I Wanna You, My Cold Boy

I Wanna You, My Cold Boy
Operasi Cakra


__ADS_3

Candra dan Cyntia menunggu di luar ruang operasi. Mereka menunggu dengan cemas, Cyntia tidak berhenti menangis, dia takut terjadi apa-apa dengan putranya. Candra selalu memenangkan Cyntia.


Cukup lama operasi dilakukan membuat Candra dan Cyntia semakin khawatir. Candra memeluk Cyntia dengan erat. Akhirnya dokter keluar dan menemui Candra.


"Bagaimana, Dok?" cecar Candra, tanpa menunggu dokter memberitahu mereka.


"Syukurlah, operasinya lancar, kita masih harus menunggu lagi sampai pasien sadar dan melewati masa kritisnya. Bapak dan ibu berdo'a saja agar putra kalian bisa melewati masa kritisnya," terang Dokter.


"Syukurlah, terima kasih, Dok," ucap Cyntia dengan lega, setidaknya operasi Cakra berhasil. Tingga mereka menunggu Cakra melewati masa kritisnya.


"Sama-sama, Bu. Saya permisi, dulu," pamit Dokter. Tidak lama, Cakra telah di bawa oleh rombongan perawat menuju kamarnya.


Cyntia melihat kondisi putranya yang menyedihkan, membuat air matanya kembali menetes. Candra membekap sang istri, agar tenang. Mereka mengikuti perawat ke kamar rawat inap Cakra.


"Kita tunggu sampai pasien sadar, ya, Bu, Pak. Jika ada apa-apa, silahkan hubungi kami," terang perawat.


"Terima kasih," ucap Candra. Perawat meninggalkan kamar setelah itu.


Cyntia mendekat ke arah putranya, mengelus pipi Cakra, kemudian Cyntia melihat kaki kiri Cakra yang telah dioperasi dan diperban.


"Sayang, sebaiknya kamu pulang dan membersihkan diri, biar aku yang menjaga Cakra. Suruh sopir mengantarkan pakaianku," usul Cyntia.


"Apa kamu tidak apa-apa sendirian?" tanya Candra. Dia khawatir jika istrinya menjaga Cakra sendirian.


"Aku baik-baik saja, pergilah," usir Cyntia. Candra akhirnya menuruti perintah istrinya.


***


"Mil, tunggu!" panggil Danil setengah berlari mengejar Mila yang telah duluan berjalan.


"Kenapa?" tanya Mila, dia menghentikan langkah dan menghadap ke arah Danil.


"Memangnya, kamu tidak pulang sama aku?" heran Danil.


"Nggak pa-pa, sih, aku bisa naik ojek saja," balas Mila. Dia kembali melangkah.


"Sebaiknya, aku antar karena kamu perginya sama aku," kekeh Danil. Dia menyamakan posisi berjalan dengan Mila.


"Apa tidak merepotkan, ini sudah malam, mungkin saja kamu ingin beristirahat?" Mila segan jika harus merepotkan Danil. Danil pasti sangat sibuk.


"Tidak apa-apa," sahut Danil.


"Kalau begitu baiklah," Mereka menuju parkiran.

__ADS_1


Danil membawa ke luar mobil menuju jalan.


"Hujan," gerutu Mila.


Jika hujan deras seperti ini, bagaimana dia pulang? Mila ingat dia tidak membawa mantel di motornya.


"Sebaiknya aku antar pulang saja, katakan di mana alamatmu?" tawar Danil.


"Eh, tidak usah," segan Mila. Lagian akan sangat repot jika dia tidak membawa motornya.


Bagaimana dia berangkat kerja? Apa naik ojek saja besok, pulangnya langsung ke apartment Danil mengambil mobil? Dari pada kehujanan dan demam?


Mila menimbang-nimbang, apa yang sebaiknya dia lakukan.


"Tenang saja, dari pada kamu pulang hujan-hujanan dan sakit? terus kamu jadi tidak bisa bekerja," bujuk Danil.


"Kamu benar, terima kasih, mau mengantarkan aku pulang," ucap Mila.


Setelah mengatakan di mana dia tinggal. Danil melajukan mobil menuju rumah Mila. Sampai di depan rumah Mila.


"Apakah kamu mau singgah? Aku akan membuatkanmu teh hangat," tawar Mila.


"Tidak usah, lain kali saja," tolak Danil. "Eh, ini." Danil memberikan kepada Mila bungkusan makanan tadi yang mereka minta pelayan untuk membungkusnya.


***


"Cher, apa loe, tahu di mana handphone gue?" tanya Siska.


