementara Nathan menggunakan stelan dengan warna yang sama.
"Nabil, permisi dulu, mau ganti pakaian dengan baju nyaman." ucap Nabila, meninggalkan ruangan dan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Aku juga deh, Bil." ucap Nathan, menyusul Nabila ke kamar.
"Eh, kalian, ingat ya?" Melinda mengingatkan mereka, Nathan dan Nabila paham maksud Melinda.
"Tenang aja, tan." ucap Nathan mengedipkan mata kepada Melinda.
"Kok tan?" ucap Teguh, karena Nathan masih memanggil ibu mertuanya dengan panggilan tante.
"Oh iya, mi." Nathan meluruskan kembali ucapannya. Kemudian menyusul Nabila yang telah meninggalkannya.
Nathan membuka pintu kamar Nabila yang kebetulan tidak terkunci, Nabila yang sedang menanggalkan kebaya, menjadi kaget dan kembali menarik kebaya yang telah terbuka sampai pinggang keatas.
"Kakak, kenapa ikut naik? kesal Nabila.
πππ
Segitu dulu ya, udah ngantuk, dari tadi di gangguin bocil dengan pertanyaan - pertanyaan yang unfaedah, membuat kosentrasi author buyar.
Btw, yang baca udah 14K tapi yang jadikan Fav baru 200an, Cus yang belum Favoritekan dan Like, mainkan jarinya sayangπ
Tetap author ingatkan lagi
Jangan lupa yah kesayangan author
LIKE
VOTE
COMENT
FAVORITE
GIFT
Saranghaeyo ππ
__ADS_1
Gomawo
\= Lady_ MerMaD \=