
“Ada yang ingin aku sampaikan.” Ucap Nathan.
Namun tiba – tiba senter mengarah ke mereka. Nabila refleks melepaskan diri dari pelukan Nathan.
“Nathan, Nabila.” Teriak Cakra dan Cheryl.
Mereka mengkhawatirkan Nabila dan Nathan karena listrik mati.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Cakra cemburu melihat Nathan memeluk Nabila.
“Nabila takut gelap bang.” Beritahu Cheryl, agar Cakra tidak salah menilai Nabila.
“Owh.” Jawab Cakra walaupun dia tetap cemburu melihat kejadian tersebut. Cakra menatap tajam Nathan. Namun Nathan tidak merasa terintiminasi dengan tatapan tidak suka Cakra.
“Nab, mang Udin udah datang.” Cheryl memberikan tas Nabila. Nabila menerimanya dan memasukan buku Akuntansi kedalam tasnya.
Mereka menuju parkiran.
“Gue duluan yan Cher, Nabila pamit kak, bang.” Ucap Nabila, masuk ke mobil.
Cakra berjalan mengambil motornya.
“Yuks Cher.” Ajak Cakra.
Mereka meninggalkan Nathan sendirian, kenapa susah sekali sih bicara dengan Nabila, batin Nathan, gusar dia mengacak – acak rambutnya frustasi.
*****
Pelajaran olah raga kelas Nathan dan Evan, sesuai rencana Nathan akan menantang Evan bertadanding basket.
“Hari ini kita akan berlatih sepak bola.” Ucap Guru olah raga.
“Bagaimana jika basket saja pak.” Tawar Evan. Agar rencana pertandingannya dengan Nathan bisa dilaksanakan.
“Itu sih enak di kamu Van, kamu kan pemain Basket.” Ucap Guru olah raga kurang setuju.
“Yang lain bagaimana?” tanya Pak Guru lagi.
“Setuju pak.” Jawab yang lain.
“Kelas saya akan bertanding pak dengan kelas Nathan.” Ucap Evan lagi.
“Tentu tidak seimbang Evan, kelas kamu ada 3 tim basket.” Ujar pak Guru tidak setuju.
“Tim basket juga ada pak di kelas Nathan 3 orang.” Ucap Ferry.
“Kalau begitu baiklah, berikan nama –nama yang akan ikut.” Putus Pak Guru.
Setelah nama – nama pemain didapatkan mereka menuju lapangan basket yang ada di aula. Adanya pertandingan Basket yang diadakan kelas Evan dan Nathan, langsung diketahui kelas lain.
Terutama para siswa wanita fans Evan maupun fans baru Nathan. Mereka berbondong – bondong untuk melihat pertandingan tersebut.
__ADS_1
Di radio Sekolah pun diinformasikan pertandingan tersebut. Semua siswa dan guru melihat pertandingan tersebut. Mereka mengosongkan jadwal belajar, agar siswa bisa melihat pertandingan tersebut.
“Gila, kak Evan dan kak Nathan akan bertanding basket.” Info Maura.
“Hah, emang kak Nathan bisa main basket?” tanya Siska.
“Gak tau juga?” jawab Maura.
“Jika dipikir – pikir, kok kak Evan dan kak Nathan sering duel ya?” heran Cheryl.
“Terus kalau dipikir – pikir lagi, gue ngerasa kok kak Nathan gak ada takut – takutnya sama kak Evan, sekarang gue baru tau ternyata dia berada di dunia yang berbeda dengan selama ini kita kira.” Jelas Jenifer.
“Benar.” Ucap Nabila sedih, dunianya dan Nathan sangat jauh berbeda sekarang.
“Yuk lihat, gue penasaran juga.” Ajak Siska.
Mereka menuju lapangan basket.
Tim Evan dan Nathan telah bersiap – siap untuk bertanding, mereka melakukan pemanasan. Nabila dan sahabat –sahabatnya mengambil posisi paling depan untuk menyaksikan pertandingan, sekilas pandangan Nabila dan Nathan bertemu, Nathan tersenyum kepada Nabila, Nabila ingin membalas senyum Nathan, namun ternyata dibelakang Nabila ada Laudya. Nabila urung membalas senyuman tersebut karena merasa itu bukan untuknya melainkan Laudya.
Nathan kecewa karena Nabila tidak tersenyum kepadanya. Wasit meniupkan peluit agar kedua tim bersiap – siap. Pertandingan dimulai, Nathan mengerahkan kekuatannya untuk menang melawan Evan.
Banyak yang tidak mengetahui jika Nathan adalah tim basket Sekolah saat SMP, namun di SMA dia tidak ikut lagi karena ingin tenang.
