
“Aku juga bilang sama Evan dan Cakra, bahwa aku akan berjuang mendapatkan Nabila, makanya aku tantang Evan main basket, dan minta dia menjauhi Nabila, mati – matian aku mencoba dekatin Nabila untuk menjelaskan padanya, tapi selalu ada saja halangannya.” Jelas Nathan berharap Cheryl percaya dengan apa yang diucapkannya.
“Jadi kakak benaran menyukai Nabila?” Cheryl memastikan lagi, agar dia tidak salah dengar.
“Benar, dan boleh kah, kamu membantu ku?” pinta Nathan penuh harap.
Cheryl berpikir sejenak.
“Baik, demi kebahagian Nabila, Cheryl akan bantu kakak, tapi kakak janji jangan sakiti Nabila ya.” Syarat dari Cheryl.
“Jika Nabila terluka, aku yang akan lebih terluka melihatnya.” Nathan meyakinkan Cheryl.
“Baiklah, aku akan bantu kakak, nanti sepulang dari makan ini, aku akan mencoba agar Nabila bisa kakak antar pulang, selanjutnya usaha kakak sendiri.” Putus Cheryl.
“Terima kasih, aku gak akan lupakan kebaikan kamu.” Ucap Nathan tulus.
Flash Back off
“Kalau gue gak mau, loe mau apa?” tantang Cakra.
“Semua tau kalau gue dan Nabila udah jadian, apa loe mau jadi selingkuhan Nabila?”
“Sampai kapanpun gue gak akan mau, Nabila hanya milik gue, loe tau saat gue bilang kalau gue suka Nabila dan berjuang untuk dapatin dia, jadi gue minta loe putus sama Nabila.” Geram Nathan.
“Kak, bang, udahlah, besok aja kita bahas, Nabila capek mau istirahat.” Potong Nabila.
“Benar bang, gue juga capek nih.” Rajuk Cheryl.
Dia capek karena sepanjang perjalanan pulang dari Beefhouse, dia dan Cakra bertengkar.
“Gue butuh penjelasan.” Ucap Cakra setelah agak tenang karena Nabila bilang dia capek.
“Besok Nabila akan jelaskan bang.” Putus Nabila, dia meninggalkan Nathan, Cakra dan Cheryl, Nabila masuk kedalam rumahnya. Dia benar – benar lelah dan merasa tidak enak badan, mungkin hujan – hujanan tadi membuat fisiknya jadi lemah, ditambah melihat Cakra yang seperti tidak terima dan merasa dipermainkan.
Setelah Nabila masuk rumah, Nathanpun menuju mobilnya, untuk pulang, namun tangannya ditahan oleh Cakra.
“Kita harus bicara.” Ucap Cakra memandang tajam Nathan.
“Bicara apa? Gue rasa semuanya sudah jelas.” Nathan menghempaskan tangan Cakra.
“Seperti yang pernah gue bilang, gue akan berjuang untuk dapatin Nabila.” Lanjut Nathan.
“Kenapa juga sih loe, harus sadar sekarang? Harusnya loe jadian aja dengan Laudya.”
“Gue dan Nabila saling menyukai dan Gue minta, loe, bisa menerimanya.” Nathan melembutkan nada bicaranya.
“Bang udahlah, kalau emang abang sayang sama Nabila, biar Nabila bahagia sama cowok yang dicintainya.” Cherylpun ikut membujuk Cakra.
“Gue, tetap akan berusaha membuat Nabila menyukai gue, loe, harus jaga dia baik – baik.” Putus Cakra.
“Lengah sedikit, gue, akan rebut Nabila. Ayo Cher” Cakra meninggalkan Nathan. Cheryl mengikutinya dari belakang dan mereka naik mobil.
__ADS_1
“Gue, pasti akan jaga Nabila dengan baik.” Teriak Nathan.
****
Nabila mengintip mereka dari kamarnya, dia sempat melihat Nathan dan Cakra masih berdebat dibawah. Nabila lega saat mobil Cakra meninggalkan rumah Nabila dan disusul oleh Nathan.
Nabila mandi air hangat agar tidak sakit setelah kehujanan, selesai mandi, dia mencoba tidur, namun tidak bisa, pikiran Nabila membayangkan apa yang harus dia katakan kepada Cakra besok, terus terang Nabila merasa bersalah, sekalipun dari awal dia telah bilang bahwa ini hanya pura – pura, tetap saja dia tidak bisa seenaknya kepada Cakra.
Lelah berfikir akhirnya Nabila tertidur juga, dia terbangun jam 7 pagi saat mami membangunkannya.
