
bruaak...
Laura menggebrak meja makannya. Dia kemudian lari dengan membawa perih di hatinya. Tetesan air matanya itu, mengiringi setiap langkahnya.
Braaak.
Laura membanting pintu kamar. Setelah itu, dia berlari dan menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
Hiks...hiks...hiks...
Laura menangis. Hatinya sakit. Sangat sakit. Diapun juga wanita, wanita yang ingin selalu tampil sempurna di hadapan suaminya, wanita yang selalu ingin membahagiakan suaminya.
"Jahat kau Arka. Kau anggap aku ini apa? Aku ini juga wanita Arka. Aku juga ingin di mengerti. Tapi kenapa kamu harus lakukan ini? di mana perasaan mu sebagai lelaki? kenapa kamu mau memutuskan poligami? hatiku sakit Arka! "
Arka tampak berdiri di sisi ranjang.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud melukaimu. Aku sangat mencintaimu Laura."
Arka kemudian duduk di sisi Laura.
"Arka, kamu jahat! Pernikahan kita baru setahun Arka. Tapi kenapa kamu tega mau berpoligami? aku ini wanita Arka. punya perasaan. Kenapa gara-gara aku mandul, kamu mau berpoligami."
"Aku juga terpaksa Laura. Aku ingin membahagiakan Mama. Kamu tahukan, kalau Mamaku menginginkan cucu yang banyak."
"Tapikan kita bisa mengadopsi di panti asuhan."
"Nggak Laura. Anak adopsi itu tidak berhak ikut dalam daftar ahli waris."
"Tapi Arka."
"Aku tidak mau hartaku jatuh ke tangan orang lain. Aku ingin anak ku kelak yang akan menggantikan ku saat aku tua nanti. Entah anak itu perempuan atau laki-laki. Aku ingin hartaku ini jatuh ketangan anak kandungku sendiri." Kata Arka penuh ketegasan.
Laura bangun. Dia kemudian duduk dan menghadap ke arah Arka.
"Tapi kenapa mesti wanita kampung itu sayang, aku jijik. Diapun sudah bersuami. Aku sangat nggak suka sama dia. Kamu itu orang kaya Arka. Kenapa kamu tidak menikah saja dengan perempuan yang sederajat dengan kita?."
Arka tersenyum sinis.
"Kamu itu benar-benar wanita bodoh Laura. Kalau aku menikah dengan cewek secantik kamu, apa kamu nggak takut aku jatuh cinta padanya. Apa kamu nggak takut dia akan merebutku darimu Laura."
Laura terdiam. Dia berusaha untuk mencerna kata-kata suaminya.
"Iya Arka. Benar juga sih." Kata Laura kemudian.
"Lagian mana ada sih wanita yang mau di nikahi hanya karena mau di ambil keturunannya. Pasti suatu hari nanti, wanita itu bisa membuat kamu berpaling Arka." Kata Laura lagi.
"Nah itu kamu tahu. Dan aku yakin Laura, kalau aku tidak akan mungkin mencintai Tanti. Percayalah."
"Iya Arka, aku percaya."
"Kamu harus percaya sayang sama aku. Aku akan cepat menceraikan dia, kalau dia sudah benar-benar melahirkan anak aku."
Laura memeluk tubuh suaminya. kemudian dia membaringkan suaminya di ranjangnya. Dan mulailah mereka melakukan adegan panas suami istri itu. Yah, bercinta setelah selesai bertengkar.
__ADS_1
***
Waktu menunjukan jam 12 malam.
Tanti terbujur kaku di ranjangnya. Tubuhnya kian menggigil. Badannya panas tinggi. Dia demam.
"Aurel...anak ku... Di mana kamu Nak... Mama kangen..." Tanti mengiggau.
Herman mendengarkan dengan seksama suara di kamar Tanti. Apakah benar kalau suara itu adalah rintihan Tanti atau bukan.
ceklek.
Herman membuka pintu kamar Tanti. Tanti dengan wajah yang sangat pucat, masih berbaring dengan tubuh yang menggigil.
"Nona Muda." Herman panik. Saat melihat Tanti mengigau dan menyebut-nyebut nama anaknya.
"Apa yang harus aku lakukan? Ini kan tengah malam. Apakah aku harus menghubungi Tuan muda?"
Herman tampak berfikir.
"Kasihan kamu nona muda. Gara-gara Suami mu, kamu jadi seperti ini. Coba kalau aku bisa membantumu. Aku tidak bisa nona. Aku sudah mau mengabdi pada Tuan muda selamanya. Bagimanapun juga, Tuan muda sudah banyak menolongku." Gumam Herman.
