I Wanna You, My Cold Boy

I Wanna You, My Cold Boy
Saran Besties


__ADS_3

"Bagaimana jika loe, coba menarik perhatian Abang?" saran Cheryl. Seingatnya dulu Cakra sedikit bertingkah aneh sejak kejadian pesta ulang tahun Nathan.


"Tidak segampang itu. Gue pernah membicarakan ini dengan Abang, Loe. Jika memang gue, masih punya harapan buat gantiin posisi Nabila, maka gue akan berjuang. Hanya saja Abang loe, tidak bisa menjanjikan apa-apa. Belum saat dia mengajak menikah, dia juga mengatakan. Jika saatnya dia bertemu seseorang yang membuatnya jatuh cinta, maka gue harus rela melepaskannya." Siska menahan air mata yang akan kembali keluar.


"Apa!" serentak semuanya.


"Dasar, Abang biadab. Sepertinya nggak cukup gue menghajarnya tadi," umpat Cheryl. Dia mengepalkan tinju dengan geram.


"Mungkin saja sekarang, bang Cakra telah berubah, Sis," bela Nabila. Meskipun dia tidak yakin karena terkahir bertemu, dia melihat Cakra tetap belum memperhatikan Siska. Padahal saat itu Siska sedang hamil anaknya.


"Sebaiknya tidak usah membahas ini dulu, saran gue, loe, fokus dengan kesembuhan dan bayi, loe, dulu, deh, Sis." Maura menengahinya.


"Kalian benar," ucap Siska.


Mereka membicarakan tentang kuliah masing-masing.


"Jadi, loe, udah wisuda, Sis?" kaget Jenifer saat Siska bilang dia udah wisuda dan sekarang dia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Danil.


"Kak Danil, yang sekelas dengan bang Cakra dan kak Nathan?" ujat Nabila memastikan.


"Iya," jawab Siska.


"Kak Danil, 'kan naksir loe, Sis," lanjut Nabila.


"Sok tahu," elak Siska. Mana mungkin Danil naksir dia. Meskipun Cakra juga pernah mengatakannya.


"Eh, benaran loh, gue dapat cerita dari suami gue, jadi Kak Danil terang-terangan bilang naksir loe, tapi bang Cakra bilang loe, pacarnya dia. Makanya Kak Danil batal dekatin, loe," terang Nabila.


"Apa maksud bang Cakra, ya, ngomong gitu ke kak Danil? Apa doi cemburu?" heran Maura. Dia meletakan jari di dagu tanda berpikir.


"Iya, juga, ya? Atau gimana kalau loe, rayu aja kak Danil, Sis, buat mancing, agar bang Cakra memperlihatkan sifat aslinya. Siapa tahu dia benaran suka sam loe, tapi masih bingung dengan perasaannya sendiri. Cowok, 'kan emang gitu, suka tantangan," usul Jenifer.


"Sebenarnya--," Siska meceritakan kejadian saat pertama kali Cakra mengetahui bahwa tempat bekerja Siska adalah perusahaan Danil.


Setelah bertengkar dengan Cakra di parkiran dan kecewa karena Cakra tidak memberikepastian kemana arah hubungan mereka. Siska kembali ke kantor dengan kesal.


Cakra tidak mau bercerai, tapi juga tidak ingin Siska berjuang untuk mendapatkan cintanya.


"Dasar laki-laki aneh," gerutu Siska. Melampiaskan kekesalannya.

__ADS_1


"Siapa yang aneh?" tanya Danil dari belakang Siska.


"Pak Danil!" seru Siska. Dia terkejut karena Danil telah berada di belakangnya dan mendengar umpatannya.


"Cakra, ya? Wajar, itu karena dia suka sama kamu, Sis? Apalagi kamu udah jadi istrinya," jujur Danil.


"Bapak, sok tahu, bang Cakra, brlum move on dengan cewek idamannya," elak Siska.


"Kalau begitu kenapa kalian menikah? Apa karena bayi itu?" tunjuk Danil ke perut Siska. Refleks Siska menarik balazernya agar menutupi perutnya. Danil dapat mengerti, tanpa Siska memberitahunya pun.


"Aku akan bantu kamu, aku tahu, Cakra pasti suka sama kamu. Hanya pria yang mengerti," sahut Danil misterius.


"Maksud, Bapak?" Siska semakin bingung dengan perkataan Danil.


"Kamu tenang saja, aku akan membuat Cakra cemburu. Agar dia segera menyadari perasaannya," lanjut Danil. "Jangan sampai, dia terlambat menyadarinya dan terlanjut membuat kamu terluka," tambah Danil.


