
"Sayang, aku berjanji kepada Nathan jika dia juara umum, maka aku akan menuruti keinginannya." jelas Nayla kepada suaminya.
"Nath, apa kamu yakin dengan keputusanmu?" ucap Nayla kepada Nayhan.
"Dan keinginan Nathan adalah menikah muda?" potong Nino, dia menatap Nathan mencari tahu kenapa putranya ingin menikah, padahal dia baru saja lulus Sekolah. Disaat semua anak seusianya masih ingin bebas dan bermain, Nathan justru ingin mengambil tanggung jawab besar dengan menjadi suami.
"Nathan yakin, Mom." balas Nathan penuh tekad.
"Ya, setelah bertemu dengan Nabila." ucap Nathan kepada Nino.
"Bukankah Nabila baru akan naik kelas dua belas? yang artinya dia belum lulus Sekolah?" tanya Nino memastikan.
"Benar, dad, itu tidak masalah, pernikahan ini akan dirahasiakan, Nathan hanya ingin mendapatkan surat sebagai suami Nabila, kehidupan kami mungkin tidak akan seperti pasangan menikah lainnya karena Nathan akan kuliah dan Nabila tetap Sekolah. Setelah lulus Nathan akan mengajak Nabila untuk kuliah ditempat yang sama, namun jika Nabila tidak mendapatkan beasiswa, daddy yang bayarkan karena Nathan udah dapat beasiswa." ucap Nathwn panjang lebar, ternyata dia t3lah memikirkannya dengan matang.
"Kenapa harus daddy yang membiayai kuliahnya? bukankah kamu sebagai suaminya?" senyum licik terpajang diwajah Nino.
"Oke, kalau daddy gak mau, penghasilan Nathan cukup untuk membiayai kuliah dan hidup kami disana." ketus Nathan, dia tidak ingin memberi celah orang tuanya untuk menggagalkan rencananya.
"Sayang, apakah keluargq Nabila setuju?" tanya Nayla dan Nayla berharap keluarga Nabila tidqk setuju karena Nabila masih Sekolah.
"Nathan akan pastikan mereka setuju." ucap Nathan. Dia menyelesaikan sarapannya, kemudian meninggalkan ruang makan.
πππ
Nabila bangun dengan perasaan tidak enak, dia masih memikirkan kejadian yang menimpanya. Dia sangat membenci Nathan sekarang, teganya Nathan merusak masa depannya. Sekarang Nabila dilema, bagaimana memberitahu orang tuanya tentang keinginan mereka menikah tanpa memberitahukan kejadian yang sebenarnya?
Nathan menghubungi Nabila, namun diabaikan Nabila, dia masih marah dan tidak mau bertemu maupun berbicara dengan Nathan.
Nathan yang tidak sabaran dan kesal teleponnya tidak diangkat Nabila, akhirnya mengirimkan satu foto vulgar mereka dengan tulisan meminta Nabila mengangkat teleponnya. Dengan terpaksa Nabila mengangkat telepon Nathan.
"Ya." jawab Nabila singkat.
"Kenapa teleponku diabaikan?" kesal Nathan.
"Lalu, kenapa kakak mengirim foto itu, kakak mengancam Nabil?" teriak Nabila histeris. Ingin rasanya dia membanting handphone saking kesalnya dengan tindakan Nathan.
"Oke, kakak minta maaf, beb." ujar Nathan melembutkan suaranya.
"Ada apa kakak menghubungi, Nabil?" tanya Nabila.
"Aku hanya ingin tau, apakah kamu sudah memberitahu orang tuamu? Orang tua ku telah setuju. Beritahu kapan kami akan melamar?" jrlas Nathan.
"Apa, beri Nabila waktu dua hari kak." ucap Nabila.
"Baiklah." ucap Nathan.
"Dua hari ini, kita tidak usah bertemu dulu." ucap Nabila kemudian memutuskan sambungan telepon.
πππ
__ADS_1
Tiga hari telah berlalu, Nabila belum menemukan keberanian untuk memberitahu orang tuanya. Nathan yang tidak sabaran karena dia harus mengurus segala sesuatu untuk pernikahan dan juga kuliahnya, akhirnya memutuskan untuk bertemu orang tua Nabila. Yakin bahwa papi Nabila tidqk akan di rumah siang, Nathan harus menunggu malam untuk berjumpa.
"Mas Nathan, pasti mau ketemu neng Nabila ya." tembak mang Udin saat membuka pintu untuk Nathan.
"Iya mang, tapi saya mau berjumpa papi Nabila dulu, papi ada mang?" tanya Nathan sopan.
