Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Bertemu Putri.


__ADS_3

"Coba aku lihat sayang." Ucap Arka.


Setelah itu, Arka berjongkok di depan Tanti dan melepaskan sepatu Tanti. Namun tiba-tiba saja Arka memggendong Tanti Ala bridge style.


"Arka. Lepasin. Turunkan aku."


"Nggak sayang. Aku nggak akan menurunkan mu. Katanya kaki mu sakit. Ya udah aku gendong kamu ke kamar."


"Nggak mau Arka. Lepasin...!"


Arka kemudian membaringkan Tanti ke ranjang.


"Maafkan aku Tanti. Aku sudah membuat kaki mu lecet."


"Nggak apa-apa."


Arka kemudian duduk di sisi ranjang.


"Tanti tidurlah Tanti."


"Kamu mau pulang yah?"


"Nggak Tanti. Aku akan nginep di sini. Aku capek."


Arka terlihat lesu.


"Kenapa Arka?." Tanya Tanti.


"Nggak apa-apa."


Arka. Kamu lagi ada masalah yah.


"Iya Tanti."


"Apa kamu mau berbagi masalah mu dengan ku Arka."


"Tanti. Mama memaksaku untuk menikahi Jihan."


"Apa. Jadi kamu mau menikah dengan Jihan."


"iya Tanti."


"Kenapa? kamu juga akan menikahi Jihan Arka. Apa kamu juga mencintainya? Kamu itu benar-benar udah menyakitiku Arka. Aku nggak mau menikah denganmu. Aku benci sama kamu Arka. kamu itu orang plin plan yang nggak pernah punya pendirian. Sekarang, beri tahu di mana anak ku Tuan Arka. Di mana Aurel!"


"Tanti tolong Tanti. Tolong Tanti tolong ngertiin aku Tanti." ucap Arka penuh harap.


"Ya udah kamu selesaikan masalah mu itu dengan mama mu. Aku mau menikah dengan mu, kalau kamu juga mau menceraikan Laura Arka. Dan Jika kamu mau menikah dengan ku, tinggalkanlah wanita-wanita mu itu. Sekarang pergilah kamu dari sini Arka.!"


"Apa, tapi kan perjanjiannya."


"Kamu masih memikirkan perjanjian Arka! Perjanjian itu sudah di hapus. Sejak kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku. Kalau kamu mencintaiku, Maka tinggalkan lah semua wanita yang ada di hati mu. Aku benci dengan berbagi Arka." Kata Tanti dengan Nada tinggi.


Arka terdiam. Dia tampak brrfikir.


Mungkin yang di katakan Tanti ada bemarnya juga. Aku harus bisa tegas dengan pilihanku Yah, aku cinta sama Tanti. Tapi bagaimana dengan Laura?


"Oke Tanti. Aku akan memikirkan ini lagi. Jika kamu tak merestui pernikahanku dengan Jihan, Maka aku tidak akan menikahinya." Ucap Arka.


Tanti tak mau lagi menatap Arka. Dia benar-benar muak dengan Arka.


"Aku benci, benci kamu Tuan."


Arka kemudian pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri.


"ah, sial. Kenapa aku harus terjebak seperti ini sih! Aku sangat mencintai Tanti. Sangat mencintainya. Bahkan aku sekarang lebih mencintainya dari pada Laura. Tapi aku juga selalu menyakitinya." Gumam Tuan Arka yang masih menyetir mobilnya.

__ADS_1


AaaaaĆ agh... Arka bertrriak frustasi.


Di tengah keheninga malam, Arka seperti orang mabuk saja. Dia duduk di bawah mobilnya. Sembari menangis.


"Kenapa bisa jadi serumit ini." Ucap Arka.


Tiba-tiba saja, ada seseorang menepuk bahu Arka.


"Mas, maaf. Apa kami boleh menumpang?" Tanya seorang wanita.


"Saya dan anak saya kemalaman." Ucapnya lagi.


Arka segera menghapus air mataya.


Betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang datang.


"Putri?"


Arka langsung berdiri.


"Arka.?"


Arka menatap Zoya seorang anak kecil yang bersama Putri.


"Dia anak mu Putri?"


"Iya Arka. Ini Zoya anak ku."


Arka masih memandangi wajah Zoya.


"Putri. Kapan kamu nikah, kok anak mu sudah sebesar ini."


Glek.


Putri meneguk salivanya.


"Kenapa kamu bisa ada di sini Putri? Dan tengah malam begini."


