
"Apa...? Kamu suka sama aku?" Tanya Arka.
Chelsea mengangguk.
Tiba-tiba saja Jihan datang, dan langsung melabrak Chelsea.
Dia mendorong tubuh Chelsea hingga tersungkur ketanah. Kacamata chelseapun terjatuh ke tanah.
"Apa kamu bilang cupu! kamu suka sama pacar aku. Ngaca dong jadi orang. Dasar cewek jelek, cewek kampungan. Beraninya mau dekatin Arka." maki Jihan.
"Udahlah Jihan...Jangan gitu, kasihan dia."
"Nggak Arka. Aku harus labrak cewek ini. Beraninya dia ngatain cinta ke kamu. Padahal dia kan tahu. Kalau kamu itu pacar aku."
Chelsea meraba kacamatanya yang jatuh ke tanah.
Jihan langsung mengambil dengan cepat kacamata milik chelsea.
"Ha...ha...kamu cari ini?" Kata Jihan yang tangannnya masih memegang kacamata chelsea.
Arka merebut kaca mata dari Jihan dan mengembalikannya pada Chelsea. Dia kemudian membantu Chelsea berdiri.
Jihan mendorong Arka.
"Apaan sih Jihan. Aku hanya mau membantunya. Kamu kenapa sih jahat banget. Cemburu boleh aja. Tapi jangan kayak gitu dong."
"Arka kamu itu belain dia."
"Nggak. Siapa yang belain dia. Aku nggak bela siapa-siapa."
Setelah itu Chelsea lari sembari menangis.
Flashback off.
****
Laura sudah bersiap untuk kerumah sakit. Dia akan ke sana bersama Bik Inah dan Pak Toha.
Drrrt.
Ponsel Laura bergetar.
Ada sebuah notifikasi pesan masuk dari Bu Alicia mama Arka.
Laura, Mama dan Papa masih ada di Inggris. Kami belum bisa pulang. Mungkin besok kami akan terbang dari sini. Tolong yah jagain Arka dulu.
"Siapa Non?"
"Mama Bik. Ternyata mereka lagi ada di Inggris. Pantesan saja semalam nggak bisa di hubungi."Ucap Laura.
"Ya udah ya Non. Kita berangkat."
__ADS_1
Laura dan Bik Inah berangkat ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, Laura sangat terkejut. Saat dia melihat ada Tanti juga di sana, Laura benar-benar marah besar.
Apa ! kenapa ada Tanti di sini. Katanya dia kabur dan belum di temukan. Apa selama ini Arka udah bohongi aku.? Jahat sekali kamu Arka. Apa selama ini Arka selalu pulang malam dan nginap di apartemen untuk nemenin dia. Ah ini nggak bisa di biarin. Batin Laura.
Dia langsung mendorong kursi rodanya sendiri kearah Tanti.
"Tanti...! Ngapain kamu ada di sini heh...!"
Tanti yang sedang menangis terkejut. Begitu juga denga Nia dan Herman.
Nia menegak salivanya sendiri.
Astaga, Kak Laura. Kenapa dia udah bisa ada di sini. Bisa perang dunia ke tiga nih. Batin Nia.
"Nona Laura."
"Berani sekali kamu Tanti mendatangi suami ku. Kamu itu tak lebih dari seorang pelakor."
Deg. Hati Tanti begitu sakit. Mungkinkah selama ini Tanti itu pelakor. Iya, sekarang Tanti juga mencintai Arka.
Tanti diam. Dia tampak kelu. Bibirnya bergetar wajah nya menunduk.
"Jadi selama ini, suami ku pulang malam terus itu untuk nemuin kamu di apartemen kan." ucap Laura lagi.
"Dasar perempuan nggak tahu malu! Nggak punya harga diri. Nggak punya otak. Aku tahu tujuan kamu itu untuk memeras Arka. Kamu itu bersekongkol dengan suamimu kan untuk memeras Arka suami ku.
Aduh. Tuhkan benar apa yang aku takutkan akhirnya terjadi. Kenapa aku nggak ajakin Kak Tanti ngumpet aja. Nanti pasti Kak Jihan datang. Bisa makin ribet nih urusan. Batin Nia.
"Auh..Nona lepasin..! sakit nona." kata Tanti.
Nia dan Bik Inah mencoba melerai.
