I Wanna You, My Cold Boy

I Wanna You, My Cold Boy
Pulang Bersama mu


__ADS_3

Tiba – tiba seseorang menghampiri Nabila. Nabila merasa waspada dengan kedatangan orang tersebut. Dalam hati jangan sampai rencananya untuk pulang bareng Nathan gagal lagi.


"Belum dijemput Nab? Mau gue antarin?” Evan yang tiba – tiba akan keluar gerbang dengan motor gedenya. Berhenti didepan Nabila.


“Gak usah kak, bentar lagi mang Udin nyampe kok.” Elak Nabila.


“Yakin loe?” Evan memastikan lagi.


“Iya kak.” Pergilah kak Evan, Nabila gak mau gagal lagi pulang diantar kak Nathan, batin Nabila. Dia was-was, takut Nathan pergi dan meninggalkannya.


“Tapi pas kita latihan bersama lusa, loe mau ya, gue antar pulang.” Evan masih mencoba untuk membujuk Nabila, agar mau diantar pulang olehnya.


“Iya boleh kak.” Jawab Nabila dengan terpaksa supaya Evan segera pergi. Nabila memperhatikan sekeliling dan dia melihat Nathan telah melaju dengan motor bututnya menuju gerbang.


Jangan sampai kak Nathan, ninggalin aku, batin Nabila.


“Ya, udah gue duluan ya.” Evan meninggalkan Nabila.


Syukurlah, batin Nabila. Namun dia memperhatikan Nathan menghentikan motornya. Setelah sepuluh menit, saat semua siswa tidak ada lagi kecuali dia dan Nabila. Nathan menuju gerbang.


“Ini.” sambil menyerahkan helm kepada Nabila.


“Makasih kak.” Ucap Nabila, menerima helm yang disodorkan Nathan dan memakainya. Nabila naik ke motor.


“Kak, aku lapar, nanti kita singgah makan dulu ya.” Ajak Nabila lagi, Nathan telah melajukan motor dengan pelan.


“Kak.” Ulang Nabila, dia takut Nathan tidak mendengar suaranya.


“Apa?” jawab Nathan datar.


“Kita singgah di tempat makan ya, Nabila lapar.” Ucap Nabila lagi, sebenarnya dia tidak lapar, hanya ingin seperti kencan dengan Nathan. Nabila memeluk pinggang Nathan kuat.


“Apaan sih, lepas.” Teriak Nathan menggoyangkan badannya, agar Nabila melepaskan pelukan dipinggang Nathan.


“Gak mau, sebelum kakak bilang iya.” Nabila semakin menguatkan pelukannya.


“Kamu ingin membunuh ku ya.” Teriak Nathan lagi.


“Oke.” Nathan menyerah. Lihat saja nanti, batin Nathan. Nabila melonggarkan pelukannya.


Nathan membelokan motor di warung ayam penyet, di pinggir jalan. Dalam hatinya berpikir, pasti habis ini Nabila ilfil ikut dengannya ataupun mengganggunya.


Karena menurut Nathan, gadis seperti Nabila mana mau makan ditempat seperti ini.


“Kita makan disini kak?” tanya Nabila, dia memperhatikan sekeliling, akan gue ingat tempat ini, tempat bersejarah gue dan kak Nathan, batin Nabila.


“Iya, emang kenapa? Gak level? Gak suka?” ujar Nathan dengan nada meremehkan.

__ADS_1


“Suka kok kak, Nabila suka kemana aja kakak bawa.” Memberikan senyum terindah kepada Nathan.


Deg


Nathan merasakan getaran dihatinya saat Nabila tersenyum sumringah tepat di wajahnya. Ternyata dia manis dan imut juga, pikir Nathan. Apa yang kamu pikirkan Nathan, kamu harus menghindari gadis seperti ini, dia akan menghancurkan dunia mu yang nyaman, pikir sisi lain Nathan mengingatkan.


Nathan memasuki tenda penjual ayam penyet. Duduk di kursi panjang yang telah disediakan. Nabila mengikutinya dan duduk disamping Nathan. Nathan melihat daftar menu.


“Kamu mau makan apa?” tanya Nathan.


“Ayam penyet aja kak, minumnya es jeruk.”


Nathan kemudian berdiri dan memesan makanan. Kemudian kembali duduk disamping Nabila.


“Kakak pesan apa?” tanya Nabila, dia mencoba mencairkan suasana.


“Lihat aja nanti.” Jawab Nathan dengan malas.


Kemudian dia mengeluarkan handphone dari jacketnya dan sibuk demgan handphonenya, dia mencuekan Nabila.


“Kakak sering makan disini ya?” tanya Nabila kembali, mencairkan suasana.


“Hmmm.” Hanya itu yang keluar dari mulut Nathan.


“Enak ya kak? Makanannya?” Nabila terus berusaha mengalihkan pikiran Nathan dari handphonenya.


