
Cakra menuju kantor. Sekalipun telat, lebih baik tetap masuk daripada diomelin papanya.
Cakra baru satu tahun belajar mengelola bisnis dengan papa sebagai mentornya. Setelah lulus kuliah Cakra memang langsung terjun ke bisnis keluarga karena memang dia dipersiapkan untuk meneruskan usaha keluarga.
Bisnis keluargannya bervariasi dari property, hotel dan show room penjualan mobil. Cakra menuju parkiran dan melajukan mobil dengan sedikit kencang. Dia tidak punya waktu untuk berlambat.
Sepanjang perjalanan Cakra masih memikirkan kejadian semalam, dia merasa seperti bermimpi bertemu Nabila dan bersama Nabila, wanita yang dia cintai. Tapi Cakra ingat kembali tidak mungkin dia bersama Nabila, lalu siapa gadis itu? Atau itu hanya mimpi karena dia kecewa. Namun, mimpi erotis tersebut seperti nyata dan Cakra menikmatinya.
Cakra masih mencoba memikirkan siapa gadis itu? Apakah aku melakukan hal tidak pantas kepada gadis itu? Dalam pikiran Cakra dia bermimpi melakukan hubungan suami istri dengan Nabila, mimpi erotis. Mimpi tersebut terasa nyata. Tapi tidak mungkin dia bersama Nabila, bisa dibunuh dia oleh Nathan, calon suami Nabila. Cakra tahu Nathan sangat posesif dan mencintai Nabila, jadi tidak akan mungkin Nathan membiarkan Nabila bersama Cakra karena Nathan tahu bahwa Cakra menyukai Nabila.
Lalu bersama siapa? Cakra mengerem mobil mendadak karena ingat sesuatu. Cakra yakin telah terjadi sesuatu. Cakra ingat gadis itu mengenalnya dan memanggilnya 'abang', artinya gadis yang dalam mimpinya adalah orang yang dikenal Cakra.
"Tapi sepertinya itu hanya mimpi, tidak usah dipikirkan" gerutu Cakra.
Dia kembali melajukan mobil menuju ke perusahaan. Mencoba melupakan kejadian aneh yang menimpanya. Papa telah menunggu Cakra.
Pria berusia dua puluh tiga tahun itu memasuki ruangan ayahnya, tadi asisten papa Cakra menghubungi Cakra. Bertanya kenapa Cakra belum di kantor. Ayahnya menyuruh Cakra segera ke ruangannya, jika telah di kantor. Tidak biasanya asisten papa menghubunginya jika bukan hal penting.
"Pa!" panggil Cakra, mengintip ruangan papanya.
Ayah Cakra sedang berbicara dengan seseorang melalui handphone. Dia memberi kode Cakra agar masuk. Cakra melangkahkan kaki memasuki ruangan papanya. Menunggu ayahnya selesai dengan orang tersebut. Cakra duduk di sofa.
__ADS_1
"Cak, kamu akan papa tempatkan sebagai CEO di I-shine hotel," ucap papa Cakra, Candra Pragya, begitu dia menutup telepon.
"Emang udah diaquisisi hotelnya, Pa?" Cakra memang telah mengetahui bahwa keluarganya berencana membeli hotel tersebut, namun tidak secepat ini.
"Sudah, karena pemilik lama, tidak sanggup lagi mengelolanya," beber Candra. Dia melangkah menuju sofa dan duduk di hadapan putranya.
"Apa hotelnya sepi?" tebak Cakra.
"Dilihat dari daftar pengunjung, hotel tersebut masih memiliki pelanggan setia, tapi tidak banyak lagi. Kamu tahukan? Seperti yang pernah papa jelaskan, bagaimana kondisi hotel tersebut?"
"Ya, aku ingat, Pa," aku Cakra.
"Tugasmu untuk menjadikannya kembali menghasilkan pundi-pundi rupiah. Management harus dibenahi" tambah Candra.
"Kita masih harus menunggu, setidaknya satu bulan untuk serah terima," jelas Candra lagi.
"Bagaimana dengan karyawannya, Pa?" Cakra sengaja bertanya agar dia tidak salah mengambil langkah nantinya.
"Untuk karyawan, Papa serahkan padamu, jika masih layak dipertahankan, silahkan dilanjutkan, namun jika tidak selesaikan," titah Candra.
Cakra mengerti dengan maksud ayahnya. Itu artinya PR bagi Cakra untuk melihat karyawan yang yang benar-benar berpotensi. Cakra berencana akan terjun langsung menilai kinerja mereka.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak pulang ke rumah dan terlambat ke kantor?" Pertanyaan yang dari tadi dihindari Cakra, akhirnya ditanyakan juga oleh ayahnya.
"Aku ada acara bersama teman, Pa. Maklum anak muda." Cengir Cakra. Bagaimanapun, dia tidak mau membuat orang tuanya khawatir. Apa lagi jika sampai papanya tahu, dia mabuk karena wanita. Bisa dianggap masih labil Cakra.
"Nginap di mana?"
"I-shine," balas Cakra.
"Ingat, kamu calon penerus perusahaan keluarga, jangan melakukan hal-hal yang dapat mempermalukan keluarga," anjur Candra.
"Papa tenang aja," dalih Cakra mantap.
Cakra memang melupakan kejadian semalam karena dia berpikir itu hanya mimpi.
🍒🍒🍒
Jangan pelit nyawer ya🤭
Pekanbaru,
021222
__ADS_1
08.44