"Sebentar, gue carikan." Cheryl memeriksa laci meja dan menemukan tas di dalam sana.


Sepertinya ini tas Siska.


"Apa ini tas, loe?" tanya Cheryl kepada Siska.


"Benar," jawab Siska cepat.


"Ini," Cheryl memberikan tas tersebut kepada Siska. Siska langsung mencari ponselnya di dalam tas.


"Ada, tapi, baterainya habis," ucap Siska. Dia mencari charge di dalam tasnya. "Syukurlah, aku selalu membawa chargernya," ucap Siska lebih kepada diri sendiri.


"Biar, aku saja," tawar Cheryl saat dia libat Siska bergerak untuk mengisi daya ponselnya. Siska memberikan ponsel dan chargernya kepada Cheryl.


Seseorang mengetuk pintu kamar, Cheryl membukanya. Sopir masuk dan membawakan koper Cheryl.

__ADS_1


"Ini, Non," tunjuk sopir kepada Cheryl.


"Tarok di pojok sana aja," tunjuk Cheryl. Sopir kemudian memletakkan koper Cheryl di sana.


"Ada lagi, yang bisa saya bantu, Non?" tanya sopir ramah dan sopan.


"Nggak ada, terima kasih, ya, Mang," sahut Cheryl. Sopir keluar dari kamar Siska.


"Cher, apa nggak sebaiknya, loe, pulang dan beristirahat?" tawar Siska.


"Ntar nggak ada yang jaga, loe. Lagian, 'kan gue bisa istirahat di sini," jawab Cheryl. Dia mulai membuka kopernya dan mencari pakaian dan handuk serta perlengkapan mandi. Koper itu yang dia bawa dari luar negeri dan belum sempat dibawa pulang karena Cheryl langsung menuju rumah sakit.


"Gue, mandi dulu, ya," Cheryl langsung menuju kamar mandi. Tidak lama dia telah ke luar dengan pakaian baru dan merasa lebih segar.


Siska sebenarnya juga ingin membersihkan diri, tapi, dia merasa tidak nyaman jika harus meminta Cheryl melakukannya. Akhirnya Siska memutuskan untuk tidur saja, berharap besok dia semakin baik dan sudah bisa berjalan lagi.


Cheryl melihat ponselnya dan ada pesan masuk dari mamanya. Mamanya mengirimkan foto kondisi Cakra dan memberitahu bahwa operasi Cakra telah selesai. Sekarang mereka akan menunggu Cakra melewati masa kritisnya.


Setelah mendapatkan kabar dari mamanya. Cheryl melihat Siska yang telah mulai tidur. Cheryl memperhatikan keponakannya yang tertidur pulas. Cheryl mencubit pipi bocah itu dengan geram dan menciumnya.


"Selamat beristirahat, boy," cicit Cheryl. Dia pun mulai untuk memejamkan mata.


Keesokan paginya Siska telah merasa sedikit fix. Dia mencoba menggerakan kakinya secara perlahan. Siska merasa telah mampu bergerak, dia mencoba turun dari brangkar. Siska memijakan kakinya ke lantai. Dia merasa cukup bisa berdiri.


Siska memperhatikan Cheryl yang masih tertidur pulas. Siska tahu bahwa Cheryl tidak tidur nyenyak karena Atha harus minum susu dan sedikit rewel sehingga Cheryl harus menggendongnya. Sementara Siska tidak bisa berbuat apa-apa. Siska bertekad untuk segera pulih dan berharap ASInya segera keluar, agar dia dapat menyusui bayinya.


Siska mencoba berjalan dengan memegang brankar. Dia berjalan perlahan, perawat masuk dan melihat Siska yang tengah mencoba berjalan.


"Nona, sebaiknya anda jangan terlalu memaksakan diri, dulu. Kita harus meminta saran dokter," cegah perawat, dia memapah Siska kembali agar naik ke ranjang. "Apa anda membutuhkan sesuatu, saya akan membantu?" tanya perawat.


"Saya ingin mandi," balas Siska.


"Tunggu saya akan siapkan, sebaiknya dilap saja," usul perawat. Siska tidak bisa membantah, dia menuruti saran dari perawat. Setidaknya setelah dibersihkan Siska sedikit merasa lebih segar, dia mengambil parfum dalam tasnya dan memakianya. Entah kenapa, dia berharap saat Cakra datang setidaknya dia tidak terlalu kusut dan bau obat.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya besties, buat yang masih punya VOTE, berikan kepada Siska dan Cakra.


Pekanbaru


271222


07.18

__ADS_1


__ADS_2