
Sekarang Putri sedang berada di ruang keluarga bersama Andre. Sementara Zoya masih terlelap di pangkuan ibunya. Putri mengelus rambut Zoya dengan penuh cinta. Putri tersenyum pada Zoya.
"Nyenyak sekali anak ku tidurnya." Gumam Putri.
"Putri, gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Andre.
"Aku, baik-baik saja kok." Ucap Putri.
"Aku cuma kangen aja sama Arka." lanjutnya lagi.
Andre tersenyum.
"Kamu sudah mulai cinta yah sama dia?" Tanya Andre.
Putri tersipu. Yah, Awalnya sejak kuliah, Putri memang menyukai Andre hingga sekarang. Namun, sejak Putri dekat dengan Arka, karena perhatian-perhatian yang Arka berikan membuat Putri jatuh cinta sama Arka.
"Ah, jangan bilang seperti itu Ndre. Aku nggak suka kok sama Arka." elak Putri.
"Udah, kamu nggak usah galau gitu, walaupun nggak ada Arka, kamu masih bisa kok menghubungi ku kalau ada apa-apa. Aku kan juga dokter kamu sekaligus sahabat kamu dan Arka. Jadi kamu nggak usah sungkan yah, kalau mau minta bantuan padaku."
Putri mengangguk. Walau saat ini dia sakit, namun masih ada dua lelaki yang membuatnya bisa semangat lagi untuk melanjutkan hidup.
"Makasih yah Andre, kamu memang baik seperti Arka. Tapi aku nggak tahu yah,kemana Arka sekarang? kenapa sudah satu bulan dia, nggak nengokin aku dan Zoya."
Andre tersenyum.
"Aku tidak banyak tahu tentang kehidupan Arka. Aku sekarang udah nggak dekat banget sama Arka. Tapi setahuku, kalau Arka itu udah mau cerai dengan istrinya."
"Apa? cerai? " Putri tampak terkejut.
"Iya Putri. Mungkin dia lagi sibuk atau lagi galau. Karena di gugat cerai oleh istrinya." Kata Andre menuturkan.
"Kok bisa sih?"
"Menurut kabar yang beredar, kalau Laura itu selingkuh. Dia dekat dengan cowok lain." Jelas Andre.
"Duh kasihan yah Arka." Ucap Putri tampak prihatin.
"Udah, jangan terlalu di fikirkan. Itukan kehidupan pribadinya Arka. Mending kalau Arka kemari, kamu pura-pura nggak tahu aja."
"Iya Ndre."
Putri tersenyum.
Wah, ternyata Arka sebentar lagi akan bercerai. Berarti sebentar lagi, Arka akan menjadi seorang duda tanpa anak dong. Seandainya aku katakan kalau Zoya itu anak Arka, gimana yah ekspresi Arka. Apa Arka juga akan menerimaku menjadi istrinya. Batin Putri penuh harap.
Zoya menggeliat. Dia mengerjapkan matanya.
"Mama, kenapa udah malam kita masih di sini?" tanya Zoya.
"Tuh lihat tuh, ada tamu." Putri tampak menunjuk orang yang ada di hadapannya.
Zoya melirik ke arah Andre.
"Yah, kok bukan Om Arka sih. Zoya kangen banget sama Om ganteng." Zoya tampak kecewa.
Andre tersenyum.
__ADS_1
"Om Arkanya lagi sibuk sayang. Tapi dia pasti akan datang kok nengokin kamu." Kata Andre menjelaskan.
"Ndre, kamu di sini dulu yah, aku mau ngajakin Zoya pindah di kamar."
"Nggak usah deh Putri, aku pulang aja." Ucap Andre.
"Oh, kamu mau pulang."
"Nggak apa-apa kan kalau kamu aku tinggal sendiri?"Tanya Andre.
Putri tersenyum.
"Aku udah biasa kok sendiri Ndre."
"Kamu jangan lupa yah minum obatnya. Arka itu orang sibuk, jadi dia tidak bisa selalu jagain kamu."
"Aku tahu itu Ndre."
Andre kemudian pamit pulang.
"Ya udah aku pulang dulu. Jaga diri kamu baik-baik yah Putri. Zoya Om pulang dulu yah."
"Iya Om. Besok lagi kalau kesini bawain aku cokelat yah." Kata Zoya dengan manampakan gigi putinya. Membuat Andre gemas.
Yah, dia memang Arka kecil yang tidak akan pernah orang menyangka kalau dia adalah anak dari Arka Wijaya orang terkenal dan mendunia itu. Mungkin untuk saat ini, Putri benar-benar akan menyebunyikan status Zoya dari siapapun sampai dia siap untuk mengatakannya langsung dengan Arka.