"Ada, lagi santai sama ibuk, neng Nabila di kamarnya." beritahu mang Udin. Mang Udin mempersilahkan Nathan masuk dan memberitahu Teguh, papi Nabila bahwa Nathan ingin berjumpa dengannya dan menunggu di ruang tamu.
Teguh meminta mang Udin agar Nathan langsung ke ruang nonton saja.
"Selamat malam om, tante." sapa Nathan, kemudian mencium tangan kedua orang tua Nabila dengan sopan.
Dag, dig, dug, jedeeeerΕr
Bunyi jantung Nathan, dia takut jika orang tua Nabila menolak, namun jika menolak maka Nathan akan memakai jurus paksa.
"Eh, Nathan, ayo gabung sini, kita nonton sama - sama." ajak Teguh, sambil menyuruh Nathan duduk didepannya.
Mereka ngobrol biasa tentang mobil, yang sedang mereka tonton adalah chanel otomotif. Melinda, mami Nabila hanya sesekali menimpali karena pengetahuannya tentang otomotif yang sangat minim. Nathan berharap siaran tersebut segera berakhir, agar jantungnya tidak deg degan menunggu bicara hal yang menjadi tujuannya.
"Om, tante, ada yang mau saya bicarakan." akhirnya Nathan memulai untuk bicara. Nathan mengusap lututnya untuk menghilangkan gugup.
"Dari tadikan kita bicara." guyon Teguh.
"Apa sih Nath, gugup banget." ujar Melinda menambahkan.
"Ngomong aja Nath." Teguh mempersilahkan Nathan bicara.
"Nathan, ingin menikahi Nabila, om, tante." ucap Nathan, berharap orang tua Nabila memberi restu.
"Hahaha..kamu ngeprank om dan tante ya?" kekeh Teguh.
"Tidak om, saya serius." ucap Nathan lagi.
"Apa Nabila tau tentang hal ini?" tanya Melinda, mulai serius.
"Tau tante, dan Nabila juga menyetujuinya." ujar Nathan mencoba menenangkan jantungnya yang semakin berdegub kencang, ditambah dengan mami Nabila yang ikut berbicara.
"Maksud kamu, kamu menikahi Nabila bukan sekarangkan?" tanya Teguh lagi.
"Secepatnya Om, sebelum saya ke Inggris untuk kuliah, saya pernah cerita sama Omkan, bahwa saya akan kuliah di Oxford, Inggris." lanjut Nathan.
"Sebentar tante, panggil Nabila dulu, bagaimanapun ini masa depannya." ucap Melinda memotong agar mereka tidak meneruskan pembicaraan tanpa kehadiran Nabila.
Melinda ke kamar Nabila.
"Apa?" kaget Nabila saat Melinda memberitahu bahwa Nathan dibawah dan meminta menikahinya.
"Kamu tidak hamilkan, sayang?" tanya Melinda hati - hati, dia pernah memergoki Nathan dan Nabila dikamar, pikiran Melinda Traveling kemana - mana.
__ADS_1
"Sebaiknya kita kebawah sayang, biar lebih jelas." ucap Melinda, mengajak Nabila turun.
Nabila lega Melinda tidak membahas perihal hamil lebih lanjut karena Nabila sendiripun tidak tau, bagaimana kedepannya, apakah kejadian prom night membuat dia hamil atau tidak?
Nathan melihat Nabila datang dan tersenyum dengannya, namun Nabila tidak membalasnya.
"Nabil, Nathan ingin menikah denganmu sebelum dia berangkat ke Inggris dan itu artinya sebelum sebulan kalian sudah harus menikah." Teguh membuka pembicaraan.
Nabila menatap Nathan dan Nathan menganggukan kepalanya.
"Kamu tidak hamilkan, sayang?" ulang Melinda kembali. Nabila hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa?
πππ
Nah ayo, Nabila bingung harus jawab apa? masa baru 3 hari udah ketahuan hamil atau tidak? ya kan?
Sambil nunggu silahkan baca karya teman author juga ya autho RAHAYU NINGTIYAS BUNGA KINANTI dengan judul MR. AROGAN
Novel ke 2 ku, tolong hargai ya.
Kisah seorang gadis yang terjebak dengan perjanjian bos-nya... Ia sudah janji kepada diri sendiri agar tidak jatuh kepada sang bos namun sayang ia mengingkari janji-nya sendiri dan jatuh kepada sang bos-nya.
Bagaimana kisah mereka? Apakah cinta Nesa terbalas?
Yuk langsung baca aja
Jangan lupa ya sayang - sayang author
LIKE
VOTE
KOMENT
GIFT
TIPS
and
FAVORITEkan ya
Saranghaeyo ππ
Gomawo
\= Lady_MerMaD \=
__ADS_1