Herman merogoh ponsel di sakunya. Dia kemudian menelpon Tuan Arka.
***
Tuan Arka menggeliat. Tubuhnya masih polos tanpa sehelai benangpun. Dia dan istrinya masih berada di bawah selimut.
Dengan susah payah Arka membuka matanya. Di lihatnya nomer Herman yang sudah 9 kali misscall.
"Astaga Herman, kenapa dia malam-malam gini nelpon?." Ucap Arka.
Arka kemudian menggeser layar hijau di ponselnya.
"Halo Herman, ada apa malam-malam nelpon? mengganggu saja." Tuan Arka tampak malas menjawab Telpon.
"Maaf Tuan. Nona Tanti sakit. Dia belum mau makan juga sampai sekarang."
"Apa, Tanti sakit? dasar bodoh kamu Herman! kenapa kau biarkan wanitaku sakit Herman. Kenapa kau tidak bisa membujuknya makan!"
"Lah Tuan, bagaimana saya membujuknya. Pegangan tangan saja sama nona nggak boleh. Bagaimana mungkin saya lancang membujuknya makan. Apa saya harus menyuapi nona muda juga."
"Shiiiit ah, diam lu. Awas aja lu, kalau sampai menyentuh Tanti. Gue gampar lagi lu Herman." Tuan Arka murka.
"Iya Tuan maaf."
"Terus gimana dengan keadaanya sekarang?."
"Nona demam Tuan. Badannya panas tinggi. Dia sedari tadi mengiggau memanggil Aurel."
"Huh, ya udah. Kamu jagain dia. Nanti aku kesana."
Tut...
__ADS_1
sambungan telpon pun terputus.
Laura mengerjapkan matanya. Dia merasa terganggu dengan tidurnya.
Laura melihat suaminya sudah tampak berpakaian rapi.
Laura beringsut duduk sembari menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
"Mau kemana sayang?" tanya Laura.
"Aku mau ke apartmen sayang."
"Apa! tengah malam begini?"
"Iya sayang, Tanti sakit. Aku harus melihat kondisinya sekarang."
"Nggak boleh Arka! kamu nggak boleh pergi! aku nggak mau kamu tinggal."
"Sudahlah Laura, jangan manja kamu! Kamu kan di sini tidak sendiri. Di sini banyak pembantu juga pengawal. Kalau kau butuh apa-apa, tinggal panggil saja mereka." Kata Arka sembari mengenakan jaketnya.
Laura menggenggam tangan Arka kuat-kuat. Dia berharap Arka masih mau menemaninya malam ini.
"Arka tolong jangan pergi! aku masih membutuhkanmu. Setidaknya untuk malam ini. Arka..." Laura sangat memohon.
"Lepasin tanganku sayang. Aku tidak akan lama untuk menemuinya. Aku cuma mau melihat kondisinya saja."
Laura menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Tolong sayang jangan pergi...!"Laura masih memohon.
Arka menggeleng. Dia masih bersikeras untuk pergi. Arka melepas tangan laura.
Laura pun tak bisa menghentikan langkah Arka.
Arka mencium kening Laura dan kedua pipinya.
"Sayang, kamu harus terbiasa dengan keadaan ini. Aku sudah berjanji pada suaminya. Kalau selama Tanti tinggal denganku, aku akan memperlakukan Tanti dengan baik. Aku akan menggilir kalian dengan adil sampai Tanti hamil dan melahirkan. Dan setelah anak itu lahir, aku akan menceraikannya. Dan aku akan mengambil bayi itu. Dan kau akan menjadi ibu sayang."
Setelah berkata begitu, Arkapun pergi.
Laura menangis. Dia berlinangan air mata.
"Teganya kau Arka padaku. Kau jahat...! Belum menikahi gadis kampungan itu saja, kamu sudah begitu khawatirnya dengan dia. Bagaimana jika kau telah menikahinya. Aku tidak bisa membayangkan, jika kau benar-benar menyentuh tubuh gadis kampung itu. Aku jijik dengan bekas dia."
*****
Gimana readers ceritanya. Beda dari yang lainkan?
ayo dong, jangan lupain authornya.... Author lagi kerja keras nih untuk menghibur kalian.
jangan lupain Vote rate like dan komentarnya...
Dukung author terus, nanti Author jadiin ini novel sinetron...biar ceritanya makin panjang.
__ADS_1