I Wanna You, My Cold Boy

I Wanna You, My Cold Boy
Bertemu Camer


__ADS_3

“Sayang makan dulu, habis itu minum obatnya.” Bujuk Melinda, mami Nabila.


“Iya mi.” walaupun rasa makanan tidak enak dilidah Nabila namun dia tetap memaksakannya.


Hasil pemeriksaan dokter tadi Nabila tidak apa – apa hanya kecapekan dan butuh istirahat, tidak jauh beda dari hasil pemeriksaan pertama. Hanya saja Melinda tetap memaksa Nabila untuk diperiksa lagi karena dia khawatir, dengan demam dan muntah – muntah yang dialami Nabila tidak juga turun atau berkurang. Melinda menyita handphone Nabila, agar anaknya benar – benar istirahat.


Selesai makan dan meminum obatnya Nabila memohon kepada maminya, agar mengembalikan handphonenya. Dia ingin tau apakah Nathan mencarinya atau menghubunginya?


“Mi, Nabila pinjam handphone dunk.” Bujuk Nabila kepada maminya.


“Udahlah sayang, kamu istirahat saja dulu.” Membereskan bekas makan Nabila.


“Bentar aja mi, ada yang ingin Nabila cek aja, lagian Nabila rasanya udah mulai sembuh deh.” Rajuk Nabila.


“Sembuh darimana, wong tadi kamu muntah lagi.” Jelas Melinda, membenarkan bantal Nabila.


“Tadi karena habis dari mobil aja mi, makanya mual.” Elak Nabila lagi, berharap maminya mengabulkan keinginannya.


“Ya udah, tapi sebentar aja ya.” Melinda mengambil hanphone Nabila dan menyerahkannya.


“Mami, bawa piring makan ke dapur dulu, jangan lama – lama main handphonenya, nanti mami kembali lagi buat ambil handphone kamu.” Melinda keluar kamar Nabila dan membawa piring bekas makan Nabila.


Nabila menghidupkan handphonenya, baru sebentar dia meliaht handphone, eh ternyata baterai handphonenya habis. Nabila menchargenya. Sembari menunggu handphone diisi, obat yang diminum Nabila bereaksi dan membuat Nabila tertidur.


****


Minggu pagi, aktivitas Nathan setiap pagi adalah berolah raga lari, biasanya hanya keliling pekarangan rumah, namun kali ini Nathan mengambil motornya, dia akan lari pagi di taman dekat rumah Nabila. Siapa tau dia bisa berjumpa Nabila.


Begitu sampai, Nathan memarkir motornya tidak jauh dari rumah Nabila, kemudian berlari ditaman sekitar 30 menit. Nathan istirahat sebentar menghilangkan capek, sambil memperhatikan sekeliling, siapa tau Nabila juga ikut lari pagi.


Namun yang diharapkan tidak kunjung muncul, Nathan kemudian berjalan menuju rumah Nabila, dia akan mencoba berkunjung, jam menunjukan pukul 8.30 pagi. Nathan membunyikan bel, pintu pagar di buka mang Udin. Namun belum mempersilahkan Nathan untuk masuk.


Rumah Nabila tipe minimalis sederhana, tidak terlalu besar namun sangat nyaman dengan 2 lantai. Lantai dua terdiri dari 2 kamar, satu kamar ditempati Nabila, satu lagi untuk tamu yang menginap baik dari keluarga mami maupun papinya yang berkunjung, satu ruang santai, biasanya digunakan Nabila dan sahabat – sahabatnya saat mereka berkumpul dan bercerita alias ghibah, di lantai dua juga terdapat kebun kaca minimalis. Lantai satu terdiri dari 2 kamar, satu kamar utama ditempati orang tua Nabila, sedangkan satu lagi ditempati mang Udin beserta istrinya, 1 ruang tamu, 1 ruangan nonton atau ruang keluarga, serta dapur.


“Pagi, nyari siapa mas?” tanya mang Udin ramah.


“Saya temannya Nabila, mang, Nabilanya ada?” jawab Nathan tak kalah ramah.


“Ada, sebentar ya mas, saya tanyakan dulu.” Mang Udin menutup pagar lagi dan masuk ke rumah.


“Siapa yang datang pagi – pagi begini mang?” tanya papi Nabila, Teguh yang keluar dari kamar.


“Itu pak, ada temannya neng Nabila, di depan, Cuma mamang belum suruh masuk karena neng Nabila kan lagi sakit, bisa gak neng Nabila terima tamu.” Jawab mang Udin.


“Temannya cewek apa cowok mang?” tanya Teguh lagi.


“Cowok, pak, Cuma belum pernah kesini.” Balas mang Udin lagi.


Papi Nabila penasaran dengan tamu pria, yang mengaku teman Nabila, karena biasanya yang bertamu hanya Cakra, itupun selalu dengan Cheryl.


“Coba saya cek dulu mang.” Papi Nabila keluar dan membuka pagar. Mang Udin mengikuti dari belakang.


