
"Siska!" panggil Cakra. Dia melangkah masuk. Namun, kamar telah kosong, bahkan bayinya pun tidak ada.
Cakra mencoba melihat ke dalam kamar mandi, tetap kosong. Apakah Siska telah sadar? dan pergi?
Perasaan Cakra semakin tidak menentu, dia takut Siska pergi dan membawa bayinya. Cakra yang panik keluar dari kamar dan berlari. Dia melupakan logika untuk memeriksa atau bertanya kepada perawat. Dia berlari menyusuri lorong. Melihat setiap brangkar yang di dorong siapa tahu itu adalah Siska.
Cakra terus berlari, dia mengabaikan makian dan teriakan larangan dari perawat maupun orang yang ditabraknya. Cakra terus menyusuri setiap lorong.
Cakra menuruni tangga, dia tidak sabar untuk menunggu lift yang terbuka. Entah kenapa Cakra merasa lift terlalu lambat saat dia membutuhkannya. Nafas Cakra semakin memburu akibat menuruni tangga.
Cakra menuju area parkir, melihat apakah ada mobil yang membawa Siska dan putranya. Cakra mencoba menghubungi ibunya mau pun Cheryl, tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat tekeponnya.
Cakra menenangkan diri, bisa saja Siska telah sadar dan telah diizinkan pulang. Cakra mencari mobilnya dan menuju apartement. Cakra memgendarai mobil seperti orang yang kesetanan. Dia tidak mempedulikan makian dan teriakan orang kepadanya.
Cakra sampai di apartment dan langsung menuju unitnya. Cakra menekan tombol password, begitu pintu terbuka, cakra langsung menuju kamar Siska.
"Siska!" panggilnya. Cakra harus menelan kekecewaan karena Siska tidak berada di dalamnya. Cakra terduduk di lantai.
"Siska! Kamu di mana? Jangan tinggalkan Abang," mohon Cakra. Dia memukul tepi ranjang Siska, meluapkan emosi karena kehilangan Siska.
***
Danil keluar dari Restoran setelah hampir dua jam makan dan berbicara dengan rekan bisnisnya. Danil senang karena dia mendapatkan project dari klien tersebut. Padahal klien tersebut terkenal susah untuk memenangkan hatinya.
Danil menyapukan pandangan ke segela ruangan Restoran. Namun, tidak melihat keberadaan Mila.
Apa dia telah pergi? Jika benar sial sekali, mana ponsel mati dan chargernya tertinggal di mobil. Apa bertanya kepada pelayan, siapa tahu mereka memiliki charger yang sama dengan ponsel Danil.
"Maaf, Mbak, apakah saya bisa meminjam charger?" tanya Danil kepada seorang pelayanan yang kebetulan lewat di depannya.
"Boleh, sebentar." Pelayan tersebut menuju ke suatu ruangan dan keluar dengan membawa chargernya. "Ini, Mas," ujar Pelayan sambil memberikan chargernya.
"Bukan, ini tidak cocok," tolak Danil.
"Type ponsel, Mas, apa?" tanya Pelayan.
"Ipon 14 pro max, atau ada karyawan yang punya Ipon?" tanya Danil.
"Maaf, Mas, kami tidak memliki ponsel dengan merk itu, paling hanya samson, siomay dan oppi," terang Pelayan.
"Ya, sudahlah, terima kasih," pamit Danil. dia keluar dari restoran. Danil melihat halama Restoran.
"Danil!" panggil Mila, dia melihat Danil sepertinya akan meninggalkannya.
"Mila!" seru Danil saat membalikan badan dan ternyata Mila sedang menunggu di parkiran.
__ADS_1
"Kok, kayak main pergi-pergi aja," sewot Mila.
"Aku kira kamu meninggalkanku," bela Danil.
"Ya nggaklah, 'kan kamu suruh tungguin," balas Mila.
"Tapi, aku suruh nunggu di dalam, loh," sahut Danil.
"Emang, sih. Hanya saja--" Mila memainkan tangannya menghilangkan malu.
"Hanya saja apa?" heran Danil.
"Hanya saja, makanan di sana harganya mahal-mahal, sayang sekali uangnya,' cicit Mila.
"Tenang saja, aku yang traktir, jadi kamu belum makan?" tanya Danil. Mila menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian menunduk malu. "Ayo, kembali ke dalam, nanti kamu bisa sakit jika nggak makan." Danil menarik tangan Mila dan membawanya kembali ke dalam Restoran.
