I Wanna You, My Cold Boy

I Wanna You, My Cold Boy
Kesempatan


__ADS_3

Nabila yang melihat ada Nathan, mencoba jalan pelan - pelan, sambil berbisik kepada sahabat – sahabatnya.


“Kalian nanti bantu gue duduk agak jauh dari kak Nathan ya.” Pinta Nabila kepada sahabat – sahabatnya.


“Sip tenang aja.” Jawab mereka pelan.


Siska mengambil posisi disamping Cakra, disusul Maura, kemudian Nabila duduk disamping Maura, Jenifer disamping Nabila, sedangkan Cheryl mengambil posisi disamping Nathan.


Nathan melihat jika Nabila tidak duduk disampingnya seperti biasa. Biasanya Nabila akan mencari posisi untuk dekat dengannya. Hal ini membuat Nathan kesal.


Evan dan team juga selesai latihan, Evan langsung duduk disamping Jenifer. Evan melihat perubahan sikap Nabila yang berbeda kepada Nathan dan itu membuat Evan bahagia. Evan berpikir ini kesempatannya untuk membuat Nabila menjadi kekasihnya.


“Wah, abang bawa banyak cemilan.” Buka Cheryl yang melihat suasana menjadi hening. Dia mengeluarkan isi kantong yang berisi cemilan dan minuman.


“Bukan gue, Nathan tu yang bawa, biar kalian lebih semangat dan menang, sehingga gak malu – maluin Sekolah.” Balas Cakra sekenanya.


“Makasi ya kak.” Ucap Siska kepada Nathan.


Nathan hanya menganggukan kepala, dia mencoba mencuri pandang kepada Nabila. Handphone Nabila berbunyi dan dia izin untuk mengangkatnya. Nabila keluar aula, untuk menerima telepon. Melihat Nabila keluar, Nathan juga ikut keluar, dia ingin berbicara kepada Nabila.


“Kemana Nat?” tanya Cakra yang juga melihat Nathan keluar.


“Terima telepon juga.” Balas Nathan.


Cakra hanya bengong karena dia tidak melihat bahwa handphone Nathan berbunyi.


Nabila membalikan badan setelah selesai menerima telepon dari maminya dan melihat Nathan telah berdiri dibelakangnya.


“Eh kak.” Sapa Nabila basa – basi.


Kenapa kak Nathan juga diluar sih, batin Nabila. Nabila mencoba santai walaupun jantungnya berdegup kencang, Nabila berjalan ingin masuk ke aula. Namun tangannya dipegang Nathan. Nabila menghentikan langkahnya tanpa menoleh kearah Nathan.


“ Aku mau ngomomg sesuatu sama kamu.” Ucap Nathan, dia ingin menyampaikan perasaannya kepada Nabila, tentang dia yang merasa kehilangan Nabila dan menginginkan Nabila menjadi pacarnya.


“Nabila sudah tau kok kak, jangan khawatir, Nabila akan mencoba menjauh.” Balas Nabila, mencoba mengucapkannya dengan santai. Dia tidak mau Nathan salah paham dan mengira bahwa Nabila masih berusaha untuk mendekatinya. Nabila sedang mencoba move on dari hidup Nathan.


“Bukan, itu, aku..” belum selesai Nathan berbicara, Evan telah datang dan memotong pembicaraan Nathan.


“Nab.” Panggil Evan, membuat Nathan kesal dengan kehadirannya.


Nabila segera melepaskan tangan dari pegangan Nathan.


“Ditungguin yang lain tu.” Lanjut Evan lagi.


“Nabila duluan ya kak.” Nabila merasa senang karena kedatangan Evan yang membuat dia bisa menghindari Nathan. Terus terang Nabila belum siap mendengar pengakuan Nathan, yang memintanya untuk menjauh.


Nabila langsung meninggalkan Nathan dan Evan, yang tidak mengikutinya untuk masuk.


“Dasar pengganggu.” Sungut Nathan menatap tajam Evan.


“Maksud loe apa nyindir gue?” Evan tidak terima dengan perkataan Nathan.


“Ya loe, gangguin gue sama Nabila.” Tantang Nathan lagi.


“Gak salah dengar gue? Bukannya loe yang gak mau sama Nabila, terus sekarang apa? Loe yang gangguin rencana gue buat dekatin Nabila” jelas Evan tidak mau kalah.

__ADS_1


“Bukan urusan loe.”


“Gue lihat Nabila ngindarin loe, jadi loe jangan coba – coba dekatin dia. Karena gue akan merebut hati Nabila lagi.” Perintah Evan, menunjuk dada Nathan.


“Terserah gue, kalau gue mau dekatin Nabila, loe gak ada urusan, gue juga suka sama Nabila.” Tegas Nathan.


“Loe udah telat. Apa loe gak ngaca dan lihat kalau Nabila ngindarin loe?” Ucap Evan, agar Nathan sadar bahwa Nabila menghindarinya.


“Gue akan berjuang dapatin Nabila.” Putus Nathan.


