
Nabila merasa bersalah karena kesalah pahaman, membuat Nathan sakit. Seharusnya Nabila langsung menemui Nathan dan bertanya tentang foto Nathan dan Nadine. Sehingga Nathan tidak kehujanan karena ingin bertemu dan menunggu Nabila keluar, yang menyebabkan dia sakit.
Nabila masuk ke mobil Nadine, dia sedikit kikuk, setelah memasang savety belt, Nadine melajukan mobil menuju rumahnya.
“Kak, Nabila mau telepon mang Udin dulu, bilang Nabila mau ke rumah teman.” Pinta Nabila.
“Ya, udah telepon aja.” Balas Nadine singkat.
Nabila menghubungi mang Udin, tidak begitu lama, terdengar jawaban dari seberang sana.
“Halo mang, maaf, Nabila mendadak kasih tau kalau Nabila mau ke rumah kak Nathan, dia lagi sakit.” Ucap Nabila begitu telepon diangkat mang Udin.
“Oh iya neng, gak pa – pa, sebenarnya mamang udah hampir sampai Sekolah sih neng, kalau gitu mamang putar balik aja.” Jawab mang Udin ditelepon.
“Oke mang, hati – hati dijalan.” Nabila mematikan telephone.
“Udah lama pacaran sama Nathan?” tanya Nadine to the poin.
Nabila menjadi salah tingkah dengan pertanyaan gamblang Nadine.
“Baru satu minggu sih, kak.” Cicit Nabila.
Satu minggu tapi ni cewek udah hamil? Curiga Nadine atau gue yang salah? Mungkin dia hanya sakit biasa.
Sepanjang perjalanan Nabila dan Nadine hanya berbicara ringan, kadang – kadang mereka saling diam karena bingung harus membahas apa lagi.
Handphone Nadine berbunyi, namun dia mengabaikan saja.
“Handphone kakak berbunyi.” Beritahu Nabila.
“Biarkan saja.” Balas Nadine.
“Siapa tau penting kak.”
“Paling juga Nathan, abaikan aja.” Ucap Nadine cuek.
***
__ADS_1
Nathan gelisah menunggu informasi dari Nadine. Dia mencoba menghubungi Nadine, namun tidak diangkat, bahkan pesan dari Nathan juga belum dibaca.
“Aduh, kakak dimana sih? Kok gak ngabarin gue.” Gerutu Nathan.
Nathan mondar mandir di kamar sambil menghubungi Nadine. Dia merasa telah baikan, karena gerah Nathan pergi mandi. Selesai mandi Nathan mengambil pakaian dan menggantinya, saat dia memakai celana, tiba – tiba pintu kamar terbuka, Nadine masuk mendorong Nabila ke kamar Nathan. Nathan memakai celana dengan tergesa – gesa.
“Kakak.” Teriak Nathan, dia melupakan jika belum menggunakan baju. Nabila membalikan badan, berencana keluar, namun pintu langsung ditutup Nadine, akhirnya Nabila berdiri saja sambil menutup wajahnya, agar tidak melihat tubuh Nathan.
Nathan ingin mengejar kakaknya, namun melihat Nabila yang menutup wajah, Nathan menjadi mengurungkan niatnya, dia justru mendekati Nabila.
Nabila yang merasa jika Nathan mendekat kepadanya, membalikan badan dan menurunkan tangan dari wajahnya, melihat Nathan yang semakin dekat Nabila memelingkan wajah kesamping dan mundur agar tidak melihat Nathan. Hal itu membuat Nathan gemas dan ingin mengerjai Nabila. Nabila terus mundur dan mentok ke pintu kamar, Nathan mengukung Nabila, dia kemudian memasang password pintu kamar, agar Nadine tidak masuk seenaknya.
“Ka… kak mau apa?” Nabila mendorong dada Nathan, namun segera dilepaskan tangannya dari dada Nathan karena Nathan belum memakai bajunya.
