Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Kedatangan Tanti.


__ADS_3

Tanti dan Arka kemudian masuk ke dalam rumah nyonya Alicia dan Tuan Bram.


"Wah...rumah kamu gede sekali Arka. Lebih gede dari rumah yang kamu berikan ke aku dulu."


"Iya sayang."


"Kamu mau ngasih kejutan apa Arka?" tanya Tanti.


Arka tersenyum.


"Ada deh. Kalau di kasih tahu sekarang, nanti bukan kejutan dong." Kata Arka.


Arka kemudian menyuruh Tanti duduk. Tanti pun duduk. Setelah itu Arka memanggil mamanya.


"Mama, ada Tanti. Katanya mama penasaran sama dia. Dia udah aku bawa ke sini." Ucap Arka.


Mama Arka yang sedang menemani cucunya itu langsung melangkah ke arah Arka.


"Oya? Tanti udah datang?"


"Iya Ma."


Mama dan Arka kemudian turun ke bawah menemui Tanti.


"Hai, Tanti..." Sapa nyonya Alicia.


Tanti langsung berdiri waktu nyonya Alicia menyapanya.


Nyonya Alicia langsung memeluk Tanti. Membuat Tanti terkejut.


Arka tersenyum-senyum sendiri. Yah, rona ke bahagiaan sedang menyelimuti hatinya saat ini.


Nyonya Alicia menangis di pelukan Tanti.


"Tanti, untunglah kamu selamat." Ucap nyonya Alicia kemudian.


Nyonya Alicia melepas pelukannya.


Dia tersenyum.


"Tante." Ucap Tanti.


Nyonya Alicia menangkup wajah Tanti dan mencium Tanti.


"Cantik sekali kamu Tanti. Tante nggak nyangka ternyata kamu orang yang hampir membuat anak saya gila."


"Apa, gila...!"


"Ah, Tanti. Nggak usah di dengarkan ucapan mama." Kata Arka.


Nyonya Alicia kemudian duduk begitu juga Arka dan Tanti.


Arka kemudian memanggil semua pembantunya. Mereka di suruh membereskan kamar tamu.


"Nia. Tolong kamu beres-beres sama yang lain. Oya, tolong juga yah, baju-baju Tanti, kamu masukan ke dalam lemari."


"Siap Kak Arka." Kata Nia yang begitu semangat.


"Akhirnya doa ku terkabul. Kak Arka akan bersatu dengan Kak Tanti. Mereka pasangan serasi. Duda ketemu janda. Kayak aku, gadis ketemu bujangan."

__ADS_1


Nia kemudian melangkah ke arah ruang tamu dan ikut beres-beres bersama pembantu yang lain. Yah, Arka dan Tanti kan belum menikah. Jadi mana mungkin Tanti akan tidur di kamar Arka. Jadi untuk sementara Tanti tidur di kamar tamu.


Setelah semua selesai, Arka mengajak Tanti ke dalam kamarnya.


"Wah, Arka...aku akan tidur di sini Arka."


" Ya iyalah kamu tidur di sini. Apa kamu mau tidur sama aku di kamar aku?"


"Ya enggaklah Arka. Kamu apaan sih."


Arka dan Tanti memang saling mencintai, namun mereka belum terlalu dekat. Jadi mungkin rasa malu itu seakan masih menyelimuti keduanya.


"Ya udah Tanti. Kamu istirahat yah. Itu ada telpon rumah. Kalau kamu butuh pembantu, kamu bisa pakai telpon itu. Pasti mereka akan datang."


"Iya Arka."


Setelah itu Arka pun pergi. Tanti masih mengamati kamarnya itu.


"Aku senang sekarang. Akhirnya orang yang aku cintai, bisa bersatu dengan ku. Mudah-mudahan kami tidak akan terpisah lagi sampai maut memisahkan kami." Kata Tanti.


Setelah itu dia membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.


Tanti sekarang dengan posisi terlentang. Tiba-tiba saja dia teringat Aurel.


"Yah, aku akan tanyakan di mana anak ku. Aku yakin, Arka pasti akan menjaga anak ku." Gumam Tanti.


Di sisi lain, Arka tersenyum pada Zoya dan Anisa.


Dia mendekat ke arah anaknya.


"Anak-anak ku, kalian tidak perlu khawatir. Kalian tidak akan pernah kehilangan sosok mama. Karena Papa sudah memberikan mama baru untuk kalian."