“Selamat pagi.” Salam papi Nabila kepada Nathan.

__ADS_1


Nathan yang membelakangi pagar, langsung membalikan badan.


“Pagi, pak.” Balas Nathan, dia melihat laki – laki paruh baya, sepertinya ayah Nabila, pikir Nathan.


“Nathan?” panggil papi Nabila dengan ragu, dia ingat pernah melihat wajah Nathan di foto yang berada di ruangan Nino.


“Eh, iya, om.” Jawab Nathan salah tingkah karena papi Nabila, mengetahui namanya, Nathan jadi tersanjung, apakah Nabila menceritakan tentang dirinya kepada papinya?


“Benar, Nathan, anaknya Pak Nino?” tanya Teguh lagi


.


“Benar, om, kok om kenal dengan daddy saya?” tanya Nathan bingung.


“Ayo, masuk dulu.” Teguh mempersilahkan Nathan masuk.


Mereka duduk di ruang tamu, papi Nabila meminta mang Udin, membuatkan minuman untuk Nathan dan cemilan. Nathan duduk dengan kikuk.


“Apa? om, teman daddy? Tanya Nathan.


“Bukan, Om, karyawan di perusahaan daddy, kamu.” Beritahu Teguh.


“Kamu teman sekelas Nabila?” tanya Teguh, seingatnya, anak laki – laki Nino, setahun diatas Nabila.


“Bukan, om, saya kakak kelas Nabila.” Nathan menjawab dengan kikuk dan kaku.


Istri mang Udin membawakan minuman serta cemilan, meletakannya di meja, kemudian pergi meninggalkan mereka.


“Terima kasih, om.” Nathan mengambil minumannya dengan grogi, bersyukur dia tidak menumpahkan air tersebut. Nathan meminumnya dengan hati – hati.


Setelah cukup lama bercerita dengan papi Nabila, papi baru menyadari tujuan Nathan. Sedangkan Nathan tidak mungkin menolak papi Nabila yang mengajaknya ngobrol.


“Oalah, Om, lupa, kamu pasti mau jenguk Nabila.” Ucap teguh.


“Nabila, sakit, om?” tanya Nathan bingung, jika tau Nabila sakit, harusnya dia membawa buah tangan , untuk menjenguk Nabila.


“Iya, ayo, Om, antar ke kamarnya, Nabila belum bisa, naik turun tangga sering – sering.” Beritahu Teguh, dia berjalan menuju lantai dua, mengintruksikan kepada Nathan untuk mengikutinya.


Nathan hanya mengekor Teguh, Teguh mengetuk pintu kamar Nabila.


“Ya.” Jawab nabila, pelan.


Teguh membuka pintu dan menyuruh Nathan masuk, kemudian, dia, meninggalkan Nathan dan Nabila. Teguh membuka pintu kamar dengan lebar sebelum dia pergi.


Nabila tidak menyadari, bahwa yang datang adalah Nathan, efek obat telah beraksi, membuat Nabila antara sadar dan tidak. Nathan mendekat dan memegang dahi Nabila, panas.


Nabila yang memunggungi Nathan masih tidak menyadari kehadiran Nathan, dalam pikirannya yang masuk adalah mami atau papinya.


"Bil." panggil Nathan lembut kepada Nabila, dia kasihan melihat Nabila sakit. Apa Nabila sakit setelah hujan - hujanan dengannya?


Nabila seperti mendengar suara Nathan, tapi tidak mungkin Nathan ada di kamarnya? Nabila mengabaikan pendengarannya.


Tiba - tiba Nabila merasakan orang tersebut mencium pipinya, sentuhan bibir orang tersebut sangat lembut, Nabila berusaha membalikan badan dan membuka matanya.

__ADS_1


Dia melihat Nathan berdiri disamping ranjangnya, Nabila merasa hanya mimpi, mungkin karena rindu Nabila jadi menghayalkan kedatangan Nathan. Secara logika, tidak mungkin Nathan berada di kamarnya.


🍒🍒🍒


Hi, follow ig ku ya @lady_mermad


Mampir juga dikarya pertamaku "UNEXPECTED MARRIAGE" udah tamat ya, so ga Nunggu lagi.


Menceritakan pejuangan hidup Viona, seorang janda sekaligus ibu tunggal dengan satu putra berusia 7 tahun.


Nasib membawanya bertemu Vino Welton, Ceo Welton group.


Vino tidak menyangka bahwa Viona, seorang janda perawan?


Cus kepoin kisah mereka.


oh iya aku juga mau ucapin terima kasih buat kakak2 yang udah setia ngikutin kisah Nabila dan Nathan, dan memberikan komentar :


- AgriP


- Sherly Bait


- Zelindra


- Aisha Humaira


- M Mudhayati


- Hj Yeni Nur Cahya


- Kurniati Yeti


juga semua yang telah memberikan Like.


Please


LIKE


VOTE


KOMENT


and


FAVORITEkan.


Gomawo


\= Lady_MerMaD \=



rumah Nabila

__ADS_1


__ADS_2