"Iya. Aku jalan kaki dari terminal. Tapi rupanya sepi banget di sini. Boleh kah kami menumpang. Tolong antarkan kami. Kasihan anak ku Arka."


"Baiklah. Ayo masuklah ke mobil. Aku akan antar kamu."


***


Bu Ning dan Pak Danang sekarang sudah ada di depan rumah Arifin. Mereka sekarang ingin mengunjungi Anak, cucu dan menantunya.


tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu terdengar, Arifin dengan langkah gontai membuka pintu rumahnya.


Arifin terkejut.


"Abah, umi. Kalian...?"


"Kenapa Arifin, mana cucu dan menantu umi?"Ucap Bu Ning.


Arfin diam, dia tidak berani menjawab.


"Tanti...Aurel...ini umi datang..." Seru Bu Ning sembari masuk ke dalam rumah Arifin.


Namun Bu Ning tidak melihat apa-apa di sana. Dia juga seperti melihat lemari dan boks bayi kosong.


"Arifin. Kemana Tanti?" Tanya Bu Ning.


"Bah, Tanti nggak ada. Dan lemarinya kosong." Bu Ning menuturkan.

__ADS_1


Arifin menangis. Dia berlutut di depan Umi.


"Maafkan aku Umi. Aku sudah bercerai dari Tanti." ucap Arifin.


Umi dan Abah terkejut mendengar penuturan Arifin.


"Apa...!"


plak.


Sebuah tamparan keras mendarat ke pipi Arifin. Abah menampar Arifin. Kata-kata itu bagaikan belati tajam saja yang menusuk ke ulu hati orang tua Arifin.


"Apa kamu bilang Heh, bilang sekali lagi." Ucap Abah lagi.


"Iya Bah. Maafkan aku Bah."


"Kamu menceraikan Tanti tanpa sepertujuan kita. Di mana otak mu Arifin. Sekarang Tanti di mana bodoh?"


"Aku nggak tahu Bah."


Umi menangis sesenggukan di pelukan Abah.


"Tanti Bah..."


"Arifin....!!!Di mana Tanti...?" Suara Abah menggelegar.


"Arifin nggak tahu Bah Mi."


Abah nafasnya begitu sesak. Mungkin asmanya kumat.


"Arifin tolongin Abah."


Abah akhirnya pingsan. Arifin dan Umi membawa Abah ke rumah sakit.


Arifin dan Umi masih berlinangan air mata.


"Mi, maafin Arif Mi. Arif udah menelantarkan Tanti."


hiks...hiks...


"Biadab kamu Arifin. Tanti tidak punya siapa-siapa di sini. Bagaimana mungkin kamu membiarkannya pergi. Dan kenapa pula kamu menceraikannya."


Arifin masih berlinangan air mata. Hatinya sekarang tampak sedikit hancur. Yah, memanglah penyesalan memang datang terakhir. Dan Arifin sudah tidak bisa berkutik lagi. Karena orang yang di hadapi itu adalah Tuan Arka. Orang yang sangat susah sekali untuk di kalahkan.


***


Sekarang Arka bersama dengan Putri dan Zoya dalam satu mobil.


"Putri. Kamu kenapa waktu itu menghilang?" Tanya Arka.


Putri bingung harus menjawab apa.


"Iya Arka. Aku pindah kuliah di Jogja."


"Terus, sekarang kamu, sudah bersuami."


Putri terdiam.


Yah, Putri di sini memang korban Arka. Sejak kepergian Putri, Putri pulang kampung. Di sana hidupnya terlunta-lunta. Orang Tua Putri sekarang juga sudah meninggal. Putri adalah anak satu-satunya.


Putri di kampung sangat terluka karena orang kampung senantiasa menggunjingnya. Dia di katakan perempuan kotor yang tidak memiliki akhlak. Pulang dari Jakarta hanya menghasilkan anak. Bukan menghasilkan kesuksesan seperti impian almarhum bapaknya.


Putri masih terdiam. Dia membayangkan kejadian benerapa tahun yang lalu.


Flash back on.

__ADS_1


Setelah kejadian malam itu, Putri tidak lagi menemui Arka. Dia benar-benar terluka karena Arka nodai. Dan Putri malu untuk pergi ke kampus. Dia takut kalau aibnya dan Arka bisa di ketahui anak-anak kampus.


Satu bulan kemudian. Putri merasakan ada kejadian yang aneh dalam tubuhnya. Tidak seperti biasanya dia mual-mual dan muntah-muntah.


__ADS_2