Setelah itu, Arka mencium Zoya juga Anisa.


...****************...


Pagi ini, cahaya sinar mentari menerangi bumi. Sorot cahaya, dari luar kamar Tanti begitu menyilaukan. Ternyata waktu sudah menunjukan jam tujuh.


Tanti terperanjak." Hah, jam tujuh. Ya ampun aku kesiangan." Ucap Tanti.


Tanti kemudian mengambil handuk dan mandi.


Sementara Arka, dia masih ada di kamarnya. Dia masih mandi dan sudah mau bersiap ke kantor.


Arka masih melilitkan handuknya. Dia kemudian ke luar dari kamarnya. Entah Arka mau kemana.


Arka melangkah ke kamar Tanti.


tok tok tok...


Tanti yang sedang sudah tampak rapi itu, kemudian membuka pintu kamarnya. Dia terkejut melihat Arka.


"Arka. Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Tanti yang masih ketakutan.


Bagaimana tidak takut. Arka masuk hanya mengenakan handuk.


"Apa Tanti. Apa yang kamu fikirkan. Kamu berfikiran mesum tentang ku?"


Tanti masih memandangi Arka dari atas ke bawah. Jantungnya kini bergejolak. Dia melihat tubuh ramping Arka, terekspose sempurna.

__ADS_1


Tanti mendorong Arka keluar.


"Pergi Arka. Kamu ganti baju dulu kalau mau ke sini. Ih, sebel benget aku sama kamu."Kata Tanti.


"Tanti, apa yang kamu lakukan. Aku tidak mau ngapa-ngapain kamu. Aku cuma mau memanggilmu. Aku pengin kamu itu menyiapkan baju kantorku."


Tanti diam.


"Iya. Nanti aku ke kamarmu. Tapi sekarang kamu pergi dulu. Aku belum selesai menyisir rambutku."


"Untuk apa kamu malu sama aku Tanti. Aku ini kan calon suami mu."


Tanti kemudian mendorong tubuh Arka keluar. Dan dia kemudia menutup pintu kamarnya.


"Ah,Heran deh aku. Mau ngapain di ke kamar ku. Aku yakin kalau Arka itu mau mesum. Mau apa lagi dia." Gerutu Tanti.


...****************...


Setelah itu Tanti pergi keluar. Dia masih bingung dengan rumah Arka. Yah, rumah yang begitu luas, mempunyai banyak kamar, namun penghuninya cuma Arka dan kedua orang tuanya.


"Mana sih kamar Arka?" ucap Tanti.


Tanti kemudian perlahan-lahan membuka pintu kamar Arka. Tanti terkejut saat di kamar Arka ada dua bocah kecil tampak bermain-main di tempat tidur Arka.


Tanti kenal dengan Zoya. Namun Tanti tidak mengenal anak satunya. Anak kecil yang berusia dua tahun. Dan dia sedang asyik bermain dengan Zoya kakaknya.


Tanti tersenyum.


"Siapa anak kecil yang bersama Zoya? " Tanti bertanya-tanya.


Arka keluar dari kamar mandi.


"Tanti." Ucap Arka yang sekarang sudah tampak rapi dengan baju kerjanya.


Tanti terkesima melihat penampilan Arka.


Yah, Arka orang yang sudah membuatnya jatuh cinta dan tidak bisa berpaling ke lain hati.


Arka tampak sangat menawan. Rambutnya sudah tersisir rapi, parfumnya yang sudah wangi, dan dia sekarang tersenyum pada Tanti.


"Selamat pagi sayang?"


"Selamat pagi Arka."


Arka mendekatkan dirinya ke arah Tanti.


Mereka saling berpandangan. Entahlah apa yang sekarang sedang mereka rasakan.


Zoya turun dari ranjangnya.


Ehm. Zoya berdehem. Membuat papa dan tante cantiknya itu terperanjat.


"Udah dong, lihat-lihatannya, buat nanti lagi." Ucap Zoya sembari tersenyum.


"Zoya.." Ucap Tanti sembari berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Zoya.


Tanti membelai kembut pipi Zoya. Setelah itu, dia mencium kening, dan ke dua pipi Zoya.


"Sayang, apa kabarnya?" tanya Tanti

__ADS_1


"Baik Tante. Tante gimana?"


"Tante juga baik sayang "


__ADS_2