Danil kembali memesan ruangan VVIP untuk mereka. Anggap saja tanda terima kasihnya kepada Mila. Jika Mila tidak.membantunya proyek bernilai Milyaran rupiah bisa saja tidak dia dapatkan karena Danil tidak datang dan lebih parahnya lagi. Klien tersebut bisa saja memblacklist perusahaan Danil untuk project-project dia selanjutnya.
Pelayan memberikan buku menu.
"Mau langsung pesan atau mau lihat-lihat dulu?" tanya Pelayan ramah.
"Sepertinya langsung pesan saja." Danil tahu ini sudah sangat telat dari jadwal makan siang.
"Kamu mau yang mana, tunjuk saja," beritahu Danil kepada Mila.
"Hmm, sebenarnya aku juga tidak tahu ini makanannya, kamu aja yang pilihkan," pinta Mila.
Danil kemudian menyebutkan beberapa makanan dan minuman untuk mereka. Pelayan pamit untuk memberitahu koki pesanan mereka.
"Kamu nggak kerja hari ini?" tanya Danil. Agar suasana tidak terlalu canggung saat menunggu makanan datang.
"Kebetulan hari ini aku day off," balas Mila.
"Oh," jawab Danil.
"Hmm. Danil, aku boleh tanya tentang Siska?" ragu Mila.
"Boleh, apa?"
"Aku menghubunginya, tapi. Ponselnya tidak pernah aktif lagi setelah kejadian di I-Shine hotel. Aku hanya ingin tahu, apakah dia baik-baik saja dan bagaimana keadaan anaknya?" berondong Mila.
"Ya, Siska telah melahirkan, anaknya laki-laki dan sehat. Hanya saja Siska mengalami koma," sedih Danil. Dia memang masih sering menjenguk Siska di minggu pertama setelah Siska melahirkan. Kemudia Cakra melarangnya untuk datang.
"Apa? Koma?" Mila shock mendengar berita itu.
__ADS_1
"Iya, aku tidak berbohong," ujar Danil. Dia pikir Mila tidak mempercayainya.
"Kasihan sekali Siska, semoga dia segera sadar." Do'a tulus Mila. "Ngomong-ngomong. Siska di rawat di rumah sakit mana?" tanya Mila lagi. Dia akan meluangkan waktu untuk menjenguk Siska, mungkin dia akan mengajak Veronica juga.
"Di rumah sakit NFL, lantai empat kamar tulip," jawab Danil. Mila mencatat di ponselnya, agar tidak lupa.
Pelayan datang mengantar makanan dan menghidangkannya.
"Silahkan dinikmati. Mas, Mbak. Jika ada perlu yang lain, bisa panggil saya," ucap Pelayan ramah. Dia kemudian meninggalkan mereka.
"Ayo, makan," ajak Danil. Mila mulai memakan makanan tersebut dengan lahap karena memang sudah sangat lapar.
Selesai makan, masih banyak makanan yang tersisa. Danil terlalu banyak memesan sementara dia sendiri hanya minum. Tentu saja Mila tidak bisa menghabiskan semuanya.
"Apa makanan ini bisa di bungkus untuk dibawa pulang?" tanya Mila pelan.
"Kenapa? Kamu ingin membungkusnya untuk keluargamu? Aku akan pesankan lagi," heran Danil, dia bersiap untuk memanggil pelayan.
"Bukan, bukan begitu. Aku hanya merasa sangat sayang, mubazir sekali, tiga menu malahan belum di sentuh. Apa kamu tidak tahu? Diluar sana bahkan banyak yang kelaparan," ucap Mila bijak.
"Baiklah, aku akan meminta pelayan membungkusnya. Jika itu kurang kita bisa memesan yang lain," tawar Danil.
"Tidak, perlu, ini saja," potong Mila.
Danil memanggil pelayan untuk membayar serta meminta pelayan untuk membungkuskan makanan tersebut.
"Ini, Mas, billnya." Pelayan menyerahkan bil kepada Danil. Danil membuka kemudian menyerahkan kartu kreditnya.
Mila sempat melihat nominal bill tersebut yang hampir mencapai empat juta. Mila merasa shock, bisa dibilang makan untuknya sendiri menghabiskan uang segitu. Karena Danil hanya minum.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya besties.
Sambil author up silahkan mampir ya besties ke karya teman author.
...REWRITE OUR DESTINY...
Pekanbaru
231222
15.00
__ADS_1