Istri Yang Di Jual.

Istri Yang Di Jual.
Dinner part 3.


__ADS_3

Ha...ha..ha.. Arka tertawa lepas.


Lagi-lagi Idris geleng-geleng kepala.


Ah, Bagaimana mungkin Tuan akan punya sepuluh anak. Betapa repotnya. Menghadapi dua istri aja pasti repot. Bagaimna jika Tuan punya sepuluh anak."Batin Idris.


"Aku memang pengin punya banyak anak. Tapi aku cuma pengin punya anak dari Tanti saja. Bukan anak dengan wanita lain."Ucap Arka.


Arka kemudian berjalan ke arah taman belakang kolam renang. Di lihatnya banya bunga yang bertaburan di sana dan banyak pula lilin yang di pajang di sana.


"Wah, keren. Anak buah ku memang luar biasa."


Arka kemudian duduk di kursi yang sudah anak buahnya hias. Dia menunggu bak seorang pengantin laki-laki yang menunggu calon mempelai perempuan.


"Ayo Kak. Kita turun. Kakak cantik banget. Pasti Kak Arka pangling."


"Kakak deg degan banget Nia mau ketemu Tuan Arka."


"Ayolah, ini bukan acara ijab qobul. Ini acara dinner."


"Nia, aku nggak mau."


"Kak, Percayalah. Nia temanin. Kak Arka nggak akan gigit dulu. Aku tahu siapa Kak Arka. Dia mana mau ciuman sebelum halal."


"Bukan itu masalahnya Nia, tapi jantung aku konslet lagi nih."


"Lah, itu urusan belakangan. Nanti Nia telpon Kak Dewa kalau kakak terkena penyakit jantung."


Nia menyeret Tanti sampai ke belakang.


Tanti sekarang sudah ada di taman belakang.


"Astaga...indah banget Nia. Inikah kamu yang menghiasnya."


"Iya dong."


"Sekarang Tuan Arka mana."


"Tuh."Nia menunjuk pada seorang lelkai sexi yang sedang berdiri memunggungi Nia dan Tanti.


"Udah sana dekatin"


"Nia bareng kamu yah."


"Aish, kayak anak ramaja aja kencan mesti di temanin."


Nia mendorong tubuh Tanti sampai akhirnya Tanti tersungkur ke meja makan.


"Ups..."Ucap Tanti saat melihat tubub Sexi Arka wijaya.


Lagi-lagi jantungnya konslet.


Apa yang akan aku katakan pada dia. Astaga apa aku nggak akan pingsan jika aku harus memandang wajahnya. Kenapa aku jadi kayak orang gila gini. Batin Tanti.


Arka kemudian membalikan tubuhnya.


Dia kemudian berlutut di depan Tanti dan memberikan setangkai bunga mawar untuk Tanti.


"Ya ampun Tuan. Apa-apaan semua ini."


"Terimalah sayang, ini aku berikan setangkai bunga untuk mu. Walau tak seberapa harganya. Namun ini adalah arti dari cintaku."


Arka kemudian mengecup punggung tangan Tanti.


Arka kemudian berdiri. Dia mengambil sesuatu di saku jasnya.


Tanti tak bisa berkata apa-apa lagi. Saat dia melihat sebuah cincin di dalam kotak itu.


Arka meraih tangan Tanti. Kemudian dia memasangkan cincin itu di jari manis Tanti.

__ADS_1


"Sayang, sekarang kamu milik ku. Kamu adalah belahan jiwaku. Walau statusmu sekarang akan menjadi istri simpanan, tapi aku akan memeperlakukan mu selayaknya kamu itu istri pertamaku."


Cup.


Arka mengecup kening Tanti.Membuat Tanti berdebar, dan salah tingkah.


Arka mengangkat wajah Tanti.


"Kamu cantik sekali sayang."


Bibir Tanti bergetar.


Arka mengelus lembut bibir tanti dengan jempolnya.


"Nggak usah takut sayang. Aku tidak akan pernah macam-macam dengan mu sebelum kita halal."


Arka menggandeng tangan Tanti. Dia menyeret kursi dan mempersilahkan Tanti duduk.


"Duduklah sayang. Kita nikamati malam ini berdua."


Tanti tersenyum. Dia masih tidak percaya. Baginya ini seperti mimpi saja. Atau seperti sinetron dan novel.


Ah, kayak di novel dan sinetron saja adegan kayak gini. Batin Tanti.