"Tuh, 'kan apa gue bilang," ujar Jenifer begitu, Siska menyelesaikan ceritanya.


"Jadi, loe, masih ada harapan menurut gue, Sis," ujar Nabila.


"Benar, kita akan bantu, loe, buat berjuang, kalau Abang nggak ngerti juga, gue bawa loe, kabur dari hidupnya," tekad Cheryl.


"Ya, biar dia cepat sadar,"


Semua tertawa Siska merasa bebannya sedikit berkurang. Dia harus fokus dengan kesehatan dan bayinya dulu. Setidaknya Siska masih punya sahabat-sahabat yang peduli dan sayang sama dia.


Mereka kembali mengantarkan Siska ke kamarnya. Maura dan Jenifer ingin menyapa mama Cheryl


"Oh, kalian di telah kembali, Mama pikir kalian kemana?" tanya Cyntia begitu Siska dan Cheryl masuk kamar rawat Siska.


"Tante!" seru Maura dan Jenifer. Cyntia baru menyadari jika ada mereka juga.


"Tante, nggak lihat kalian, dari mana saja?" tanya Cyntia.


"Dari kamar Nabila, Tan. Nabila juga baru melahirkan," jawab Maura.


"Nanti, Tante lihat Nabila. Cher kaju brlum makan, itu mama brlikan nasi padang," tunjuk Cyntia kepada box makanan yang ada di atas meja samping Siska.


Mereka meminta perawat pria untuk memindahkan Siska kembali ke brangkar. Perawat bayipun datang dan memandikan Atha. Setelah itu memberi susu botol kepada bayi itu. Siska sedih karena belum bisa memberika. Asi kepada bayinya. Namun dia meminta agar perawat meletakan si bayi di pangkuannya dan Siska yang memberikan susu kepadanya. Siska merasa sudah cukup bertenanga.

__ADS_1


Cheryl memakan nasi Padangnya dengan lahap, dia benar-benar sangat lapar. Apalagi habis menghajar Cakra, itu sangat mebguras tenaganya.


Pintu diketuk oleh seseorang, Jenifer membukanya.


"Kak Danil?" panggil Jenifer. Saat melihat Danil bersama seorang gadis sepertinya lebih muda dari mereka karena berpenampilan imut. "Ayo, masuk," ajak Jenifer.


"Panjang umur. Baru juga diomongin," ejek Maura.


"Apa?" heran Danil.


"Eh, nggak pa-pa, kok, kak," elak Maura.


"Mila!" panggil Siska kepada Mila. Mila sedikit rendah diri melihat orang-orang yang ada di dalam sana. Mila tahu mereka pasti orang-orang kaya. Siska memberi kode agar Mila mendekat padanya.


"Ponsel, loe, nggak aktif, setelah kejadian itu. Untung gue bertemu Danil dan mengajak ke sini," terang Mila. "Loe, nggak pa-pa, 'kan, Sis?" Mila melirik ke bayi di pangkuan Siska. "Mirip pak Cakra banget," jujurnya.


"Mil, kenalkan, sahabat-sahabat gue dari SMA dan mertua gue," ujar Siska. Mila ingat wanita paruh baya itu adalah ibunya Cakra. Mila menyalami mereka satu persatu dengan sopan. Saat giliran Cheryl, Cheryl meminta maaf tidak bisa bersalaman karena sedsng makan.


"Yang lagi makan itu, adik ipar sekaligus sahabat gue," terang Siska lagi. Berarti adiknya CEO mereka.


"Besties, Mila, ini sahabat gue, selama bekerja sebagai house keeper di I-shine," lanjut Siska.


"Mil, benar Siska pernah kerja sebagai house keeper? Emang dia bisa membersihkan kamar?" sindir Jenifer.


"Iya, yang ada tuan putri, biasanya bikin berantakan," tawa Maura mengejek.


"Benar, loh. Malahan Siska selalu menjadi pegawai teladan," bela Mila.


"Hebat, loe, Sis, nggak otak aja yang encer, di semua bidang loe, bisa," puji Cheryl. Dia telah selesai makan dan membuang bungkusnya ke dalam tong sampah.


Seseorang masuk ke dalam kamar Siska dengan tergesa-gesa.


πŸ’πŸ’πŸ’


Jangan lupa nyawer ya besties🀭


Pekanbaru


241222

__ADS_1


18.25


__ADS_2