Mereka bertanding, para gadis berteriak memanggil nama Evan dan Nathan. Nabila ingin menyemangati Nathan, namun diurungkannya. Awal pertandingan tim Evan mencetak angka yang cukup tinggi, membuat Nathan harus extra keras mengejarnya, namun di menit terakhir tim Nathan bisa mengalahkan Evan.
Selesai wasit meniupkan peluit tanda waktu habis. Evan kesal karena dikalahkan Nathan. Nathan menghampiri Evan.
“Sesuai kesepakatan, jauhi Nabila, dia milik gue.” Ucap Nathan dengan tegas, dia kemudian meninggalkan lapangan untuk berganti baju.
Laudya langsung menghampiri Nathan dan mengikuti Nathan, dia membuat seolah – olah dia dan Nathan memiliki hubungan.
Para fans Nathan bertanya – tanya apakah gadis yang dimaksud Nathan adalah Laudya karena mereka sering melihat Nathan bersama Laudya.
“Apakah kak Laudya, gadis yang disukai kak Nathan?” tanya gadis bernama Rika.
“Sepertinya iya.” Jawab Reni
“Apakah sekarang mereka telah jadian?” tanya Rika lagi.
“Kalau dilihat – lihat, mereka seperti baru jadian.” Balas Rani.
“Kasihan Nabila ya?” cintanya bertepuk sebelah tangan.” Lanjut Reni
“Iya, percuma populer dan cantik, tetap aja gak menjamin dapat cowok yang disukai.” Sarkas Rani.
Para gadis tersebut masih terus bergosip tentang Nabila, Nathan, Evan dan Laudya, tanpa menghiraukan perasaan Nabila yang mendengar cerita mereka. Entah mereka sengaja atau tidak hanya mereka yang tau. Dan Author.
“Loe gak pa – pa kan Nab.” Tanya Cheryl, dia geram dengan cerita gadis – gadis di belakang mereka yang bergossip namun tidak lihat tempat dan kondisi.
Belum lagi Cheryl merasa Nabila akhir – akhir ini sangat pendiam.
__ADS_1
“Iya, gue gak pa – pa.” Balas Nabila, memaksakan senyum kepada Cheryl.
“Yuks, balik kelas.” Ajak Siska, agar mereka tidak mendengar lagi para gadis tersebut bergossip.
Mereka meninggalkan aula.
“Duluan aja ke kelas, gue mau ke toilet dulu.” Pamit Nabila.
*****
“Gue gak nyangka ternyata loe bisa main basket juga Nath.” Ucap Laudya mengikuti Nathan.
Nathan hanya diam saja, perasaannya masih kalut karena melihat Nabila yang masih bersedih. Nathan masih mencari cara bagaimana bicara dengan Nabila dan membuat Nabila menjadi pacarnya.
“Evan sampai gak berkutik tu, pasti dia malu banget loe kalahin.” Lanjut Laudya.
“Loe bisa diam gak?” akhirnya Nathan merespon ucapan Laudya.
Dia mulai jengah dengan Laudya yang selalu membuntutinya, jika dulu itu dilakukan Laudya, mungkin Nathan adalah orang yang paling bahagia, tapi sekarang, tidak lagi, karena perasaan Nathan telah berubah.
“Kok loe gitu sih Nath, dulu loe gak kayak gini, apa karena loe anak dari tuan Nino pemilik NFL?” ucap Laudya, dia tau pasti Nathan tidak akan suka jika disangkut pautkan dengan keluarganya.
“Bukan gitu.” Nathan memelankan suaranya, dia mulai berkata lembut.
“Loe jadi sombong, loe bukan Nathan seperti yang gue kenal.” Ucap Laudya dengan sedih dan mulai mengeluarkan air mata buayanya.
Nathan menjadi tidak tega, dia kemudian mencoba mengangkat wajah Laudya yang mulai basah dengan air mata palsunya.
“Maaf, gue gak bermaksud begitu.”
Laudya kemudian memeluk Nathan, Nabila melihat kejadian itu, tatapannya beradu dengan Nathan yang kaget dengan kedatangan Nabila. Nathan segera melepaskan pelukan Laudya.
Cakra yang baru datang juga melihat kejadian tersebut. Nabila membalikan badannya dan pergi dari sana.
♥️♥️♥️♥️♥️
Akuh mau promosi karya pertama ku ya, udah tamat kok, silahkan baca sembari nunggu yang ini update.
Please
LIKE
VOTE
KOMENT
and
FAVORITEkan ya.
__ADS_1
Gomawo
\= Lady_MerMaD \=