***


Di malam yang penuh keindahan. Tampak di langit bulan purnama bulat sempurna. Semilir angin di malam ini, memberikan kesejukan pada Tuan Arka dan Tanti. Bintang-bintang bertebaran di malam ini.


Suara musing dan alunan biola tampak masih mengiringi Tanti dan Arka makan.


Arka menatap wajah Tanti


"Sayang. Kenapa kamu selalu menunduk. Apa kamu takut dengan ku?"


"Nggak Tuan."


"Oke aku akan membuatmu menatap ku. Sekarang marilah kita berdansa."Ucap Tuan Arka sembari mengulurkan tangannya.


"Tanti tidak bisa berdansa Tuan."


"Ayolah sayang, Nikmati pestanya. Ini kita pesta dinner kita."


Tanti akhirnya menurut juga. Tanti kemudian berdiri. Dan Arka meraih pinggang Tanti. Mereka berdansa mengiringi irama lagu tersebut.


Tanti masih tak mau menatap Arka.


"Sayang, tataplah calon suamimu ini sayang."


Dengan jantung berdebar dan perasaan malu-malu, Tanti menatap Arka lekat. Mereka saling menatap sembari masih berdansa.


Tanti memang masih kaku dalam berdansa. Namun Tuan Arka selalu dengan sabar mebimbing gerakan Tanti.


"Apa kamu senang sayang dengan semua ini?"


Tanti tersenyum dan mengangguk.


"Iya Tuan. Terimakasih untuk semuanya Tuan."


"Mulai sekarang jangan panggil saya Tuan."


"Terus aku harus panggil apa?"


"Terserah kamu."


"Abang Arka."


"Aku nggak mau di samain sama Arifin."


"Mas Arka."

__ADS_1


Arka menggeleng. "Nggak enak kedengarannya."


"Kak Arka."


"Aku bukan kakakmu."


Tanti tampak berfikir.


"Terus apa dong, suami ku? " Tanti sedikit kesal.


"Itu bagus sayang. Kalau nanti kita sudah nikah, Kamu panggil aku suamiku aja. Oke sweat heart."


Tanti tersenyum.


Tampaknya pasangan kekasih itu berdansa sudah cukup lama.


Membuat Nia dan Herman kepo.


"Nggak capek apa tuh orang yah. Udah dua jam lho Nia." Ucap Herman.


"Biarin ah, namanya juga orang kasmaran."


"Iya juga sih yah."


Herman dan Nia yang masih sam-sama jomblo itu tampak iri.


"Kamu pengin seperti itu juga Nia."


"Nggak."


"Kalau mau aku mau kok temanin kamu dansa Nia."


Nia langsung menoyor kepala Herman.


"Enak aja Kak Herman. Nia nggak mau. Kak Herman jelek." Kata Nia sembari pergi meninggalkan Herman.


Di sisi lain, Idris tampak menguap.


"Ah, Si Tuan lama banget sih. mau pulang nggak. Aku udah capek gini. Dari tadi udah nonton drama percintaan Tuan muda dan nona muda." Gumam Idris.


Idris akhirnya terlelap juga di sofa ruang tengah.


Herman menghampiri Idris.


"Ye...Dia malah molor di sini lagi. Ngapain juga dia nunggu Tuan muda. Kalau yang namanya lagi di mabuk cinta,berdansa sampai pagi pun mereka kuat." Kata Herman.


Herman kemudian membangunkan Idris.


"Dris, bangun Dris. Ayo bangun!" Ucap Herman.


Idris membuka matanya.


"Kalau mau tidur jangan di sini. Ayo tidur di kamar ku saja. Nanti Tuan marah." Ucap Herman.


"Baiklah."


Idris dan Herman kemudian pergi meninggalkan ruang tengah .


Jam 12 malam. Sepertinya Tanti dan Arka sudah tampak kelelahan. Seudah benerapa jam dia berdansa.


"Tuan,aku capek."


"Lho, kok Tuan lagi sweat heart. Jangan panggil Tuan."


"Ah, Tapi aku belum jadi istrimu. Aku panggil bang nggak mau, panggil mas, panggil Kakak juga nggak mau."


"Ya udah. Kamu boleh panggil aku.Arka sweaty."


"Oke Arka, aku capek. Masa kita mau sampai pagi sih berdansa. Lihatlah, gara-gara high heels ini, kaki ku lecet." Ucap Tanti.

__ADS_1


__ADS_2