I Wanna You, My Cold Boy

I Wanna You, My Cold Boy
Curhatan Siska


__ADS_3

Setelah melakukan pembayaran, Pelayan memberikan kembali kartu kredit Danil.


"Kamu yakin, mereka tidak salah menghitung?" tanya Mila. Dia merasa pasti ada salah dengan sistem pembayaran Restoran.


"Kenapa?" Danil justru kembali bertanya.


"Masa semahal itu, dan hanya aku yang makan," protes Mila. Biaya makannya hari ini bahkan hampir menghabiskan satu bulan gajinya. Mila merasa sangat menyesal, kalau tahu akan semahal itu, dia akan mengajak Danil untuk makan di warung kaki lima saja dan sisanya bisa untuk membayar kontrakannya dua bulan.


"Itu harga standard," jawab Danil enteng.


"Apa?" sahut Mila shock.


"Ayo!" ajak Danil, mereka keluar dari Restoran. Mila masih merasa rugi, meskipun bukan duitnya yang keluar.


Di parkiran Mila, memberikan Danil helm. Danil kembali bonceng di belakang Mila.


"Sekarang aku harus mengantarkanmu ke mana?" tanya Mila, sebelum dia menghidupkan mesin motornya.


"Antar ke apartmentku saja, karena aku hatus mengambil mobil," sahut Danil.


Danil duduk di boncengan Mila, mereka menuju apartment Danil. Mila melajukan motor dengan kecepatan sedang. Jalan ibu kota sedikit macet karena memang jadwal para karyawan pulang bekerja.


Mila terus melaju sesekali Danil memberitahu harus belok mana. Saat Mila menaikan kecepatan dan melaju dengan tenang. Tiba-tiba mobil di depan mereka berhenti mendadak, refleks Mila juga menghentikan motor dengan mendadak. Danil yang tidak siap dibuat terkejut dan refleks memegang aset kembar Mila serta menabrak tubuh Mila.


"Apa yang kamu pegang?" Mila langsung menghadapkan wajah ke belakang dan melotot kepada Danil.


"Aku tidak sengaja," sahut Danil, dia dengan cepat melepaskan tangan yang berada aset Mila. Kendaraan lain di belalang mereka menjadi tidak sabar dan membunyikan klakson. Mila kembali melajukan motornya. Meskipun jantungnya terasa tidak stabil.


Sepanjang jalan mereka hanya diam, kecuali saat Danil mengarahkannya menuju ke apartmentnya.


Sesampai di lobby apartment, Mila berhenti. Danil turun dari motor.


"Aku mau ke rumah sakit, untuk melihat keadaan Siska. Apakah kamu mau ikut?" tanya Danil sambil menyerahkan helm kepada Mila. Mila menimbang, hari ini dia ofg, takutnya besok tidak bisa lagi untuk melihat Siska.


"Boleh, ayo naik," ajak Mila, dia kembali menyerahkan helm kepada Danil. Mila pikir Danil ingin pergi dengan motornya lagi.


"Tidak, kita akan berangkat dengan mobilku," sanggah Danil.


"Baiklah, aku akan mengikuti dari belakang," balas Mila.


"Bukan, motormu akan ditinggalkan di sini dan kita berangkat bersama. Sebentar aku akan menyuruh seseorang memarkirkan motormu. Tunggu di sini!" suruh Danil. Dia memasuki apartment dan meminta penjaga apartment untuk memarkir motor Mila.


"Ayo, ikut aku sebentar, aku harus menggisi daya ponsel," ajak Danil. Mila ragu. Dia takut Danil berbuat jahat padanya. Melihat Mila ragu Danil menarik tangannya dan menuju lift. "Tenang saja, aku bukan penculik," canda Danil.

__ADS_1


Mila memperhatikan ke sekeliling gedung apartment. Lift terbuka dan Danil mengajak Mila masuk. Sesampai di unitnya, Danil mempersilahkan Mila duduk, sementara dia akan mengisi daya ponselnya.


"Kalau kamu ingin minum, silahkan ambil di kulkas," tunjuk Danil. Sebelum masuk ke kamarnya.


Dia mungkin akan mandi, sambil menunggu ponselnya minimal bisa dinyalakan. Sisanya dia akan melanjutkan mengisi daya di dalam mobil.


Mila memperhatikan apartment Danil, mewah juga apartmentnya, pikir Mila. Mila membuka gorden yang ada di depannya.


Wah, pemandanganya keren sekali.


Langit senja telah menampakan diri. Warna jingga muncul dengan indahnya. Lampu-lampu jalan mulai hidup dan menerangi pengendara yang tengah lalu-lalang.