Setelah lama berkunjung dan memeriksa keadaan Putri, Andrepun kemudian pulang.
Dan tinggalah Zoya dan mamanya berdua.
"Iya Ma." ucap Zoya mengiyakan.
Zoya dan Putri kemudian kembali ke kamar. Zoya berbaring di ranjang di ikuti Putri. Putri menyelimuti anaknya dan dirinya, setelah itu Putri berbaring dan memeluk anaknya.
Zoya kemudian terlelap. Tapi tidak dengan Putri.
"Arka, jika kamu udah bercerai, aku pengin mengatakan kalau sebenarnya Zoya ini adalah anak kandungmu. Mungkin jika kamu udah resmi jadi duda,kamu mau menjadikan aku istrimu. Dan kita akan membesarkan Zoya sama-sama Arka." Gumam Putri penuh harap.
***
Malam ini Arka masih bermain dengan Anisa anak angkatnya. Rasa rindunya pada Tanti kini sudah sedikit terasa terobati dengan adanya Anisa.
Arka terasa sangat bahagia. Kadang Arka juga menggendong dan menimang Anisa penuh cinta.
Jihan sang istri cuma bisa memperhatikan.
"Arka, ternyata kamu begitu bahagia dengan ke hadiran anak adopsi mu. Kamu seperti sudah menginginkan seorang anak. Tapi kenapa kamu tidak mau menerima ku Arka. Apa aku juga harus menyerah untuk mendapatkan cinta Arka kembali." Gumam Jihan pelan. Hanya dia sendiri yang bisa mendengar gumamannya.
"Jihan. Kenapa kamu malah diam di situ. Apa kamu mau ikut main juga bersama kami." Ucap Arka saat melihat Jihan masih mematung.
Jihat terkejut.
"Eh, Arka aku...em.. mau.."
" Kamu mau tidur? Ya udah lah, cari kamar lain aja . Mulai sekarang,aku akan tidur bersama anak ku." Ucap Arka.
Jihan tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah Arka. Aku akan cari kamar lain. Untuk sementara kamu boleh kok tidur bersama Anisa." Jihan mengalah.
"Ya udah sana , tunggu apa lagi...!!"
"Baiklah. Aku pergi. Selamat malam Arka." Ucap Jihan.
"Ya, selamat malam."
Jihan kemudian pergi meninggalkan Arka dan Anisa.
"Sekarang kamu boleh menolak ku Arka tapi suatu hari, aku yakin, seiring dengan berjalannya waktu, kamu bisa menerima ku menjadi istrimu. Dan kita akan menjadi pasangan suami istri yang akan merawat Anisa bersama-sama. Mudah-mudahan dengan kehadiran Anisa bisa membuatmu lupa akan perempuan kampung yang bernama Tanti." Gumam Jihan.
"Pa...pa... ma...ma...." Celoteh Aurel.
Arka tersenyum-senyum. Lagi-lagi Arka menciumi Aurel. Membuat Aurel kegelian dan terkekeh.
"Kamu itu sangat menggemaskan sayang. Kamu anak kesayangan Papa sekarang."
Arka kemudian membaringkan tubuhnya ke ranjang, sementara Aurel masih di biarkan untuk bermain-main di tempat tidur Arka.
tok tok tok..
Suara ketukan dari kamar Arka.
"Masuk."
Bik Inah kemudian masuk sembari membawa botol susu yang di minta Arka.
"Tuan, ini susu buat non Anisa." Ucap Bik Inah sembari menyodorkan dot susu untuk Anisa.
Arka bangkit dan duduk. Dia meraih botol susu itu.
"Makasih ya Bik."
"Iya Tuan sama-sama. Bibik senang Tuan, sekarang Tuan seperti sudah tampak bahagia. Bibik ikutan bahagia melihat Tuan bahagia."
"Oya Bik. Bibik bisa nggak jagain Anisa. Aku akan keluar sebentar. Aku mau membeli sesuatu buat Anisa."
"Oh iya Tuan. Bibik pasti akan menjaga nona kecil dengan baik."
Setelah itu Arka mengambil jaketnya dan pergi keluar rumah. Kali ini, dia tidak pakai mobil, dia pergi dengan mogenya. Yah, selain dia jago silat, ternyata Arka juga hobi mengoleksi motor-motor gede.
😀😀😀
permisi...
promo-promo dikit
Yuk readers siapa yang mau belajar kesetiaan. Baca juga novel ini, di jamin kalian bisa tersenyum dan mengobati kegalauan karena Arka
KESETIAAN DARMA DAN RATIH.
ceritanya masih setengah jalan akan aku up lagi yah.
.
__ADS_1