
"Siska!" teriak pemilik rumah. Siska kaget, dia diam saja dengan tubuh bergetar karena takut diusir pemilik rumah.
"Siska ... buka pintunya, saya tahu kalian ada di rumah ... saya hanya mau mengambil uang kontrakan," ulang pemilik rumah lagi. Dia kesal karena Siska maupun Widia tidak menghiraukan panggilannya.
Siska hanya berdiri mematung, dia memasukan kembali surat keterangan nikahnya.
Apa yang harus dia lakukan?
Siska mencoba mengambil dompetnya, siapa tahu dia sempat mengambil uang tunai. Siska harus menelan kecewa karena di dompetnya hanya ada uang seratus ribu rupiah.
"Siska ... jika kau tidak membuka pintu ... aku akan menyuruh seseorang mendobraknya," ancam pemilik rumah. Siska berjalan keluar dan membuka pintu.
"Maaf, Bu, bisakah beri waktu kami lagi?" mohon Siska.
"Tidak, bukankah hampir dua tahun ini kalian selalu saja telat membayar sewa. Kesabaran saya telah habis. Silahkan keluar dari rumah ini," usir pemilik rumah.
"Ibu, saya mohon, atau Ibu bisa ambil barang belanjaan ini." Siska mengambil paper bag dan memberikannya kepada pemilik rumah.
"Saya tidak butuh ini, saya butuh uang sewanya." Pemilik menyerahkan kembali paper bag tersebut kepada Siska.
"Barang-barang ini, bahkan lebih mahal dari harga sewa kontrakan, Bu ... tolong izinkan kami membayar dengan barang-barang itu," mohon Siska lagi.
"Kalian gila ya? Membeli barang ini sanggup, membayar sewa selalu telat ... dasar tidak tahu diri. Kalian pikir saya bodoh?" murka pemilik rumah lagi.
"Kami tidak bermaksud seperti itu, Bu ... percayalah saya akan bayar ... sekarang semua uang telah di belanjakan mama saya. Saya janji kami akan segera membayarnya." Siska memohon lagi. Berharap pemilik rumah mau memberi toleransi kepada mereka.
"Saya tidak percaya lagi dengan janji kamu ... saya minta kalian keluar dari sini, SEKARANG!," teriak pemilik rumah, dia membuang kantong belanjaan Siska keluar.
__ADS_1
"Ibu, tolonglah," bujuk Siska lagi.
"Saya bilang keluar ya keluar. Saya akan kasih kalian waktu untuk berkemas satu jam." Pemilik duduk di kursi teras.
Siska tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia sangat tertekan.
"Mama ... tolong Siska," pinta Siska di pintu kamar Widia.
"Siska!" Widia membuka pintu dan memeluk putrinya yang sedang kacau. Wajah Siska berantakan. Air mata mengalir dari pipinya.
"Kita harus pergi dari rumah ini, Ma," ujar Siska, mengusap air matanya, sekalipun dia tidak tahu harus kemana?
"Apa? Kenapa?" tanya Widia bingung.
"Kita tidak bisa membayar sewanya, Ma." Siska terduduk lemas lagi di lantai. Widia sadar kembali, dia sadar jika mereka bukan orang kaya lagi.
"Maafkan, Mama, Sayang ... percayalah kita akan baik-baik saja." Widia memeluk Siska untuk menenangkannya.
"Ini sudah lebih dari satu jam!" hardik pemilik rumah lagi.
"Iya, Bu, sebentar." Ucap Siska lagi.
Hari telah senja, langit mulai gelap, mendungpun menyelimuti langit. Siska memasukan barang-barang yang dibeli Widia ke dalam tasnya.
"Mama, apakah sudah selesai?" tanya Siska. Siska tidak mendengar bahwa handphonenya berbunyi.
"Sebentar, sedikit lagi," jawab Widia.
__ADS_1
"Siska bantu, ya." Siska ke dalam kamar mamanya. Membantu Widia berkemas. Siska meletakan tas di motornya. Menyusun sedemikian rupa agar bisa memuat barang-barang mereka yang lainnya.
"Ini kunci, rumahnya, Bu." Siska menyerahkan kunci rumah kepada pemilik.
"Kalian tidak menyimpan duplikatnyakan?" tuduh pemilik rumah dengan curiga.
"Tidak, Bu. Kami tidak akan melakukan hal itu." Balas Siska, tidak pernah dia berniat seperti itu.
***
Cakra merasa tidak enak dari semalam. Badannya merasa lemas, Cakra sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya.
Cakra ingin melakukan sidak kepada house keeper. Melihat kinerja mereka secara langsung. Cakra meminta menager untuk mengumpulkan para house keeper.
Cakra ingin mengetahui bagaimana pendapat para House keeper untuk kelanjutan hotel ini siapa tahu dari pendapat mereka ada yang bagus atau mereka memiliki ide, apa yang harus dilakukan agar hotel semakin maju.
Cakra melihat para house keeper. Namun, tidak menemukan Siska. Cakra tidak bisa bertanya langsung kepada manajer ataupun supervisor kemana keberadaan Siska, karena itu pasti akan membuat mereka bertanya-tanya.
Setelah berdiskusi dengan para house keeper, Cakra mengajak manager untuk mengobrol di ruangan manager.
πππ
Kasihan nasib Siskaπ
Bab selanjutnya akan lebih tragis ya.
Pekanbaru
__ADS_1
071222
17.22