
Mereka bercanda dalam keromantisan. Mereka juga saling suap menyuapi satu sama lain.
"Tuh, kan sayang? Aku sudah bisa menjadi cowok yang romantis. Ini demi kamu sayang." Kata Dewa menatap lekat manik mata kekasihnya.
"Iya Dewa, aku percaya. Kalau cinta itu bisa merubah segalanya. Kamu tidak perlu susah payah belajar keromantisan . Aku akan menerima kamu apa adanya."
"Aku juga Laura. Walau aku tahu kamu tidak bisa memberikan ku keturunan, tapi aku mau mengadopsi anak. Atau mungkin kita bisa mencoba program bayi tabung sayang."
"Iya. Itu ide bagus."
...****************...
Malam ini Arka tampak menatap ke langit luas. Tampak sekali langit itu cerah, secerah hati Arka malam ini. Arka tersenyum saat melihat bulan purnama yang bulat sempurna. Arka sedang membayangkan wajah Tanti. Tanti yang selalu menemai tidurnya walau cuma dalam mimpi.
Arka memutar bola matanya, kemudian dia jatuhkan pandangannya ke arah kolam renang yang luas.
"Sayang aku bahagia, akhirnya untuk sekian lama aku mencari, ternyata kamu sudah aku temukan. Mudah-mudahan kita berjodoh Tanti. Walaupun sekarang kamu sudah di lamar oleh Andre, tapi mungkin masih ada kesempatan aku untuk merebutmu kembali dari Andre. Entah bagaimana itu caranya. Karena kamu kan belum jadi istri Andre." Gumam Arka.
"Kecantikan mu seperti bulan purnama sayang. Kamulah wanita yang selama ini aku cari. Sosok soleha yang bisa mengaji, yang rajin sholat, dan aku akan belajar itu darimu sayang." Ucap Arka lagi.
Arka melirik ponselnya yang ada di meja. Yah, Sekarang Arla sudah bertukaran nomer telpon dengan Tanti.
"Sekarang Tanti lagi ngapain yah? Aku akan menelponya. Mudah-mudahan Andre tidak ada di rumah.
Di sisi lain,
Tanti masih membolak-balikan tubuhnya. Dia juga sama memikirkan Arka. Dia kemudian menangis.
"Di saat aku mau belajar melupakan mu, kenapa kamu harus hadir kembali Arka. Kenapa?" Gumam Tanti sembari menangis.
Hiks...hiks...
"Bagaimana cara ku untuk melupakanmu, kalau kamu masih hadir di kehidupanku. Apalagi aku tahu, kalau kamu dan Andre, adalah seorang sahabat. Dan posisi ku saat ini sudah merasa serba salah Arka. Apa aku harus kembali padamu dan meninggalkan andre, atau aku harus melupakanmu, dan belajar mencintai Andre."
Tanti melirik ponselnya. Dia berharap kalau Arka akan menelponya.
Tiba-tiba saja.
Arka calling.
Tanti melebarkan senyumannya. Dengan semangat di meraih ponselnya dan mengangkat telpon dari Arka.
"Halo sayang, apa kamu belum tidur."
__ADS_1
"Arka? ngapain kamu malam-malam gini nelpon?" Tanti berbisik.
"Aku kangen cantik."
Tanti tersenyum. Lagi-lagi dia di kejutkan oleh rayuan maut Arka.
"Arka, jangan begitu,"
"Nggak apa-apalah Sayang, kita cuma sekedar ngobrol. Andre tidak akan tahu. Dia kan orang sibuk."
"Tapi aku nggak enak. Gimana kalau ada orang yang dengar."
"Jangan sampai dengarlah sayang. Aku mencintaimu sayang, aku sangat merindukanmu. Aku juga tidak rela kamu di miliki orang lain."
"Arka, jangan bilang begitu. Aku nggak tega dengarnya."
"Kalau gitu, batalkan saja tunanganmu dengan Andre sayang."
"Maaf Arka. Aku nggak bisa."
"Kenapa sayang, kamu akan sakit sendiri nantinya."
"Arka tapi aku belum siap untuk ngomong sama Andre."
"Iya Arka aku juga."
Hiks...hiks...Tanti menangis.
"Jangan menangis sayang, aku akan selalu ada di sisimu sekarang."