Mila berdecak kagum dengan keindahan yang dia lihat. Dia merasa beruntung melihat pemandangan tersebut.


Enak sekali, menjadi ornag kaya?


Danil keluar dengan pakaian yang telah berganti. Aroma maskulin terpancar dari tubuhnya. Mila tidak menyadari kehadiran Danil.


"Apa yang kamu lihat?" bisik Danil tepat di belakang telinga Mila.


"Oh, ya ampun. Kamu membuatku kaget." Mila refleks langsung jongkok karena merasa geli dengan hembusan nafas Danil yang berbisik.


"Kamu kelihatan serius, memang ada apa di luar sana?" tanya Danil.


"Menurutku biasa saja," ucap Danil.


"Mungkin karena kamu telah sering melihatnya," ucap Mila.


"Bisa jadi. Ayo kita segera ke rumah sakit," ajak Danil.


Mereka menuju rumah sakit.


***


"Sebenarnya, kami akan bercerai, setelah anak ini lahir," Siska mengakhiri ceritanya.


"Apa?" sontak hal tersebut membuat sahabat-sahabatnya heran. Telah menjadi rahasia umum jika Siska menyukai Cakra. Mereka bisa melihatnya. Meskipun Siska tidak pernah memberitahu mereka secara gamblang.


"Ya," jawab Siska meyakinkan bahwa yang baru saja dikatakannya adalah benar.


Siska teringat saat Cakra mengajaknya menikah dan saat Siska memutuskan untuk melanjutkan pernikahan.


"Namun, jika suatu hari Abang menemukan wanita yang membuat Abang jatuh cinta, Abang mohon, kamu ikhlas melepaskan Abang,"

__ADS_1


"Maaf, Abang tidak bermaksud menyakitimu. Namun, Abang tidak bisa menjanjikan apa-apa,"


Siska tidak ingin perasaannya semakin dalam terhadap Cakra dan Cakra akhirnya bertemu dengan wanita yang dapat menggantikan posisi Nabila.


Dan Siska harus rela melepaskan Cakra, dan mungkin saat itu dia tidak siap untuk terluka lagi. Terlalu banyak kejadian dalam dua terakhir ini memporak-porandakan hati dan hidupnya. Siska takut dia tidak bisa lagi menerimanya.


"Sis, apa itu kesepakatan kalian sebelum menikah?" tanya Nabila hati-hati.


"Tidak, hanya saja, gue takut, gue terlalu mengandalkan bang Cakra nantinya. Apa kalian tahu jika gue menyukai bang Cakra, sejak kelas sepuluh," jujur Siska.


"Kami tahu, kalau loe, suka sama bang Cakra, meskipun, loe nggak jujur sama kami," balas Cheryl.


"Maaf," cicit Siska.


"Apa tidak sebaiknya, kalian benar-benar melanjutkan pernikahan demi anak kalian?" saran Jenifer.


"Benar, sih, kasihan bayi kalian nantinya, jika dia tidak mendapatkan kasih sayang utuh dari kalian," tambah Maura membenarkan perkataan Jenifer.


"Gue tahu hal itu, hanya saja gue, belum sanggup jika saatnya tiba dan gue harus melepaskan bang Cakra, entah bagaimana keadaan gue kelak," terang Siska. "Bang Cakra belum mov on dari loe, Nab," lanjut Siska.


"Maaf," sesal Nabila.


"Bukan salah, loe, kita memang tidak bisa mengatur hati kepada siapa dia akan berlabuh. Dan jika, kita bisa mengatur hati, maka gue, orang pertama yang akan melakukannya. Gue akan mengatur hati, menyukai orang yang suka sama gue," bela Siska.


"Bagaimana jika loe, coba menarik perhatian Abang?" saran Cheryl. Seingatnya dulu Cakra sedikit bertingkah aneh sejak kejadia pesta ulang tahun Nathan.


"Tidak segampang itu. Gue pernah membicarakan ini dengan Abang, Loe. Jika memang gue, masih punya harapan buat gantiin posisi Nabila, maka gue akan berjuang. Hanya saja Abang loe, tidak bisa menjanjikan apa-apa. Belum saat dia mengajak menikah, dia juga mengatakan. Jika saatnya dia bertemu seseorang yang membuatnya jatuh cinta, maka gue harus rela melepaskannya." Siska menahan air mata yang akan kembali keluar.


"Apa!"


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya besties.


Sambil author up silahkan mampir ya besties ke karya teman author.


...TERJEBAK PESONA MAMA MUDA...



Pekanbaru


241222

__ADS_1


12.47


__ADS_2