“Kalau gitu, besok pas pelajaran olah raga, loe harus kalahin gue di basket.” Tantang Evan.


“Nabila bukan taruhan.” Kesal Nathan.


“Gue gak bilang itu, gue pengen lihat perjuangan loe.” Tantang Evan lagi.


“Jika loe kalah, loe harus jauhin Nabila.” Tatap Evan tajam.


“Gue akan menang dan loe yang harus berhenti ngejar – ngejar Nabila. Nabila milik gue.” Nathan pergi meninggalkan Evan yang heran dengan perubahan drastis Nathan.


Apa dia salah dengar seorang Nathan, mengatakan hal tersebut?


“Kok lama Nath?” tanya Cakra begitu Nathan kembali yang diikuti Evan.


“Ada kecoa yang harus gue singkirkan.” Jawab Nathan asal.


Evan menatap Nathan karena mengatakan dia kecoa, Evan masih menahan amarah dengan sikap Nathan yang seenaknya, ingin Evan menghajar Nathan.


“Pulang yuks, takut kemalaman.” Ajak Siska.


“Yah, sopir gue gak bisa jemput karena ada kemalangan.” Celetuk Jenifer begitu melihat notifikasi handphonenya.


“Biar gue antar loe.” Tawar Evan refleks, sahabat –sahabatnya heran dengan Evan. Jenifer pun merasa tidak enak dan memandang Nabila.


“Udah Jen, pulang sama kak Evan aja, toh rute kalian searah.” Ucap Nabila, agar Jenifer mau diantar Evan.


“Gak ngerepotin kak Evan kan?” tanya Jenifer lagi masih sungkan.


“Enggak lah, ayo.” Ajak Evan sambil memasangkan helm kepada Jenifer. Membuat Jenifer salah tingkah karena perlakuan Evan yang manis. Jenifer segera menghilangkan pikiran itu dari kepalanya.


Satu persatu pulang ke rumah masing – masing, menyisakan Nabila, Nathan, Cakra dan Cheryl.


“Sopir loe belum datang Nab?” tanya Cheryl.


“Bentar lagi kayaknya Cher.” Jawab Nabila.


“Loe sendiri kenapa belum pergi Nat?” sindir Cakra kepada Nathan yang belum pulang, biasanya selalu paling cepat.


“Nungguin Nabila.” Ucap Nathan terang – terangan memperhatikan Nabila.


Nabila dan Cheryl merasa bingung dengan ucapan Nathan, namun mereka pikir mungkin hanya karena kasihan.


“Biar gue sama Cheryl yang nungguin, kalau loe mau balik, duluan aja.” Usir Cakra.


“Ya ampun, Nabil baru ingat kalau buku Akuntansi ketinggalan di kelas.” Nabila langsung ngacir kembali ke kelas.

__ADS_1


“Nab, mau gue temani.” Teriak Cheryl karena udah malam.


“Biar gue yang temani.” Ucap Nathan yang juga lansgung mengejar Nabila.


“Hah.” Serempak Cakra dan Cheryl saling berpandangan.


 


******


Nabila menghidupkan lampu dan mengambil bukunya, ternyata Nathan juga mengikuti Nabila. Saat berbalik listrik mati, Nabila ketakutan karena memang takut gelap.


“Au.” Teriak Nabila panik, dia tidak menyadari jika Nathan juga di kelasanya.


Nabila baru menyadari jika tasnya dia titip dengan Cheryl, bahkan handphone juga disana. Nabila mencoba meraba dan menabrak seseorang. Dia semakin ketakutan, Nabila pikir itu adalah orang jahat. Nabila mencoba memukul orang tersebut karena pria itu mencoba memegang Nabila.


“Tenanglah.” Ucap Nathan lembut, dia mencoba menenangkan Nabila.


Nabila merasa lega dan reflex memeluk Nathan. Nathan balas memeluknya, dia juga merindukan Nabila.


Nabila sadar, segera melepaskan diri dari pelukan Nathan, dia tidak ingin Nathan salah paham dan menganggap Nabila mengambil kesempatan.


“Maaf.” Ucap Nabila melepaskan pelukan. Namun Nathan tidak melepaskannya, dia malahan semakin erat memeluk Nabila.


Nabila yang diperlakukan dengan lembut oleh Nathan menangis dalam pelukan Nathan, entah itu tangisan kesedihan karena perasaanya yang masih menyukai Nathan atau tangis ketakutan.


“Tidak apa – apa, aku ada disini.” Ucap Nathan menenangkan Nabila.


“Ada yang ingin aku sampaikan.” Ucap Nathan.


Namun tiba – tiba senter mengarah ke mereka. Nabila refleks melepaskan diri dari pelukan Nathan.


“Nathan, Nabila.”


♥️♥️♥️♥️♥️


Segitu dulu ya, sayang - sayang akuh.


Mau double Up, namun aku ngantuk berat. tulisan udah bergoyang semua😁


Please


LIKE


KOMENT


VOTE


and


Favoritekan ya???


Gomawo


- Lady_MerMaD -

__ADS_1


__ADS_2