Tanti dan Arka bertelponan semalaman penuh. Tak lupa juga mereka bervideo call. Yah, itu juga tanpa sepengetahuan Andre. Yah, mungkin saja mereka akan menjalani hubungan backstreet dari orang lain termasuk Andre.
...****************...
Makan malam kali ini, adalah makan malam yang sangat istimewa. Karena Andre mengajak sahabat dekatnya untuk makan malam di rumahnya. Andre sangat bersemangat mengajak Arka makan malam. Sekarang Arka mengajak Zoya.
Sekarang Arka duduk berhadapan dengan Tanti. Sementara Andre duduk di samping Tanti.
Sesekali Arka menatap Tanti. Begitu juga dengan Tanti.
"Andre, gimana Ndre, apakah kamu sudah menyiapkan pesta pertunanganmu di bulan depan?"
Tanti terdiam, dia kemudian menatap Arka. Arka mencoba tersenyum menyembunyikan lukanya. Walau ada sebuah rasa sakit yang sedikit menggores hatinya saat Papanya Andre menyinggung pertunangan itu.
__ADS_1
"Tanti mau ke toilet dulu yah." Ucap Tanti pada semuanya.
Tanti kemudian berdiri dia melangkah pergi namun dia tidak ke toilet. Dia melangkah pergi ke taman belakang rumah yang tampak sepi dan gelap.
Tanti menangis sendiri.
"Kenapa hatiku rasanya sesakit ini. Aku tidak menginginkan pertunangan ini. hiks...hiks.." Gumam Tanti.
Arka ternyata sudah berdiri di belakang Tanti. Ternyata sedari tadi Arka mengikuti Tanti.
"Kalau begitu kamu kenapa harus memaksakannya Tanti" Ucap Arka yang membuat Tanti terkejut.
"Arka? ngapain kamu ngikutin aku. kalau ada yang lihat kita berdua begini bagaimana Arka."
Arka mendekat ke arah Tanti dan membuat Tanti memundurkan dirinya beberpa langkah, setelah itu dia membentur tembok.
Arka mengurung tubuh Tanti dengan ke dua tangannya. Membuat Tanti ketakutan.
"Apa yang mau kamu lakukan Arka. Kamu jangan macam-macam di sini."
Arka tersenyum.
"Sayang, kamu cantik sekali."
Deg. Lagi-lagi hati Tanti berdesir. Yah, itulah kelemahan Tanti saat berhadapan dengan Arka. Apalagi saat mata mereka saling beradu pandang. Tanti tidak bisa menolak dengan apapun yang akan Arka lakukan.
Arka tersenyum. Dia kemudian membelai lembut pipi Tanti dan juga bibir Tanti. Tanti memejamkan matanya. Iya, lagi-lagi dia menikmati belaian lembut itu sampai dia melupakan kalau Arka itu bukan muhrimnya dan Arka itu bukan suaminya.
"Arka. Apa mau kamu? Kenapa kamu selalu membuat ku hampir mati begini." Ucap Tanti dengan jantung yang masih berdebar.
"Tanti, aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Jika kamu sudah menjadi istri Andre, akupun tidak akan pernah berhenti untuk mencintaimu. Aku sangat menggilaimu sayang."
Tanti dan Arka sama -sama larut dalam gelora asmara sehingga terjadilah ciuman hangat di waktu itu. Ciuman pertama Arka dengan Tanti.
Arka melepas ciumanya saat Tanti mulai kehabisan nafas. Tanti menangis. Dia meraba bibirnya sendiri yang sudah tampak bengkak.
"Apa yang telah kamu lakukan Arka. Kenapa kamu menciumku. Jujur aku nggak kuat Arka, jika harus berdekatan denganmu seperti ini."
Hiks...hiks...
"Tanti, ciuman itu adalah kenangan terindah untuk kita Tanti. Dan tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Jika kamu mau menikah dengan Andre aku ikhlas Tanti."
Tanti menangis sembari masih memegangi bibirnya yang bengkak.Ya, untuk kali ini dia khilaf. Dia menyesali dengan apa yang barusan dia lakukan. Dia berciuman dengan Arka lawan jenisnya yang seharusnya tidak pernah Tanti lakukan.
__ADS_1