“Bil, kamu gak pa – pa sayang?” tanya mami, mengoyang – goyangkan bahu Nabila.
Mami merasa jika suhu tubuh Nabila panas, dia memegang kening Nabila.
“Ya ampun, Nabil, badan kamu panas nak, sepertinya kamu demam.” Khawatir mami, dia kemudian mengambil thermometer digital dan meletakkannya di kening Nabila, angka menunjukan 39°C.
“Mami.” Ucap Nabila saat membuka matanya.
“Jam berapa sekarang mi?”
“Jam 7.” Jawab mami.
“Bila, terlambat mi.” Nabila mencoba bangun, namun tiba – tiba kepalanya pusing.
“Kamu demam, sayang, tidak usah ke Sekolah, kita kedokter saja. Mami akan telepon Guru kamu.”
Mami menghubungi Sekolah dan memberitahukan bahwa Nabila tidak bisa masuk hari ini karena sakit.
****
Nathan memarkirkan motornya, dia datang dan menunggu Nabila, Cakrapun sampai dan hanya mengabaikan Nathan, biasanya Cakra selalu menegur Nathan, tapi tidak kali ini, sepertinya Cakra masih marah padanya.
Laudya datang dan melihat Nathan diparkiran.
“Nathan, ayo masuk.” Ajak Laudya, dia menarik tangan Nathan. Orang – orang yang melihat hanya tersenyum, ya mereka memang menyangka Nathan telah jadian dengan Laudya.
“Cie, yang baru jadian, kemana – mana ditungguin ya.”
Padahal Nathan nungguin Nabila, Laudya senang karena akan mempermudah usahanya mendekati Nathan, dia tidak mengetahui bahwa kesalah pahaman yang dia ciptakan telah selesai . Nathan telah mengakui perasaannya kepada Nabila.
“Duluan aja.” Balas Nathan datar, jengah juga dia dengan tingkah Laudya yang selalu berusaha mendekatinya.
“Bentar lagi bel bunyi loh.” Laudya tetap memaksa, agar Nathan menuju kelas dengannya.
Keberuntungan berpihak kepada Laudya, tidak lama bel tanda masuk berbunyi, mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya Nathan berjalan ke kelas, dengan Laudya menyamakan langkah dengannya.
Nathan berpikir kenapa Nabila belum datang? Atau Nabila datang lebih pagi lagi?
****
Jam istirahat pertama, Nathan langsung mencari Nabila, namun dia tidak menemukan Nabila karena memang Nathan tidak mengetahui dimana saja Nabila biasa nongkrong jika istirahat. Dia ingat memiliki nomor handphone Nabila, Nathan mencari dengan nama Nabila, namun tidak ditemukan, dia kemudian mencari dengan nama pengganggu, muncul. Nathan mengganti nama tersebut dengan My Lovely.
__ADS_1
Nathan menghubungi nomor Nabila, namun tidak diangkat, dia mengirim pesan via whatsapp.
- Dimana Bil? -
Tidak ada balasan bahkan belum dibaca. Nathan mengirim kembali.
- Bil -
- Pink –
- Pink –
Namun masih belum dibalas Nabila.
Pesan dibaca Nabila, namun tidak dibalas. Nathan kesal sendiri, kenapa Nabila mengabaikan pesannya. Apa Nabila berubah pikiran? Tidak itu tidak boleh, gue, gak akan biarkan, batin Nathan.
Nathan mengetik lagi, namun tidak jadi karena bel masuk telah berbunyi kembali. Dengan terpaksa Nathan memasukan handphone kembali ke loker. Dia melihat Cakra juga ada disana.
“Loe, lihat Nabila?” tanya Nathan.
Namun hanya diabaikan oleh Cakra.
“Gue, ngomong sama loe, Cak.” Bentak Nathan.
“Ngapain gue, harus kasih tau loe? Katanya loe udah jadian dengan Nabila?” pancing Cakra, dia sengaja membuat Nathan kesal.
Cakra tau kalau Nabila sakit karena Nabila mengirim pesan padanya, tadinya Nabila ingin bicara dan menjelaskan kejadian kemarin kepada Cakra, namun karena dia sakit, setelah sembuh, Nabila akan jelaskan.
“Cakra, gue, tanya baik – baik loh.”
“Bodo.” Cakra meninggalkan Nathan yang masih kesal.
🍒🍒🍒🍒
Mampir juga dikarya ku yang lain ya
Please
LIKE
VOTE
KOMENT
and
FAVORITEkan ya
Gomawo
__ADS_1
\= Lady_MerMaD \=