Padahal Nathan hanya agar tidak melayani Nabila ngobrol, sehingga Nabila menjadi jera mendekatinya.


Pelayan warung membawakan pesanan mereka. Nathan dan Nabila makan dengan tenang, walaupun sesekali Nabila mengajak Nathan mengobrol yang lebih tepatnya hanya Nabila yang berbicara, sedangkan Nathan hanya menjawab singkat dengan hmmm.


Selesai makan Nathan kekasir untuk membayar.


“Gak usah kak, Nabila aja.” Ucap Nabila dengan mengeluarkan uang dari dompetnya.


“Jangan membuat ku malu dengan perempuan yang membayar.” Ujar Nathan dengan dingin. Akhirnya Nabila membiarkan Nathan membayar. Ternyata kak Nathan laki – laki sejati, aku semakin suka dengannya, batin Nabila.


Selesai membayar mereka keluar dari warung tersebut. Melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan menuju rumah Nabila, Nathan membuat motornya seolah – olah mogok.


“Kenapa kak?” tanya Nabila, dengan kondisi motor Nathan dan tiba – tiba Nathan berhenti.


“Motornya mogok.”


“Mogok kak, jadi gimana?” tanya Nabila.


“Ya harus didorong.”


“Ya udah Nabila dorong ya kak.” Tawar Nabila.

__ADS_1


Nathan kembali menaiki motor, Nabila mendorong motor, agar bisa kembali menyala. Dicoba berkali – kali namun tidak berhasil.


“Kalau kamu mau pulang sendiri dengan ojek online silahkan.” Perintah Nathan.


“Gak kak, Nabila akan temani kakak.” Balas Nabila, mana mau dia kehilangan moment kebersamaan dengan Nathan.


“Kamu yakin.” Remeh Nathan, mana ada gadis – gadis seperti Nabila, diajak mendorong motor sepanjang jalan, sampai bertemu bengkel, walaupun Nathan hanya berpura – pura.


“Yakin lah kak.” Ucap Nabila mantap.


“Ya udah.” Ajak Nathan. Mereka berjalan sambil mendorong motor. Kita lihat sampai dimana kamu bertahan, batin Nathan.


Nabila berusaha mengajak Nathan bicara yang hanya dibalas dengan singkat oleh Nathan. Hanya Nabila yang mengoceh sepanjang jalan. Nathan mengingat jika ini telah mendekati rumah Nabila.


“Nanti kak, sampai rumah, motor kakak, ditinggal di rumah Nabila aja dulu, nanti kakak biar diantar mang Udin, sekalian besok pagi Nabila jemput kakak berangkat sekolah, habis ngantar kita, mang Udin bawa motor kakak ke bengkel deh. Pulang sekolah kakak bareng Nabila lagi deh, eh tapi kakak tungguin Nabila selesai latihan ya.” Jelas Nabila panjang lebar.


“Gak usah.” jawab Nathan singkat. Nathan kemudian mencoba menghidupkan motornya berkali – kali lagi, agar Nabila percaya bahwa motornya benar – benar mogok. Terakhir Nathan membuat motornya benar – benar telah hidup kembali. Mudah – mudahan setelah ini Nabila kapok mendekatinya.


“Naik.” Ajak Nathan.


“Eh, motornya udah bisa lagi ya kak? Syukurlah.” Ucap Nabila antara lega dan tidak, dia berharap, jika motor Nathan belum bisa digunakan, dia akan berangkat bareng Nathan. Sekalian pulang juga.


“Udah ayo, naik.” Ujar Nathan dengan nada yang tegas.


Nabila naik motor dan mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Nabila yang memang sudah dekat.


“Terima kasih ya kak, telah antar Nabila pulang dan traktir Nabila makan.” Ucap Nabila dengan senang.


Aneh banget ini anak, diajak makan di warung kaki lima dan disuruh dorong motor, masih aja senang, batin Nathan. Nathan siap – siap untuk meninggalkan rumah Nabila, namun dicegat Nabila, dengan memegang bahunya.


“Apa lagi?” tanya Nathan sewot.


“Nabila boleh minta no handphone kakak? Please” sambil mengatupkan tangannya. Nathan mengeluarkan handphonenya.


“Nomor kamu berapa?”


Nabila membacakan nomornya dan Nathan mencatatnya.


“Nanti kalau aku mood, aku kasih tau kamu.” Nathan melajukan motor dan meninggalkan Nabila dengan bengong.


♥️♥️♥️♥️♥️


Gak bosan2 aku buat ingatin ya, karya ini lagi ikut kontes YMYB.


Pease tinggalkan jejak ya LIKE, KOMENT and jadi FAVORITE kalian ya. Juga jangan lupa kasi HADIAH ya.


Gomawo

__ADS_1


\= Lady_MerMaD \=


 


__ADS_2