"Sudah Non sudah. Jangan berantem di sini. Ini rumah sakit." Ucap Bik Inah.
Herman hanya bisa menyaksikan saja. Herman itu malah tambah bingung.
Duh belum apa-apa saja udah heboh gini. Bagaimana kalau Tuan Arka punya tiga istri. Aku nggak bisa bayanginnya. Apa itu yah nasibnya orang tajir dan ganteng kayak Tuan Arka. Batin Herman.
Herman kemudian ikut melerai mereka dan membawa Tanti pergi.
"Udah Nona. Kita pergi dulu nanti kita kesini lagi." Kata Herman.
"Pergi kamu sana! pergi! Dasar pelakor...! cewek sok alim. Sok suci. Tapi busuk hatinya."
Setelah Tanti pergi Laura menangis. Dia benar-benar tidak habis fikir dengan Arka. Kenapa Arka tega membohonginya.
Dia bilang, Tanti belum di temuin. Tapi,kenapa dia ada di sini. Batin Laura.
***
__ADS_1
Laura masih terus di samping suaminya dengan air mata yang masih berlinangan. Dia masih terisak di
temani oleh Bik Inah.
Dari luar, masuklah Dewa untuk memeriksa Arka.
"Laura." Ucap Dewa.
Laura meraih tangan Dewa dan menggenggamnya erat. Laura menatap erat manik mata Dewa.
"Dewa, tolong... Sembuhkanlah Arka."
"Iya Laura. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi kami para dokter hanyalah manusia biasa Laura. Kami bukan Tuhan."
"Terus sekarang gimana dengan Arka Dewa?"
"Arka tinggal menunggu waktu saja Laura. Mudah-mudahan ada ke ajaiban Tuhan yang datang. Supaya Arka bisa terbangun dari komanya. Kita hanya bisa pasrah dan berdoa."
Hiks...hiks...
"Arka, Maafkan aku Arka." Ucap Laura sembari menggenggam tangan Arka.
"Ya Allah Tuan. Mungkinkah dia hanya tinggal menunggu waktu?" Ucap bik Inah sembari menangis.
Setelah Dewa memeriksa Arka. Memang kondisinya mulai melemah. Seluruh tubuh Arka dingin.
Laura memeluk Bik Inah. Dia seperti tidak kuat lagi menahan kenyataan ini. Kenyataan yang sangat pahit. Setelah satu tahun menikah, akankah Laura akan menjadi janda.
"Arka, jangan tinggalin aku. Seandainya kamu bangun, aku janji Arka, aku akan merestui hubungan kamu sama Tanti. Asal kamu bisa bahagia. Bukankah kamu menginginkan anak dari Tanti. Aku ikhlas bermadu, asal kamu jangan tinggalin aku. Aku sangat mencintaimu Arka. Aku nggak bisa hidup tanpa mu.Aku nggak mau jadi janda."
Bik Inah jadi bingung dengan kata-kata Laura. Bik Inah tidak tahu menahu perihal Tanti.
Tanti, Siapa Tanti. Siapa yang lagi nona bicarakan. Apakah perempuan yang bersama Nia tadi. Apakah perempuan yang tinggal di Apartemen Arka.
Bik Inah penasaran pada peremouan yang bernama Tanti. Bik Inah kemudian meninggalkan Laura sendiri, Dia mau menemui Nia. Dia mau meminta penjelasan pada Nia. Bik Inah keluar dan menghampiri Nia yang masih mematung di ruang tunggu.
"Nia." Ucap Bik Inah.
Nia yang sedang bermain ponselnya menoleh.
"Iya Bu."
"Siapa sebenarnya perempuan yang bersama kamu tadi?" tanya Bik Inah penuh penasaran.
"Oh, itu Tanti Bu. Calon istrinya Kak Arka." Jelas Nia.
"Apa, calon istri? Arka mau nikah lagi?"
"Sssst Bu, jangan kencang-kencang ngomongnya. Ini rahasianya Kak Arka. Kalau sampai bocor, bisa gawat. Jangan sampai ada yang tahu hal ini. Nyonya dan Tuan Bram, juga jangan sampai tahu."
"Tapi Ibu bingung Nia. Apa sih yang sebanarnya terjadi."
__ADS_1
"iya .Nanti aku ceritain tapi nggak sekarang. Ini tuh tempat umum ibu,"
"Baiklah."