Melihat wajah Nabila yang merona merah, Nathan semakin ingin mengerjainya, Nathan mendekatkan wajahnya kepada Nabila, niat yang tadi hanya mengerjai Nabila, justru berubah membuat Nathan tergoda melihat bibir mungil Nabila yang berwarna pink.
Saat Nathan menurunkan wajahnya, sementara Nabila telah menutup mata, jarak tiga centimetre lagi bibir mereka bertemu.
Ting tong.
Bunyi bel kamar merusak moment Nathan, mereka kaget, Nabila segera mendorong tubuh Nathan dan menyingkir dari kukungan Nathan.
“Ya, ampun, apa yang kalian lakukan?” teriak Nayla melihat Nathan yang tidak memakai baju, hanya celana.
Nathan kemudian mengambil bajunya cepat dan memakainya.
“Kami, tidak melakukan apa – apa, tante.” Balas Nabila gugup, sebenarnya hampir terjadi sesuatu jika saja Nayla tidak datang.
“Lalu, kamu kenapa tidak pakai baju, mungkin kalau mommy tidak datang, pasti kalian telah melakukan hal yang tidak pantas.” Nayla memandan Nabila dan Nathan dengan tatapan menintimidasi.
“Mana pintu di password lagi.” Nayla kesal. Biasanya Nathan maupun Nadine tidak pernah mempasword pintu kamar mereka. Nayla khawatir, jika mereka mereka melakukan hal – hal yang tidak pantas yang akan menyebabkan gadis ini hamil? Hamil, Nayla ingat dengan kata – kata Nadine, pantasan hamil jika gaya pacaran mereka seperti ini.
“Mom, aku mempassword karena Nadine tadi ngerjain aku.” Nathan mencoba membela dirinya.
“dan kamu, apa kamu hamil?” tanya Nayla, tanpa menghiraukan perkataan Nathan.
Nabila memang belum sempat berkenalan dengan Nayla karena begitu sampai rumah, Nadine langsung mengajaknya ke kamar Nathan.
__ADS_1
Nabila hanya sempat memperhatikan rumah Nathan yang besar, menurut Nabila ini bukan rumah biasa, melainkan seperti mansion karena luasnya, jarak gerbang dan ke rumah saja sekitar satu kilometre.
Belum lagi saat Nabila naik ke kamar Nathan, menggunakan lift. Benar – benar orang kaya, batin Nabila.
“Mom. Kami tidak melakukan hal yang seperti mommy pikirkan” Teriak Nathan dengan tuduhan ibunya kepada Nabila, mereka saja belum ngapa-ngapain gimana bisa hamil?
“Atau, kamu hamil dengan pria lain? Dan mencoba menjebak putra saya?” tuduh Nayla sadis. Baginya tentu banyak gadis yang akan memanfaatkan Nathan.
🍒🍒🍒
Maaf aku gak sempat update kemarin karena kecapekan pulang kerja, berharap terbangun tengah malam buat update eh bablas sampai subuh dan langsung disibukan dengan tugas negara di dunia nyata, biasa masak sebelum ngantor.😁
Ini aku nyuri waktu istirahat buat update, dan mudah - mudahan bisa double up.
Untuk pemenang giveaway pulsa, nanti bakal diumumkan setelah ketahuan siapa cowok yang dimaksud ya.
follow ig aku : Lady_Mermad
serta akun Niveltoon ku ini ya.
sambil nunggu karya ini, bisa mampir ke karya pertama ku yah "UNEXPECTED MARRIAGE" sedangkan untuk karya ke dua "MARRYING A LOST GIRT" yang di In novel (akan dipindahkan ke ft lain ) aku hiatuskan dulu karena mau fokus sama kisah Nabila dan Nathan.
Seperti biasa Please
LIKE
VOTE
KOMENT
and
FAVORITEkan ya.
Apalagi jika di kasih hadiah bunga, pisau, kopi dan lain - lain, suka banget aku😘
Gomawo
__ADS_1
\= Lady_MerMaD \=